The Hot Boss

The Hot Boss
Selanjutnya



"Hufffftttt," Melisa menarik nafas dalam sembari menatap telapak tangannya. Ia masih tak percaya jika jemari tangannya tadi malam bertautan dengan milik Riland.


Lelaki itu menggenggam erat tangannya saat mereka akan makan malam. Memang tak lama, hanya beberapa saat saja Riland menggenggam tangannya. Tapi, efeknya masih terasa hingga sekarang bagi Melisa.


Telapak tangan ngan Riland besar dan kuat. Melisa ingat, sepanjang itu terjadi, dirinya tundukkan kepala dan menatap genggaman tangan mereka. Ia lakukan itu untuk meyakinkan diri bahwa itu benar-benar terjadi. Riland tak tahu jika getaran dari jemari yang saling bertautan itu sampai ke hati Melisa dan tak mau pergi hingga sekarang.


Saat ini Melisa sudah berdiri di depan pintu toko dengan tas gendong yang berisikan laptop dan kantung kertas yang memuat banyak berkas. Ia datang pagi-pagi sekali karena ingin menyerahkan laporan yang Riland minta.


Dan tak hanya itu saja, Melisa datang pagi-pagi sekali karena sudah tak sabaran untuk bertemu Riland lagi. Semalam, efeknya terlalu luar biasa hingga Melisa selalu memikirkannya.


"Woooaaahh Mel, rajin banget !" Ucap Leah. saat ia mendapati Melisa sudah berdiri di depan pintu menunggu Leah datang.


"Hu'um, aku bawa laporan yang Riland minta," sahut Melisa beralasan.


"Pak Riland ! Jangan salah sebut, dia lagi sensi," ucap Leah mengingatkan. Ia terkekeh geli saat mengatakannya dan Melisa hanya tersenyum saja saat menanggapinya.


"Moga hari ini, si nenek lampir gak datang ya," lanjut Leah. Sebutan nenek Lampir itu Leah tujukan pada Mona. Gadis itu secara terang-terangan mengakui tak menyukai tunangan bos mereka. Menurut Leah, Mona sangat sombong karena merendahkan pekerjaan mereka yang hanya sebagai karyawan toko pakaian.


"Hush gak boleh gitu ! Tar Riland denger loh,"


"Kayanya Riland gak ada deh, mobilnya juga gak ada. Mungkin dia gak tidur di sini tadi malam," sahut Leah


Melisa melihat tempat parkir yang kosong, padahal biasanya mobil Riland terparkir di sana. Terlalu sibuk memikirkan tentang semalam, membuat Melisa tak sadar jika mobil Riland tak ada di tempatnya.


Hati Melisa terasa kecut seketika. Harapannya untuk segera bertemu Riland, pupus sudah. Padahal semalaman ia selalu memikirkan laki-laki itu. Bahkan ia tak berhenti bercerita tentang Riland pada Agni si teman sekamarnya. Walaupun Melisa bekerja membuat laporan, tapi mulutnya tak berhenti membicarakan bosnya yang hot itu.


Padahal hari kemarin ia baru saja 'jadian' sama Raya, tapi Melisa lebih antusias membicarakan tentang Riland.


"Ayo masuk Mel ! Kamu udah sarapan ?" Leah membuka pintu toko pakaian itu lebar-lebar dan mempersilahkan Melisa untuk masuk.


"Mmhhh belum sih, tadi aku buru-buru pergi karena takut Riland pengen laporan pagi ini. Eh ga taunya, orangnya malah pergi," jawab Melisa.


"Lontong sayur di tempat biasa mau ? Kalau mau aku pesankan sekalian," tawar Leah.


Membayangkan lontong sayur yang hangat dan pedas membuat Melisa hampir saja meneteskan air liurnya. "Boleh-boleh, aku mau !" Jawab Melisa.


"Oke, aku pesankan 2 aja ya. Riland kayanya pulang ke apartemennya. Jadi gak usah aku pesenin aja ya ? Kan gak tahu dia mau datang jam berapa," Leah berbicara sendiri sambil berpikir tentang bosnya itu. Setiap pagi memang Leah lah yang selalu diminta untuk membelikan sarapan untuk Riland.


" Kayanya sih begitu," sahut Melisa membenarkan.


"Eh, aku naik ke atas ya. Takut bos kita marah-marah lagi kaya kemarin. Tar, kalau makannya datang aku turun," ucap Melisa sembari berjalan menuju ke dalam ruangan yang merupakan gudang penyimpanan stok barang dan di sana terdapat sebuah tangga yang akan membawanya ke lantai dua. Tempatnya bekerja bersama Riland.


"Oke, nanti aku kasih tahu," sahut Leah menyetujui.


