![The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-marriage-curse--park-jimin---kim-so-hyun-.webp)
Sinopsis :
So Hyun terpaksa menjalani pernikahan rahasia dengan artis papan atas Park Ji Min, demi menghindari kutukan keluarganya. Meski sebenarnya dia tak pernah percaya jika kutukan itu masih berlaku.
-----------
PROLOGđ
âDrrrttt drrrttt drrrtttâ
Entah sudah berapa lama ponsel tanda panggilan masuk milik gadis itu berbunyi. Tapi gadis yang tengah sibuk dengan berkasnya itu tak lantas mengangkatnya. Bukan karena sibuk atau sok sibuk. Hanya saja, dia terlalu malas mendengar suara si penelfon. Pasti dia akan mendapat ceramah seputar satu masalah. Yaitu secepatnya dia harus menikah. Atau dia tak akan pernah bisa menikah.
Bukan karena faktor usia. Dia bahkan belum genap dua puluh tiga tahun. Bukan karena cacat fisik. Dia sempurna secara fisik, bahkan bisa dikatakan jika dia memiliki penampilan fisik lebih dari yang lain. Bukan juga masalah status sosial. Dia baru saja menduduki kursi CEO enam bulan yang lalu. Lantas karena apa? Hanya satu masalahnya, menghindari kutukan dalam keluarganya.
Dia pusing jika harus memikirkan hal itu. Bagaimana tidak, kutukan itu hanya berlaku untuk anak gadis dalam keluarganya. Jika sampai usia keduapuluh tiga anak gadis dalam keluarganya belum menikah maka dia tak akan pernah bisa menikah. Karena itu, anak gadis dalam keluarganya biasa menikah muda. Itulah mengapa dia sedikit merasa tak nyaman mendengarnya. Sebenarnya dia bahkan tak mempercayainya, di zaman modern seperti ini masih saja mempercayai takhayul.
Dengan sedikit malas, dia mengambil ponselnya. Tak enak juga tak menjawab panggilannya. Siapa tahu pentingkan. Gadis itu menggeser layar warna hijau sebelum mendekatkannya ke telinga. âYeobseyoâ, jawabnya.
Gadis itu mencoba tersenyum mendengar perkataan si penelfon. âMaaf imo, aku tadi sedang ada meeting jadi baru bisa menjawabâ, bohongnya.
âApa kau sudah mempertimbangkan penawaranku? Sebentar lagi kau berusia duapuluh tiga tahun. Ingat So Hyun, kau harus secepatnya menikah. Atau kau mau seperti imo mu ini,lanjang sampai tuaâ, suara si penelfon terdengar memekakkan telinga.
Gadis itu hanya mendesah pasrah. Dia mati-matian menahan kesalnya. Kalau bukan karena dia menghormati wanita itu, dia pasti sudah memarahinya habis-habisan. âTenang So Hyun, tenanglah! Imo mu memang seperti ituâ, ucapnya memenangkan diri.
âImo, jangan khawatir. Kutukan itu tak berlaku untukku. Aku ada meeting lagi setelah ini. Jaga diri imo baik-baik. Jangan lupa makan dan istirahatlah yang cukup. Nikmati saja liburannya. Saranghaeâ, ucap gadis itu lagi. Dia menutup sambungannya sebelum wanita yang ada diseberang sana mengomel lagi.
âHahâ, desahnya. Dia meletakkan asal ponselnya di meja. Menyandarkan kepalanya pada kursi. Memejamkan matanya. Mencoba menerawang sesuatu. Kenapa dia harus terlahir di keluarga itu? Coba dia lahir di keluarga lain, dia tak perlu repot memikirkan pernikahan di usia muda.
Suara ketukan pintu membuyarkan semua lamunannnya. Dia kembali mengangkat kepalanya. Membenarkan posisi duduknya sebelum menyuruh orang itu masuk. âMasuklah!â, ucapnya sedikit berteriak.
Muncul sekretaris cantiknya dari balik pintu. Dia terlihat membawa beberapa berkas di tangannya. Dengan langkah anggunnya, sekretarisnya berjalan mendekatinya. âKau baik-baik saja depyeonim? Kau terlihat sedang kesalâ, ucap sekretarisnya sambil menyerahkan berkas yang dibawanya. Dia juga membukakan bagian yang harus ditandatanganinya.
