![The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-marriage-curse--park-jimin---kim-so-hyun-.webp)
Chapter 12
(So Hyun'Ex)
—
Ini sangat menyakitkan
Saat kita berjanji untuk melepas satu sama lain
—
Back song: SM The Ballad – Breath & Kei (Lovelyz) – Star and Sun OST Ruler; Master Of The Mask
“So Hyun-ah. Aku membawakan makanan kesukaanmu”, ucap sekretaris Min. Netranya menelisik ke penjuru ruang, gadis yang dipanggilnya tak ada. Tungkainya membawanya menuju kamar mandi. Gadis itu juga tak dijumpainya. Coat gadis itu sudah tak ada di tempatnya. Dia meletakan makanan yang tadi dibelinya di meja. Tangannya merogoh tas, mencari keberadaan ponselnya. Menghubunginya dengan segera.
Tak ada jawaban, hanya suara operator. Dia melakukannya berkali-kali, namun yang menjawab juga suara operator. “Daepyonim, pergi kemana kau sebenarnya?”. Dia membuang parah nafasnya setelah lelah menghubunginya. Setidaknya dia sedikit bernafas lega, karena gadis itu masih membawa coatnya.
Dengan tergesa dia berjalan keluar ruang inap bosnya. Berjalan cepat mencari perawat. Meski telah menyebutkan ciri-ciri dan bahkan menunjukan foto bosnya, para perawat yang berjaga tersebut tak mengetahui keberadaannya. Dia kembali membuang pasrah nafasnya. “Kemana lagi aku harus mencarinya?”. Ini memang sudah cukup lama sejak dia meninggalkan gadis itu. Gadis itu bisa pergi kemana saja.
Setelah menyelesaikan segala urusannya di rumah sakit tersebut, sekretaris Min menuju apartemen So Hyun. Dia berharap gadis itu ada disana. Jika tidak, dia tak tahu harus kemana lagi mencari gadis tersebut. Gadis itu belum memiliki banyak teman disini. Maklum saja, ini baru enam bulan sejak kepindahannya ke negara tersebut.
Dengan harapan penuh, dia memasukan password apartemen tersebut. Gelap adalah pemandangan pertama yang dilihatnya. Hawa dingin juga terasa di kulitnya. Pertanda jika pemilik apartemen tersebut belum kembali. Namun hal itu belum membuatnya putus asa. Dengan cepat dia menyusuri setiap ruang yang ada di apartemen tersebut. Namun nihil, dia tak menjumpai siapapun.
Sekretaris Min kembali mendesah. Dia mendudukan dirinya di sofa, merasa sedikit lelah. Dia berfikir keras, tempat apa yang kira-kira didatangi So Hyun. Rumah bibi keduanya, sangat tidak mungkin. Mereka baru saja berdebat, bahkan tadi So Hyun melarangnya menghubunginya. Rumah bibi pertamanya, mungkinkah? Dia mengambil ponselnya, menghubungi seseorang.
“Yeobseyo”, ucapan pertama saat mendengar panggilannya dijawab.
“Lee Bona-ssi. Ini aku sekretaris Min. Anda dimana sekarang?”.
Sekretaris Min mengangguk mendengar penjelasan orang yang dihubunginya. “Apa daepyonim ada disitu?”, tanyanya lagi.
“Tidak. So Hyun eonni belum pernah kesini semenjak kedatangannya kembali ke Korea”, jelas gadis yang diseberang sana. “Memangnya kenapa?”.
“Aku ada perlu dengannya, tapi dia tak menjawab panggilanku. Tadi dia bilang jika akan berkenjung kesitu. Jadi kupikir dia ada disana. Ya sudah kalau memang tidak disana. Maaf sudah menganggu anda”, ucap Sekretaris Min mengakhiri panggilannya. Dia terpaksa berbohong. Tidak mungkin jika dia mengatakan kalau gadis itu menghilang dari rumah sakit kan. Akan jadi lebih rumit nantinya.
Sekretaris Min kembali mendesah pasrah. Dia mengusap kasar wajahnya. Kemana lagi dia harus mencarinya. Dia memijit pelan kepalanya. Rasanya begitu pusing memikirkannya. “Mungkinkah dia menemui pria itu?”, Sekretaris Min teringat pada pria yang tadi siang mengajak gadis itu pergi. Sayang sekali dia tak tahu apapun tantang pria itu.
“Bagaimana ini? Apa aku harus menghubungi Jimin?”, Sekretaris Min tengah menimang pendapatnya.
