The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]

The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]
Chapter 5



Chapter 5


(Get Married)


__



Yang membekas dalam ingatan dinamakan kenangan




Seoul, 12 Desember 2006


Gadis berambut pendek itu sedang terduduk di ayunan taman. Pandangannya lurus ke bawah. Menatap pasir lembut di bawah kakinya. Sesekali dia mengayunkan badannya untuk membuat ayunan itu bergerak. Setelah terhenti kembali dia mengetukan sepatu sportnya ke pasir. Udara dingin di awal musim dingin ini tak lantas membuatnya beranjak.


“Nappeun nom”, umpatnya.


Gadis itu terlihat sedang kesal. Entah pada siapa. Karena memang dia hanya sendirian di taman tersebut. Dia kembali menggerakkan tubuhnya. Membuat ayunan itu bergerak pelan. Kepalanya masih tertunduk. Wajahnya juga masih tampak kesal.


Jika dilihat sekilas gadis itu tampak seperti anak laki-laki. Dari pakaian yang dikenakannya serta potongan rambut yang memang menyerupai anak laki-laki.


Entah sudah berapa lama waktu yang ia habiskan untuk duduk menyendiri di tempat tersebut. Tempat dimana dia menghabiskan masa kanak-kanaknya bersama sahabat baiknya. Ya, disitulah dia pertama kalinya bertemu dengan anak kecil yang menjadi sahabat terbaiknya hingga saat ini.


Tapi mengapa dia sendirian hari ini? Itu adalah pertanyaan yang tepat untuk gadis itu. Biasanya dia akan selalu bersama sahabatnya itu. Diamanapun dia berada sahabatnya itu akan selalu mengikutinya.


Karena masih sibuk dengan pemikirannya, gadis itu tak sadar jika di depannya sudah berdiri seorang anak laki-laki yang kira-kira lebih tua darinya. Dengan mengenakan kemeja sebagai baju dalamnya yang kemudian dilapisi switer ranjut dan mantel selutut sebagai baju luarnya. Celana jeans hitam panjang mengbungkus kaki jenjangnya. Sepatu sport juga menghiasi kakinya. Jangan lupakan syal rajut yang melilit indah di lehernya. Tangannya ia masukan ke dalam saku mantelnya.


“Kim So Hyun”, sapa anak laki-laki tersebut.


Anak gadis itu menghela nafas sebelum mendongakkan kepalanya. Untuk sesaat tatapan mereka saling bertemu. Gadis itu dapat melihat senyum manis dari bibir anak laki-laki tersebut. Dia masih terdiam. Masih mencoba mengingat siapa anak laki-laki tersebut.


“Kau sedang apa disini?”, tanya anak laki-laki itu kembali. “Sendiri”, ada jeda lama sebelum mengatakan kata tersebut. Dia ikut duduk di ayunan sebelah kiri gadis itu.


Gadis yang dipanggil Kim So Hyun itu masih diam. Pandangannya mengikuti gerak anak laki-laki tersebut yang mulai mengayunkan ayunan yang didudukinya. Dia membuang kasar nafasnya. Pandangannya kini lurus ke depan. Dia juga masih terdiam. Masih enggan menjawab.


“Kau bertengkar dengan temanmu itu?”, suara anak laki-laki itu terdengar kembali. Ayunananya sudah berhenti. Dia menatap gadis itu yang masih terdiam.


“Chimie oppa”, ucap gadis kecil itu setelah lama terdiam. Pandangannya masih lurus ke depan.


“Kau mengingat namaku”, jawab anak laki-laki itu diselingi senyum manisnya. Bukan tanpa alasan dia berkata begitu. Dia tahu jika gadis kecil itu tak suka mengingat nama teman-teman kakaknya, tak terkecuali dia.


“Kau mau jadi pacarku?”, gadis itu menghadap ke depan saat mengatakannya. Lalu ia alihkan pandangannya ke arah anak laki-laki yang ada di sampingnya.


