![The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-marriage-curse--park-jimin---kim-so-hyun-.webp)
Chapter 15
(Parents Ini Law)
_
_
_
Saran Author :
Kalau mau ***, jgn lupa kunci pintunya ya.. hihihi😁😁
Awas keciduk🤣
_
_
_
"Kenapa kita berhenti disini? Dan juga, rumah siapa itu?", tanya So Hyun yang terlihat penasaran. Ya, mereka kini sudah berhenti di sebuah rumah yang belum pernah So Hyun kunjungi sebelumnya. Setelah dua malam tak pulang ke apartemen So Hyun, pria itu berdalih ingin mengajaknya jalan-jalan. Nyatanya, pria itu malah mengajaknya ke kediaman seseorang.
Pria itu membuang pasrah nafasnya setelah mendapat pertanyaan dari So Hyun. Dia melepas sabuk pengamannya. Pandangannya kini ia alihan ke arah So Hyun. "Ini rumah eomma", jelas pria itu.
"Mwo?", So Hyun terlihat benar-benar kaget.
"Ayo masuk", ajak pria itu lagi.
"Kenapa kau tak bilang sejak tadi? Jika aku tahu sejak awal, aku pasti akan membawa sesuatu untuk ommonim", bantah So Hyun. Dia menarik lengan pria itu saat akan beranjak.
"Eomma tidak akan kecewa meski kau tak membawa apapun. Kau sudah mau datang, itu sudah membuat eomma senang", jelasnya lagi.
"Tetap saja Jimin-ssi, itu tidak sopan namanya. Dan lagi, ini kali pertama aku datang ke rumah mertuaku". So Hyun nampak kecewa.
"Kenapa? Kau takut?", goda pria itu. Dia juga mengusap pelan puncak kepala So Hyun.
So Hyun mengusap tengkuknya, wajahnya juga ditekuk. "Eoh", jawabnya singkat. "Aku baru dua kali bertemu mereka. Saat makan malam itu dan saat pernikahan kita. Itupun kami tak mengobrol banyak. Aku takut jika mereka tak menyukaiku sebagai menantu", lanjut So Hyun lagi.
"Jangan khawatir, mereka menikahi kita itu berarti mereka sudah siap menerima konsekuensinya. Tidak peduli seperti apa menantunya, mereka akan menerimanya dengan tangan terbuka. Percaya padaku, mereka tidak semenakutkan itu", ucap pria itu menenangkan. Dia juga menggenggam erat tangan So Hyun.
"Itu karena kau sudah tinggal dengan mereka dari lahir", So Hyun masih membantah. Masih terlihat ragu untuk menerima ajakan pria itu.
"Kalau kau tidak menemui mereka, kau tak akan tahu reaksinya bukan", pria itu masih mencoba menenangkan So Hyun.
"Hah", So Hyun membuang pasrah nafasnya. "Memang iya", ucapnya kemudian. "Apa abeonim juga di rumah?".
"Ini hari minggu So Hyun, mereka semua ada di rumah. Aku yakin noona juga ada di rumah".
"Baiklah, ayo masuk", jawab So Hyun pasrah.
Mereka memasuki kediaman orang tua Jimin. Dengan saling berpegangan tangan. Meski sebenarnya So Hyun masih setengah hati tak terima dengan tindakan pria itu hari ini.
"Sepi sekali", ucap So Hyun saat mereka sampai di ruang keluarga.
"Mereka mungkin di belakang", ucap Jimin. "Tunggu disini, aku akan memanggilkan mereka".
So Hyun mengangguk mengiyakan. Setelahnya Jimin pergi entah kemana. Dia hanya memandang foto-foto yang terpajang manis di dinding. Foto keluarga suaminya. Juga ada foto-foto lucu suaminya, kedua mertuanya serta kakak iparnya. So Hyun ikut tersenyum melihatnya.
Dia merasakan sesuatu yang menggelitik di kakinya. So Hyun menoleh ke bawah untuk memeriksanya. Seekor kucing putih tengah bergelut manja dengan kakinya. "Meong", suara kucing itu terdengar jelas di telinganya. "Aaaa", So Hyun menjerit histeris.
Tanpa pikir panjang dia menaikan kakinya ke sofa. Mengambil bantal dan mengarahkannya ke kucing tersebut. Dia berusaha mengusirnya. "Hush, hush. Pergi, pergi sana. Hush, hush", usirnya.
Namun sepertinya kucing itu tak mengindahkannya. Kucing itu justru duduk dan menatap sendu So Hyun. Kadang dia mengeluarkan suara. Sepertinya berniat mengajak So Hyun bermain. Wajahnya sangat lucu, membuat siapapun yang melihatnya akan merasa gemas. Bulunya putih dan matanya berwarna biru.
