
"Kalian yakin untuk tak menikah lebih dulu ?" Tanya ibu Riland pada anak lelaki itu dan juga Melisa. Saat ini keduanya tengah duduk saling berdampingan. Sedangkan di hadapan mereka duduk ayah dan ibu Riland.
Riland tolehkan kepala, melihat pada Melisa. Ia bertanya melalui isyarat mata. "Jadi bagaimana ? Kamu siapnya kapan ?" Tatapan Riland seolah mengucapkan kata-kata seperti itu. Bahkan ia meraih jemari Melisa dalam genggamannya.
"Mmhh... Saya rasa, kami sebaiknya saling mengenal lebih dulu. Dan semua itu membutuhkan waktu," jawab Melisa. Bukannya ia tak ingin segera menikahi lelaki yang selama ini dipujanya itu. Tapi menikah dengan terburu-buru juga bukan sesuatu yang baik. Apalagi jika harus membuat adik Riland mengundur tanggal pernikahannya. Padahal semuanya telah dipersiapkan dengan matang oleh adiknya itu
"Kalian ikhlas dilangkahi ?" Tanya sang ibu lagi. Memastikan jika Riland dan Melisa tak keberatan karena adik Riland akan menikah lebih dulu.
Bila dulu sang ibu begitu bersikeras agar Riland tak dilangkahi oleh adiknya, padahal lelaki itu belum mendapatkan seorang pendamping.
Tapi kini sang ibu mengerti, jika memaksakan kehendak malah akan membuat sang anak merasa tak bahagia. Terbukti dari rencana pertunangan Riland yang gagal total. Anak lelakinya itu lebih memilih untuk melarikan diri dan menjauh dari keluarganya daripada menerima perjodohan tanpa cinta.
Rasa cemas sang ibu juga hilang karena Riland kini telah memiliki seseorang yang sangat dicintainya dan juga mencintainya. Terlihat dari bagaimana mata keduanya saling pandang penuh rasa cinta saatl berbicara dan juga dari bahasa tubuh mereka yang sepertinya tak bisa untuk saling berjauhan. Riland selalu berusaha untuk bisa berdekatan dengan Melisa di manapun dan kapanpun.
"Tentu saja tidak ! Malah saya ikut bahagia karena pernikahannya," jawab Melisa tanpa ragu membuat ibu Riland tersenyum lega.
"Jika begitu... Kalian tahun depan ya ?" Tanya ibu Riland. Kedua matanya berbinar penuh harap. Sungguh ia ingin anak-anaknya segera menikah.
"Iya, Mi. Riland janji, tahun depan Mami hajatan lagi," kali ini Riland yang menjawab pertanyaan Ibunya itu. Sedangkan Melisa melihat Riland tak percaya.
Mendengar itu, sang ibu memutar bola matanya malas. "halaaahhh... Mami yakin kamu ngomong begitu cuma buat nyenengin hati Mami,"
"Riland terserah Melisa saja," ucap Riland lagi seraya menatap kekasihnya itu dengan dalam.
"Tapi, orang tua Melisa sudah merestui hubungan kalian kan?" Kali ini ayah Riland yang bertanya. Dan apa yang ayah Riland ucapkan membuat Melisa teringat bagaimana saat-saat Riland datang menemui orang tuanya.
Hari itu Melisa pulang ke kampung halamannya. Kedatangan Melisa bersamaan dengan acara arisan yang diadakan di rumahnya. Hampir semua tantenya berkumpul di sana. Kegiatan itu memang rutin dilaksanakan satu bulan sekali dan pemenang sebelumnya akan menjadi tuan rumah.
Melisa dengan senang hati membantu sang ibu untuk menyiapkan semua. Kehadiran Melisa di sana membuat saudara-saudaranya terkejut. Mereka tahu jika gadis itu bekerja di kota besar dan jarang sekali pulang. Apalagi kini Melisa mulai dikenal banyak orang melalui jaringan sosial media karena konten 'The Hot Boss' yang dibuatnya.
Tapi nyatanya tak semua suka dengan keberhasilan yang Melisa raih. Ada saja yang melihat dari sisi negatifnya. Seperti yang dilakukan oleh salah satu tante Melisa. "Buat apa dipacarin kalau gak dihalalin. Lihat dong adik sepupumu (anaknya) sudah menikah dan mempunyai banyak anak padahal seusia denganmu," ucapnya bangga.
"Lagian siapa yang mau terus-terusan hidup sendiri. Hanya saja Tuhan belum menyatukan aku dengan jodohku. Dan aku percaya jika Tuhan akan memberinya di saat yang tepat," ucap Melisa dalam hati. Tiba-tiba saja ia menjadi melow karena ucapan tantenya itu.
Namun Melisa kembali tersenyum saat ingat jika kini dirinya tak lagi sendiri. Sudah ada Riland yang mengisi hatinya. Melisa tak menyangka jika lelaki yang selama ini dipujanya ternyata memiliki perasaan yang sama dengannya.
"Jangan dengerin, Mel," bisik sang ibu. "Jika saatnya tiba, jodohmu akan langsung datang," ucapnya lagi untuk membesarkan hati sang anak.
"Assalamualaikum...," Tiba-tiba saja seorang lelaki dengan tubuhnya yang tinggi tegap dan wajah rupawan datang berkunjung. Tepat setelah ibu Melisa mengucapkan kata-kata itu.
Dia adalah Riland yang datang tanpa memberitahu Melisa lebih dulu. Lelaki itu ingin memberikan kejutan pada kekasihnya.
Melisa yang terkejut hanya bisa terdiam membeku di tempatnya berdiri. Ia menatap tak percaya pada Riland yang kini berdiri tegap di ambang pintu. "Apa Mama bilang ?" Bisik sang ibu, membuat Melisa kembali ke alam sadarnya.
Kehadiran Riland menjadi pusat perhatian para tantenya itu. Apalagi Riland datang tidak dengan tangan kosong. Lelaki itu membawa banyak buah tangan untuk kedua orang tua Melisa. Dan kedatangannya ke sana adalah untuk mengatakan pada ayah dan ibu Melisa, bahwa dirinya sangat serius pada puteri mereka.
Padahal Melisa sengaja tak dulu mengajak Riland bertemu kedua orangtuanya, karena ia takut Riland berpikir jika dirinya mendesaknya untuk segera menikah. Meskipun Riland sendiri yang menawarkan diri.
"Sudah ku katakan bahwa aku ini serius denganmu. Aku akan berjuang untuk mendapatkan gadis yang benar-benar aku cinta," bisik Riland karena Melisa masih saja menatapnya dengan tak percaya.
Hari itu Riland berhasil mengatakan maksudnya pada orangtua Melisa. Ia jelaskan bagaimana dirinya jatuh cinta dan sangat menyayangi puteri mereka.
Bak gayung bersambut, orangtua Melisa juga senang dengan kedatangan lelaki itu. Mereka menghargai keberanian dan juga kejujuran Riland.
Riland juga mengatakan jika hubungannya dengan Melisa bertujuan kepada suatu pernikahan, bukan hanya main-main belaka.
Tapi walaupun Riland telah siap secara lahir dan batin, lelaki itu tak akan memaksa. Dirinya akan menunggu hingga Melisa siap menjadi miliknya secara resmi.
bersambung..