![The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-marriage-curse--park-jimin---kim-so-hyun-.webp)
Chapter 45
(Dress💃)
—
—
Adalah sebuah keajaiban ketika kau muncul di hadapanku
Bintang-bintang yang muram, satu persatu mendekatiku
Berubah terang, kemudian menjadi bimasakti yang berkilauan
—
—
So Hyun masih meneliti berkas, ketika Aera masuk. Dia membungkuk memberi salam. Map di tangannya sudah dipindahkan ke meja.
“Pemotretan untuk proyek baru kita sedang berlangsung. Anda tak ingin melihat?” tanyanya sopan. Dia membukakakan berkas yang perlu ditandatangani bosnya.
“Sebentar lagi. Aku akan menyelesaikan ini,” jawab So Hyun. Dia menandatangani dengan cepat. Kembali beralih pada berkas yang tadi diteliti.
Aera masih berdiri di depan meja sang atasan, meski dia sudah mengambil mapnya. Ada yang ingin dia katakan, namun tertahan di tenggorokan. Rasanya begitu berat. Sebenarnya bukan masalah besar. Dia hanya ingin mengajukan cuti.
“Ada masalah?” tanya So Hyun. Pandangannya masih fokus pada berkas di meja. Sekretarisnya tak menjawab. Diam seribu bahasa.
So Hyun menghela napas. Mengangkat kepala untuk melihat sang sekretaris. “Ada apa, Sekretaris Min?”
“Sebenarnya…” ucap Aera terdengar ragu. “Bukan apa-apa,” lanjutnya akhirnya. Dia tak bisa mengatakan. Terlalu sungkan. Dia sudah mengajukan cuti beberapa kali.
“Apa ibumu sudah baikan?”
Aera menggeleng. “Dia sedikit susah diberitahu. Apalagi hanya appa yang menemani.” Terdengar helaan dari hidungnya. Ibunya memang baru menjalankan operasi usus buntu.
“Kau mau mengajukan cuti.”
Aera tersenyum tak enak. Merasa bersalah karena harus meninggalkan pekerjaan.
“Aku beri seminggu. Tidak ada penawaran. Pastikan mengatur jadwalku sebelum itu,” jelas So Hyun tegas. Memilih tenggelam dengan berkasnya kemudian.
“Daepyonim, terimakasih banyak. Pasti aku kerjakan.”
-o0o-
Gadis bersurai panjang itu sibuk membuka lembar demi lembar konsep untuk pemotretan hari itu. Mengenakan kemeja kotak-kotak putih dengan garis hitam. Berlengan sesiku. Rok span merah menjadi pasangan. Terlihat anggun dengan rambut bergelombang yang dibiarkan terurai.
“Bagaimana menurut Anda, Kim Daepyo?” tanya salah seorang staf.
Gadis itu mengangguk sebelum mengangkat wajah. “Bagus. Ini lebih baik dari tahun lalu. Bisa dilanjutkan,” jawabnya dengan senyum mengembang.
“Terimakasih.” Pria yang baru beberapa waktu lalu menjadi kakak ipar gadis itu tersenyum senang. Badannya dibungkukkan bermaksud melanjutkan pekerjaan.
“Timjangnim.”
Panggilan itu membuatnya terhenti. Kembali menoleh dan mendekat. “Iya.”
“Fighthing!” ucap gadis itu. Tangan kanannya mengepal dan lengannya ditarik untuk memberi semangat.
Pria itu kembali tersenyum. Mengikuti gerakan atasannya dengan kedua tangan. Kembali mendekati sang fotografer untuk melanjutkan pekerjaan.
“Eomma.”
Suara anak kecil memenuhi ruang tersebut. Pria kecil yang berteriak tadi, berlari menghampiri So Hyun. Dengan cepat dia bisa memeluk sang ibu yang menatap kearahnya. Di belakangnya seorang gadis mengikuti pria kecil tersebut.
So Hyun membalas pelukan putranya. Mencium kening setelah melepaskan. “Kau sudah datang. Bagaimana lesnya?” tanyanya dengan nada lembut.
“Baik. Bu Gurunya baik. Jungkook dapat pelajaran baru,” jelas Jungkook dengan nada khasnya.
Sejak tampil di pesta pernikahan bibinya, dia mulai menjalani les piano. Ditemani gadis pekerja paruh waktu yang dipekerjakan ibunya.
“Syukurlah! Jungkook sudah makan?”
Pria kecil itu mengangguk. “Tadi Jungkook makan hamburger sama Jiah Noona.”
“Eonni, maaf karena tidak bisa menjaga Jungkook lebih lama. Aku ada urusan mendesak.” Wajah bersalah menyelimuti gadis tersebut.
“Jungkook-ah. Hari ini di sini bersama eomma ya. Jiah Noona sedang ada urusan. Jungkook tunggu sampai eomma selesai bekerja.” Dengan hati-hati So Hyun menjelaskan pada putranya.
“Iya. Aku janji tidak akan nakal” ucap Jungkook memperlihatkan gigi susunya disertai senyum manisnya.
So Hyun bernapas lega. Dia beralih kembali pada gadis yang sudah sebulan bekerja padanya. “Iya, pergilah! Terimakasih untuk hari ini.”
