The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]

The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]
Chapter 10



Chapter 10


(Lost)




Perasaan yang masih membekas ini


Akan menjadi kenangan yang menyakitkan




Back song: Super Junior D&E – 너는 나만큼 (Growing Pains)




“Sekretaris Min. Hwejangnim, datang”, ucap pria bernama Yoon Jaewoon tersebut.


Sekretaris Min yang sibuk berdiskusi dengan staffnya menoleh. “Hwejangnim?”, ulangnya kembali. Mencoba memastikan jika dia tak salah dengar.


Pria itu mengangguk.


“Iya, aku mengerti. Terima kasih Yoon timjangnim. Kau bisa kembali”, jelas sekretaris Min.


Pria itu menunduk hormat sebelum pergi.


“Kalian bisa melanjutkannya. Aku akan pergi menemui hwejangnim”. Sekretaris Min berjalan meninggalkan staffnya. Dia mengambil nafas dalam sebelum melanjutkan langkahnya.


“Selamat datang Hwejangnim”, sambut sekretaris Min. Dia menunduk memberi salam.


“Bagaimana pemotretannya?”, tanya wanita itu. Dia masih terlihat cantik meski usia sebenarnya sudah di pertengahan empat puluhan. Bahkan jika dilihat sekilas, dia tampak seperti wanita yang berusia di awal tiga puluhan.


“Semua berjalan lancar. Sesuai dengan apa yang telah kita rencanakan”, jawab sekretaris Min kembali. Dia terlihat sedikit gugup. Ya, selalu seperti itu. Meski sebenarnya dia sudah bekerja saat wanita itu masih menjabat sebagai CEO. Aura wanita itu selalu membuatnya terintimidasi.


“Kerja bagus”, ucap wanita itu.


“Mari, kearah sini”, ucap sekretaris Min. Dia mengajak wanita itu utuk melihat hasil pemotretan.


Wanita itu mengikutinya dengan senang hati. Mengangguk setuju kala mendengar penjelasan sekretaris Min yang sesuai seleranya. Dia juga tak ragu melayangkan protes kala mendapati sesuatu yang tak pas menurutnya. Pandangannya ia edarkan ke penjuru ruang. Seperti mencari seseorang.


“Aku tak melihat So Hyun. Dimana dia?”, tanya wanita itu.


Sekretaris Min menelan kasar salivanya. Apa yang harus dikatakannya? Tidak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya kan. Dia tahu jika bosnya sedang pergi dengan lelaki yang dulu menjadi kekasihnya, meski itu pertama kali dia bertemu dengan lelaki tersebut.


“Dia bukan tipe gadis yang suka meninggalkan pekerjaan. Kecuali fakta jika dia benci bekerja di hari jum’at”, ucap wanita itu kembali.


“Sekretaris Min”, wanita itu kembali memanggil karena sekretaris Min tak kunjung menjawab. “Dimana So Hyun?”.


“Sebenarnya…..”, sekretaris Min tak melanjutkan kalimatnya. Dia masih bingung, harus menceritakannya atau tidak.


Wanita itu tersenyum miring. Dia tahu jika sekretaris Min tak akan menjawab pertanyaannya. “Yoon Jaewoon”, panggil wanita itu pada lelaki yang sibuk berdiskusi dengan rekannya.


“Iya, hwejangnim. Ada yang bisa saya bantu?”, ucap pria itu lantang.


“Dimana So Hyun?”.


“Dia pergi”, jawab pria yang dipanggil Yoon Jaewoon tersebut.


Sekretaris Min menatapnya tajam seolah berkata jangan. Namun sepertinya pria itu tak mengerti maksud sekretaris Min.


“Tadi dia disini?”, tanya wanita itu.


“Iya”, jawab pria itu kembali disertai anggukan.


“Kemana?”, wanita itu selalu bertanya intinya. Seperti yang pria itu ingat.


“Aku tak yakin, tapi dia pergi dengan seorang pria tadi”.


Sekretaris Min membuang muka kala mendengar penjelasan pria yang dipanggil  pria yang dipanggil Yoon Jaewoon tersebut. Dia memejamkan matanya sebentar. Sial, ini akan menjadi situasi yang buruk untuk So Hyun.


“Pria?”, wanita itu mengangkat alisnya.


“Iya. Ini kali pertama aku melihat pria itu”, jelas Yoon Jaewoon.


