![The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-marriage-curse--park-jimin---kim-so-hyun-.webp)
Chapter 37
(See You Again)
—
—
Siapa peduli apa yang orang lain katakan
Kita tidak bisa hidup satu sama lain, jadi apa masalahnya?
—
—
Aera masih termangu di kamar bosnya. Meski setahun sudah berlalu dia masih sering mampir ke apartemen milik So Hyun. Rasa kehilangan masih membekas di hatinya. Setahun menjadi sekretarisnya, menjadikannya memiliki banyak kenangan. Suka duka bersama gadis yang dua tahun lebih muda itu akan selalu terparti di relung memorinya.
Harapan bisa bertemu dengan gadis bermarga Kim itu begitu tinggi. Tak ayal dia diam-diam ikut mencari keberadaannya meski bibi gadis itu sudah bilang akan bertanggungjawab mencarinya. Namun hasil nihil yang selalu didapatnya. Tak ada kabar. Mereka seperti hilang ditelan bumi. Atau hilang tersapu ombak.
Tangannya mengusap foto So Hyun. Tidak bisa dipungkiri jika sekarang dia sedang sedih. Terbukti dengan setitik air matanya yang jatuh. Dia yang notabenya adalah anak tunggal, akhirnya bisa merasakan memiliki seorang adik bersama gadis itu. Kini dia harus menelan pil pahit karena kehilangan momen itu.
“Daepyonim, bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja di sana?” Helaan napas dia hembuskan mengungkap pilunya jiwa.
Dia mengambalikan bingkai foto itu ke nakas. Rasa rindunya sudah sedikit terobati melihat foto So Hyun. Dia mulai beranjak. Meninggalkan ruang bercahaya remah oleh sinar bulan. Langkah anggunnya membawanya pergi menuju tempat tinggalnya.
-o0o-
Tangan kekar pria itu menyentuh bingkai foto. Mengusapnya lembut. Foto tiga orang dengan mengenakan topi kerucut. Dia ingat, foto itu diambil saat ulang tahun pria yang begitu dirindukannya. Setahun kehilangan rekan kerjanya membuatnya merindu. Rindu berat, yang bahkan tak bisa ditimbang.
“Hyung, kenapa kau pergi bahkan tanpa pamit pada kami. Apa kau baik di sana? Aku harap kau bahagia bersamanya.”
“Kau sedang apa?” tanya pria bermarga Kim yang baru keluar dari kamar mandi.
“Aku hanya merindukannya,” ucap Jungkook masih dengan mengusap bingkai foto tersebut.
Taehyung berdecak. Tungkainya membawa mendekat menuju Jungkook. Mendudukkan diri di samping pria albino tersebut. Tangannya terulur menepuk pundaknya. “Bukan hanya kau. Kita semua juga merindukannya.”
“Apa dia akan baik-baik saja?” Lagi pria albino itu membuka suara.
“Dia pasti baik-baik saja. Kau sudah tahu sendiri alasannya pergi.”
“Memangnya apa alasannya pergi?”
Pria bermarga Kim itu memutar malas bola matanya. Dia benar-benar dibuat sebal oleh pria yang dua tahun lebih muda darinya. Dia kemudian berdiri. Melepar handuk yang digunakannya untuk mengeringkan rambut, tepat di wajah rekannya. “Pabboya,” umpatnya. Dia kembali melangkah menuju lemarinya untuk mengambil baju ganti.
Jungkook hanya diam sambil menyingkirkan handuk tersebut. Dia ingin mengumpat, namun entah mengapa dia urungkan. Ekor matanya mengikuti gerak-gerik pria yang lebih pendek darinya meski umurnya di atasnya.
“Dia pergi karena memilih memperjuangkan cintanya.” Suara pria bermarga Kim kembali terdengar. Di tangannya sudah memegang kaos. “Aku tidak pernah menyangka jika dia begitu tergila-gila dengan Kim daepyo.”
Helaan napas terdengar dari hidung Jungkook. “So Hyun memang pantas diperjuangkan,” ucapnya kemudian. Dia berdiri dan segera beranjak. Bahkan tanpa memperdulikan Taehyung yang menatap aneh padanya.
-o0o-
Aera mengetuk pintu sebelum memasuki ruang bertuliskan “President.” Di dalam ruang itu, terdapat seorang wanita yang masih terlihat cantik meski usianya sudah menginjak 46 tahun tengah meneliti sebuah map. Aera berjalan tenang menuju ke meja kerja atasannya. Sekelebat bayang wajah So Hyun mendatangi pandangannya, saat wanita paruh baya itu mendongak ke arahnya. Senyum wanita itu memang mirip dengan senyum manis So Hyun.
“Ini laporan bulan ini, hwejangnim,” jelas Aera saat menyerahkan map di tangannya.
“Apa jadwalku setelah ini?” Setelah menerima mapnya, wanita itu memeriksanya sebentar. Ya, sejak keponakannya menghilang dalam kutip dia memang yang menyarankannya, dia kembali menduduki kursi perusahaannya.
