
Melisa melihat ke arah sutradara, tapi lelaki itu pun terlihat tak protes dengan apa yang sedang Riland lakukan saat ini. Bahkan Melisa memberikan kode dengan matanya tapi sang sutradara hanya diam saja.
Semakin Melisa berusaha untuk melepaskan diri, semakin erat Riland menautkan jemarinya. "Kita lagi live loh, Mel," bisik Riland mengingatkan.
"Ta- Tapi...,"
Riland tersenyum lembut, mengisyaratkan jika semuanya akan baik-baik saja. Mau tak mau Melisa pun menuruti keinginan lelaki itu. Melisa membalas senyuman Riland meksipun kaku, genggaman tangan Riland terlalu membuatnya deg-degan.
Keduanya berjalan beriringan dengan jemari yang saling bertautan. Melalui jalan yang telah disediakan. Di dalam naskah dituliskan jika keduanya harus berpura-pura mengobrol saat berjalan. Tapi nyatanya Melisa tak sanggup untuk sekedar mengeluarkan kata-kata. Rasa gugup tak mau juga hilang dari dirinya.
Jalan yang keduanya lalui sebenarnya sangatlah pendek tapi bagi Melisa semuanya terasa jauh dan lama. Ia ingin segera menyelesaikan ini semua dan melarikan diri dari pesona Riland yang semakin menjeratnya.
Setelah dengan susah payah Melisa berjuang untuk menenangkan diri, akhirnya ia dan Riland tiba di ujung jalan. keduanya berdiri dengan saling berhadapan dan mata mereka yang saling menatap satu sama lain.
L
Melisa makin tak paham saat sang sutradara tak juga mengatakan kata 'cut' yang berarti adegan telah selesai. Dan Riland juga masih saja enggan melepaskan genggaman tangannya.
"Ri.. eh bos.. se- sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Melisa sambil tersenyum, ia lakukan itu agar orang-orang tak melihatnya bertanya.
Bukannya menjawab, Riland malah membalas senyuman Melisa. "Kamu pasti bingung ya," kata Riland, dan Melisa pun mengangguk pelan.
"Mel, sebenarnya apa yang kita lakukan ini bukanlah membuat iklan," ucap Riland, dan itu membuat Melisa tercengang saat mendengarnya.
"Maafin aku lakuin ini semua karena aku udah gak tahu gimana yakinin kamu tentang perasaan aku,"
"Hah ?" gumam Melisa dengan mata membola.
"Aku sudah menyatakan perasaanku padamu, tapi sepertinya kamu tak percaya. Aku juga sudah berusaha untuk mendekati mu dan memberikan perhatian tapi sepertinya kamu masih saja merasa ragu. Semoga dengan begini kamu mau percaya dengan apa yang aku rasa," jelas Riland panjang lebar.
"Ba- bagaimana ? A- aku benar-benar gak ngerti," sahut Melisa dengan debaran jantungnya yang kian menggila.
Riland kian eratkan genggaman tangan dan matanya pun menatap makin dalam pada Melisa yang sudah terlihat sangat tegang.
"Dengarkan dan juga pahami ya, Mel. Aku akan mengatakan ini di hadapan banyak orang dan juga disaksikan langsung oleh banyak pengikut kita di media sosial. Mereka akan menjadi saksi dengan apa yang akan aku ucapkan,"
"Aku... Riland... Sudah jatuh hati padamu dengan dalam," ucap Riland dengan begitu jelasnya hingga membuat semua orang yang mendengarnya begitu terkejut. Termasuk Leah yang saat ini menutup mulutnya dengan kedua tangan, saking tak percaya dan juga tak menyangka dengan apa yang baru saja di dengarnya.
Mata Melisa membola sempurna, mendadak nafasnya memburu karena jantungnya yang harus bekerja extra karena kata-kata yang baru saja Riland ucapkan.
"Aku jatuh cinta padamu, Melisa. Benar-benar jatuh cinta !" Kata Riland lagi.
"Aku mengatakan hal ini bukan karena ingin menjadikanmu sebagai pelarian dari perjodohan yang keluarga ku lakukan. Bukan juga karena adikku yang akan segera menikah. Aku mencintaimu karena kamu membuat ku merasakan hal itu,"
Apa yang Riland katakan membuat siaran langsung itu dibanjiri komentar. Hampir semuanya merasa tak percaya dan berharap Melisa mau menerima pernyataan cinta lelaki itu.
Tapi ada juga beberapa orang yang menyatakan patah hati mereka karena the hot boss ternyata sudah jatuh hati pada gadis lain.
"Aku mencintaimu karena hanya di dekatmu lah aku bisa merasakan bahagia. Dan aku ingin selalu merasakan kebahagiaan itu,"
Pernyataan cinta Riland membuat kedua mata Melisa menjadi buram karena air bening yang menggenang di kedua pelupuk matanya.
"Mel.. Maukah kamu menjadi kekasihku ? Maukah menjadi milikku ? Tapi tak hanya sesaat saja... Aku akan mencintaimu selamanya," tanya Riland sungguh-sungguh. Tak sekalipun Riland alihkan pandangan matanya saat menanyakan hal itu.
"A- aku...,"
"Aku cinta kamu, Mel. Sungguh...," Riland begitu frustasi dan berharap Melisa pun merasakan hal yang sama dengannya.
Melisa tersenyum. Ia ingat perkataan Leah jika Riland bukanlah tipe lelaki yang mudah menunjukkan perasaannya pada wanita. Tapi kini, lelaki itu menerobos batasnya sendiri dengan melakukan pernyataan cinta di hadapan banyak orang hanya karena ingin Melisa percaya padanya.
"A- aku juga mencintaimu..," jawab Melisa yang sudah tak mampu lagi menyembunyikan perasaannya.
"Aku sangat mencintaimu..," ucap Melisa lagi dan itu membuat sebuah senyuman terbit di bibir Riland. Wajahnya tak lagi menegang, pandangan mata Riland pun semakin sayu menatap Melisa penuh rasa cinta.
"Aku lebih mencintaimu lagi," sahut Riland sembari tundukkan kepalanya dan menarik tubuh Melisa agar lebih dekat dengannya. Lelaki itu mendekatkan wajahnya dan membenamkan bibirnya diatas bibir Melisa dengan sempurna. Sepertinya ia lupa jika saat ini banyak pasang mata tengah melihat apa yang dilakukannya.
To be continued ♥️