Anak laki-laki itu mengangkat alisnya. Seolah tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Gadis kecil di sampingnya tengah memintanya menjadi kekasihnya? Dia tertawa kemudian. Merasa lucu dengan apa yang baru saja gadis kecil itu lakukan.


“Waeyo? Shireoyo?”, gadis kecil itu kembali bersuara.


Anak laki-laki itu berdehem, mencoba menghentikan tawanya. “Bukan begitu! Ini aneh, kenapa tiba-tiba kau memintaku menjadi kekasihmu”, jelas anak laki-laki tersebut.


“Aku menyukaimu. Itulah kenapa aku memintamu menjadi pacarku”, ucap gadis kecil itu kembali.


Anak laki-laki itu memandang So Hyun aneh. Ada yang tidak beres dengan gadis kecil di sampingnya. Meski tak mengenal dekat dengan gadis itu, tapi dia tahu jika gadis itu bukan tipe orang yang akan melakukan hal yang baru saja terjadi.


“Kau tidak mau? Kenapa? Apa karena aku tak cantik? Apa karena aku terlihat seperti anak laki-laki? Atau karena memang aku tak pantas menjadi seorang pacar?”, jelas So Hyun. Ada raut keputus-asaan di matanya. Meski tak mengeluarkan air mata, tapi anak laki-laki itu dapat melihatnya dengan jelas.


Anak laki-laki itu terlihat menghela nafasnya. “Jadi benar kau bertengkar dengan temanmu?”. Anak laki-laki itu mencoba mengalihkan pembicaraan. Dia tak ingin menjawab permintaan gadis kecil itu. Karena memang itu bukan hal tulus yang dilakukan gadis itu.


So Hyun membuang muka. Dia diam, tak berniat menjawabnya. Memang benar yang dikatakan anak laki-laki itu, dia sedang bertengkar dengan sahabat baiknya.


“Cantik itu relatif. Tergantung siapa yang mengucapkannya. Karena memang manusia memiliki sudut pandangnya masing-masing. Percayalah, yang terlihat baik belum tentu baik. Bahkan kadang yang terlihat buruk justru hal itu sebenarnya baik”, anak laki-laki itu menghela nafas sejenak. Pandangannya kini ia alihkan pada gadis kecil di sampingnya.


“Kau cantik dengan caramu sendiri. Jadi, tak perlu mempermasalahkan pendapat orang. Jadilah dirimu sendiri. Buat orang mencelamu menyesal telah mengatakannya”, lanjut anak laki-laki tersebut.


So Hyun menoleh. Menatap kagum anak laki-laki di sampingnya. Seulas senyum terukir di wajahnya. Yang kemudian dibalas oleh anak laki-laki itu.


Anak laki-laki itu berdiri. Dia berjalan dan berhenti tepat di depan gadis kecil tersebut. Dia mengulurkan tangannya kemudian. “Kajja”, ajaknya entah kemana.


“Kemana?”, tanya So Hyun yang penasaran.


“Aku akan menjadi pacarmu untuk hari ini. Mari kita lakukan ha-hal yang biasa dilakukan sepasang kekasih”, ucap anak laki-laki itu kembali. Senyum manis juga terpajang di wajahnya.


So Hyun menerima uluran tangan anak laki-laki itu. Dia berdiri, mengikuti kemanapun anak laki-laki itu membawanya.


-o0o-


“Sudah lebih baik?”, tanya anak laki-laki itu. Mereka kini sudah sampai di depan rumah So Hyun. Ya, setelah lelah berkeliling bersama, anak laki-laki itu mengantarkan So Hyun pulang.


So Hyun mengangguk. “Emmh. Terima kasih oppa”, ucapnya yang diselingi senyum manisnya.


“Masuklah!”.


So Hyun kembali mengangguk. “Kau tak ingin mampir?”.


Anak laki-laki itu menggeleng. “Sudah malam. Kapan-kapan saja mampirnya”, jawabnya.


“Ya sudah. Pulang sana, hush hush”, usir So Hyun. Tangannya ia kibaskan sebagai dukungan dari ucapannya. Dia membalikkan tubuhnya dengan cepat. Saat akan berjalan, tangannya ditarik oleh anak laki-laki itu.