Gadis itu mengambil penanya. Menandatanganinya dengan cepat. Dia masih terdiam, tak berniat menjawab pertanyaan sekretarisnya. Dia sudah tahu jika gadis yang ada dihadapannya mengerti dengan apa yang terjadi padanya.
âAku tebak, pasti kau berdebat lagi dengan bibi anda. Benarkan!â, ucap sekretarisnya kembali. Dia kembali mengambil berkas yang sudah ditandatangani bosnya.
âJika sudah tahu kenapa masih bertanya?â, jawab gadis itu malas. Dia sedang dalam suasana buruk, sekretarisnya malah menggodanya.
âApa salahnya bertanya!â, ucap sekretarisnya kembali diselingi senyum menawannya. âKenapa anda tak menerima saja tawarannya. Toh, dia pasti memilihkan laki-laki yang baikâ, lanjutnya. Dia menarik salah satu kursi di depan meja bosnya. Lalu mendudukan dirinya disana.
âKau bercanda! Jika aku menerima tawarannya itu, sama saja aku mempercayai kutukan bodoh ituâ, jelas gadis itu.
âPercaya tak percaya, anda memang harus mempercayainya. Anda lihat sendirikan jika bibi anda masih melajang di usianya yang sudah memasuki kepala empat. Apa anda juga ingin seperti dia?â, sekretarisnya mencoba memberi pengertian. Sebenarnya dia juga sedikit tak mempercayai kutukan dalam keluarga bosnya, hanya saja fakta yang membernarkannya membuatnya harus mempercayainya. Dan lagi, dia dapat amanat dari bibi bosnya yang tak lain adalah mantan atasannya untuk meyakinkan gadis yang ada dihadapannya.
Gadis itu kembali mendesah pasrah. Bingung harus berkata apa. Disisi lain, dia tak mempercayai hal itu. Dilain sisi pula dia juga tak ingin mengulang kejadian sama seperti yang dialami bibinya.
âTidak ada salahnya jugakan menikah muda. Aah, ini bukan lagi disebut muda, anda sudah cukup umur untuk menikah. Bahkan anda sudah cukup umur untuk memiliki anakâ, ucap sekretarisnya kembali. Dia kembali tersenyum sambil membayangkan suatu hal. âAku tak bisa membayangkannya. Anda menikah, kemudian punya anak. Pasti akan cantik dan tampan. Bukankah begitu?â, lanjutnya panjang lebar.
Gadis itu tersenyum miring, seolah mengejek tingkah konyol sekretarisnya. Dia menyangga kepalanya dengan tangan kirinya. Mendengarkan setiap kata yang muncul dari mulut manis sekretarisnya. âSudah puas mengocehnyaâ, kata gadis itu.
Sekretarisnya mengerucutkan bibirnya. Dia juga tampak kesal. Dia sudah berceloteh panjang lebar, tapi bosnya justru mengabaikannya.
Gadis itu menutup laptop kerjanya, setelah melirik jam tangannya. Menata beberapa berkasnya. Membersihkan meja kerjanya, kemudian berdiri.
âDepyeonim mau kemana?â, tanya sekretarisnya kembali.
âIni sudah jam pulang kantor sekretaris Min. Kau tidak mau pulang?â, jawab gadis itu.
Sekretarisnya mengangguk kemudian ikut berdiri.
âApa jadwalku besok?â, ucap gadis itu lagi.
âBesok hari minggu depyeonim, apa kau lupa?â.
Gadis itu mengangkat alisnya. Kalau diingat-ingat ini memang hari sabtu. Dia tersenyum kemudian, dia sepertinya mendapat ide melakukan sesuatu. âApa kau punya janji kencan setelah ini?â, tanyanya kemudian. Dia mengambil tas dan ponselnya. Berjalan keluar dari ruangannya.
Sekretarisnya mengikutinya. âApa anda sedang meledekku? Anda tahukan jika aku belum memiliki kekasihâ, jawabnya sedikit kesal. Dia kini berjalan sejajar dengan bosnya.
âSiapa tahu sajakan!â, jawab gadis itu sambil mengangkat bahunya. âKau mau ikut denganku?â, ajak gadis itu.
âKemana?â, tanya sekretarisnya. Sepertinya dia terlihat sedikit penasaran.
âKetempat yang asyik untuk melepas stres. Aku pusing mendengar ocehan imo. Ditambah lagi ocehanmu. Kepalaku seperti mau meledakâ, ucap gadis itu setengah bercanda.
