
"Leah ?" Tanya Riland lagi karena Leah hanya terdiam membeku di tempat duduknya.
"Eh.. oh.. ya, Bos !" Sahut Leah salah tingkah. Dengan sedikit panik ia mencari kertas file di lacinya. gadis itu membuka laci mejanya satu persatu. Mencari sebuah file dengan panik dan terburu-buru. Melisa tundukkan kepalanya, kembali fokus pada apa yang ia kerjakan. Sedangkan Riland berdiri tegak sambil berpangku tangan. Menunggu sesuatu yang ia inginkan.
Leah masih mencari sambil menggerutu pelan. "Ya ampun di mana sih ? Mati aku..," desahnya frustasi.
Riland amati permukaan meja, ia perhatikan ada sebuah file yang tertutupi beberapa kertas. Ia condongkan tubuhnya yang tinggi tegap itu untuk menggapainya.
Melisa terperanjat, hampir saja ia loncat dari tempat duduknya karena tubuh Riland yang tiba-tiba mendekat.
"Ini?" Tanya Riland pada Leah yang masih sibuk mencari di dalam laci-lacinya. Gadis itu menengadahkan kepalanya, melihat pada berkas yang Riland pegang.
" I- iya itu !" Pekik Leah girang.
"Oh ok," sahut Riland singkat. Lalu ia pergi kembali ke mejanya di lantai dua. Tanpa memyapa atau mengajak Melisa seperti biasanya.
"Gila !" Desah Leah sambil mengipas- ngipas wajahnya dengan tangan.
"Dia denger gak ya ?" Tanya Melisa takut-takut. Ia bertanya dengan cara berbisik, padahal Riland sudah tak ada di sana. Rasa terkejutnya belum juga hilang.
"Entahlah, Mel.... Kalau gaji kita dipotong, berarti dia dengar apa yang kita bicarakan," jawab Leah sambil nyengir kuda.
Sedangkan Melisa tersenyum meringis menanggapinya. Ia pun berharap Riland tak mendengarnya. karena akan sangat memalukan jika Riland tahu banwa dirinya sangat terbawa perasaan atas pernyataan cinta lelaki itu padanya.
***
Riland sandarkan tubuhnya di kursi. Ia angkat kedua kakinya dan menyilangkannya di atas meja. Membuka file yang dibawanya tadi, lalu menelaah isinya satu persatu. Di sana terdapat konsep untuk iklan yang baru.
Karena menyambut bulan cinta, konsep kali ini adalah tentang jatuh cinta. Diceritakan bagaimana seorang gadis yang jatuh hati pada pandangan pertama. Setelah itu si gadis mencari perhatian dengan cara-cara yang menggemaskan hingga si pria pun tertarik padanya. Pada akhirnya mereka 'jadian' di bulan penuh cinta ini.
Riland manggut-manggut paham. Konsep kali ini berbeda dari sebelum-sebelumnya, dimana hanya bercerita pada Melisa yang menyukai bosnya yang hot dengan menggodanya. Di akhir cerita tak ada adegan 'jadian' sekalipun.
Riland terus membaca dan mempelajari semuanya hingga selesai. Ia berkerut alis saat membaca pemeran dari iklan itu bukan dia dan Melisa. Cepat-cepat ia menghubungi Leah yang berada di lantai bawah melalui ponselnya
"Cepat kemari !" Titah Riland singkat tanpa basa-basi sama sekali. Ia langsung mengakhiri panggilan itu tanpa memberikan Leah kesempatan untuk berbicara. Takut dirinya salah mengartikan, Riland pun membaca ulang berkas itu sekali lagi.
Di lantai bawah, Leah menutup panggilan itu dengan mata yang saling bertukar pandang dengan Melisa. Keduanya sudah membayangkan hal buruk yang akan terjadi. Yaitu Riland mendengarkan apa yang mereka bicarakan tadi.
Leah menyunggingkan senyum tipis, "semoga saja Riland memanggilku untuk bertanya tentang konten itu," ucap Leah harap-harap cemas dengan apa yang akan dihadapinya sebentar lagi.
Melisa anggukan kepala, "semoga ya... Jika hal buruk terjadi padamu, aku tak akan segan untuk membela," sahut Melisa dengan berapi-api. Ia kesampingkan dulu rasa cemas dan takut yang sebenarnya sedang dirasakannya.
"Ya udah, aku naik dulu. Titip kasir ya," kata Leah sambil berdiri dan berjalan gontai menaiki tangga yang akan membawanya ke lantai dua.
"Good luck," sahut Melisa sembari mengacungkan kedua jempolnya.
Setibanya di lantai dua, Leah tak langsung mendatangi meja Riland. Ia berdiri dengan perasaan ragu di ujung tangga. Rasa takut kehilangan pekerjaan atau mendapatkan skorsing kembali menghantuinya.
Sadar akan kehadiran Leah, Riland pun geserkan kertas yang menutupi wajahnya. Ia melihat heran pada gadis yang terdiam membeku di tempatnya berdiri. "Kamu ngapain di situ ? Cepat kemari," titah Riland.
"Eh," Leah tersentak dari pikirannya sendiri. Meskipun takut, Leah memberanikan diri untuk berjalan mendekati bosnya itu.
"Duduk !" Titah Riland singkat.
Leah pun mendudukkan tubuhnya di atas kursi kosong yang letaknya tepat di hadapan Riland.
"Kenapa kita harus menyewa jasa orang lain untuk membintangi iklan kita yang baru ?" Tanya Riland langsung pada intinya. Ia pun menurunkan kedua kakinya yang tersilang di atas meja.
"Mmm ini konsepnya cerita tentang jatuh cinta gitu. Jadi kurasa akan sangat cocok jika pemerannya adalah dari kalangan remaja," jelas Leah.
"Jatuh cinta ? Apa menurutmu jatuh cinta itu hanya boleh dialami oleh anak-anak remaja saja ? Apa orang dewasa tak berhak untuk merasakannya ?" Tanya Riland lagi.
Leah menjadi serba salah dan salah tingkah karena Riland bertanya dengan mimik wajahnya yang serius. "Ten- tentu saja boleh," jawab Leah.
"Apa saya harus mengubah konsepnya lagi ?" Tanya Leah.
"Gak usah ! Biar saya yang kerjakan," jawab Riland. "Kamu boleh turun lagi dan lanjutkan pekerjaan kamu," lanjut Riland seraya kembali fokus pada kertas-kertas yang dibacanya tadi.
Riland berpikir, jika dirinya dan Melisa lah yang harus menjadi pemeran di sana. Jika dirinya kesulitan untuk mendekati dan meyakinkan Melisa tentang perasaannya di dunia nyata, maka Riland akan mengambil kesempatan ini untuk membuktikannya.
Ya.. lelaki itu tahu jika Melisa ragu akan pernyataan cintanya, karena ia mendengarkan apa yang kedua gadis itu bicarakan tentangnya.
To be continued ♥️