So Hyun mendengus kesal. Dia kembali menoleh pada anak laki-laki itu. “Apa lagi?”, tanyanya kesal.


Anak laki-laki itu tersenyum. Dia melepaskan genggamannya. Tangannya terulur melepas lilitan syalnya. Berjalan mendekat dan memakaikannya di leher So Hyun.


“Untuk apa ini?”, tanya So Hyun setelah anak laki-laki itu selesai memakaikan syal di lehernya.


“Hadiah”, jawabnya singkat.


So Hyun mengangkat alis minta penjelasan.


“Saengil chukkae SSo”, ucap anak laki-laki itu. Dia juga mengacak pelan rambut So Hyun.


So Hyun kembali mendengus. “SSo”, ulang So Hyun dengan penuh penekanan. Dia menyingkirkan tangan anak laki-laki itu.


“Karena kau memanggilku dengan sebutan oppa. Maka aku akan memanggilmu dengan nama itu. SSo”, jelas anak laki-laki itu diselingi dengan senyum manisnya. “Sudah sana masuk”, lanjutnya sambil mendorong tubuh So Hyun.


“Iya, iya”.


-o0o-


Seoul, 14 Februari 2007


So Hyun mendengus kesal setelah memasuki rumahnya. Bagaimana tidak, dia dipaksa memakai wig untuk foto keluarga. Katanya agar terlihat seperti seorang gadis. Alasan macam apa itu? Kenapa memangnya kalau dia terlihat seperti anak laki-laki? “Ck”, dia berdecak kesal. Selain itu, dia juga dipaksa memakai gaun agar terlihat lebih feminim.


Dia mendengar suara musik dari ruang pribadi kakaknya. Dia yang berniat masuk kamarnya berbelok memasuki ruang tersebut. Dia melihat seorang pria tengah bermain gitar. Tangannya begitu terampil memakai alat musik tersebut. So Hyun berjalan mendekat. Pandangannya tak lepas dari pria itu.


“Apa yang kau lakukan disini?”, tanya So Hyun.


Pria itu menghentikan permainan gitarnya. Dia menatap aneh gadis di depannya karena tak mengenalinya. Dia mencoba mengingat dimana kira-kira pernah melihat gadis itu. Namun nihil, gadis itu terasa asing di matanya. Tunggu! Sepertinya dia ingat. Iya. Pasti gadis itu. “SSo”, ucapnya kemudian.


“Eoh”, jawab So Hyun singkat. “Apa yang kau lakukan di rumahku?”, tanyanya kembali.


“Aku menunggu Hyunmin. Karena dia ada foto keluarga, jadi dia menyuruhku kesini”, jelas pria itu.


“Terserahlah!”, jawab So Hyun acuh. Dia berjalan meninggalkan pria itu.


“Apa dia sudah pulang?”, tanya pria itu.


“Dia masih bergosip dengan sepupunya. Mungkin sebentar lagi”. So Hyun kembali berjalan meninggalkan pria itu. Sebelum menutup pintu, dia berbalik. “Kalau haus, ambil saja minuman di kulkas”, ucapnya. Dia menghilang di balik pintu.


So Hyun berjalan pelan menuju dapur. Dia merasa tenggorokannya sedikit kering. Setelah membuka kulkasnya, dia mengambil sebotol air mineral. Dibukanya tutupnya. Lalu diteguknya dengan perlahan. Dia bernafas lega setelah meminum air tersebut. Dia menyandarkan punggungnya di dinding. “Bukankah dia pria itu?”, ucapnya entah pada siapa.


So Hyun kembali berniat menuju kamarnya. Namun dia sudah tak mendengar lagi suara permainan gitar di ruang pribadi kakaknya. Dia kembali berbelok untuk memeriksanya. Kepalanya ia masukan lebih dulu setelah membuka pintu. Tidak ada siapapun. Dia berjalan masuk, setelah menutup pintu. ‘Kemana perginya pria itu?’, tanyanya dalam hati.


