
Riland tolehkan kepala, dan menatap sayu pada perempuan yang kini berdiri tepat di belakangnya. Tanpa banyak bicara, ia tarik lengan Melisa dan mendorong tubuhnya hingga menempel ke dinding. "Aku kamarin juga nih, Mel," ucapnya parau seraya menutup pintu gudang itu dengan sempurna
Nafas keduanya saling memburu, tatap mata saling terkunci. Tubuh Melisa gemetar dan ia yakin Riland pun begitu. Lelaki itu tundukkan kepala mendekati wajah Melisa yang sudah merona. Tinggal beberapa sentimeter lagi bibir mereka bertemu, "Cut !!! Bagus yang ini feel-nya dapat," teriak Leah dari balik pintu dan itu membuat keduanya tersentak dan langsung sama-sama saling menjauhkan diri.
Leah membuka pintu gudang itu dengan tergesa karena ingin memperlihatkan hasil rekaman yang ia buat. Beruntung bagi Melisa dan Riland yang kini sudah berdiri berjauhan hingga Leah tak melihat apa yang baru saja akan terjadi.
Jika saja Leah tak berteriak, Melisa dan Riland yakin jika saat ini keduanya pasti tengah berciuman dengan bibir saling ******* satu sama lain. "Gila !!" Pikir keduanya dalam hati.
"Lihat-lihat !!! Ini bagus deh !" Leah masih merasa senang dan antusias dengan apa yang dilakukannya baru saja. Mau tak mau Melisa dan Riland mendekati Leah dan melihat hasil rekamannya sambil berpura-pura tak terjadi apa-apa.
Cukup lama mereka amati rekaman itu, Riland pun memberikan pendapatnya sebelum video itu dirilis melalui akun resmi The RH store di sosial media. "Tagarnya 'The Hot Boss' kan ?" Tanya Leah memastikan.
"hu'um, iya," jawab Melisa membenarkan. Ia masih memfokuskan diri pada rekaman video itu. Kepalanya berusaha melenyapkan pikiran tentang Riland yang hampir saja mencium bibirnya.
"Oke, done !!" Sahut Leah dengan senyum sumringah. Ia baru saja menekan tombol 'upload', mengunggah rekaman video di mana isinya adalah Melisa yang menggoda Riland dengan lagu-lagu seduktif nan seksi. Di akhir rekaman, Riland menarik lengan Melisa dan membawanya ke dalam gudang lalu menutup pintunya dengan sempurna. Apa uang yang mereka lakukan di dalam gudang tentu akan mengundang tanya bagi mereka yang melihat tayangan video ini.
"Sukses !!" Sahut Leah lagi terdengar bersemangat. Sedangkan si para pelaku peran terlihat kikuk serba salah.
"Semoga cara ini berhasil ya, ayo semangat !!!" Melisa mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat dan mengangkatnya ke udara. Ia menunjukkan rasa semangatnya untuk menutupi perasaan yang sebenarnya yaitu gugup dan tak menyangka dalam waktu yang bersamaan.
Riland melihatnya sambil tersenyum simpul. Dalam hatinya ia meyakinkan diri bahwa yang terjadi tadi hanya bagian dari iklan yang dibuatnya. "Oke, thanks semuanya. Aku naik dulu," pamitnya kemudian.
"Oke bye," sahut Leah tapi Melisa hanya diam saja
Dalam hati Melisa merasa sedikit kecewa karena apa yang terjadi tadi ternyata tak berarti bagi bossnya itu. "Gak mungkin dia naksir, kamu. Sadar, Mel sadar," batin Melisa dalam hatinya.
"Leah, aku nemenin kamu di bawah ya. Kerjaannya, mau aku bawa ke sini," Melisa sedang tak ingin berada dekat Riland saat ini.
"Oke," sahut Leah singkat.
Melisa pun berjalan pelan menaiki tiap undakan tangga yang akan membawanya ke lantai 2. Berdebar cemas sembari menarik nafas dalam. Berharap agar Riland tak ada di mejanya karena Melisa belum siap untuk bertemu lagi sejak insiden kecil tadi.