Tapi tidak bagi So Hyun. Itu adalah hewan yang paling dibencinya. Hewan yang akan membuatnya bersin jika dia mencium bulunya. Dan bersinnya sulit hilang meski sudah meminum obat alergi. "Hush, hush", usirnya kembali.
Dari arah lain datanglah suaminya beserta keluarganya. Dia menatap aneh So Hyun, setelah melihat tingkahnya. "So Hyun, kau kenapa?", tanya Jimin. Dia berjalan mendekat ke arah So Hyun. Tangannya terulur menggendong kucingnya.
"Singkirkan kucing itu Jimin-ssi", ucap So Hyun. Dia masih menaikan kakinya di sofa. Dia juga menutup hidungnya. Tangannya juga memberi isyarat untuk menjauhkannya.
"Kau takut. Lihatlah, bukankah dia lucu. Namanya Snowy", ucap Jimin. Dia mendekatkan kucing itu pada So Hyun.
"Akh", teriak So Hyun. Cukup kecang, membuat semua orang terlihat panik. Dia menutup wajahnya. Juga menundukkan badannya. Tapi sepertinya terlambat, dia terlanjur mencium bulu kucing tersebut.
"Jimin, apa yang kau lakukan? So Hyun alergi kucing", ucap ibunya. Dia teringat percakapannya dengan Kim Nara yang tak lain bibi So Hyun saat berkunjung ke rumahnya setelah melihat kucing peliharaannya.
"Apa?", ucap Jimin kaget. Dengan segera dia menurunkan kucingnya. Menjauhkannya sesegera mungkin.
Kakaknya merebut kucing tersebut. "Aku akan membawanya ke belakang, kau tenangkan saja istrimu", ucapnya.
"So Hyun kau baik-baik saja?", tanya Jimin yang terlihat panik. Dia mendekati So Hyun yang masih menyembunyikan wajahnya. Mengangkat kepala So Hyun dan melepaskan tangannya. "Kau baik-baik saja?", tanyanya kembali.
-o0o-
Malam sudah semakin larut. Namun suara berisik di kamar itu masih terdengar. Ya, So Hyun masih bersin hingga sekarang. Hidungnya sangat merah karena terlalu banyak bersin. Selalu saja seperti itu jika dia berhadapan dengan kucing. Untuk itulah, dia menjadikan hewan itu sebagai benda nomor satu yang paling dibencinya. Tidak peduli seberapa lucu warna, bulu, maupaun sikap kucing tersebut, dia tak akan terpengaruh.
Jimin memasuki kamar dengan membawa segelas minuman yang masih mengeluarkan asap. Dia adalah orang pertama yang merasa bersalah melihat keadaan istrinya. Ya, karena ketidaktahuannya dia sudah membuat istrinya bersin sepanjang hari. Sudah berbagai cara dia lakukan untuk menghentikan bersin tersebut. Namun hasilnya tetap nihil. Seolah bersin itu sudah berada pada tempatnya dan enggan beranjak.
"Minum ini", ucapnya menyodorkan minuman hangat itu pada So Hyun.
So Hyun meminumnya dengan perlahan. Dia juga sempat mengalami bersin di sela-sela meminumnya. Dia memberikan gelasnya kembali setelah menghabiskannya.
"Maaf ya. Gara-gara aku kau jadi seperti ini", ucap Jimin setelah meletakkan gelasnya di nakas. Dia merapikan anak rambut So Hyun, menyampirkannya ke belakang telinga.
"Sudah berapa banyak kau minta maaf seharian ini.... haching.... Sudah ku bilang ini bukan salahmu ......haching ..... " ucap So Hyun disertai bersinnya.
"Tetap saja, aku....", ucap Jimin terpotong karena tiba-tiba So Hyun memeluknya.
"Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri ... haching...", So Hyun menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.
Jimin hanya bisa mengambil nafas dalam. Dia mengusap pelan surai panjang istrinya. Suara bersin masih ia dengar meski tak sekeras sebelumnya, karena memang So Hyun menyembunyikan wajahnya.
So Hyun kembali mengangkat wajahnya. Hal pertama yang dilihat di wajah suaminya adalah raut khawatir. Untuk sesaat mereka saling menatap dan berakhir ketika dirinya bersin.
Jimin menangkup wajah So Hyun dengan kedua tangannya. Menatapnya sendu. Dia melihat hidung istrinya benar-benar merah karena terlalu banyak bersin. Saat tahu istrinya akan bersin, dia mendekatkan wajahnya. Membungkam mulut istrinya dengan bibirnya. Melumatnya pelan hingga meredamkan bersinnya. Dia kembali melumatnya kala tahu istrinya akan bersin kembali. Diulangnya beberapa kali, dan menjauhkan wajahnya setelah kehilangan pasokan oksigen.
