The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]

The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]
Chapter 9



Budayakan VOTE dan COMMENT sebelum membaca cerita ini😊


•••••••••••••


Chapter 9


(The Past²)


_


_


Masa lalu biarlah masa lalu.


Tapi bagaimana jika hatinya saat ini masih terpaku dengan masa lalu?


_


_


So Hyun berjalan lemas memasuki area kantornya. Dia memilih berangkat lebih dulu, untuk memberi mereka waktu menyelesaikan masalahnya. Ya, kedua orang yang tadi sarapan bersamanya masih memiliki kesalahpahaman yang perlu diluruskan. Untuk itulah dia memilih pergi, tak ingin mengganggu pembicaraan mereka.


Dia tak pernah menyangka jika pria yang sekretarisnya maksud adalah Jimin. Gadis itu pernah menceritakan kisah masa lalunya itu. Bagaimana hubungan mereka sebelumnya. Dia bahkan tahu jika sebenarnya gadis yang tak lain adalah sekretarisnya masih memiliki perasaan untuk pria itu. Meski dia mengatakan jika membencinya, tapi So Hyun bisa melihat dari sorot matanya.  Perasaan cinta masih ada disana.


Kenapa dari semua pria yang ada di kota itu harus pria yang sudah menjadi suaminya. Dia kini seperti gadis yang ketahuan merebut kekasih sahabatnya. Ya, meski mereka sudah tak memiliki hubungan. Tapi tetap saja, mereka berpisah karena keadaan. Rasa bersalah datang begitu saja menghampirinya. Perasaan tak nyaman juga tengah melandanya. Dia membuang nafas panjangnya, mencoba membiarkannya. Tetap saja rasa tak nyaman itu ada.


Dia berbelok ke ruang pemotretan kala melihat para pegawainya berlalu lalang di depan ruang tersebut. Ruang itu sudah dipenuhi dengan peralatan keperluan pemotretan. Sepertinya semua sudah siap. Tinggal menunggu jam pelaksanaan.


So Hyun tersenyum kala melihat punggung pria yang kini tengah asyik mengobrol dengan para krunya. Ya, pria itu adalah ketua tim yang dia tunjuk sebagai penanggung jawab untuk pemotretan ini. Kinerjanya cukup bagus. Karena itu dia berharap kali ini juga akan berhasil.


Pria itu menoleh kala salah satu krunya berbisik padanya. “Daepyonim. Anda sudah datang”, ucap pria itu. Dia berjalan mendekat ke arah So Hyun. Menunduk hormat setelahnya. ID pegawai yang mengalung indah di lehernya bertuliskan Yoon Jaewoon.


So Hyun menganguk. “Bagaimana persiapan pemotretannya, timjangnim?”, tanya So Hyun.


“Ready”, jawab pria itu. Ibu jari dan jari telunjuknya disatukan membentuk huruf o. Senyum menawan juga ia tunjukan. “Semuanya sudah siap. Hanya satu yang kurang, menunggu jam pelaksanaan”, jelasnya lagi.


Senyum itu mengingatkan So Hyun pada seseorang, mantan kekasihnya. Sial, inilah mengapa dia merasa sedikit canggung bila berdekatan dengan pria itu. Ditambah lagi mereka lahir di tahun yang sama. Perawakan dan juga tingginya juga hampir sama. Double sial.


So Hyun merogoh kantung coatnya kala ada yang bergetar disana. Dia meminta izin untuk mengangkat telfonnya. Berjalan sedikit menjauhi pria itu. “Yeobseyo”, jawab So Hyun membuka pembicaraan.


Dia hanya mengangguk mendengarkan lawan bicaranya. “Sudah selesai, secepatnya aku akan mengirim berkasnya untukmu”, ucap So Hyun.


“Sekarang!”, dia kembali menjawab lawan bicaranya.


“Iya, baiklah”, ucapnya lagi mengakhiri panggilannya.


So Hyun memasukan kembali ponselnya. Berjalan mendekati pria yang kini kembali mengobrol dengan rekannya. “Timjangnim, aku harus pergi sebentar. Jika nanti jam pemotretan tiba dan aku belum datang, tolong minta sekretaris Min memulai tanpa aku”, jelasnya.


“Apa terjadi sesuatu, daepyonim?”.