“Door”.


“Akh”, So Hyun menjerit kaget. Dia memegang dadanya. Dia menoleh cepat. “Yak, neo….”, ucap So Hyun kesal.


Pria itu justru tertawa keras. Dia merasa puas telah berhasil mengerjai gadis itu. “Kenapa? Kau mencariku?”, ucapnya berjalan mendekat.


So Hyun terpaksa mundur. Dia berjalan semakin mundur karena pria itu berjalan mendekatinya. Dia berhenti karena punggungnya menabrak rak buku. “Mwo?”, tanya So Hyun, karena pria itu terus memandangnya.


Pria itu menghentikan langkahnya, setelah melihat So Hyun menabrak rak buku. Dia mengacak pelan puncak kepala So Hyun. “Kau terlihat lebih cantik hari ini”. Setelah mengatakannya, dia berbalik meninggalkan gadis itu.


So Hyun mendengus kesal. Dia berjalan mengikuti pria itu. “Omong-omong, siapa namamu?”, tanya So Hyun dengan wajah polosnya.


Pria itu menatap tajam So Hyun. Seolah dia marah karena gadis itu tak mengingat namanya. “Kau sedang bercandakan?”, tanyanya.


“Tidak. Aku memang tak mengingat namamu”, jawab So Hyun.


Pria itu tersenyum miring. “Kau memang sesuatu, SSo”, pria itu menekankan nama panggilan untuk gadis itu.


“Kau mau menjawab atau tidak? Jika tidak, ya sudah. Aku tak memaksa”, ucap So Hyun acuh. Dia berjalan menjauhi pria itu.


“Percuma saja aku menjawabnya. Kau juga akan melupakannya, nanti”, jawab pria itu.


So Hyun berhenti. Dia membalikkan tubuhnya. Berjalan mendekati pria itu kembali. “Jika kau mau menikah denganku, aku akan mengingat namamu”, ucapnya setelah berhenti di depan pria itu.


Pria itu mengangkat alisnya. Menatap tajam So Hyun.


“Tidak sekarang. Saat dewasa nanti, mungkin”, jelas So Hyun.


Pria itu kembali tertawa. Sekarang apa lagi? Beberapa waktu lalu gadis ini memintanya menjadi pacarnya. Sekarang gadis itu memintanya menikahinya. Gadis yang unik.


“Waeyo? Shireoyo?”.


“Kau bertengkar lagi dengan temanmu?”, tanya pria itu.


“Kenapa setiap kali aku memintamu, kau selalu bertanya apa aku bertengkar dengan temanku. Kami baik-baik saja”, jawab So Hyun. “Ck, dasar menyebalkan”, So Hyun berbalik, dia berniat meninggalkan pria itu. Lama-lama tekanan darahnya naik karena menghadapi pria itu.


Pria itu berjalan cepat. Menarik lengan So Hyun, hingga membuat gadis itu berbalik menghadapnya. Gadis itu hampir terjatuh, namun dengan sigap ia menahan pinggang gadis tersebut. Dia menatap So Hyun tajam.


So Hyun cukup terkejut. Dia terdiam, tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Untuk beberapa detik mereka hanya saling memandangan.


“Namaku Ji-Min”, ucapnya penuh penekanan. “Nama depanku Park. Ingat itu”, lanjutnya masih dengan penekanan yang sama. Dia tersenyum kemudian.


So Hyun yang tersadar, segera melepaskan tubuhnya. Dia mencoba mendapat keseimbangannya kembali. Dia mendorong tubuh pria itu. Menatap tajam kemudian. Dia merasa kesal karena sudah dilecehkan. “Apa yang kau lakukan?”, tanyanya kesal.


Pria itu hanya tersenyum menanggapinya. “Aku menjawab pertanyaanmu”, ucapnya kemudian.


So Hyun membuang kesal nafasnya. Dia berjalan menjauhi pria itu.


“Aku menaruh coklat di kamarmu. Selamat hari kasih sayang”, teriaknya kembali.