Mereka sama-sama terengah. Sama-sama mencari pasokan oksigen yang mulai menipis. Hidung mereka masih menepel. Hingga membuat mereka bisa merasakan deru nafas masing-masing. So Hyun kembali merasakan dirinya akan bersin. Dengan sigapnya Jimin kembali membungkamnya. Kali ini terkesan lembut, bahkan pria itu memiringkan wajahnya. Memberikannya ruang untuk mengambil nafas.
So Hyun kembali menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya setelah pria itu melepaskan lumatannya. Dia malu tentu saja. Ya, meski kini mereka sudah resmi menjadi suami istri tetap saja ada saat dimana dia merasa malu dengan apa yang dilakukannya. Seperti tadi, dengan seenaknya pria itu menciumnya dan dengan sengaja pula dia membalas lumatan pria itu.. Owh God, siapa yang tak tergoda dengan bibir seksi pria itu.
"Apa bersinnya masih ada?", tanya Jimin.
So Hyun mendongakkan wajahnya. Memeriksa dirinya. Rasa gatal dihidungnya, sudah menghilang. Dan ajaibnya, bersin itu juga hilang. So Hyun mendengus beberapa kali mencoba meyakinkan. Benar saja bersinnya sungguh hilang. "Ini aneh, tapi bersinnya memang benar-benar hilang", ucap So Hyun.
"Benarkah!", ucap Jimin tak percaya. Wajahnya memancarkan ketidakpercayaan dan lega sekaligus. Dia tak pernah menyangka jika apa yang dilakukannya akan membuat istrinya menjadi lebih baik. Dia senang tentu saja.
So Hyun kembali mengangguk sebagai jawaban. "Gomawo", ucapnya kemudian yang diselingi dengan senyum tulusnya.
"Syukurlah", Jimin mengusap pelan puncak kepala So Hyun.
Mereka saling terdiam setelahnya. Saling menatap. Seolah bicara lewat tatapan tersebut. Jimin mulai mendekatkan wajahnya. Dengan sigap So Hyun memundurkan wajahnya. Tangannya membentuk silang di depan dada seolah berkata jangan.
"Jangan mendekat", ucap So Hyun menyuarakan isi hatinya.
Sepertinya Jimin tak mengindahkannya. Terbukti dengan wajahnya yang semakin mendekat. Tersenyum miring, mencoba menjalankan ide gila yang terlintas dalam fikirannya.
So Hyun semakin memundurkan tubuhnya, karena keseimbangannya yang goyah tubuhnya terhempas ke ranjang. Dia yang semula duduk kini sudah berbaring telentang. Itu semakin mempermudah Jimin menjalankan aksinya. Saat So Hyun sudah merasakan nafas Jimin di wajahnya, dia menutup matanya. Dia sudah tidak bisa menghindar. Apalagi kini pria itu mulai **** tubuhnya. Mungkin ini akan menjadi olahraga malam untuknya.
Mereka tidak sadar jika sepasang mata tengah mengawasinya dari pintu yang sedikit terbuka. Ya, mereka memang masih di rumah orang tua Jimin. Wanita paruh baya yang tak lain adalah ibu Jimin tersenyum melihat mereka. Dia tak bermaksud mengintip sebenarnya. Dia hanya sedang memeriksa menantunya, karena sudah tak mendengar suara bersinnya. Tapi yang dilihatnya justru hal tak terduga. Dia berbalik hendak meninggalkan tempat itu, namun dia sudah dikagetkan oleh putrinya.
"Eomma sedang apa?", tanya gadis itu. Dia melirik sekilas ke arah pintu yang sedikit terbuka. Dia membalikkan tubuhnya dengan cepat. "Jangan bilang eomma sedang mengintip mereka?", ucap putrinya.
"Ssst", wanita itu mencoba menyuruh putrinya untuk tidak menimbulkan suara. Dia menutup pintu itu dengan hati-hati, takut menganggu kegiatan putra dan menantunya. "Eomma tak bermaksud mengitip. Aku hanya ingin memeriksa bagaimana keadaan So Hyun. Ternyata dia sudah mendapat obat yang mujarab".
"Mereka kan pengantin baru eomma, jadi wajar saja".
"Aku tahu. Tidur sana, ini sudah malam".
"Iya, iya".
🍭
🍭
🍭
To Be Continue...
🍭
🍭
🍭
Budayakan LIKE COMMENT !!
TOLONGLAH AUTHOR INI MENINGKATKAN CERITA INI🙏
Bisa gitu ya dikiss, bersinnya langsung hilang😂😂
Min kamu jgn buat anak perawan teriak-teriak doang😆😆