
" Ya, dan jangan khawatir karena saya tak akan macam-macam. Saya tak mungkin menganggu pacar orang kan ?" Tanya Riland dengan wajah datarnya. Sedari tadi tak ada satu senyuman pun yang terbit dari wajahnya.
"Ya, sure. Anda pasti bisa bekerja dengan profesional," sahut Melisa.
"Ya, tak mungkin dia akan menggangguku. Tunangannya yang model itu lebih segalanya dariku. Im so stup*d ! Gak mungkin banget Riland gangguin aku," batin Melisa dalam hati.
Leah mengusap punggung temannya itu diam-diam. Seolah mengatakan "sabar ya" dan tentu saja Melisa menyadarinya. "Jangan khawatir, Leah. Aku akan baik-baik saja." Melisa memaksakan diri untuk tersenyum ketika mengatakan itu.
Padahal dirinya sendiri tak yakin jika ia akan baik-baik saja. Sudah pasti Riland tak akan tertarik padanya. Tapi hati Melisa lah yang tak aman.
"Bagus kalau kamu ngerti," ucap Riland masih dengan wajah datarnya. Setelah mengatakan itu ia pun kembali ke ruangannya. Meninggalkan Melisa dan Leah yang saling beradu pandang.
"Dia kenapa sih ? Kepalanya kepentok kali ya ?" Tanya Leah pada Melisa tentang perubahan sikap bos mereka.
Melisa mengerdikan bahunya tanda tak tahu. "Lanjutin kerjanya yuk ! ntar dia marah-marah lagi," ajak Melisa.
"Hu'um bener," Leah pun berdiri dan kembali ke meja kasirnya.
Melisa pun kembali berjibaku dengan pekerjaannya. Ia berusaha untuk berkonsentrasi walaupun kepalanya di penuhi oleh pikiran tentang Riland. Dan mampukah ia melewati malam ini berduaan dengan bossnya yang hot itu.
Melisa menarik nafas dalam dan menghembukannya dengan perlahan melalui mulut. Belum apa-apa ia sudah merasa sangat gugup.
Ponselnya yang berada tak jauh darinya bergetar dan berbunyi dalam waktu yang bersamaan. Ternyata Raya sang kekasih mengirimkan pesan. "Aku jemput ya jam 5 sore," tulisnya di sana.
Melisa tersenyum miris membacanya. Bagaimana tidak miris ? Di hari pertamanya mempunyai kekasih, ia malah harus menghabiskan waktunya lembur bersama si bos yang hot dan ingin dirinya hindari. Tapi, semesta malah menyuruhnya untuk menghabiskan malam ini berdua saja dengannya walaupun itu hanya sekedar kerja lembur.
"Maaf, gak bisa pulang bareng. Aku harus lembur untuk mengerjakan laporan bulanan. Boss aku memintanya lebih cepat,"balas Melisa sejujurnya.
Tak perlu menunggu lama karena Raya langsung membaca dan membalasnya. "Lembur sampai jam berapa ? Mau aku temani?"
Melisa menghela nafasnya. Daripada berduaan saja dengan Riland, ia lebih suka jika ada Raya. Bukan karena Melisa menyukainya, tapi dengan adanya Raya maka pikiran Melisa tak selalu tertuju pada Riland si hot boss.
Tapi Melisa sadar diri. Melihat sikap Riland yang tak bersahabat, tak memungkinkan dirinya untuk meminta Raya menemaninya.
Jadi... Melisa akan menikmati siksaan ini sendirian saja.
"Gak usah... Aku ada Leah kok," jawab Melisa bohong. Ia tak mau membuat Raya khawatir padanya.
"Baiklah, nanti malam aku jemput ya," balas Raya cepat.
"Mmmhh... Aku gak tahu pulangnya sampai jam berapa. Aku pulang pakai taksi online saja, atau bareng Leah,"
"Kabari aku aja," balas Raya lagi.
"Oke," balas Melisa sembari meletakkan kembali ponselnya itu di atas meja tapi tak lama benda pipih itu kembali bergetar. Membuat Melisa kembali meraihnya dan menggulir layar untuk melihat pesan baru yang Raya kirimkan padanya.
"Ok, terimakasih :) " Melisa pun keluar dari aplikasi pesannya dan mematikan layar benda pipih itu lalu meletakkannya di atas meja.
Melisa kembali pada pekerjaannya memeriksa apa saja yang ia perlukan. Ia bangkit dari tempatnya duduk dan pergi ke gudang penyimpanan untuk membandingkan stok fisik dan jumlah yang tertera pada laporannya. Cukup lama ia lakukan itu hingga tiba waktunya untuk Leah pulang.