“Tidak. Tidak. Dia bahkan melarangku memberitahunya tadi”, ucapnya kembali sambil menggeleng.
Tangannya sudah bersiap menekan ikon panggil. Namun terhenti, masih bimbang. Setelah menenangkan dirinya, Sekretaris Min benar-benar menghubungi pria yang sudah menjadi suami dari bosnya. “Yeobseyo. Park Jimin. Ini aku Aera. Kau dimana? Apa kau bersama So Hyun?”, Sekretaris Min sudah berucap panjang lebar bahkan sebelum pria itu berbicara.
“Aku di dorm. Aku tidak bersama So Hyun. Bukankah dia tidur. Tadi kau mengatakan pada Jungkook jika dia sudah tertidur kan”, jawab pria diseberang sana.
“Dimana Jungkook sekarang?”.
“Dia sedang bermain game dengan Taehyung”.
Sekretaris Min kembali mendesah pasrah. “Sebenarnya kemana perginya kau daepyonim”, ucap Sekretaris Min lirih.
“Apa terjadi sesuatu dengannya?”, tanya pria itu. Sepertinya dia mendengar perkataan Sekretaris Min.
Sekretaris Min diam. Dia merasa tak enak, seharusnya dia tak berkata seperti itu tadi. Pria diseberang saja pasti akan mengkhawatirkan So Hyun.
“Aera, kenapa kau diam? So Hyun baik-baik saja kan?”, pria diseberang sana kembali bertanya.
Sekretaris Min kembali mendesah pasrah. Haruskah dia jujur? Bagaimana jika pria itu panik? Ya, kemungkinan itu pasti ada kan. Mereka sudah saling terikat sekarang. Baiklah, tidak ada salahnya dia jujur.
“Aku juga tak tahu apa dia baik-baik saja atau tidak. Tapi yang pasti dia tidak baik-baik saja tadi”, jelas Sekretaris Min.
“Apa maksudmu?”.
“Tadi setelah mobil kalian pergi, So Hyun pingsan. Aku membawanya ke rumah sakit. Tiga jam kemudian dia baru tersadar. Dia tidak ingin aku menghubungi siapapun. Bahkan saat Jungkook menghubunginya dia tak ingin memberitahunya. Aku rasa dia baru bertengkar dengan bibinya”, Sekretaris Min menghela nafas sejenak.
“Dia bilang dia lapar, karena itu aku pergi untuk membelikannya makanan. Tapi saat aku kembali, dia sudah tak disana. Aku sudah mencarinya kemanapun, dan aku tak menemukannya”, lanjut Sekretaris Min kembali.
“Mungkinkah di rumah temannya?”.
“Dia belum memiliki teman disini. Kau tahu sendiri ini belum lama sejak dia kembali ke Korea. Dia bahkan belum hafal jalanan kota ini”.
“Dia membawa ponsel?”.
“Kurasa iya. Tadi aku menaruh ponselnya di saku coatnya, dan dia membawanya. Aku sudah mencoba menghubunginya, tapi tak diangkat”.
“Kau tidak punya pandangan tempat yang kira-kira dikunjunginya?”.
“Hanya satu tempat yang aku fikirkan sekarang”.
“Dimana?”.
“So Hyun pasti menemui pria itu. Kau ingat pria yang mengajaknya pergi siang tadi kan”, jelas Sekretaris Min kembali.
Pria itu terdiam mendengar perkataan Sekretaris Min.
“Sayangnya aku tak mengenal pria itu. Ini kali pertama aku melihatnya”. Dia membuang pasrah nafasnya. “Aku akan mencoba mencarinya lagi. Akan aku hubungi jika aku sudah menemukannya”, Sekretaris Min mengakhiri panggilannya.
-o0o-
Jimin menyambar asal jaket, topi serta maskernya. Dengan cepat dia mengambil kunci mobil dan meninggalkan kamarnya. Berjalan tergesa meninggalkan tempat tinggalnya. Dia bertemu rekan-rekannya di ruang TV.
“Jimin-ah, kau mau kemana?”, tanya Namjoon yang melihat Jimin tergesa-gesa pergi.
“Ada urusan. Aku pergi dulu hyung. Mungkin aku tak pulang”, teriaknya sambil berlalu.
“Kau tidak lupa kita ada jadwal besok kan”, ucap Namjoon yang juga setengah berteriak.
“Aku akan kembali sebelum itu”, teriak Jimin kembali.
Dan setelahnya terdengar suara dentaman pintu yang tertutup.