“Tidak. Ada urusan yang harus aku selesaikan. Mungkin sedikit lama”, ucap So Hyun sedikit ragu. Senyum canggung juga ia tunjukan. “Aku pergi dulu”.


-o0o-


“Kenapa kau memberitahunya?”, tanya Aera. Dia masih berada di apartemen So Hyun. Sesuai permintaan gadis itu, dia akan meluruskan kesalahpahaman dengan pria dihadapannya.


“Tentu saja aku harus. Aku tidak ingin dia salah paham”, jelas Jimin.


Aera menghela nafas beratnya. Benar yang dikatakan pria itu, tapi tetap saja ini menyangkut So Hyun. Dia cukup hafal bagaimana watak gadis itu. Meski baru enam bulan mengenalnya, tetap saja tak merubah fakta jika dia cukup paham watak gadis bermarga Kim tersebut. “Dia pasti akan merasa tak nyaman setelah ini”, jelasnya kembali.


“Maksudmu!”.


“Dia tipe gadis yang tidak suka berkencan dengan mantan sahabatnya. Apalagi sampai menikah. Itulah kenapa aku tidak memberitahunya saat dia dijodohkan denganmu”.


“Meski kau tak memberitahunya, tapi dia tetap menolak perjodohan ini”.


“Ada alasan tersendiri kenapa dia menolaknya”.


“Apa itu?”.


“Bukan hakku memberitahumu. Kau bisa menayakan sendiri padanya. Tapi ku rasa dia tak akan semudah itu bercerita. Mungkin jika kau mau menunjukan alasan sebenarnya kau menerima perjodohan ini, dia akan memberitahumu”. Gadis itu terlihat menghela nafas sejenak.


Mereka terdiam untuk beberapa saat. Sibuk dengan pemikiran masing-masing.


“Apa So Hyun, gadis yang kau maksud?”, Aera kembali bersuara.


Jimin menoleh, menatap gadis yang sedang berbicara padanya. Dia mengangguk membenarkan. “Iya”.


Gadis itu membuang nafas pasrahnya. “Aku mengerti. Mulai sekarang kau harus menjaganya. Dia terlihat kuat di luar, tapi sebenarnya dia begitu rapuh”.


“Apa ada orang yang dia cintai atau mungkin dia sukai?”.


Aera mengangguk.


“Siapa?”.


“Aku tak mengenalnya. Tapi yang pasti dia sangat mencintainya”.


Jimin tersenyum aneh. Dia kini tahu kenapa gadis itu selalu berusaha keras untuk menolak perjodohan mereka. “Mereka masih memiliki hubungan?”.


“Mereka putus meskipun tidak ingin”.


“Maksudnya?”.


“Seharusnya mereka menikah musim semi ini. Tapi bibinya tidak merestui hubungan mereka. Itulah mengapa mereka berpisah meski tidak ingin. Mereka bisa saja kawin lari. Tapi itu bukan gayanya”, Aera kembali membuang pasrah nafasnya. Dia ikut merasakan sakit saat menceritakannya. Seolah merasakan hal yang dialami oleh bosnya.


Jimin terdiam. Dia masih berusaha mencerna apa yang baru saja di dengarnya.


“Aku juga tak tahu pasti rincian ceritanya. So Hyun tak pernah benar-benar mau mengungkapnya. Dia selalu mengalihkan pembicaraan jika aku tanya perihal tersebut”, imbuh Aera kembali.


Jimin masih terdiam. Dia memilih mendengar semua perkataan yang keluar dari mulut gadis di depannya.


“Dia sangat menghormati bibinya. Itulah mengapa, dia mau pulang ke Korea meski dia tahu itu hanya cara yang digunakan bibinya untuk memisahkannya”.


Aera kembali menghela nafas.  “Hanya itu yang bisa aku ceritakan”. Aera membuang muka. Tak ada yang bersuara setelah itu.


“Aku sudah tak marah denganmu. Aku akan marah jika kau membuat So Hyun menangis. Jaga dia baik-baik. Kau bilang kita teman kan. Mulai sekarang bersikaplah layaknya teman. Kau tak perlu merasa tak enak padaku”.


-o0o-


“Yoon timjangnim”, sapa sekretarsi Min kala dia tak menemukan orang yang dicarinya.


“Iya”, pria yang sebelumnya sibuk mengarahkan bawahannya kini menoleh.


“Apa daepyonim belum datang?”.


