![The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-marriage-curse--park-jimin---kim-so-hyun-.webp)
Chapter 46
(Suprise)
__
__
Kita sama-sama tidak sempurna
Dan karena tidak kesempurnaan itu
Kita saling melengkapi
Menjadikan Cinta dan sayang untuk penguat hubungan ini
__
__
Pukul delapan kurang lima menit, So Hyun sampai di restoran yang dimaksud suaminya. Dia benar-benar mengenakan gaun yang diterima tadi. Di luarnya dibungkus coat untuk menghalau dingin. Kakinya juga dihiasi heels berwarna senada. Kalung mutiara juga ia tambahkan. Tas keluaran terbaru melengkapi penampilan. Kesan mewah menjadi pernyataan yang tepat untuk menggambarkan dirinya sekarang.
Dia bertemu pramusaji di pintu masuk. Setelah ditanya nama, dia diantar menuju tempat di mana suaminya memesan. Atap. Namun hanya setengah jalan, pramusaji tersebut kemudian menunjukan arah.
Lilin aroma terapi menemani langkahnya. Perasaannya menjadi tenang mencium wanginya. Gelap adalah pemandangan pertama yang dilihat. Netranya menelisik setiap sudut. Detik kemudian menjadi terang. So Hyun berbalik. Menatap tak percaya suaminya yang sudah duduk di depan piano.
Pria itu tersenyum. Tangannya mulai memetik tuts demi tuts piano di depannya. Menimbulkan bunyi indah. So Hyun tak bisa berkata apa pun. Terlebih kini pria itu juga bernyanyi. Dia sering melihatnya, tapi tak semenawan hari ini. Apalagi kini pria itu bernyanyi hanya untuknya.
Tak ada yang bisa menggambarkan perasaannya hari ini. Terharu sekaligus bahagia. Dia masih belum apa maksud prianya melakukan itu. Dia tak ingin menebak. Sebisa mungkin dia mencoba menikmati. Suaminya benar-benar pria romantis.
Dia akhir permainan, pria itu berdiri. Mendekat kearahnya. So Hyun mengangkat kepala untuk bisa melihat wajah suaminya.
"Mungkin sedikit terlambat. Tapi aku selalu ingin melakukannya." Selanjutnya pria itu menekuk lutut. Mengeluarkan kotak beludru berwarna merah. Membukanya kemudian. Kata yang keluar setelahnya membuatnya tercengang.
"Would you marry me?"
"Apa aku bisa menolak? Kita bahkan sudah menikah."
Jimin mengambil tangan So Hyun. Memasangkan cincin itu di jari manis tangan kanan. Tangan kirinya sudah berisi cincin pernikahan. Mencium punggung tangan kemudian.
Pipi So Hyun bersemu. Prianya punya seribu cara untuk membuat jantungnya berdetak kencang. Rasanya hampir meledak. Letupan kebahagiaan yang dirasakannya sungguh luar biasa. Seperti kata pria itu, ini memang sedikit terlambat. Tapi dia sangat menyukainya. Kejutan untuk acara lamaran. Itu pernah diimpikannya dulu.
Pria itu berdiri. Memberikan kecupan dalam di kening istrinya. Menatap dalam setelah melepaskan. "Satu hal lagi."
"Apa?"
"Kau pasti lupa." Pria itu masih berdiri menatap So Hyun. Dia juga menyelipkan anak rambut istrinya ke belakang telinga. Mendekatkan wajahnya untuk berbisik. "Selamat ulang tahun, Sayang."
So Hyun mengangkat alis. menatap tak percaya wajah suaminya. "Tanggal berapa sekarang?"
"Sudah kuduga kau pasti lupa. Ini tanggal empat."
"Aku hanya mengujimu. Kupikir kau lupa."
Pria itu menempelkan kening. Tersenyum gemas pada istrinya. "Aku tidak mungkin lupa. Aku hanya mencari waktu yang pas untuk mengucapkannya."
"Terimakasih."
Detik selanjutnya, pria itu mendekatkan bibir. Melumat lembut milik istrinya. So Hyun membalas. Dia ikut menggerakan bibir. Hanya saja dia kalah. Pria itu yang lebih mendominasi. Cukup lama, hingga mereka terengah saat tautan itu terlepas. Saling tertawa kemudian.
"Lihatlah kesana." Jimin menunjuk langit yang dipenuhi bintang. Selanjutnya bunyi ledakan kembang api terdengar. Seketika langit dipenuhi percikan api dari ledakan tersebut. Bermacam warna tersaji di sana.
So Hyun tak mampu berucap. Pria itu memberikan kejutan lain. Mungkin dia akan menerima kejutan-kejutan lain setelah itu. Netranya sepenuhnya terfokus pada langit. Apalagi kini suaminya memeluk dari belakang. Semakin membuatnya enggan beranjak.