“Tidak apa-apa. Hati-hati di jalan.”
So Hyun masih menatap punggung Jiah hingga hilang di balik pintu. Netranya beralih pada putranya yang sibuk dengan tablet. Usapan lembut di puncak kepala dia berikan.
“Jungkook-ah, appa ada di sini.”
“Benarkah! Dimana?” Jungkook mengedarkan pandangan kesekeliling. Tabletnya sudah diserahkan pada sang ibu.
“Di sana?” So Hyun menunjuk pria yang duduk menatap rekannya di depan kamera.
Jungkook segera berlari. Tanpa pamit pada sang ibu. So Hyun hanya menghela napas. Suaminya memang sudah tak pulang selama tiga hari, itulah yang menyebabkan putranya begitu antusias menemuinya.
“Appa.”
“Jungkook-ah.” Pria yang dipanggil appa terkejut. Dia melirik sebentar kepada istrinya yang tersenyum dan mengangguk padanya.
“Aku merindukanmu appa,” tutur Jungkook lagi. Dia sudah memeluk pinggang ayahnya.
“Appa juga.” Pria itu membalas pelukan Jungkook. Kembali berucap setelah putranya melepaskan pelukan. “Jungkook tidak nakal kan, selama appa pergi?” Dipangkunya putranya tersebut.
Jungkook menggeleng. “Aku mengikuti semua perkataan Appa.”
“Pintarnya anak appa. Tos dulu dong.” Pria itu mengulurkan tangan. Disambut hangat oleh putranya.
“Halo Jungkook,” sapa seorang. Dia yang baru menyelesaikan pemotretannya ikut duduk di samping Jimin.
“Jungkook Ahjussi,” jawab Jungkook kecil tersenyum manis.
Jungkook mengangguk. “Sayang sekali. Aku pasti bingung jika ada yang memanggil nanti.”
-o0o-
So Hyun masih disibukkan dengan laporan perusahaan. Sesekali dia meregangkan otot dengan menekuk leher ke kanan dan ke kiri.
Berkasnya tinggal dua map. Akhirnya dia akan terbebas juga. Suara ketukan pintu mengalihkan konsentrasinya. Dengan sedikit berteriak, dia mempersilakan masuk.
Muncul sekretarisnya membawa kotak biru dengan pita besar di luarnya. “Ada paket untuk Anda, Daepyonim,” jelas sang sekretaris.
“Aku tak ingat membeli sesuatu.”
Sekretarisnya mengangkat bahu setelah meletakkannya di meja. Dia pamit undur diri untuk meneruskan pekerjaan.
So Hyun menatap aneh kotak itu setelah kepergian sekretarisnya. Tangannya terulur untuk membuka. Sedikit ragu karena tak ingat pernah membeli sesuatu. Gaun berwarna biru adalah isi dari kotak tersebut. Ada memo kecil di atasnya. So Hyun lebih tertarik pada memo tersebut. Membukanya untuk dibaca.
“Halo, Sayang. Jangan lupa datang di Restoran Angel jam delapan tepat. Batalkan semua jadwalmu. Aku menunggumu. Pakai gaun yang aku kirim. Dari suami tercintamu. Park Jimin.Ily💜”
So Hyun tersenyum membacanya. Setelah lima hari tak pulang, pria itu dengan seenaknya membuat janji. Dia hanya mendesah.
Berpikir sejenak. Dia memang tak punya janji hari ini. Tapi aneh ketika pria itu mengajaknya makan malam. So Hyun hanya menggeleng. Dia tak mau ambil pusing. Sepertinya dia harus datang untuk tahu apa rencana suaminya tersebut.
Tangannya mengambil gaun itu. Cukup mewah. Minidress tanpa lengan. Berbentu V-neck. Punggungnya terekspos sebagian jika dipakai. Bordir kupu-kupu timbul menghiasi pundak, melingkar di bagian perut juga tersebar di bagian lain. Warnanya cukup kalem.
Dia bisa suka sekali melihat. Dan lagi itu bukan barang murah. Dia sangat tahu dari kain yang disentuh. Detail jahitannya juga rapi. Sebagai salah seorang desainer, dia begitu paham perihat tersebut.
Sebenarnya tak perlu repot membelikan baju. Sejak bisa membuat baju, So Hyun tidak pernah membeli. Hanya kadang, jika diajak teman atau dibelikan seseorang. Suaminya sudah tahu itu. Tapi pria itu masih repot melakukannya.
Mungkin tak masalah. Sesekali dia memang harus memakai pakaian yang bukan dibuat olehnya. Alasan dia membuat bajunya sendiri untuk mendapatkan rasa nyaman. Dulu dia pernah membeli baju yang tak nyaman ketika dipakai. Sejak saat itu, dia memutuskan memakai pakaian yang dibuatnya sendiri.
🍭
🍭
🍭
To Be Continue..
🍭
🍭
🍭
Uhuy, Jimin mau ngajak Sso kemana tuh? Date kah?😝
Sisa 1-2 part😆
Jangan lupa tinggalkan jejak VOTE, LIKE COMMENT!!
See you di part terakhir nanti😊