“Sudah, tapi dia pergi lagi. Katanya ada urusan. Dia berpesan, jika jam pemotretannya tiba dan dia belum datang. Anda diminta memulai tanpa beliau”.


“Terima kasih. Selamat bekerja kembali”.


Sekretaris Min berjalan menjauh. Dia mengitari ruang pemotretan itu. Meneliti setiap persiapan yang dilakukan para penanggung jawabnya.


“Apa dia marah?”, ucapnya pada dirinya sendiri. Dia merogoh tasnya, mencari keberadaan ponselnya. Menekan tombol cepat satu dalam ponselnya. Mendekatkannya ke arah telinga.


Dia melirik arlojinya sebentar. Pemotretannya akan segera dimulai, tapi bosnya belum juga datang. Sepertinya dia memang harus memulai tanpa gadis itu.


Ruang itu kini dipenungi dengan kilatan cahaya dari kamera penggambil gambar. Ya, sekretaris Min memulai pemotretan itu tanpa bosnya, seperti yang dipesankannya tadi. Semua orang tampak sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Model untuk pemotretan itu sebagian sudah siap, sebagian lagi masih di ruang ganti. Mengganti pakaian yang akan digunakannya untuk pemotretan.


Sekretaris Min masuk ke ruang tersebut, letaknya memang bersebelahan dengan ruang pemotretan. Semua orang juga tampak sibuk dengan pekerjaannya.


“Sekretaris Min, bagaimana cara memakai ini? Aku sudah mencobanya, tapi terlihat tidak pas di mata”, ucap salah seorang. Dia adalah penanggung jawab untuk busana-busana yang akan digunakan dalam pemotretan.


Sekretaris Min berjalan mendekat. Dia menatap sebentar model pakaian itu. “Ini adalah produk terakhir yang selesai. Aku belum memeriksanya. Sebentar akan aku coba”, jelasnya. Dia mencoba mengancingkan pakaian itu pada salah satu model untuk pemotretan.


“Bukan seperti itu?”, terdengar suara yang mengintrupsikan kegiatan sekretaris Min.


Sekretaris Min menoleh untuk melihat si pemilik suara. “Daepyonim”. Dia melepaskan tangannya dari pakaian itu.


“Kau harus mengikatnya dulu seperti ini”, jelas gadis itu. Tangannya dengan terampil mempraktekan setiap kata yang keluar dari bibirnya. “Lalu arahkan ke kiri. Kancingkan dulu, baru arahkan ke kanan. Kancingkan lagi. Yang terakhir, ikatkan sabuk pinggangnya”.


“Ah, ternyata seperti itu”, ucap salah satu karyawannya. ID pegawai yang dipakainya bertuliskan Lee Hyejin.


“Ini memang sedikit rumit desainnya”, ucap So Hyun kembali.


“Terima kasih daepyonim”, wanita itu menunduk hormat pada So Hyun.


Sekretaris Min menarik lengan So Hyun menjauh. Membawanya ke tempat yang lumayan sepi. “Anda marah?’, tanyanya hati-hati.


“Tidak, kenapa aku harus marah?”, jawab So Hyun.


“Lalu, pergi kemana anda tadi? Aku sudah menghubungimu, tapi tak dijawab”, jelas Sekretaris Min kembali.


“Ada pokoknya, tidak semua urusanku harus aku ceritakan kan”.


“Daepyonim, anda harus lihat ini”, salah seorang karyawannya memanggilnya.


“Mari lanjutkan pekerjaan”, ajak So Hyun. Dia berjalan meninggalakn Sekretaris Min.


So Hyun diajak melihat hasil pemotretan yang telah usai. Suara blizt kamera masih menggema di ruang itu. Pemotretannya memang masih berjalan.


Sementara itu seorang pemuda yang sedang menunggu antria pemotretan menatap lekat ke arah So Hyun. Dia termangu melihat gerak-gerik gadis itu.


“Tae, kau sedang apa?”, tanya salah satu rekannya.


“Kau lihat Jin Hyung”, pemuda itu menunjuk ke arah pandangannya. “Kim daepyo benar-benar anggun dengan semua kegiatannya. Tak salah jika dia menjadi seorang CEO”, lanjutnya.


Pemuda itu tersenyum mengejek. “Ini bukan berarti kau menyukainya kan, Taehyung”, ucapnya.


