
" I don't wanna f*ck... I want love and peace too," ( aku tak ingin hanya sekedar bercinta tapi aku ingin cinta dan kedamaian juga ) lirih Riland sembari membayangkan wajah seorang gadis dalam benaknya.
Melisa baru saja tiba di tempatnya bekerja. Sebelum masuk, susah payah ia keringkan air mata yang lancang membasahi pipinya. "Bego banget sih, Mel. Pacar juga bukan tapi lo tangisin," desahnya sambil tertawa. Mentertawakan dirinya sendiri.
Melisa menarik nafas dalam sebelum ia mendorong pintu kaca dengan bahunya karena kedua tangannya yang memegang 2 es kopi.
"Raya nelepon mulu, akhirnya aku angkat dan bilang kamu lagi beli kopi di seberang jalan," ucap Leah pada Melisa padahal gadis itu belum juga sampai di mejanya.
Melisa jadi teringat pada pernyataan cinta lelaki yang dulu satu sekolah dengannya itu. Lelaki yang menjadi idola pada masanya.
"Its oke, makasih ya," sahut Melisa seraya memberikan es kopi pesanan temannya.
"Eh, aku naik yaa. Lagi banyak kerjaan," pamit Melisa. Saat ini ia ingin sendirian dan menikmati rasa patah hatinya.
"Okay," sahut Leah sembari menyedot minuman pesanannya.
Dengan langkah gontai Melisa menaiki tangga. Hatinya terasa hampa, dan bingung dengan perasaannya sendiri. Ia menginginkan Riland yang tak menginginkan dirinya. Di sisi lain Raya terang-terangan mengatakan cinta padanya tapi Melisa tak merasakan apapun pada lelaki itu.
"Kamu telah mengambil semua perasaan cintaku," lirih Melisa sembari membayangkan wajah Riland yang tengah berciuman tadi.
"F*ck," maki Melisa seraya memukul tembok dengan kepalan tangannya untuk menyalurkan kemarahannya hingga memerah dan ia pun mengaduh kesakitan.
"Aawwww," teriaknya tertahan.
"Mel, kamu gak pa-pa ?" Leah menyembulkan kepalanya melihat pada Melisa yang masih berada di tangga.
"Aku gak apa-apa, tadi cuma kepeleset doang," sahut Melisa tertawa dan ia sembunyikan kepalan tangannya yang merah di balik tubuhnya.
"Hati-hati, Mel," sahut Leah seraya kembali ke ruangannya untuk menjaga meja kasir.
Melisa dudukkan tubuhnya di kursi sambil kibas-kibaskan tangannya yang masih terasa sakit. Lalu ia mengambil beberapa map yang berisikan berkas-berkas dan menyalakan laptop yang terletak di atas meja.
"Bu...lan... Sep..tem..ber..," Melisa mengkroscek ulang data yang tertulis dengan data yang ada dalam file penyimpanannya. Bayangan Riland yang berciuman dengan tunangannya tadi id coffee melintas di dalam pikiran gadis itu.
"Sial !" Umpat Melisa yang kehilangan fokusnya.
Bunyi notifikasi pesan yang dikirimkan Raya juga semakin membuat konsentrasi Melisa kian terganggu.
"Mel, aku please bales pesan aku. Rasanya hampir gila karena menunggu balasanmu," tulis Raya di pesan terakhirnya.
Sungguh Melisa tak tahu harus menjawab apa. Baru kali ini ia mengalami patah hati kemudian di tembak di hari yang sama.
Yang jelas dirinya tak mempunyai perasaan apapun terhadap lelaki itu. Semua rasa cintanya sudah terpaut sempurna pada Rilland.
" Riland.... Kamu sedang apa sekarang ?" Tanya Melisa seraya menelungkupkan kepalanya di atas meja. Menatapi rintik hujan yang baru turun dari kaca jendela.
Mendungnya langit tak lebih mendung dari hatinya. Melisa pun menarik nafas dalam membayangkan beberapa hal yang pernah terjadi antara dirinya dan Riland saat mereka melakukan pengambilan gambar untuk iklan.
Melisa ingat bagaimana Riland seperti akan menciumnya saat mereka memasuki gudang. Dan sumpah demi apapun jika ada adegan untuk bergandengan tangan, maka getarannya sampai ke dalam hati dan enggan untuk pergi.
"Riland...," Gumamnya pelan.