-o0o-


So Hyun membuka matanya. Rasanya masih enggan beranjak dari tempat tidurnya. Kenapa dia memimpikan hal itu? Dan bodohnya, kenapa dia baru menyadarinya? Jadi pria itu adalah Jimin BTS.


So Hyun tersenyum miring mengetahui fakta itu. Dia menutup matanya dengan lengannya. Mengingat hal itu membuatnya semakin enggan bangun. Apa pria itu setuju dengan perjodohan ini karena permintaan bodohnya dulu? Memikirkannya membuat So Hyun semakin frustasi. Dia mengusap kasar wajahnya.


“Kau belum bangun?”.


Sebuah suara terdengar begitu saja di telinganya. Dia menoleh untuk melihatnya. Dia membulatkan matanya, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Dia memejamkan matanya beberapa kali. Juga menggelengkan kepalanya beberapa kali. Berharap jika apa yang dilihatnya tidaklah benar.


“Kenapa? Kau mimpi buruk?”, ucap orang itu kembali.


So Hyun masih memandang tak percaya objek di depannya. Dia mengamati setiap gerak pria itu. Ya, pria yang baru saja diimpikannya. Mulai dari melempar mantelnya ke sofa. Menutup mulutnya karena menguap. Hingga berjalan pelan mendekatinya. Ikut bergabung dalam ranjangnya. Tunggu! Apa yang pria itu mau lakukan?


“Kau.. kau mau apa?”, tanya So Hyun sedikit gugup.


Pria itu tak menggubris pertanyaan So Hyun. Dia ikut berbaring dan menarik selimut. “Aku mau tidur. Aku konser semalaman”, ucapnya sebelum menenggelamkan dirinya dalam selimut.


So Hyun membuang kasar nafasnya. Dia duduk kemudian. “Maksudku, apa yang kau lakukan di apartemenku?”, ucapnya sedikit berteriak.


“Aku akan tinggal disini mulai hari ini”, jawab pria itu di balik selimut.


“Mwo? Siapa yang bilang?”, tanya So Hyun kembali.


“Aku”, jawabnya singkat. Sepertinya pria itu hampir terlelap.


So Hyun mengepalkan kuat tangannya. Dia membuang kasar nafasnya. Oke, untuk kali ini dia akan membiarkannya. Bukan karena apa-apa, dia tak tega melihat raut lelah di wajah pria itu. Nanti dia akan mengusirnya jika memang pria itu masih bersikeras tinggal di apartemennya.


Dia beranjak bangun. Mengambil ponselnya yang bergetar. Menggeser ikon panggil sebelum menempelkannya di telinga. “Yeobseyo”, ucapnya.


“Ada apa imo?”, So Hyun berjalan mendekati jendela kamarnya. Dia menyibak gordennya. Merasakan sinar matahari yang sudah tampak tinggi. Ya, dia kesiangan karena mimpi yang dialaminya tadi.


“Hari ini aku ada rapat pembuatan katalog perusahaan. Kenapa memangnya?”.


So Hyun menekuk lehernya ke kanan dan ke kiri. Lehernya terasa sedikit pegal. “Sepertinya tidak ada”, ucapnya lagi.


“Kenapa aku harus pulang lebih awal?”.


So Hyun mendengus kesal. Dia masih diam, mendengar setiap kalimat yang diucapkan bibinya. “Iya, iya”, ucapnya sebagai akhir dari pembicaraannya.


So Hyun melempar ponselnya ke sofa. Dia kembali mendengus kesal melihat pria yang tertidur di ranjangnya. Dia berjalan pelan menuju kamar mandinya.


-o0o-


So Hyun masih memandang kesal pria yang terbaring di ranjangnya. Seluruh tubuhnya dibungkus dengan selimut. Dia yang sudah siap berangkat ke kantor berjalan pelan meninggalkan kamarnya. “Aku membuat sarapan di kulkas. Makanlah jika kau lapar”, ucapnya. Dia tak peduli apa pria itu akan mendengarnya atau tidak. Dia menutup pintu kamarnya kemudian.


