The Hot Boss

The Hot Boss
Dingin



Riland dan Melisa sama-sama tolehkan ke arah pintu. Menebak-nebak siapa yang datang. Bel pintu berbunyi lagi, dan keduanya belum juga membukanya. Hingga bel yang ketiga kalinya berbunyi, Melisa pun berinisiatif untuk membukanya.


"Biar aku saja," ucap Riland. Tangan kekar itu menahan lengan Melisa untuk tidak pergi.


Tanpa melihat pada wajah Melisa, Riland melangkahkan kakinya menuju pintu meninggalkan sang gadis yang mengusapi lengannya pelan karena lelaki yang dicintainya tela menyentuhnya di sana. Sentuhan kecil yang memberikan efek sangat luar biasa pada Melisa.


Terdengar beberapa kunci yang dibuka menandakan Riland sedang membukakan pintu toko itu untuk seseorang. Bayangan wajah Mona terlintas di kepala Melisa, membuat gadis itu tersenyum samar penuh kesedihan.


Pintu itu telah terbuka, pastinya Riland sedang berbicara dengan tamunya itu. Merasa penasaran, Melisa pun langkahkan kakinya dengan pelan. Mengendap-endap untuk melihat siapa orang yang tengah berbicara dengan Riland.


"Dia gak ada," ucap Riland pada lawan bicaranya.


"Dia?" Tanya Melisa dalam hati. Tak mungkin jika yang datang itu adalah kekasih temannya Leah. Karena lelaki itu sudah menjemput Leah sedari tadi.


Susah payah Melisa mengintip dengan kepalanya, sedangkan sebagian tubuhnya Melisa sembunyikan di balik boneka manekin. Tubuh Riland yang tinggi tegap membuat ia menghalangi siapa lawan bicaranya.


"Dia nggak a....,"


'Brakkk !!!' belum juga Riland menyelesaikan kalimatnya, di belakang sana sebuah boneka manekin terjatuh hingga kini tubuh Melisa terlihat dengan jelas karena tak ada lagi yang menghalanginya. Dan membuat dua lelaki itu melihat padanya.


"Itu Melisa ada !" Ucap Raya sembari melihat pada Melisa yang tengah mengintip itu.


Riland pun melihat pada Melisa dengan wajah merah padam. Tentunya ia merasa malu pada Raya karena telah berbohong padanya.


Entah mengapa Riland lakukan itu, ia pun tak mengerti. Ia hanya menjawab dengan spontan apa yang ada di kepalanya. Riland tak mau Raya bertemu dengan Melisa, anak buahnya.


"Kata boss mu, kamu gak ada," ucap Raya sambil tersenyum. Menatap penuh rindu pada gadis yang telah resmi menjadi kekasihnya beberapa jam lalu itu.


Mendengar apa yang Raya katakan membuat Riland salah tingkah. Wajah dan gerak tubuhnya terlihat gelisah. Dan Melisa sangat tahu alasannya.


Mata Riland dan Melisa bertemu untuk sesaat. Rasa cemas dan bersalah karena telah berbohong masih nampak jelas di wajah tampan Riland.


"Ta-tadi aku lagi cek stok barang di gudang. Pasti pak Riland nyangkanya aku gak ada," jawab Melisa bohong. Ia beradu pandang dengan Riland saat mengatakan itu.


Anehnya Melisa lakukan itu bukan karena takut Raya curiga, tapi ia ingin melindungi Riland dari rasa malunya.


"Ah ya, aku gak tau kamu dimana," timpal Riland membenarkan. Keduanya seperti partner in crime' dalam menghadapi Raya.


"Oohhh gitu," Sahut raya dengan senyumnya yang penuh arti. Dan tentunya ia tak sebodoh itu.


Akting Riland dan Melisa di depan kamera sebagai pasangan kekasih memang terlihat natural tapi kali ini keduanya berperan dengan sangat buruknya hingga Raya sadar jika keduanya tengah tengah berbohong.


"Aku datang bawain kamu makan malam dan mau nemenin kamu lembur," lanjut Raya sembari menyerahkan sebuah kantung kertas yang berisikan banyak makanan.


"Thanks," Sahut Melisa sembari meraihnya. Lagi-lagi ia melihat pada Riland dan merasa tak enak hati karena Riland pun telah membelikannya makan malam. Tapi, menolak pemberian Raya pun rasanya tak tega.


"Aku belinya cuma dua porsi saja. Buat aku sama kamu,"ucap Raya "


"Maaf saya tak tahu jika pak Riland juga ikut lembur," lanjut Raya. Terdengar nada sindiran dalam kalimat yang diucapkannya. Sepertinya Raya mulai mengibarkan bendera perang pada bos kekasihnya itu.


"Its Ok," sahut Riland dingin. Rahangnya mengeras dengan alisnya yang menegas. Memperlihatkan rasa tak sukanya dengan begitu kentara. Ia tak mau Raya hadir diantara dirinya dan Melisa.


"Makasih ya, tapi... Aku...," Ucap Melisa ragu-ragu.


"Aku gak akan ganggu. Aku cuma mau makan malam bareng terus nunggu kamu kerja. Aku akan main game di ponselku dan tak akan mencampuri urusanmu," potong Raya cepat.


Melisa melihat pada Riland entah untuk yang ke berapa kalinya. Melisa terlihat cemas di mata Riland. Hingga membuat lelaki itu berpikiran jika gadis itu sedang meminta izin agar kekasihnya bisa tinggal.


"Terserah kalian lah !!" Ucap Riland terdengar dingin dan ketus. Lalu ia melangkahkan kakinya menuju bagian dalam toko tanpa melihat pada Melisa dan Raya lagi.


Riland langkahkan kakinya langsung menuju lantai 2. Bahkan ia tak lagi peduli pada makan malamnya. Dan sesampainya di sana, segera Riland matikan alat pemutar lagunya.


Melisa dan Raya berjalan di belakang Riland. Mata Raya menangkap 2 porsi santapan untuk makan malam di atas meja. Ia yakin itu adalah milik Riland dan juga kekasihnya, Melisa. Dengan begitu terbuktilah rasa tak percayanya pada Riland.


Tadi lekaki itu mengatakan jika Melisa tak ada namun nyatanya mereka akan makan malam bersama.


Lagi-lagi Raya kesampingkan itu semua, ia tekan rasa cemburunya dalam-dalam hanya untuk bisa bersama Melisa.


"Di atas sini," ajak Melisa. "Kamu duluan aja, aku siapin makan malam bosku dulu," lanjut Melisa. Ia biarkan Raya menaiki tangga sedangkan ia berjalan menuju dapur kecil yang terlihat dari arah Raya.


Tapi Raya tak menuruti perintah kekasihnya itu. Ia tetap berdiri di titian tangga. Menunggu Melisa agar bisa naik ke lantai 2 bersama-sama.


Setibanya di lantai dua, suasana terasa begitu hening karena Riland telah mematikan lagu-lagu cinta yang mendayu sendu itu.


Riland duduk di kursi kebesarannya, dengan matanya yang fokus pada layar laptopnya. Mimik wajahnya seperti tadi. Dingin dan ketus. Bahkan ia tak mengatakan apapun saat Melisa menyimpan makan malam miliknya di atas meja kerja Riland.


Atmosfer di ruangan itu terasa sangat canggung dan dingin. Riland melihat sinis pada Raya yang saat ini diberikan sebuah kursi oleh Melisa agar ia bisa duduk tepat di sebelahnya.


Merasa diperhatikan, Raya pun tolehkan kepalanya. Ia balas tatapan Riland sama dinginnya.


To be continued