âMaaf, aku tak bermaksud seperti ituâ, ucap sekretarisnya merasa tak nyaman. Seharusnya dia bisa mengontrol diri tadi.
Gadis itu tersenyum. Dia berhasil menggoda sekretarisnya. âAku hanya bercada eonniâ, ucapnya sambil menyenggol bahu sekretarisnya. Dia bahkan menggunakan bahasa tak formal untuk meyakinkannya.
âCk, sudah kudugaâ, ucap sekretarisnya. Dia juga ikut menggunakan bahasa tak formal pada bosnya.
âJadi, kau mau ikut atau tidakâ, ucap gadis itu kembali.
âCepatlah! Aku tunggu di lobyâ.
-o0o-
Lampu warna-warni berputar mengiasi ruang remang-remang itu. Suara musik dari dj mengalun keras memekakkan telinga. Berpasang-pasang anak manusia menari mengikuti irama. Bahkan ada yang menari seenaknya. Tujuan mereka sama, melepaskan setres. Meski ada sebagian kecil yang mempunyai tujuan lain.
Gadis itu memilih duduk diam di depan bartender di club tersebut. Dia dan juga sekretarisnya sedang menikmati segelas wine.
âKau tak ingin menari depyeonim?â, tanya sekretarisnya.
âTak perlu memanggilku seperti itu eonni. Ini bukan kantorâ, jawab gadis itu. dia kembali menyesap wine yang dipegangnya.
Sekretarisnya tersenyum. âIya, iya. Apa kau tak ingin menari So Hyun-ya?â, tanya sekretarisnya kembali dengan menekankan panggilan akrabnya.
Gadis itu menggeleng. âJika kau ingin menari, menarilah! Aku tunggu disiniâ, jawabnya kemudian.
âBaiklah! Jangan minum terlalu banyak. Tunggu aku disini, OKâ.
Gadis itu mengangguk. Dia kembali menyesap winenya. Pandangannya tertuju pada sekretarisnya yang sudah bergabung dengan orang-orang di lantai dansa. Dia kadang tersenyum, melihat tingkah konyol sekretarisnya. Hingga ia tak sadar jika di sampingnya sudah duduk seorang pria.
Pria itu melepaskan topi dan juga maskernya. Dia memesan wine seperti yang di pesan gadis itu. Sambil meminum winenya, pria itu mengawasi setiap gerak gadis di sampingnya. Gadis yang pandangannya terfokus di lantai dansa. Pria itu juga mengikuti arah pandang gadis di sampingnya. Dia bisa melihat gadis itu tersenyum pada seseorang disana.
âKenapa tak ikut menari saja?â, ucap pria itu.
Gadis itu tersentak kaget. Dia kemudian menoleh ke sumber suara. Dia melihat seorang pria berkacamata tengah menyesap wine. âSejak kapan pria ini ada disampingnya?â, fikirnya. Dia teringat pertanyaan pria itu tadi. Namun dia masih sedikit bingung, apakah pertanyaan itu ditujukan padanya atau tidak. âAnda bicara denganku?â, tanyanya penasaran.
âMenurutmu?â, jawab pria itu santai. Dia kembali menyesap winenya.
Gadis itu menoleh kesana kemari. Tidak ada orang yang dekat dengan pria itu selain dia. Jadi otomatis pertanyaan itu ditujukan padanya. Gadis itu tersenyum mengejek dirinya yang tak paham. Dia kemudian menggeleng, âTidak, aku tidak suka menariâ, ucapnya.
Mereka terdiam setelahnya. Sibuk dengan khayalan masing-masing, atau mungkin sedang malas berbicara. Karena memang mereka tengah menikmati minuman di gelasnya masing-masing.
âSiapa namamu?â, ucap pria itu tiba-tiba. Pandangannya masih tertuju pada lantai dansa.
Gadis yang pandangannya tertuju pada lantai dansa itu refleks menoleh. Yang diikuti oleh pria itu. Pandangan mereka kini bertemu, meski pria itu masih memakai kacamata hitamnya. Senyum manis khasnya juga tercetak di wajah manis pria itu. Namun, bukannya menjawab gadis itu justru mengangkat alisnya. Ini kejutan, seorang pria asing mengajaknya berkenalan. Mereka bahkan baru bertemu beberapa menit.