Sepanjang perjalannya ke kantor, So Hyun nampak gelisah. Perasaannya tak menentu setelah mengingat kejadian beberapa tahun lalu. “Sebenarnya ada apa denganku? Kenapa aku menjadi gelisah setelah mengingatnya?”. So Hyun menggelengkan kepalanya mencoba menepis semua rasa gelisahnya.


“Daepyonim. Anda baik-baik saja?”, tanya sekretarisnya. Gadis itu berjalan mendekati So Hyun. Sepertinya dia juga baru tiba di kantor.


“Aku baik-baik saja”, jawab So Hyun mencoba meyakinkan.


Sekretaris Min menatap So Hyun aneh. “Jangan bohong”, ucapnya kembali.


“Aku baik-baik saja sekretaris Min. Memangnya ada yang aneh denganku?”.


Sekretaris Min tersenyum. Dia menggeleng kemudian.


“Apa jadwalku hari ini?”, tanya So Hyun setelah pintu lift tertutup.


Sekretaris Min mengambil tabletnya. Dia menggesernya beberapa kali, mencari keberadaan catatan pribadinya. “Hanya rapat pembuatan katalog”, jawab sekretaris Min antusias. Dia kembali memasukan tabletnya.


“Aku akan pulang lebih awal hari”, ucap So Hyun.


Sekretaris Min menoleh. “Kenapa?”, tanyanya lagi.


“Imo yang memintanya”.


“Untuk apa Kim hwejangnim memintanya?”.


“Persiapan pernikahan katanya”. So Hyun membuang pasrah nafasnya. “Aku masih tidak percaya jika aku benar-benar akan menikah sebentar lagi”, lanjutnya.


“Jadi anda benar-benar menerimanya?”, tanya sekretaris Min.


“Aku tidak punya pilihan. Kau tahu sendirikan bagaimana keras kepalanya imo”, So Hyun membuang pasrah kembali nafasnya. Dia berjalan mendahului sekretarisnya setelah pintu lift terbuka.


Sekretaris Min masih terdiam. Dia menatap punggung So Hyun yang semakin menjauh dengan pandangan yang sulit diartikan.


-o0o-


Gadis itu sudah siap dengan gaun yang dipakainya. Gaun pengantin tanpa lengan berwarna putih itu begitu pas di tubuh rampingnya. Ramput panjangnya dibiarkan terurai, dihiasi dengan bando bunga berwarna senada. Wajahnya dirias sedemikian rupa, membuat siapapun yang mengenalnya akan pangling melihatnya.


Ya, gadis itu bernama Kim So Hyun. Dia tak pernah menyangka jika dirinya akan menikah hari ini. Tanpa pemberitahuan, tanpa persiapan. Semua sudah dipersiapkan keluarganya terutama bibi keduanya. Ini karena dia menuruti permintaan bibinya tadi pagi. Dia pikir dia akan diajak berdiskusi perihal pernikahannya. Dugaannya salah, justru hari itu adalah hari pernikahannya.


Dia membuang pasrah nafasnya. Masih memandang tak percaya bayangan dirinya di cermin. Berharap apa yang dialaminya hari ini adalah mimpi. Tapi sepertinya itu hanya harapan belaka. Karena memang itu bukan mimpi, itu memang kejadian yang sedang dialaminya. Pantas saja pria itu berkata jika dia akan tinggal bersamanya mulai hari ini. Jadi karena ini. Hanya dia yang bodoh disini, yang tak tahu apa-apa.


“Eonni”, ucap seseorang yang tiba-tiba masuk ke ruang itu.


So Hyun menoleh. Tersenyum aneh pada orang itu.


“Ini”, ucap orang itu. Dia memberikan sebuket bunga. “Susah payah aku mendapatkannya. Imo sih mintanya dadakan”, orang itu tampak mengeluh kesal.


“Terima kasih”, ucap So Hyun canggung.


“Calon pengantin tidak boleh sedih di hari pernikahannya. Kau harus tersenyum eonni. Kau jelek jika terus cemberut seperti itu”, ucap orang itu lagi.


