
"Hu'um gue yakin juga begitu, cewek kaya dia bukan tipe dan levelan elu," kata-kata itu terus terngiang di telinga Melisa. Entah bagaimana reaksi Riland karena Melisa tak dapat melihat reaksi wajah bossnya itu juga tak bisa mendengar tanggapan yang Riland berikan karena lelaki itu tak berkata apapun tentang yang lawan bicaranya ucapkan. Cukup bagi Melisa, diamnya Riland sebagai sebuah jawaban dari pernyataan yang dilontarkan lawan bicaranya.
Melisa sadar ia bukanlah seorang gadis yang cantik dan menarik, ia pun tahu tak mungkin bisa menggapai perasaan bossnya itu tapi mendengar langsung bagaimana Riland tak menyukainya cukup membuat Melisa merasakan luka dalam hatinya.
Melisa tersenyum, mentertawakan kebodohannya sendiri karena merasa patah hati. "seharusnya jangan terbawa perasaan ! Dia gak mungkin suka sama lo ! Kerasa sakit kan sekarang ?" Kata-kata itu Melisa tujukan untuk dirinya sendiri sembari memperhatikan es kopi yang kini sudah berada di dasar tempat sampah.
Setiap malam, setiap Melisa akan menutup mata ia selalu membayangkan wajah bossnya itu dan berharap suatu hari nanti cintanya akan terbalas tapi ternyata itu khayalannya semata karena ternyata Riland tak merasakan hal yang sama.
"Bego banget sih kamu, Mel !" Gumam Melisa pelan merutuki dirinya sendiri sambil mengusap pipinya yang basah dengan punggung tangan. Melisa merasa bodoh telah melabuhkan cintanya pada seorang Riland.
Sebenarnya Melisa belum puas menangisi dan merutuki dirinya sendiri tapi ia harus bergegas pergi dari tempat itu dan kembali ke tempatnya semula bersama Leah.
"ACepet banget, Riland tidur ?" Tebak Leah karena menurutnya Melisa begitu cepat sekali kembali.
"Hah ?" Melisa balik bertanya karena tak paham. Saat ini ia tak bisa berkonsentrasi.
"Hah, hoh, hah, hoh !" Ledek Leah.
"Kamu cepet banget nganterin es kopi, Riland lagi tidur ?" Tanya Leah lagi.
"Oooh itu, aku gak jadi ngasih Riland es kopinya, jadinya aku buang aja" jawab Melisa tak acuh.
"Lah kenapa ?" Tanya Leah. Sampai-sampai ia menghentikan sejenak sesuatu yang sedang dikerjakannya hanya untuk mendengarkan jawaban Melisa.
Sebenarnya Melisa malas untuk mengingat kembali hal pahit yang belum lama terjadi. Tapi sepertinya Leah akan terus menuntut jawabannya. "Tadi pas aku mau naik ke lantai 2 ternyata Riland gak sendirian, Aku denger dia lagi ngobrol sama seseorang,"
"Aahh iya, aku lupa bilang sama kamu ada Stefan di atas. Dia sepupu Riland yang tinggal di Jakarta. Dia datang ke Bandung kalau ada acara keluarga aja. Eh kalian udah pernah ketemu belum sih ?" Tanya Leah.
Melisa menggeleng pelan, "Aku aja baru tahu kalau Riland punya sepupu," jawab Melisa.
"Tar juga ketemu, orangnya baik kok," lanjut Leah dan Melisa hanya tersenyum malas mendengarnya.
Melisa sudah tak ingin bertemu apalagi berkenalan dengan laki-laki yang tadi begitu merendahkannya.
"Btw, ngapain es kopinya kamu buang ?" Sepertinya rasa penasaran Leah belum terpuaskan.
"Aku cuma beli satu, sedangkan di atas ada dua orang. Dan kita tak suka kopi kan ? Ya udah aku buang aja," jawab Melisa asal.
Leah manggut-manggut seolah paham, walaupun sebenarnya ia menganggap apa yang Melisa lakukan sedikit berlebihan.
"Ayo kerja ! Aku pengen pulang cepat hari ini," kata Melisa sambil membuka kembali layar laptopnya dan berusaha meneruskan pekerjaan yang tertunda walaupun kini mood-nya sudah hancur lebur.
