
"ehem !" Leah berdehem dengan suara keras. Ia sengaja lakukan itu agar Riland dan Melisa tak melakukan sesuatu yang tak ingin dilihatnya. Karena pasangan itu tengah berdiri saling berhadapan dengan Riland yang memainkan rambut panjang kekasihnya itu dengan mesra. Pandangan matanya begitu sayu, dan senyuman tak juga surut dari bibirnya.
"Aku tahu sih kalian baru jadian, tapi bukan berarti dunia milik kalian berdua saja," ucap Leah, membuat Riland juga Melisa tolehkan kepala mereka secara bersamaan pada gadis itu.
"Kita udah lapar banget, tahu !!" Protes Leah mewakili yang lainnya.
"Astaga aku lupa !" sahut Riland seraya menepuk dahinya dengan telapak tangan. Terlalu asik berbicara dengan Melisa membuat lelaki jangkung itu lupa jika seharusnya mereka makan siang bersama. "Yang lain mana ?" Tanya Riland. Raut wajah yang tadinya sumringah kini berubah cemas. Ia merasa tak enak pada orang-orang yang telah disewanya untuk berpura-pura membuat iklan. Karena bantuan mereka lah, Riland bisa menyatakan cintanya pada Melisa.
"Mereka nunggu di bawah tangga," jawab Leah.
Melisa yang mendengar itu membolakan matanya karena terkejut juga merasa tak enak karena telah membuat banyak orang menunggu.
"Serius ! Tadi katanya salah satu dari mereka udah naik ke sini, tapi turun lagi karena melihat kalian tengah asyik berbicara berdua," jawab Leah lagi.
"Sorry, sorry. Ayo kita makan ! Yank panggil mereka, gih," titah Riland pada kekasihnya itu.
"Yank ?" Melisa mengul*m senyumnya malu-malu. Kata mesra yang dulunya hanya sebuah khayalan, kini bisa ia dengar dengan jelasnya.
"Yank, gak tuh ?" bisik Leah seraya menyikut Melisa penuh goda. Membuat kedua pipi Melisa menjadi merah karenanya. Sedangkan si pembuat hati Melisa deg-degan malah asik membenahi meja. Ia tak sadar jika kata-kata sederhana yang baru saja diucapkannya, telah memberikan efek yang luar biasa pada seorang gadis.
Masih dengan perasaannya yang melambung tinggi, Melisa menuruti apa yang Riland katakan. Ia menuruni tangga dan mengajak yang lainnya untuk makan siang bersama.
Suasana makan siang itu begitu hangat dan ramai. Euforia bahagia menyelimuti semua yang ada di sana. Terutama Melisa yang masih saja merasa tak percaya jika lelaki yang selama ini dikaguminya, kini telah resmi menjadi kekasihnya.
***
"Kapan pulang ke rumah ?" tanya Riland saat ia mengantarkan Melisa ke tempat kosnya.
"Mungkin Minggu depan, tapi nggak tahu juga. Memangnya kenapa ?" Melisa balik bertanya.
"Mmmhhh... Bolehkah aku mengantarmu?" Tanya Riland dengan sedikit rasa ragu.
Ragu karena Riland takut Melisa berpikir jika dirinya terlalu agresif. Bukan karena ia ragu dengan perasaannya pada gadis itu.
"I- ikut pulang bersamaku ? Ma- mau ketemu ayah dan i- ibuku ?" Saking terkejutnya Melisa, ia malah balik bertanya pada kekasihnya itu.
"Iya," jawab Riland. Kali ini ia mengatakannya dengan penuh keyakinan. "Aku mengerti jika kamu berpikir bahwa apa yang aku lakukan, yaitu ingin berkenalan dengan kedua orangtuamu adalah terlalu cepat. Karena hubungan kita yang baru saja diresmikan. Tapi.. aku.. aku ingin mengenal orangtua dari kekasihku dan mengatakan pada mereka jika aku serius dengan anaknya," lanjut Riland seraya membelai lembut pipi Melisa dengan jemarinya. Matanya yang sayu menatap lembut pada Melisa. Mengisyaratkan bahwa ia sungguh- sungguh dengan ucapannya.
Mata Melisa membola saat ia mendengar hal itu. "What ?" gumamnya tak percaya. Dan ia pun balas tatapan Riland sama dalamnya. Mencari kemungkinan lelaki itu bohong, tapi sayangnya Melisa tak pernah melihat Riland se- serius ini.
"Seperti yang kamu dengar, Sayang. Aku ingin berkenalan dengan kedua orangtuamu dan mengatakan pada mereka bahwa anak gadisnya telah membuat aku jatuh cinta dengan hebatnya. Dan meminta restu mereka untuk hubungan ini,"
"Ka- kamu gak lagi bercanda kan ?" Tanya Melisa yang masih merasa tak percaya dengan keinginan Riland.
"Apa aku kelihatan lagi bercanda ? Sudah ku katakan padamu sebelumnya... Tak kan lagi ku buat dirimu meragu tentang perasaanku," jawab Riland.
Masih dengan matanya yang menatap sayu, Riland bertanya. "Apa kamu juga menginginkan suatu hubungan yang serius diantara kita ? Kalau aku sih iya,"
"Ba- bagaimana dengan keluargamu ?" Tanya Melisa takut-takut. Ia sadar status sosialnya dengan Riland begitu jauh berbeda.
"Seperti yang kanu tahu, keluargaku menerima kehadiranmu dengan sangat terbuka. Kuharap ayah dan ibumu pun demikian padaku,".
"Mereka akan sangat menyukai mu,". potong Melisa cepat. Dan ia pun berhamur pada pelukan
Riland. Sungguh rasa bahagianya kian bertambah.
to be continued ♥️