“Kau bisa berkata seperti itu karena kau tak berada diposisiku”, bantah So Hyun.


“Kenapa? Apa kau baru diberitahu hari ini?”, tanya orang itu kembali.


So Hyun mengangguk. “Lebih buruknya, aku baru diberitahu setelah datang ke rumah ini”, jelas So Hyun kembali. Dia menghela nafas pasrah.


“Imo benar-benar keterlaluan, ya”.


“Ya, begitulah imo mu”.


“Dia juga imo mu”.


Mereka berdua sama-sama tertawa setelahnya. Menertawakan tingkah konyol mereka sendiri.


“Tapi setidaknya dia tampan”, ucap orang itu.


So Hyun hanya memperhatikan tingkah orang itu dari pantulan cermin di depannya. Gadis dibelakangnya tengah menutup matanya, membayangkan sesuatu.


“Aku tidak pernah menyangka jika pria itu adalah Jimin BTS. Jika aku jadi kau, tak akan jadi masalah menikah dengannya meski tanpa pemberitahuan lebih dulu”, jelas orang itu kembali.


“Kenapa tidak kau saja yang menikah dengannya!”, goda So Hyun.


Gadis itu tersenyum malu. “Itu tidak mungkin. Lagipula aku sudah memiliki pacar”, jelas orang itu.


“Kalau begitu, kau harus secepatnya mengajak dia menikah”.


Gadis itu tertawa keras. “Menikah! Jangan bercanda Kim So Hyun. Aku baru ditingkat dua bangku kuliah. Dan umurku baru 20 tahun”, gerutunya.


“Kau lupa dengan kutukan keluarga kita”.


“Aku masih punya waktu tiga tahun”.


So Hyun memutar malas bola matanya. “Ya, ya. Terserahlah!”.


“Ekhmm”. Terdengar suara dari belakang mereka.


Mereka berdua menoleh untuk melihat siapa yang tengah mengganggu. Si pengantin pria rupanya. Dia panjang umur juga. Baru saja mereka membicarakannya, dia datang juga.


Gadis itu tersenyum, tapi tidak dengan So Hyun. Dia memilih menatap dirinya kembali ke cermin.


“Annyeong, Jimin oppa”, sapa gadis itu.


Pria itu tersenyum, dia membalas salam dari gadis itu. Dia berjalan mendekat ke arah mereka.


“Eonni, aku pergi dulu ya. Chukkae. Jangan cemberut terus, oke”, ucap gadis itu sambil berbisik.


“Yak, Lee Bona”, teriak So Hyun. Dia menoleh melihat kepergian sepupunya.


Gadis itu melambaikan tangan tanpa menoleh dan menghilang di balik pintu.


So Hyun menatap pria itu sebentar. Pria itu sudah rapi dengan tuxedo hitam yang pas di tubuhnya. Dasinya berbentuk kupu-kupu. Di sakunya diselipkan bunga, sebagai tanda jika dialah sang pengantin pria. Rambutnya ditata sedemikian rupa. Tanpa poni, membuatnya terkesan lebih dewasa.


Mereka hanya diam. Tak ada percakapan yang terdengar. Merasa canggung atau memang sedang terbawa suasana.


“Kau cantik hari ini”, ucap pria itu memecah keheningan.


“Kau juga. Kau lebih tampan dari biasanya”, ucap So Hyun. Dia tersenyum kecil sebelum membuang mukanya. Pipinya sedikit memerah.


-o0o-


Hari itu, adalah hari yang tak pernah So Hyun bayangkan. Dimana dia harus menggati statusnya dari lajang menjadi istri orang. Hari dimana dia harus memulai kehidupan barunya bersama pria itu. Pria yang mengucapkan janji suci sehidup semati bersamanya. Pria yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.


💜


💜


💜


To Be Continue…..


💜


💜


💜


Hai, Akhirnya aku bisa membuat mereka berdua menikah. Meski dadakan, hahaha…..


Gimana menurut kalian?


Jangan lupa tinggalkan jejak Vote Comment ya hehe..