“Apa dia bernama Jackson?”, ucap wanita itu.


“Aku juga tak yakin. Tapi daepyonim memanggilnya dengan sebutan Jack”.


“Aku mengerti, kau bisa kembali”.


Pria itu menunduk hormat sebelum meninggalkan wanita yang dipanggil hwejangnim olehnya.


Wanita itu kembali tersenyum miring. “Apa mereka masih menjalin hubungan?”, pertanyaan itu kini ia tujukan untuk sekretaris Min.


Dengan cepat sekretaris Min menggeleng. “Ini pertama kalinya aku melihat daepyonim bersama pria itu”.


“Kau yakin?”, wanitu itu terlihat tak terima dengan penjelasan sekretaris Min.


“Iya”, jawab sekretaris Min disertai anggukan. Dia benar-benar gugup kali ini.


Wanita itu merogoh tasnya. Mencari keberadaan ponselnya. Menghubungi seseorang. Tersenyum kecut kala yang menjawab adalah suara operator. “Dia bahkan mematikan ponselnya”, ucap wanita itu kemudian.


Wanita itu mengambil nafas dalam. “Katakan pada So Hyun jika dia datang nanti, suruh dia menemuiku”, wanita itu berlalu pergi setelah mengatakannya.


Sekretaris menunduk hormat meski wanita itu sudah berlalu dari hadapannya. Tepat setelah dia tak melihat keberadaan wanita itu, dia berjalan cepat menemui pria bernama Yoon Jaewoon. “Yoon timjangnim”, panggil sekretaris Min.


“Iya”, pria itu berjalan cepat menemui sekretaris Min. “Ada yang bisa saya bantu sekretaris Min”.


“Kenapa kau memberitahu hwejangnim? Bukankah aku sudah memberimu isyarat untuk tidak mengatakannya”, sekretaris Min terlihat marah.


“Aku tidak mengerti tadi, maafkan aku”. Pria itu terlihat menyesal. Dia juga menunduk meminta maaf.


Sekretaris Min mengepalkan tangannya kuat. Dia juga memejamkan matanya. Seperti sedang menahan amarah. Dia mengambil nafas panjang beberapa kali untuk meredakannya. “Ini bukan salahmu, kau bisa bekerja kembali”, ucapnya kemudian.


Sekretaris Min berlalu. Dia mencoba menghubungi seseorang. Tidak berhasil, suara operator lah yang menjawabnya. “Sebenarnya kau ada dimana daepyonim?”, ucapnya entah pada siapa. Ya, terhitung sudah dua jam So Hyun meninggalkan tempat itu.


So Hyun melambaikan tangan pada pria yang sudah mengantarnya. Dia tersenyum hangat melihat kepergian pria itu. Dengan langkah mantap, dia berbalik hendak masuk ke perusahannya. Namun langkahnya terhenti kala melihat wanita itu. Ya, bibinya sudah berdiri di belakangnya. Melihat apa yang baru saja dilakukannya.


“Kau darimana?”, tanya wanita itu.


So Hyun menggenggam kuat coatnya. Menatap sebentar bibinya, sebelum menunduk memberi salam.


“Ada yang harus kita bicarakan”, ucap wanita itu kembali. Dia menarik lengan So Hyun memasuki area perusahannya.


So Hyun hanya pasrah mengikuti kemanapun wanita itu membawanya. Dia tahu, jika ini adalah salahnya. Bukan, ini bukan sepenuhnya salahnya. Sebagian adalah salah wanita yang tengah menarik lengannya. Jika saja wanita itu mau memberikan restu untuknya, semuanya tidak akan menjadi serumit ini.


Wanita itu melepaskan tangan So Hyun di lorong yang sepi. Dia meantap tajam keponakannya, seolah gadis muda itu telah membuat kesalahan yang fatal. “Jadi selama ini kalian masih memiliki hubungan?”.


“Iya”, jawabnya. So Hyun berkata bohong. Ini bahkan kali pertama dia bertemu dengan pria itu semenjak dia pulang ke Korea.


“So Hyun, sudah berapa kali aku bilang, berhentilah menjalin hubungan dengan pria itu. Sampai kapanpun aku tidak akan merestui hubungan kalian”, wanita itu terlihat sedang menahan amarah.


“Waeyo?”.


“Tidak bisakan kali ini kau hanya menuruti permintaanku”.