"Kamu manggil aku ?" Tanya Riland yang ternyata sudah berdiri di hadapannya. Lelaki itu tak langsung duduk di kursi kerjanya saat ia datang. Riland lebih memilih untuk menghampiri Melisa yang tengah menelungkupkan kepalanya di atas meja.
Cepat-cepat Melisa mengangkat wajahnya dan menatap tak percaya pada apa yang dilihatnya saat ini. Laki-laki yang terus menghantuinya kini berada dekat dengannya.
Tiba-tiba lidah Melisa terasa kelu. Kata-kata yang ingin ia ucapkan tercekat di tenggorokan. "A-aku.. i-itu," ucap Melisa terbata-bata. Entah alasan apa yang harus dikatakannya karena telah lancang memanggil nama bosnya itu.
Mona memberikan sebuah kartu ATM milik Riland yang tadi tertinggal di coffee shop karena laki-laki itu terburu-buru pergi. Letak coffee shop yang tak jauh membuat Mona bisa dengan mudah menyusul Rilland.
Riland menatap malas pada wanita itu dan segera mengambil kartu ATM miliknya.
"Jadi kalian hanya berdua di ruangan ini ?" Tanya Mona sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dengan perasaan tak suka.
"I-iya, tapi saya lebih sering bekerja dengan Leah di bawah," Melisa lah yang menjawab pertanyaan Mona.
Mendengar jawaban dari gadis itu membuat Mona langsung menatapnya tajam. "Syukurlah... Kamu memang harus sadar diri karena Riland telah memiliki tunangan yaitu aku,"
"Mona !" Hardik Riland tak suka.
"Lo apa-apaan sih ?" Lanjut Riland dengan suara meninggi.
"Loh emangnya kenapa ? Aku ngomong yang sebenarnya !!" Jawab Mona tak kalah sengitnya.
"Jangan sampai kalian berdua terbawa perasaan hanya karena konten konyol tentang "the hot boss" itu," ucap Mona berapi-api seraya menatap tajam pada Melisa.
Melisa sungguh merasa tersinggung, konten konyol yang dikeluhkan oleh Mona itu nyatanya bisa mendongkrak kepopuleran toko pakaian milik Rilland dan meningkatkan angka penjualan berkali-kali lipat dari sebelumnya.
"Asal kamu tahu, konten konyol itu sudah banyak menghasilkan uang untuk tunangan kamu!" Jawab Melisa tak se-sopan sebelumnya.
"Asal kamu tahu, itu bukan sekedar konten konyol tapi salah satu bentuk dari kerja keras !!" Ucap Riland menambahkan.
"Whatever," ucap Mona sembari memutar bola matanya malas.
"Mona !!"
"Terserah... Tapi satu hal yang harus kanu tahu Melisa..., Riland itu milikku. 'the hot boss' is mine," ucap Mona dengan penuh penekanan dan ia pun menggebrak meja Melisa dengan kedua tangannya hingga Melisa melonjakkan tubuhnya karena terkejut.
Melisa menelan salivanya sendiri dengan susah payah ketika ia mendengar itu, sedangkan Riland langsung menarik kasar lengan Mona agar ia menjauh dari meja Melisa. "Wanita ini benar-benar gila," lirih Riland hampir tak terdengar.
"Dan mulai sekarang aku gak mau ngelihat kalian kerja di ruangan yang sama atau membuat konten lagi. Riland itu milikku," teriak Mona
"Astaga Mona !! Kamu bisa diam gak sih ?" Bentak Riland dengan suara meninggi.
"Aku gak mau ya Riland lihat dia sama kamu !! Aku tahu dia kebawa perasaan sama kamu !!" Teriak Mona histeris.
Suara keributan yang terjadi di ruangan itu membuat Leah pun datang menghampiri. "Ada apa, Mel ?" Tanya Leah.
"Gak ada apa-apa, kamu bisa turun ke bawah lagi," Riland yang menjawab pertanyaan Leah.
" Teman kamu itu !! Melisa dia berani main perasaan dengan tunangan aku !" Mona kembali meracau tak karuan.
Merasa dipojokkan dan terus ditekan membuat Melisa berpikiran pendek. "Jangan khawatir aku akan menggoda Riland," ucap Melisa pelan.
"Karena a-aku udah punya pacar," jawabnya.
Sontak Riland melepaskan cekalan tangannya di lengan Mona karena terkejut luar biasa. Lelaki itu langsung menatap Melisa dengan tak suka.
"A-aku berpacaran dengan Raya,"
to be continue