Dengan perasaan berkecamuk Jimin melajukan mobilnya. Mengedarainya dengan cepat. Dia bahkan membunyikan klaksok berkali-kali kala merasa mobil di depannya menghalanginya. Dia tak peduli jika nantinya dia akan mendapat surat peringatan karena mengebut dalam mengemudi.
Yang difikirannya hanya satu. Kim So Hyun, istrinya. Dia harus segera sampai ke tempat dimana gadis itu, lebih tepatnya istrinya berada. Dia ingin segera tahu bagaimana keadaannya. Dan memastikan jika istrinya akan baik-baik saja.
Ini terjadi karena panggilannya dijawab oleh pria yang tadi siang mengajak istrinya pergi. Benar yang dikatakan Aera, jika istrinya pergi menemui pria itu. Pria yang dicintai istrinya. Berbagai pemikiran buruk memenuhi kepalanya. Membuatnya hilang konsentrasi untuk sesaat. Dia hampir menabrak orang jika dia tak menginjak remnya dengan cepat. Lampu lalu lintas memang sudah berwarna merah.
Dengan perasaan tak tenang dia menunggu lampu tersebut berubah menjadi hijau. Tangannya diketuk-ketukan pada kemudi untuk menghilangkan rasa bosannya. Setelah warna lampu menjadi hijau, dia menginjak pedal gasnya kembali. Melajukan mobilnya dengan cepat.
Dia berbelok dikawasan gedung yang bertuliskan Paradise Hotel. Memarkirkan dengan cepat. Memakai masker serta topinya sebelum meninggalkan mobilnya. Berjalan secepat yang dia bisa. Pikirannya benar-benar kacau sekarang.
Dia mengambil nafas dalam sebelum menekan bel di salah satu kamar yang bertuliskan 11207. Menata hati serta pemikirannya. Dia tak boleh berfikiran buruk sebelum melihat sendiri apa yang terjadi di kamar tersebut. Dengan sedikit ragu tangannya menekan tombol bel kamar tersebut.
Tak lama setelahnya seorang pria membukakan pintu tersebut. Jimin membuka maskernya. Menunduk memberi salam.
Pria itu membalas salam Jimin. “Park Jimin-ssi”, ucap pria itu.
“Iya”.
Untuk beberapa saat mereka hanya saling menatap.
“Dimana So Hyun?”, tanya Jimin.
“Mari silahkan masuk”.
Jimin masuk dengan tergesa. Dia menuju ke ranjang dimana istrinya berbaring. Tubuhnya dibungkus selimut. Matanya terpejam. Dia sedang tidur, pikirnya. Dengan perlahan dia duduk dipinggir So Hyun terbaring. Tangannya terulur mengusap pelan puncak kepala istrinya. Tubuhnya terasa sedikit panas, tanda dia demam. Wajahnya juga terlihat pucat. “Apa yang terjadi padanya?”, tanya Jimin. Matanya masih tertuju pada wajah istrinya.
“Aku akan membawanya pulang”, ucap Jimin lagi. Pandangannya masih setia menatap istrinya.
“Iya. Kau memang harus membawanya pulang. Tapi tidak sekarang?”.
Jimin berbalik. Dia menatap tajam pria itu.
Pria itu hanya tersenyum. Senyum yang memang cukup manis. Jimin bahkan mengakuinya.
“Apa maksudmu?”, ucap Jimin tidak terima.
“Ada yang harus kita bicarakan. Kau boleh membawanya pulang setelah pembicaraan kita selesai”.
Jimin ingin mengumpat, namun berhasil ia tahan. Dia mengangguk mengiyakan akhirnya. Dia dipersilahkan duduk di sofa kamar hotel tersebut.
Pria itu memberikannya segelas minuman. Lalu mendudukan dirinya di sofa yang berhadapan dengan Jimin. Di tangannya juga memegang minuman yang sama dengan apa yang diberikannya pada Jimin.
Tanpa pikir panjang Jimin, meminum minuman itu. Bukan karena haus, tapi untuk menghargai pria tersebut. “Jadi apa yang ingin anda bicarakan?”, tanya Jimin langsung. Dia tak ingin berbasa-basi dengan pria itu.
Pria itu kembali tersenyum. Dia meletakkan gelasnya di meja. Dia mengerti kenapa pria yang dihadapannya itu bersikap tidak sabar. Pria mana yang mau istrinya bersama pria lain. “Sebelum kita bicara serius, bukankah sebaiknya kita berkenalan dulu?”.