“Kapan aku tidak memenuhi permintaan imo? Imo menyuruhku pergi ke Paris, aku juga juga melakukannya. Imo menyuruhku masuk ke ESMOD, aku juga melakukannya. Meski kau tahu jika aku ingin kuliah di kedokteran. Kau menyuruhku pulang ke Korea, aku juga melakukannya. Meski aku tahu itu hanya caramu memisahkan kami. Aku juga memenuhi permintaan imo, untuk menjadi CEO. Meski aku tidak menyukainya. Dan juga aku memenuhi permintaaanmu untuk menikah, meski aku juga tidak menyukainya”, jelas So Hyun. Matanya mulai berkaca-kaca.


Wanita itu terdiam. Memang benar apa yang dikatakan keponakannya. Gadis itu selalu menuruti permintaannya, meski dia tak menyukainya.


“Imo selalu menyuruhku menjauhinya. Setidaknya beri aku alasan, kenapa aku harus melakukannya”, ucap So Hyun kembali.


Wanita itu masih terdiam.


“Kenapa imo diam? Katakan, kenapa aku harus melakukannya?”, ucap So Hyun lagi. Setetes cairan bening, meluncur begitu saja melewati pipinya. “Imo bahkan sudah tahu seberapa besar aku mencintainya”.


“Tidak ada dokter yang mengencani pasiennya”, wanita itu tersenyum miring.


“Aku bukan lagi seorang pasien. Aku sudah sembuh, imo tidak lupa itukan. Dan lagi, memang apa salahnya jika seorang dokter menyukai pasiennya? Selama mereka serius, tidak akan jadi masalah bukan. Aku tidak akan terima jika alasan imo menolak hubungan kami karena itu”.


So Hyun mengepalkan kuat tangannya. Setetes cairan bening kembali melewati pipinya. Dia masih menatap tajam bibinya. Masih menginginkan jawab dari apa yang dilakukannya.


Wanita itu membuang muka. Mengambil nafas dalam. Mencoba mereda emosinya. Bukannya dia tak ingin bercerita, hanya saja rasanya berat membuka masa lalunya.


“Katakan imo”, So Hyun masih belum menyerah. Dia masih ingin mendengar alasan pasti mengapa bibinya menolak hubungan dengan pria itu. Dia masih mencoba menahan laju air matanya. Meski kini sudah memenuhi pelupuk matanya. Matanya juga sudah terlihat berkaca-kaca.


“Baiklah, jika imo memilih diam. Aku juga tidak akan memenuhi permintaan imo”, susah payah So Hyun mengatakannya. “Aku pergi”, dia berbalik. Masih menahan diri untuk tidak kembali mengeluarkan air mata. Juga masih berharap jika bibinya akan membuka suara.


Satu langkah, dua langkah, dan dilangkahnya yang ketiga, So Hyun bisa mendengar suara bibinya.


“Karena aku mencintai ayahnya”, jelas bibi So Hyun. Cukup lirih namun masih dapat didengar.


So Hyun menghentikan langkahnya. Masih terdiam. Detik kemudian dia berbalik. Menatap bibinya kembali. Mencoba memastikan jika dia tak salah dengar. Bibinya mencintai ayah dari kekasihnya dulu.


“Ya, aku mencintainya. Aku mencintai Park Sungin, ayah dari kekasihmu itu”, jelas bibinya kembali.


“Bagaimana bisa imo mengenalnya?”, tanya So Hyun. Dada sedikit sesak mendengarnya.


“Dia adalah dokter keluarga kita sebelumnya”, jelas bibi So Hyun lagi. Dia membuang pasrah nafasnya. “Aku pernah hampir membunuh istrinya, dulu. Karena itu appeoji memintanya pindah ke luar negeri. Dan aku tidak tahu jika mereka pindah ke Paris. Jika aku tahu dari awal, aku tak akan menyuruhmu pindah kesana”.


Wanita itu kembali mengambil nafas dalam. Dia mencoba menata diri. Membuka luka lama yang ingin dilupakannya, memanglah hal sulit. Dia berjalan mendekati So Hyun. Memegang kedua sisi bahunya. “Karena itu, jangan buat imo menjadi orang jahat lagi So Hyun. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan pada keluarga mereka jika kami benar-benar bertemu”, jelas wanita itu. Dia juga meneteskan beberapa air mata.