Gadis itu menatap pria itu dari atas sampai bawah. Bukan bermaksud menyinggung, dia hanya ingin berjaga-jaga. Maklum sajakan, di jaman seperti ini kejahatan bisa terjadi dimanapun. Apalagi penampilan pria itu cukup aneh. Bagaimana mungkin memakai kacamata hitam di tempat seperti ini. Dan juga dia hanya seorang gadis. Sasaran yang mudah bukan. Gadis itu masih terdiam, bimbang antara menjawab atau tidak.
âAku bukan orang jahat. Kau tak perlu khawatirâ, ucap pria itu lagi.
Gadis itu masih belum menjawab. Dia seperti pernah melihat perawakan pria itu. Tapi siapa? Dia mencoba mengingatnya dengan keras, tapi tetap tak mendapat jawaban. Dia kemudian bertanya untuk menghilangkan rasa penasarannya. âSepertinya aku pernah melihatmu?â.
Pria itu tersenyum miring. Gadis itu bukan menjawab pertanyaannya, justru balik bertanya. Ya, tentu gadis itu pernah melihatnya. Dia sering muncul di berita, acara-acara TV, majalah, bahkan koran juga pernah. Fotonya juga tersebar secara luas di internet, mall, bahkan di tepi-tepi jalan.
Sebenarnya ini kali pertama pria itu mengajak kenalan seorang gadis. Dia sedikit tertarik dengan senyum manis gadis itu. Tapi, bukannya dapat sambutan baik justru gadis itu malah memandangnya curiga. Seolah dia adalah orang jahat yang akan menyelakai gadis tersebut.
Yang membuatnya merasa aneh, apa gadis itu benar-benar tak mengenalinya? Tapi wajar sih, cahaya di ruang itu cukup remang dan lagi dia memakai kacamata hitam. Sepertinya dia harus menyingkirkan kacamatanya, dengan begitu mungkin gadis itu akan mau berkenalan dengannya. Dengan hati-hati pria itu melepas kacamatanya.
Gadis itu membulatkan matanya. Dia juga menutup mulutnya dengan tangannya, mengekpresikan keterkejutannya. âKau kanâŚâŚ.â, ucapnya tak diteruskan. Dia masih memandang tak percaya pria itu. âBagaimana bisa seorang idol terkenal datang ke tempat seperti ini?â, pikirnya.
Pria itu kembali tersenyum. Dia berhasil membuat gadis itu terkejut untuk kesekian kalinya.
ââŚâŚJimin BTSâ, lanjut gadis itu cukup lantang. Dia kembali tersenyum mengejek dirinya yang baru mengenali pria itu.
âSssst!â, Jimin memberi kode pada gadis itu untuk diam. Dia juga meletakkan jari telunjuknya di mulutnya. âJadiâŚ.â, ucap Jimin kemudian. Dia sedikit menggantungkan kalimatnya. ââŚ.. kau tak akan menjawab pertanyaanku?â, lanjutnya.
Gadis itu masih mencoba menetralkan diri dari rasa terkejutnya. Dia membenarkan posisi duduknya. âHaruskah!â, itu adalah kalimat terbodoh yang pernah dia ucapkan. Kenapa? Karena secara tidak langsung dia menolak memperkenalkan dirinya. Hanya gadis bodoh saja yang menolak diajak berkenalan dengan idol terkenal sekelas Jimin BTS. Mungkin gadis itu salah satunya.
âJika kau memang tak mau menjawab, ya sudah. Aku tak memaksaâ, ucap Jimin enteng. Dia kembali menyesap winenya.
Gadis itu tersenyum entah sebab apa. Dia kembali menyesap winenya. Suasan hening kembali tercipta diantara mereka. Yang terdengar hanya musik keras dari dj yang cukup memekakkan telinga.
âSo Hyunâ, kata gadis itu setelah terdiam cukup lama.
âKau bilang apa tadi?â, tanya Jimin yang tak mendengarnya dengan jelas. ya, kerasnya suara musik menelah suara gadis itu. Ditambah lagi gadis itu berucap cukup pelan.
âNamaku Kim So Hyunâ, ucap gadis itu kembali, diiringi dengan senyum manisnya.
âKim So Hyunâ, ucap Jimin memastikan.
âIyaâ, jawab gadis itu disertai anggukan.
đ
đ
đ
To Be Continued