Jimin merasa sedikit geram. Dia ingin segera membawa pergi istrinya, tapi pria itu justru mengajaknya berbasa-basi. Dia hanya bisa mendengus kesal pada akhirnya. “Kau sudah tahu namaku, meski aku tak tahu darimana kau mengetahuinya”, ucapnya kemudian.
“Siapa yang tidak kenal denganmu. Salah satu personil BTS yang namanya cukup ramai dibicarakan akhir-akhir ini. Bahkan adik perempuanku pun mengidolakanmu”, jelas pria itu. Dia kembali meneguk minumannya. “Namaku Jackson. Kita memiliki marga yang sama, Park”.
Jimin hanya diam mendengarkan perkataan pria itu. Dia masih merasa geram. Untuk menghilangkannya, dia meminum kembali minumannya.
“Aku tahu bagaimana perasaanmu sekarang ini? Tapi aku harap kau mau menjawab pertanyaanku dengan jujur. Aku harus memastikan, apa penyebab So-ah dapat mendengar suara itu lagi”.
Jimin mengangkat alisnya tak paham. “Maksudmu?”.
“Kau belum mendengarnya?”.
“Mendengar apa?”, Jimin mengajukan pertanyaan kembali. Dia tak mengerti apa yang dimaksud oleh pria itu.
“Jadi kau belum mendengarnya. Aku akan menceritakan semuanya. Tapi kau harus menjawab dulu pertanyaanku. Kau bertengkar dengannya? Dia baik-baik saja saat kami bertemu tadi siang”.
“Tidak. Kami tidak bertengkar”, jelas Jimin.
Pria itu tampak berfikir. Jika bukan karena pertengkaran mereka, lalu apa yang membuat gadis itu menjadi stres. “Apa mungkin kau tahu penyebab dia mengalami stres?”.
“Aku juga tak yakin. Tapi sekretarisnya tadi bilang jika dia baru bertengkar dengan bibinya”, jelas Jimin kembali.
“Jadi karena itu”, pria itu mengangguk paham.
“Sebenar apa yang terjadi dengan So Hyun?”, tanya Jimin. Dia teramat penasaran apa yang akan pria itu ceritakan.
Pria itu diam sejenak. Dia mengambil nafas dalam. “Sekarang, aku akan berbicara sebagai dokternya”.
“Kau seorang dokter?”.
“Iya, spesialis psikiater”.
Pria itu masih terlihat ragu. Dia meminum kembali minumannya. Mengambil nafas dalam lalu mengeluarkannya. “So Hyun menderita PTSD”.
“PTSD”, ucap Jimin ragu. Pandangannya mendadak kosong. Tak pernah terlintas dalam benaknya, jika gadis yang sudah resmi menjadi istrinya memiliki gangguan itu.
“Kau pasti pernah dengar itu kan. Post-traumatic stress disorder atau biasa dibilang gangguan stres pascatrauma. Penyebab utamanya kejadian tragis yang menimpa keluarganya”, jelas pria itu.
“Iya, dia menyaksikan sendiri kecelakaan keluarganya”, ucap Jimin membenarkan. “Apa dia belum sembuh?”, tanyanya ragu.
“Aku sudah menyatakannya sembuh sejak enam tahun yang lalu. Dia tak pernah menunjukan gejalanya selama rentan waktu itu. Tapi kurasa hari ini dia menunjukan gejalanya lagi. Dia bisa mendengar suara-suara aneh, meski tidak ada yang berbicara dengannya”.
Jimin menatap pria itu aneh. Pandangannya masih kosong. Ini hal mengejutkan yang pernah didengarnya.
“Jangan khawatir. Itu wajar. Terkadang memang itu bisa kambuh sewaktu-waktu. Jika itu terjadi, keluargalah yang harus berperan penting dalam penanganannya”, ucap pria itu lagi.
“Bagaimana caranya?”.
“Pertama, kau harus mengenali dulu gejalanya. Untuk kasusnya So Hyun, biasanya dimulai dengan mendengar suara-suara aneh. Tubuhnya bergetar, nafasnya cepat dan biasanya dia mengeluarkan keringat dingin. Jika tak ditangani dengan cepat, bisa berlanjut dengan mimpi buruk yang berulang-ulang serta insomnia. Jika sudah seperti itu, biasanya dia akan menyakiti dirinya sendiri”, jelas pria itu.
Jimin mendengarkannya dengan seksama. Tak ingin melewatkan setiap kata yang keluar dari mulut pria di depannya.
