
Riland berkutat dengan pekerjaannya. Merombak total isi iklan tersebut. Ia tersenyum miring saat mengerjakannya, sudah terbayangkan apa saja yang akan dilakukannya pada Melisa.
Menggerakkan kepalanya sesuai irama lagu yang sedang di dengarnya. Sungguh ia sedang dalam suasana hati yang bagus.
Sedangkan di bawah sana Melisa dan Leah mengerjakan tugas dengan resah hati dan juga cemas. Leah menceritakan bagaimana Riland menolak usulannya mentah-mentah.
"Leah...," Melisa menyikut temannya itu agar Leah tak terlalu serius dengan pekerjaannya. Melisa tak ingin merasa galau sendirian.
Leah tolehkan kepala, wajahnya terlihat nelangsa. "Mel..," balasnya dengan wajah frustasi.
"Gimana nasib kita ini ?" Tanya Melisa lagi.
Leah mengerdikkan bahunya, "entahlah..," timpal Leah.
Keduanya bekerja dengan pikiran yang melayang-layang entah kemana.
"Tapi yang pasti Riland gak mau pemainnya di ganti," kata Leah, membuat dada Melisa berdegup lebih kencang lagi. Ia takut Riland membalas sakit hatinya melalui hal itu.
"Pikiran aku jelek mulu," keluh Melisa.
"Aku juga," timpal Leah menyetujui.
Setelah itu keduanya berusaha untuk fokus pada pekerjaan masing-masing, walaupun rasa cemas tak mau juga hilang.
Hingga sore menjelang, Riland tak juga turun dari tempat kerjanya. Ia juga tak memangil Melisa seperti biasanya. Riland benar-benar sibuk sendirian di atas sana.
Waktu untuk pulang pun tiba, Melisa membereskan pekerjaan nya. Menutup semua aplikasi di laptopnya dan mematikan dayanya. "Aku ke atas dulu ya mau ambil tas," pamit Melisa.
"Ok," sahut Leah dengan raut wajahnya yang mengisyaratkan kata "good luck". Bahkan gadus itu mengangkat kedua jempolnya.
Melisa tersenyum tipis dan berlalu pergi. Ia menelan ludahnya sendiri dengan paksa saat melihat titian tangga yang harus dilaluinya. Di atas sana ada seorang lelaki yang saat ini tak ingin ditemuinya.
Padahal biasanya, Melisa selalu tak sabar untuk melihatnya. Tapi semenjak kejadian tadi, ia sangat takut untuk bertemu dengannya.
Bukan hanya karena takut dipecat, tapi Melisa juga takut apa yang ada di dalam pikirannya itu benar adanya. Melisa takut pernyataan cinta Riland hanya sebagai alatnya untuk melarikan diri dari perjodohan.
Jika iya, maka Riland akan menjadi lelaki paling tega di dunia karena telah mempermainkan perasaan seorang gadis yang mencintainya dengan dalam.
Dengan sangat perlahan, Melisa menapakkan kakinya di titian tangga. Satu demi satu, Melisa lewati dengan pelan sekali. Ia tak ingin cepat-cepat sampai.
Sayup-sayup terdengar suara lagu yang mendayu. Bukan ragu rock seperti biasanya yang Riland putar. Tapi kali ini suaranya begitu memanjakan telinga dan liriknya begitu seduktif.
"I like you gone fall for me, i like the way you look in my eyes and said 'i want you inside of me',"
Melisa sudah berjalan dengan sangat pelan tapi nyatanya ia sampai juga di ujung tangga. Matanya membola saat melihat Riland berdiri membelakangi di mejanya sendiri.
Yang membuat Melisa terkejut, lelaki itu berdiri hanya dengan celana panjangnya saja. Tubuh atasnya di biarkan terbuka tanpa sehelai benangpun yang menutupinya. Hingga guratan otot-otot nya yang terlihat liat terekspos dengan sempurna. Tak hanya itu, Riland juga bertelanjang kaki. Membuatnya terlihat seksih maksimal.
"Oh my..," gumam Melisa pelan seraya menutup mulutnya yang terbuka dengan kedua tangan. Ia jatuhkan berkasnya tanpa sengaja hinga bunyinya membuat Riland tolehkan kepala padanya.
Darah Melisa berdesir hangat saat pandangan mata mereka bertemu dan saling terkunci untuk beberapa saat. "sorry, buat Bapak kaget," ucap Melisa sambil tersenyum canggung.
Rilang pun memutar tubuhnya dan berjalan menuju Melisa. Ia berjongkok dan membantu Melisa memunguti kertas-kertas kerja yang berserakan. Lelaki itu tak bicara, yang ia lakukan hanya membantu Melisa saja.
Sedangkan Melisa, terus tundukkan kepalanya. Menjaga pandangan matanya dari tubuh Riland yang setengah polos itu. Aura maskulinitas nya terlalu menonjol hingga membuat Melisa gemetar di buatnya. Yang bisa Melisa lihat adalah guratan urat-urat di tangan kekar Riland. Begitu jelas dan Melisa yakin akan sangat menyenangkan jika tangan itu mendekapnya erat.
"Pergilah kamu pikiran mesoom !!!" Kata Melisa dalam hatinya. Mati-matian ia menahan diri untuk tak melakukan sesuatu yang bodoh. "Jangan lihat, Mel !! Jangan lihat !!" Titah Melisa dalam hati. Matanya sudah tak tahan untuk melirik perut Riland yang terlihat liat itu.
"Kamu kenapa ?" Tanya Riland. Ia terheran mekigay Melisa yang terus tundukkan kepalanya, menghindari tatapan mata lelaki itu.
"Ya Tuhan... Kamu nanyaaaaaa?" Sahut Melisa dalam hatinya. Merasa kesal juga gemas karena pertanyaan yang Riland lontarkan. Apa bosnya itu tak sadar diri jika penampilannya yang hot itu merusak pikiran polos Melisa ?
"Mel ?" Tanya Riland lagi.
"Eh... Ngh.. gak pa-pa kok," jawab Melisa dengan senyum canggung nya.
"Udah waktunya pulang ya ? Ayo aku antar," sahut Riland.
Melisa pun beranikan diri untuk melihat wajah lelaki itu. "Tak usah, Pak. Saya bisa pakai ojek online," ucapnya cepat.
Riland menatap wajah gadis itu lekat-lekat. "Aku tak suka dibantah," ucap Riland. Dan sifatnya yang dominan membuat Melisa tak berkutik di buatnya.
***
"Yaa hujan..," desah Melisa saat ia sudah berada di luar toko dengan Riland. Mereka masih harus berjalan beberapa langkah menuju mobil Riland yang terparkir cukup jauh dari tempat biasanya.
"Saya pinjam payung Leah dulu deh," ucap Melisa, tapi Riland lebih cepat bertindak dari gadis itu.
Riland sudah lebih dulu membuka jaket jeans-nya dan menutupi kepala Melisa dengan jaket itu. Ia merangkul bahu Melisa untuk lebih dekat dengannya. "Gak usah minjem, aku aja yang lindungin kamu. Dekat ini jalannya," ucap Riland seraya melingkarkan tangannya di bahu Melisa dan mendekapnya erat. Ia mengajak gadis itu untuk berjalan menerobos hujan.
Debaran jantung Melisa semakin bertalu-talu saat tubuhnya berada di dalam rangkulan tangan kekar bos-nya yang hot itu.
credit lagu : I guess by Saint Levant.
bersambung...