Pemuda yang dipanggil Taehyung itu tersenyum. “Bagaimana ya!”, ucapnya terdengar ragu.


“Kau bukan tipenya”, ucap salah seorang yang bekulit paling putih. Dia berjalan mendekati mereka. Kedua orang yang tengah asyik mengobrol itu menoleh.


“Benarkah!”, tanya Taehyung. “Memang seperti apa tipe pria idamannya?”.


“Setidaknya kau harus seperti Jin hyung”, jelas pria bernama Yoonggi.


"Tentu, semua orang tidak akan bisa menolak pesonaku" ujar Jin dengan percaya dirinya.


“Jin Hyung", ulang Taehyung.


“Apa yang sedang kalian bicarakan?”, Jimin itu berjalan mendekat.


“Bagaimana dengan Jimin?”, tanya Taehyung kembali.


“Aku. Kenapa denganku?”, tanya Jimin itu tak paham.


Pemuda berkulit putih itu menelisik dari atas hingga bawah Jimin tersebut. Dia menggeleng. “Hanya satu kekurangannya, tidak bisa memasak”, jelasnya kemudian.


“Jadi tipe idealnya pria yang bisa memasak”, ucap Taehyung.


Pria berkulit putih itu mengangguk.


“Sebenarnya siapa yang sedang kalian bicarakan?”, tanya Jimin itu kembali.


“Kim daepyo”, jawab Taehyung.


-o0o-


“So-ah”, suara itu terdengar menggema di ruang yang masih dipenuhi cahaya blizt kamera. Seorang Jimin bediri dengan gagah disana.


Sebagian di ruang itu menoleh. Ya, hampir semua orang disitu tahu jika nama yang tadi disebutkan adalah nama atasan mereka.


So Hyun yang terlihat sibuk melihat hasil pemotretan menoleh. Tak ada sepatah kata yang bisa diucapkannya. Dia melihat pria itu tengah tersenyum dan melambaikan tangan padanya. Ya, pria itu. Pria yang sudah lama tak dia dengar kabarnya.


Tanpa pikir panjang kakinya menuntunnya mendekat. Tubuhnya seolah berjalan tanpa perintahnya. Dia hampir menumpahkan air mata, namun sebisa mungkin dia menahannya. Nafasnya memburu. Rasa sesak datang begitu saja. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat dan cepat. waktu seolah berhenti di sekitarnya.


Kakinya berhenti tepat di depan pria itu. Dia menatap sendu pria didepannya.


“Long time no see Little Bee”, sapa pria itu.


So Hyun masih termangu. Menatap tak percaya objek di depannya. Ini seperti mimpi. Pria itu ada di hadapannya. Pria yang selama ini dia rindukan. Bahkan dia masih menggunakan nama sayangnya untuknya. Tangannya mengepal kuat. Tubuhnya bergetar.


“Jack”. Tepat setelah menyebutkan nama pria itu, dia menghambur memeluknya. Dia tidak perduli dengan apapun disekitarnya. Dia bahkan lupa fakta jika dia sudah menjadi istri orang sekarang.


Pria itu membalas pelukan So Hyun. Dia mengusap pelan surai panjang gadis itu. “I miss you, Little Bee”, ucap pria itu kembali.


So Hyun masih terdiam. Dia masih menikmati pelukannya. Dia teramat merindukan pria itu. Aroma parfum yang dipakainya masih sama dengan yang terakhir diingatnya.


“Ada banyak hal yang ingin aku katakan padamu”, ucap So Hyun setelah melepas pelukannya. “Tapi tidak disini. Ayo mencari tempat yang lebih nyaman”, ajaknya.


Pria itu mengangguk.


“Aku akan mengambil tasku”.


So Hyun benar-benar pergi setelah mengambil tasnya. Tanpa pamit, tanpa sepatah katapun, bahkan untuk sekretarisnya. Dia berjalan meninggalkan ruang dengan menggandeng lengan pria itu. Tanpa memperdulikan pria yang kini menatap aneh kepergiannya.


🍭


🍭


🍭


To Be Continue...


🍭


🍭


🍭


Waktunya masa lalu So Hyun terungkap.. hihi😁😁


Hati-hati ada pelakor(perebutlakiorang) or pebior(perebutbiniorang)!!! 🤣


Jangan lupa tinggalkan Vote dan Comment ya😊