“Tidak ada,” jawab Aera dengan senyum mengembang. Dengan setia dia masih berdiri menanti tandatangan Sang Atasan. Netranya tak sengaja menangkap foto gadis yang selama ini dirindukannya. Meski posisiya terbalik, tapi dia yakin itu adalah So Hyun. Di foto itu bukan hanya ada So Hyun, ada pria dewasa yang diyakini sebagai mantan kekasihnya. Juga ada seorang anak kecil yang tak dikenalnya.
Saat tangannya terulur ingin mengambil foto tersebut, atasannya sudah lebih dulu menyodorkan mapnya. Hal ini tentu mengurungkan niatnya. Dengan sedikit berat hati dia menerima mapnya. Meski harus menelan rasa penasaran yang tinggi. Kepalanya ia tundukan sebelum meninggalkan meja atasannya. Di langkah ketiganya dia berhenti karena suara Sang Atasan.
“Apa kau masih diam-diam mencari So Hyun?”
Aera tak berkutik. Bahkan dia tak mampu menoleh. Rasa bersalah tiba-tiba menghinggapinya. Bersalah karena wanita itu pasti menganggapnya tak mempercayainya.
Wanita itu berjalan mendekat setelah sebelumnya mengambil tasnya. Menyerahkan amplop yang dipegangnya. “Kau bisa pergi ke sana, jika kau merindukannya.” Tepat setelah mengetakannya, wanita itu pergi meninggalkan ruangannya. Menyisakan Aera yang terlihat syok dengan keadaan yang baru saja dialaminya.
-o0o-
Aera tak dapat menghentikan senyum yang terus terpatri di wajahnya. Setelah membaca isi amplop yang atasannya berikan, perasaan bahagia mulai menyusupinya. Penantiannya akan segera terbayar sebentar lagi. Dia hanya perlu pergi ke tempat itu agar rindunya terobati.
Bahkan setelah memasuki apartemennya, senyum itu masih tampak jelas. Dia sampai tak sadar jika seseorang baru keluar dari kamar mandinya. Langkah anggunnya membawanya menuju lemari. Setelah meletakkan tas, dia juga menggantung blazernya. Terkejut saat seseorang memeluknya dari belakang.
“Kau di sini?” ucapnya pada orang itu. Dia sudah tahu siapa orang yang kini memeluknya meski hanya dari aroma parfumnya.
“Emmh.” Hanya gumaman yang orang itu lakukan sebagai jawaban. Dia menyandarkan kepalanya di pundak Aera.
“Kau sudah makan?” Meski sedikit gugup, Aera tetap mencoba berkomunikasi. Ya, sejak mereka memutuskan untuk berkencan, Aera selalu gugup jika berdekatan dengan pria itu.
“Belum.”
Aera segera melepas pelukan pria itu. Berbalik agar bisa melihat wajah kekasihnya. Dia menghela napas sebentar. Tangannya terulur menyentuh pipi prianya. Mengusapnya penuh kelembutan. “Kenapa belum makan? Ini sudah lewat jam makan malam?”
Pria itu tak menjawab. Dia justru memeluk Aera dari depan. “Aku merindukanmu.”
Aera tersenyum di sela pelukan pria itu. “Kita baru tiga hari tak bertemu,” tuturnya. Pada akhirnya dia hanya bisa membalas pelukan kekasihnya. Meski dia sebenarnya juga merasakan hal yang sama.
“Mau aku buatkan sesuatu?” Suara Aera kembali memecah keheningan. Setelah berhasil memecah rindu, dia melepaskan pelukannya.
Pria itu hanya mengangguk sebagai persetujuan. Matanya tak lepas dari gerik kekasihnya yang mulai meninggalkan kamar. Setelah menghilang di balik pintu pria itu beringsut mengambil baju ganti.
-o0o-
Aera yang masih sibuk memasukan barangnya ke koper hanya berdecak. Dia sudah lelah menjawab pertanyaan yang sama dari kekasihnya. Sifat kekanakan pria itu muncul sejak dia mengatakan jika ingin berlibur berdua. Salahkan pria itu yang mengatakan jika dia mendapat cuti lima hari.
“Ini sudah kali kelima kau menanyakan pertanyaan yang sama. Jika memang tak mau ya sudah, kita batalkan,” ucap Aera kemudian. Tangannya ia lipat di depan dada.
“Bukan begitu. Memangnya kita mau ke mana?” Sepertinya pria itu sadar jika kekasihnya kini tengah merajuk. Karena itu, dia memberikan usapan lembut di pipi kanan kekasihnya.
“Heuksan.” Jawaban yang singkat jelas dan padat. Aera beralih ke sofa untuk mengambil ponselnya.
“Pulau Heuksan?” Pria itu mengulang tempat yang disebutkan kekasihnya, untuk memastikan jika pendengarannya baik-baik saja.
Aera mengangguk. “Kau tidak punya riwayat mabuk laut kan?” ucapnya setelah memakai coat. “Ayo, kita bisa ketinggalan kapal jika tidak segera berangkat.” Aera berjalan mendahului pria itu sambil menyeret kopernya.