"Hari ini kau sangat cantik," bisik pria itu.
"Kau yang membuatku cantik. Terimakasih juga untuk gaunnya. Ini sangat nyaman."
"Syukurlah! Aku takut tak sesuai selera. Terlebih kau tak suka memakai baju jika bukan buatanmu."
"Dari mana kau membelinya?"
"Rahasia."
"Oppa."
Pria itu tersenyum. Memcium pipi istrinya kemudian. "Aku memesannya dari desainer favoritmu."
"Sylvie Facon."
"Karena itu dia membuatkan dengan warna biru." So Hyun menyela sebelum suaminya kembali bersuara.
Jimin kembali mencium pipi So Hyun. "Gadis pintar. Kau harus lebih sering menghubunginya. Dia sudah menganggapmu seperti putrinya."
So Hyun mengangguk. Masih menatap langit yang sudah kembali seperti semua. Kembang api yang dinyalakan sudah menghilang.
"Kuenya sudah siap."
So Hyun menoleh mengikuti arah pandang Jimin. Benar. Kue dengan lilin di atasnya sudah terletak manis di atas meja.
Jimin melepaskan pelukan. Mengulurkan tangan bermaksud ingin menggandeng. Menuntun wanitanya menuju meja. Menarik kursi untuknya kemudian. Dia ikut duduk di seberang meja setelahnya.
"Katakan keinginanmu sebelum meniup lilin."
So Hyun menyatukan tangan. Matanya tertutup. Menyebutkan keinginan dalam diam. Detik berikutnya, dia meniup dengan kencang. Lilin-lilin kecil itu padam. "Terimakasih."
"Kau bisa memotongnya."
Menuruti perintah suami, So Hyun lakukan. Potongan kecil pertama dia suapkan untuk pria yang sudah setahun lebih menjadi pasangan hidupnya. Dia tersenyum bahagia. Momen hari ini akan menjadi kenangan manis untuk masa depannya.
Malam itu, Jimin menutup kejutannya dengan makan malam romantis. Menikmati sepiring steak dan segelas wine mahal.
-o0o-
So Hyun tak bisa menghilangkan senyum, meski kini sudah berada di rumah. Tangannya menggenggam erat tangan Jimin. Berjalan menuju kamar mereka. Menyalakan lampu untuk mendapat cahaya.
Dia kembali tercengang melihat kamar tidurnya. Lilin-lilin menyala di setiap sudut. Rangkaian bunga juga menghiasi kamar itu. Jangan lupakan kelopak mawar merah berbentuk hati di atas ranjang. Sangat mirip dengan kamar pengantin.
"Apa ini?" Dia menoleh kearah suaminya.
Jimin hanya tersenyum. Tangannya terulur melepaskan coat So Hyun. Berbisik di telinganya. "Kita tidak pernah melakukan malam pertama denga benar."
So Hyun beringsut mundur. Dia paham maksud suaminya. Dia ingin menghindar. Namun pria itu sudah melangkah maju mendekat. Coat yang pria tadi kenakan sudah tergeletak tak berdaya di lantai.
So Hyun sudah tak bisa mundur. Kakinya sudah menyentuh ujung ranjang. Dia menelan ludahnya dengan susah. Tak dapat menghindar. Yang bisa dilakukannya hanya pasrah. Terserah pria itu mau melakukan apa.
Dugaannya salah ketika dia beranggapan suaminya akan mendorongnya. Prianya justru menatapnya dalam. Menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga. "Apa keinginanmu tadi?"
"Rahasia. Tidak akan terkabul jika aku mengatakannya."
Jimin tersenyum miring. Dia menangkup wajah So Hyun. "Malam ini, aku ingin menghabiskannya seperti penganti baru."
So Hyun tertawa. Mengangguk kemudian. "Terserah padamu."
"Kau harus bersiap Nyonya Park."
Belum sempat So Hyun menjawab, tubuhnya sudah telentang di ranjang. Pria itu mendorongnya. Bahkan kini mulai menindihnya. Seperti ucapannya, malam itu dihabiskan dengan berbagi kehangatan.
*SENSOR๐ณ*
๐ญ
๐ญ
๐ญ
To Be Continue...
๐ญ
๐ญ
๐ญ
Aduh sosweet banget sih mereka ๐๐ณ adakah yang baper dengan pasangan ini?๐ณ
Sisa satu part menuju final ending๐
Tenang ada epilog kok, kan aku baik wkwk
Oleh karena itu, jangan lupa tinggalkan jejak. Caranya dengan VOTE, LIKE COMMENT!! WAJIB! KUDU! HARUS!
Ok ok๐
Terima kasih sudah membaca cerita ini. See you and Lop you๐