“Saat dia merasakan gejalanya, hal pertama yang dilakukannya adalah menemui orang yang dia anggap bisa melindunginya. Ya, So-ah… maksudku So Hyun selalu melakukannya. Memeluk orang itu sambil berkata takut”, pria itu menghela nafas.
Jimin masih diam. Dia masih enggan menyela perkataan pria itu.
“Jika suatu saat nanti dia menemuimu dalam keadaan seperti yang aku ceritakan tadi, pastikan kau menenangkannya dulu. Kau bisa berkata seperti ini… ‘Jangan takut. Aku disini So Hyun. Kau tidak sendiri. Masih ada aku’… atau kata yang sekiranya bisa membuatnya tenang. Biarkan nafasnya normal kembali dan keringat dinginnya hilang. Setelah itu, pastikan dia tertidur. Jika memang tak berhasil, kau bisa memberinya obat. Aku akan meresepkannya nanti”.
-o0o-
Jimin menatap lekat wajah damai So Hyun saat tertidur. Dia menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajahnya. “Kau pasti sangat mencintainya”, ucapnya pada So Hyun meski dia tahu gadis itu tak akan meresponnya. Dia berkata seperti itu, memang bukan untuk bisa didengar So Hyun. Dia tak mungkin mengatakan hal itu jika So Hyun dalam keadaan sadar.
Ya, kini dia sudah berada di apartemen gadis itu setelah berbicara panjang lebar dengan pria yang bernama Jackson Park. “Jika aku perempuan, aku juga pasti akan menyukainya. Dia memang punya daya tarik tersendiri sebagai seorang pria”, ucap Jimin lagi.
Dia mengakuinya. Pria bernama Jackson itu memiliki pesona lain sebagai seorang pria. Selalu bisa membuat nyaman lawan bicara, meski diawal sebenarnya membencinya. Wajahnya yang tidak bisa dikatakan jelek, juga menjadi daya tariknya. Ditambah senyum manisnya yang khas, membuat wanita manapun akan bertekuk lutuk padanya.
“Tidurlah yang nyenyak So Hyun. Mimpilah yang indah”, ucapnya lagi.
Tangannya terulur membenarkan selimut yang menutupi tubuh istrinya. Wajahnya mendekat, mengecup singkat kening gadis itu. “Jaljayo”, bisiknya.
Jimin berniat beranjak, setelah puas memandang wajah polos istrinya saat tertidur. Dia sudah berdiri dan berbalik. Namun tertahan oleh tangan yang menggenggam lengannya.
“Kajimayo”, suara lirih terdengar memenuhi indra pendengarannya.
Dia kembali berbalik. Tangan istrinya tengah menggenggam lengannya. Matanya masih terpejam. Dia tersenyum. Istrinya tengah bermimpi, pikirnya. Dengan perlahan dia melepaskan genggaman itu dan segera beranjak. Lagi-lagi tangan istrinya menahannya. “Kajimayo”, suara itu juga terdengar kembali. Namun kali ini dengan mata yang terbuka.
“Kau sudah bangun”, ucapnya spontan. Jimin memilih duduk di samping istrinya yang terbaring.
“Kau mau pergi kemana? Jangan tinggalkan aku. Aku takut sendirian”, ucap So Hyun. Dia memejamkan matanya beberapa kali untuk membuat pandangannya jelas.
Jimin mengusap lembut puncak kepala So Hyun. Dia juga menggenggam tangan istrinya. “Aku tidak akan kemanapun. Aku disini”, ucapnya. Dia ikut membaringkan tubuhnya di samping istrinya.
So Hyun menatapnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Cukup lama. Hingga pada akhirnya, tangannya terulur melingkarkannya di pinggang Jimin. Menyandarkan kepalanya di dada bidangnya. “Tetaplah disini”, ucapnya lirih.
“Iya, aku akan tetap disini. Aku tidak akan kemanapun”, ucap Jimin. Dia membalas pelukan So Hyun. Tangannya juga mengusap lembut surai panjang istrinya. Sesekali menepuknya untuk membuatnya tertidur kembali. “Tidurlah. Aku akan disini bersamamu”, ucapnya disela-sela usapannya. Tak lama setelahnya, dia merasakan nafas teratur dari istrinya. Dia tersenyum dan ikut memejamkan matanya.
🍭
🍭
🍭
To Be Continue..
🍭
🍭
🍭
Jack aku padamu.
Itulah masalalu dari So Hyun. Untung Jimin masih bisa menerimanya.. kasian ya So Hyun 🤧
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan cara Like Commentnya!! Like dan Commentnya sangat berharga buat saya.. hihi🙏🙏