"Kamu yakin gak apa-apa ?" Tanya Leah sebelum ia pulang dengan kekasih yang menjemputnya.
"Gak apa-apa, tenang aja. Lagian kerjaannya udah rampung setengahnya. Palingan sejam atau dua jam juga selesai,"
"Baiklah, kalau ada apa-apa telepon aku ya. Aku akan langsung datang ke sini," lanjut Leah.
"Siap !!" Jawab Melisa sambil tertawa. Mengisyaratkan jika ia akan baik-baik saja dan rekannya itu tak usah mengkhawatirkannya.
Setelah itu Leah pun pergi meninggalkan Melisa dan Riland berdua saja di dalam distro itu. Dan semenjak Riland marah-marah sore tadi, lekaki itu tak lagi menampakkan batang hidungnya.
Sepeninggal Leah, Melisa kembali bergelut dengan laporan yang sedang dibuatnya. Namun sebelumnya ia pun mengirimkan pesan pada Agni yang merupakan teman satu kostnya itu. Melisa mengatakan jika ia akan kerja lembur hingga akan pulang terlambat atau menginap di toko. Tak lupa ia juga mengatakan agar Agni tak usah khawatir.
Konsentrasi Melisa terganggu saat ia mendengar derap langkah kaki seseorang yang menuruni tangga. Dan ia tahu siapa orang yang melakukan itu. Sebisa mungkin Melisa menenangkan dirinya dengan mengatur nafasnya.
"Leah udah pulang ?" Tanya Riland masih dengan sikapnya yang dingin. Wajahnya yang tampan terlihat datar tanpa senyuman.
"Udah," jawab Melisa singkat. Cepat-cepat ia tundukkan kepala dan kembali fokus pada layar laptopnya.
"Kembali ke mejamu !" Perintah Riland tak terbantahkan. Lalu ia berlalu pergi meninggalkan Melisa di toko itu sendirian.
Melisa tak tahu kemana perginya lekaki itu. Yang Melisa tahu Riland keluar dari toko itu tanpa menggunakan mobilnya. Dengan begitu Melisa tahu jika lelaki itu tak pergi jauh.
"Huufft," Melisa menghela nafasnya yang terasa berat. Tak ingin membuat mood bos-nya yang hot itu semakin buruk. Melisa pun menuruti perintahnya dengan kembali bekerja di mejanya yang berada di lantai 2 dan berhadapan dengan meja Riland si bos yang teramat sangat hot di mata Melisa.
Melisa bangkit dengan membawa laptop dan beberapa berkas di tangannya. Ia berjalan menuju tangga. Baru saja Melisa menaiki 3 undakan tangga, terdengar suara musik yang mendayu sendu dari lantai 2. Rupanya selama ini Riland menghabiskan waktunya dengan menenangkan diri.
Melisa pun melanjutkan langkahnya menuju ke lantai 2. Lagu-lagu yang dipopulerkan oleh Realestk terdengar memanjakan indra pendengaran. Begitu mendayu dengan iringan musik yang seduktif. Membuat atmosfer di ruangan itu berubah menjadi sedikit 'panas'
Melisa geleng-gelengkan kepalanya. Berusaha untuk menghilangkan pikiran yang tidak-tidak dari benaknya. Ia dudukan tubuhnya di atas kursi dan membuka laptopnya kembali untuk melanjutkan pekerjaannya.
Kepalanya dipenuhi oleh angka-angka saat Riland datang dengan dua gelas es kopi di tangannya. Tanpa sepatah kata apapun, ia meletakkan salah satu es kopi itu di meja Melisa. "Terimakasih," ucap gadis itu tapi Riland tak menanggapinya.
Lelaki itu berjalan ke mejanya sendiri yang letaknya tepat bersebrangan dengan meja kerja Melisa tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Melisa memperhatikan langkah Riland dengan banyak angka di kepalanya.
Tubuh Melisa menegang dan ia pun harus menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. Di depan sana Riland membuka kemeja hitamnya dengan perlahan hingga otot-otot punggungnya yang liat terekspos dengan sempurna.
Melisa pun tundukkan kepalanya, berusaha berkosentrasi pada pekerjaannya namun ia sangat kesulitan. "4 x 5... 4 x 5... ? Ya Tuhan... 4 x 5 berapa," keluhnya kesal. Untuk perkalian yang sangat mudah pun Melisa tak mampu menemukan jawabannya. Apa yang Riland lakukan membuat pikirannya traveling kemana-mana.
Tbc