Nafas lega Melisa hembuskan saat apa yang diinginkannya terjadi, Riland tak ada di mejanya. Lelaki itu entah berada di mana. Cepat-cepat Melisa bereskan meja dan mengambil apa saja yang dibutuhkannya untuk bekerja di lantai bawah bersama Leah karena bekerja dengan Riland tak baik untuk ritme jantungnya.
Setelah semua yang diperlukannya sudah berada dalam dekapan, Melisa pun membalikkan tubuhnya untuk kembali menuruni tangga. Tapi belum juga ia melangkahkan kaki, Riland sudah berjalan ke arahnya. "Mau kemana ?" Tanya Riland.
"Mmmhhh... Aku mau ngerjain ini di bawah, tadi Leah meminta untuk ditemani sembari mengkroscek laporan," jawab Melisa. Tentu saja ia berbohong.
Entah Riland percaya atau tidak tapi lelaki itu tak memberikan tanggapannya. Ia hanya berdiam diri tanpa bersuara.
"Sekalian memantau hasil iklan tadi," lanjut Melisa menambahkan seolah-olah Leah memang memerlukannya di bawah sana.
"Oh oke," sahut Riland singkat dan ia pun berjalan melewati Melisa begitu saja. Ia hendak kembali ke balik mejanya.
Melisa baru saja akan menuruni tangga dan Riland juga belum duduk kembali di kursinya. "Soal tadi, jangan diambil hati. Itu hanya bagian dari iklan," ucapnya dengan jelas hingga Melisa langsung menghentikan langkahnya dan menolehkan kepala pada bossnya itu.
"Sure, tentu saja itu bagian dari iklan, aku akan melupakan yang terjadi tadi," sahut Melisa dengan memaksakan senyumnya. Ia yakin wajahnya pasti terlihat aneh saat ini.
Senyum canggung yang kini menular pada wajah tampan Riland. "Baguslah kalau kamu paham," Riland menimpali.
Merasa keadaan kian canggung membuat Melisa kembali ke tujuan awalnya yaitu pergi ke lantai bawah untuk menemui Melisa dan mencoba melupakan semuanya. "Aku turun ya," ucapnya.
"Oke," sahut Riland yang kini sudah kembali duduk di kursi kerjanya.
***
"Mel... Mel... Lihat ini !!" Ucap Leah sembari menyerahkan ponselnya pada Melisa yang sibuk dengan tabel-tabel pada layar laptopnya.
"Apaan sih, aku lagi kerja ini," sahut Melisa terdengar sedikit kesal.
Bukan kesal kepada Leah dan apa yang dilakukannya saat ini. Melisa kesal pada dirinya sendiri yang tak bisa melupakan kejadian dimana Riland Hampir menciumnya, dan ia juga kesal terhadap kata-kata Riland kemudian, yaitu melupakan apa yang telah terjadi.
"Sibuk banget sih, lihat dulu ini....banyak banget komentar dari video tadi !!" Masih Leah berucap dengan antusias.
Karena leah terus memaksa akhirnya Melisa pun melihatnya, padahal ia sungguh malas melakukannya karena itu akan mengingatkannya kembali pada kejadian itu.
"Baca deh Mel !! Mereka bertanya apa kalian berciuman di gudang tadi ?"
Melisa pun meraih ponsel yang disodorkan Leah dan membaca komentar-komentar pada video itu.
"Apakah mereka ciuman ?"
"Oh please... Bilang mereka ciuman karena aku berharap begitu!"
"Ayolah The Hot Boss, cium dia"
"Oh no... The Hot Boss is really hot !!"
"Tell me, they do it !!"
"The Hot Boss, aku juga ingin ciuman darimu,"
Satu-satu Melisa baca tapi ia tak bisa baca semuanya karena komentar terus datang membanjiri di tayangan video itu.
"See ? Lihat kan ? Orang-orang begitu antusias !! Bahkan mereka ada yang menanyakan alamat toko ini untuk bertemu kalian berdua!" Leah semakin antusias saja.
Melisa pun melengkungkan senyumnya, menunjukkan rasa bahagia seperti halnya Leah. Tapi dalam hatinya yang paling dalam ia tengah merasakan patah hati.
To be continued