Pria itu berfikir sejenak. Namun pada akhirnya dia menyusul kekasihnya. “Tunggu aku.”
-o0o-
So Hyun hanya menghela nafas melihat testpack yang dipegangnya. Hanya satu garis. Sudah setahun sejak dia kehilangan calon bayinya. Dan sepertinya perkataan dokternya benar. Kemungkinan dia untuk memiliki anak lagi hampir tidak ada. Dia hampir menjatuhkan air matanya jika pintu kamar mandinya tak terbuka.
“Kau sedang apa?” tanya pria yang menjadi suaminya.
Dengan cepat tanggannya ia sembunyikan. Berharap pria itu tak akan melihat apa yang dipegangnya. Dia diam-diam saat melakukannya tadi. Karena memang pria itu melarangnya. Takut akan menambah luka yang perlahan sudah mulai mengering.
“Bukan apa-apa. Aku…” Belum sempat So Hyun melanjutkan kalimatnya, pria itu sudah lebih dulu mendekatinya. Memeluknya. Tunggu! Bukan. Itu memang terlihat seperti seseorang yang akan memeluk, namun ternyata tangan pria itu menyentuh tangannya. Mengambil benda yang dipegangnya. Dia tak mampu menolah saat pria itu berhasil merebutnya.
Pria itu menghela nafas, melihat benda yang disembunyikan istrinya. “Sudah berapa kali aku bilang, kau tidak perlu melakukan ini.”
So Hyun tak bisa membendung air matanya. Dia menangis. “Aku…aku hanya berharap. Maafkan aku.”
Tangan pria itu terulur menghapus jejak air mata istrinya. “Jangan menangis.” Pelukkan hangat juga ia berikan. “Tuhan belum mempercayakannya pada kita. Kita hanya perlu bersabar.” Tangannya kini beralih mengusap surai panjang istrinya.
“Setahun sudah berlalu.”
“Aku tahu.” Pria itu melepaskan pelukannya. menatap lekat manik hitam So Hyun. menempelkan keningnya pada kening istrinya. “Sekarang kita sudah punya Jungkook kan.”
So Hyun hanya mengangguk. Namun dia belum bisa menghentikan laju air matanya.
Pria itu kembali memberikan pelukan hangatnya. Hanya itu yang bisa dilakukannya. Karena dia tak bisa menghentikan tangisan istrinya. Dia berharap istrinya akan lega setelah mengeluarkan bebannya lewat air mata. Meski tak dapat dipungkiri jika hatinya ikut sakit melihat keadaannya.
“Appa, apa yang kau lakukan pada eomma. Kenapa kau membuatnya menangis?”
So Hyun dan pria itu menoleh. mereka sudah melepaskan pelukannya. Bahkan kini So Hyun mulai menghapus air matanya dengan jari letiknya.
Seorang anak kecil berdiri di pintu kamar mandi. Dengan tangan dilipat di depan dada. Wajahnya terlihat tak ramah. Seperti seseorang yang tengah menahan marah.
“Kau sudah selesai?” Pria itu mendekat. Mengacak pelan rambut anak kecil tersebut, setelah menyamakan tingginya dengan menunduk.
Sebisa mungkin anak kecil itu menyingkirkan tangan pria yang dipanggil ayah olehnya. “Appa membuat eomma menangis lagi.”
“Tidak. Kapan appa membuat eomma menangis?”
“Bohong. Lihat itu, matanya sampai sembab.” Masih dengan wajah tak ramahnya anak kecil itu membantah. Dia tak terima dengan penjelasan ayahnya.
“Eomma, baik-baik saja.” So Hyun ikut mendekat. “Eomma tidak menangis, hanya kemasukan air tadi.”
“Benarkah!”
So Hyun kembali mengangguk. Senyum tulus juga dia berikan.
Anak kecil itu kini memeluk So Hyun. “Eomma, tidak boleh menangis. Arra!”
“Emh.” So Hyun membalas pelukan anak kecil tersebut. Kecupan ringan di kepala anak kecil itu juga diberikanya.
Pria itu tersenyum. Melihat tingkah hangat istri dan putranya membuat hatinya ikut menghangat.
“Kau sudah selesai memandikan Mongsuk?” lanjut So Hyun setelah melepaskan pelukannnya.
“Iya. Dia sudah bersih sekarang,” jawab anak kecil itu dengan antusias. Wajahnya berubah senang setelah memamerkan hasil kerjanya.
“Kalau begitu, kita sarapan. Eomma sudah memasak makanan kesukaanmu.”
“Asha!” ucap anak kecil itu kembali dengan ekspresi senangnya. “Ayo, aku sudah lapar.” Dia menarik tangan So Hyun. Berjalan dengan cepat kemudian.
💌
💌
💌
To Be Continue...
💌
💌
💌
Jangan lupa tinggalkan VOTE, LIKE, dan COMMENT!! Siapa ya anak kecil tersebut😁😁?