Tak lama, terdengar suara dua orang yang menuruni tangga sambil saling berbicara. Tentunya Melisa tahu akan hal itu. Tapi sebisa mungkin ia bersikap seolah tak tahu akan kehadiran Riland dan sepupunya. Ia tenggelamkan dirinya dalam pekerjaan hingga kedua lelaki itu tak menyadari kehadirannya di sana.
"Gue udah datang jauh-jauh, awas kalau elu kabur," ucap laki-laki bernama Stefan itu sebelum ia pergi.
"Iya, rese lo. Pergi sana !" Usir Riland.
Tak terima diusir, Stefan pun memaki pelan. "Sialan ! Bagini ni punya sodara minus akhlak, maen usir seenak jidatnya." Kata Stefan lagi.
Melisa terus tundukan kepala, ia tak ingin melihat apalagi sampai harus berkenalan dengan laki-laki, sepupu Riland itu.
"Leah, aku pulang dulu yaa... Apa kamu mau aku antar pulang juga ?" Tanya Stefan pada Leah yang masih sibuk di meja kasir.
"sebenarnya aku sih mau-mau aja, tapi coba tanya pacar aku. Mau gak kalau kita pulangnya bertiga," sahut Leah cuek dan Stefan terlihat keki mendengarnya.
Kepergian Stefan diikuti gelak tawa Riland yang pecah karena ulah Leah tadi.
"Loh, Mel? Kamu dari tadi disitu " tanya Riland
"Hu'um," jawab Melisa tanpa mengangkat wajahnya untuk balas tatapan Riland. Ia memfokuskan diri pada pekerjaannya yang sebentar lagi rampung.
Melihat Melisa yang tengah sibuk membuat Riland membatalkan niatnya untuk menanyai gadis itu. Riland pun memutuskan untuk berjalan memasuki gudang penyimpanan dan kembali ke mejanya di lantai 2.
***
Pukul setengah 6 sore Riland datang menghampiri Leah yang masih dengan setia duduk di balik mesin kasir dan melaksanakan tugasnya. Untuk sesaat Riland memindai keadaan sekeliling dan ia tak mendapati Melisa di sana.
"Leah, Melisa di mana ?" Tanya Riland.
"Dia udah pulang dari setengah jam yang lalu," jawab Leah.
"Udah pulang ? Kok tumben sih gak izin aku dulu ?" Riland merasa terheran ketika Melisa pergi tanpa memberitahukannya lebih dulu.
"Cieeeee yang merasa kehilangan," ledek Leah.
"bukan begitu ! Heran aja dia gak bilang dulu," sangkah Riland.
"buru-buru kali, ke aku juga gak banyak omong," ucap Leah.
"Iya mungkin begitu,"
***
"selamat datang di the RH Store," kata Melisa penuh semangat oada seseorang yang baru saja memasuki toko pakaian si mana Melisa kerja.
"loh kamu lagi ?" Melisa terheran ketika yang datang ternyata adalah Raya, teman sekolahnyq dulu.
"Sudah hampir pukul 12 siang, dan aku datang sesuai janji kita kemarin. Ayo kita makan siang bersama!" Ucap Raya tanpa basa-basi.
"Hah ?" Melisa menaikkan alisnya tak percaya.
"Aku serius, mengajak kamu makan siang," kata Raya lagi.
Leah mendorong tubuh Melisa agar ikut dengan teman lelakinya itu. "Ajak dia ! Kasian dari tadi ngelamun melulu," ucap Leah yang dibalas Melisa sebuah delikkan mata.
Raya tetap bersikeras mengajak Melisa untuk makan siang, sedangkan Leah terus memaksa Melisa untuk pergi. Malas-malas Melisa menyampirkan tasnya di bahu dan pergi makan siang dengan Raya.
Tak lama setelah kepergian Melisa, Riland pun turun dari lantai 2 dengan secangkir kopi di tangannya.
"Mana Melisa?" Tanya Riland. Seharian ini Melisa terus berada di sebelah Leah. Riland merasa jika Melisa tengah menghindarinya.
"Melisa pergi dengan Raya," jawab Leah.
"Siapa raya ? " Tanya Riland sembari menyesap kopinya.
"Raya... Yang ganteng banget itu loh dan sebentar lagi jadian sama Melisa,"
Mendengar jawaban Leah, Riland pun dengan spontan menyemburkan air kopi yang sedang di minumnya.
to be continued