***


Melisa langsung melihat ke arah meja Riland saat ia tiba di lantai dua. Meja Riland masih terlihat seperti semalam saat lelaki itu meninggalkannya. Melisa pun edarkan pandangannya dan mendapati tak ada yang berubah sedikitpun di tempat lainnya. Dengan begitu, Melisa yakin jika Riland tak pulang ke tokonya setelah mereka menikmati makan malam.


Genggaman tangan Riland tadi malam membuat rasa rindu Melisa semakin menjadi-jadi. Mungkin bagi Riland itu tak berarti apa-apa, tapi bagi Melisa genggaman tangan itu adalah segalanya. Sampai-sampai ia melupakan Raya sang kekasih.


Melisa baru saja mendudukkan bokongnya di atas kursi tapi teriakan Leah memanggil namanya membuat Melisa kembali berdiri.


"Meell, sini deh !" Teriak Leah lagi dari arah tangga.


"Cepet banget," gumam Melisa yang mengira pesanan lontong sayurnya telah datang. Ia pun segera bergegas pergi menuruni tangga untuk menghampiri Leah.


"Mana lontong sayurnya ?" Tanya Melisa tanpa basa-basi.


"Siapa yang ngomongin lontong sayur ? Lihat ini !!!" Panik Leah seraya memperlihatkan layar laptopnya.


Melisa tercengang, ia membulatkan mata dengan kedua bibirnya yang terbuka. Ia menatap tak percaya pada foto dirinya yang sedang bergandengan tangan dengan Riland tersebar di sosial media.


"Gila !! Komentarnya sampai seratus lebih segala !!!" Ucap Leah dengan antusiasnya sedangkan Melisa hanya terdiam terpaku melihatnya.


"Eh.. btw... Kalian kencan semalam ? Bukannya Riland udah punya tunangan dan kamu baru jadian sama Raya ?" Tanya Leah penasaran. ia menatap Melisa penuh tanda tanya.


Tubuh Melisa tersentak saat ia mendapatkan pertanyaan seperti itu. "Ng.. nggak begitu," jawabnya tergagap.


"Oh ya lalu ini apa ?" Tanya Leah sembari memperbesar gambar genggaman tangan dirinya dengan Riland.


"Ngh... I... Itu...,"


Belum juga Melisa menjawab pertanyaan Leah, pintu toko itu terbuka dan masuklah Riland ke dalamnya. Mata Riland langsung tertuju pada Melisa hingga pandangan mata mereka bertemu dan terkunci untuk beberapa saat.


Melisa akhiri pandangan mata itu lebih dulu dengan cara memalingkan wajahnya ke arah lain. Kehadiran Riland membuat dada Melisa berdebar lebih kencang dari sebelumnya.


Lelaki itu berjalan masuk, Leah segera mengganti tampilan layar laptopnya dengan lembar pekerjaan. Jika saja Riland tak berubah galak tentunya Leah akan menginterogasi lelaki itu juga. Tapi semenjak kedatangan Mona, sikap Riland menjadi tak bersahabat.


"Pagi," ucap Leah sembari tersenyum canggung pada bos-nya itu. Begitu juga Melisa yang memberikan senyuman yang sama.


"Pagi," sahut Riland singkat. Lalu ia melihat lagi pada Melisa Membuat tubuh gadis itu meremang.


"La- laporannya telah selesai," ucap Melisa.


"Bagus ! Ayo ke atas !" Ajak Riland.


Melisa menarik nafas dalam, dirinya merasa cemas karena takut tak bisa menahan diri berdekatan dengan lelaki itu. Parfum maskulin yang menguar dari tubuh Riland mulai mempengaruhi dirinya. Penampilan Riland yang segar juga membuat bos-nya itu terlihat semakin hot saja.


"Gak tidur di sini ya ?" Tanya Leah menghentikan langkah Riland. Leah berani bertanya seperti itu karena mereka telah saling mengenal dalam waktu yang cukup lama.


"Hu'um," jawab Riland membenarkan.


"Oooh," sahut Leah dengan bibirnya yang membentuk bulatan.


"Dapat panggilan pulang ke rumah," jawab Riland lagi.


"Pulang ke rumah ?" Tanya Leah. Melisa hanya memasang telinganya untuk mengetahui di mana Riland semalam.


"Iya, pulang buat diinterogasi," jawab Riland sambil terkekeh geli.


Apa yang Riland katakan membuat Leah dan Melisa saling beradu pandang . Keduanya yakin jika Riland pulang ke rumahnya untuk diintrogasi soal photo mesra dirinya dengan Melisa yang sedang bergandengan tangan tadi malam.


to be continued


thanks for reading ♥️