So Hyun benar-benar menangis sekarang. Rasanya begitu sesak mendengar penuturan bibinya. Dia terisak. Sungguh, rasanya begitu nyeri. Tubuhnya hampir limbung ke lantai jika bibinya tak menahannya. Jika waktu bisa diulang, dia akan memilih tak pernah mengenal pria itu.


Wanita itu menarik So Hyun ke dalam dekapannya. Mengusap pelan surai panjangnya. Mencoba memberi kekuatan, meski dia juga merasakan sakit. “Maafkan imo, sayang”, ucapnya kemudian.


So Hyun masih terisak. Dia masih belum bisa menjawab. Kenyataan yang didengarnya, membuatnya bertambah sakit. Bahkan lebih sakit ketika dia terpaksa harus berpisah dengan pria itu.


Wanita itu membiarkan So Hyun menangis dalam dekapannya. Karena hanya dengan itu, rasa sakit yang dirasakan keponakannya bisa berkurang. Meski tidak sepenuhnya.


Wanita itu melepaskan pelukannya ketika So Hyun sudah terdiam dari isakannya. Menatap wajah keponakannya. Menghapus jejak air mata yang masih tertinggal disana. “Untuk kali ini, imo benar-benar memohon padamu So Hyun. Jauhi dokter itu”, ucapnya kemudian. Dia juga memegang bahu So Hyun.


So Hyun hanya terdiam. Dia masih enggan menjawab.


“Imo tidak akan memaksamu untuk melanjutkan pernikahanmu dengan Jimin. Semua keputusan ada ditangannmu. Setidaknya kau sudah memenuhi permintaan terakhir ayahmu”, jelas wanita itu kembali.


So Hyun juga masih terdiam. Dia hanya menatap datar wanita itu. Wajahnya tanpa ekspresi. Karena itu, tidak ada yang bisa menyimpulkan apa yang sedang dirasakannya.


“Imo pergi. Maafkan imo”, wanita itu mengusap pelan kepala So Hyun sebelum pergi melangkahkan kakinya.


So Hyun masih terdiam menatap punggung bibinya yang semakin menjauh. Dia memejamkan matanya beberapa kali. Mengambil nafas dalam beberapa kali. Mencoba menenangkan dirinya.


Dia tak sadar, jika seorang pria berdiri di balik dinding di belakangnya. Pria itu baru keluar dari toilet. Dia mendengarnya, meski tidak semua. Pria itu bermaksud mendekat, namun langkahnya terasa berat. Dia hanya bisa memandang punggung So Hyun yang masih berdiri dalam diam.


Tangan So Hyun terulur menyentuh dinding. Dia mencoba mencari pegangan. Tubuhnya terasa lemas. Berkali-kali dia mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja. Dia hanya bisa mengambil nafas dalam.


Dengan perlahan So Hyun mencoba berjalan. Langkahnya terlihat sempoyongan. Dia bahkan hampir terjatuh jika tidak berpegangan pada dinding.


Pria itu mengikuti langkah So Hyun. Dia hampir berlari saat melihat So Hyun hampir terjatuh, namun dia tahan. Dia tak ingin membuat gadis itu salah paham jika dirinya muncul begitu saja. Jadi, yang hanya bisa dilakukannya hanyalah mengikuti kemanapun gadis itu pergi.


Dia fikir jika gadis itu akan pergi dari perusahaannya. Namun dugaannya salah, gadis itu berbelok menuju ruang pemotretan. Dia dapat melihat jika gadis itu menarik nafas dalam sebelum memasuki ruang tersebut.


Pria itu kembali mengikuti So Hyun. Dia memang harus menyelesaikan sesi pemotretan untuk katalog perusahaan gadis tersebut. Setelah memasuki ruang itu, pandangannya tak lepas dari So Hyun. Gadis itu benar-benar luar biasa menurutnya. Dia bisa bersikap biasa, seolah tak terjadi sesuatu. Jika dia jadi gadis itu, pasti dia sudah melakukan hal-hal yang akan membuatnya melupakan kejadian tadi. Minum alkohol misalnya.


🍭


🍭


🍭


To Be Continue...


🍭


🍭


🍭


Jangan lupa tinggalkan jejaknya!!


Itulah alasan Imo So Hyun tidak merestui So Hyun dan Jack. Gimana part ini? Mampukah membuat kalian sedih juga dengan kisah hidup So Hyun...?? Hihi😁😁


Siapa yang ngikutin So Hyun? Ada yang bisa nebak?