The Hot Boss

The Hot Boss
Berbicara



Jari jemari Melisa dengan lihainya menari di atas keyboard. Setelah kejadian yang cukup mencekam di jam istirahat siang tadi, ia pun kembali bekerja seperti biasa.


Untuk makan siang, akhirnya Riland memesannya secara online. Mereka makan siang bersama dengn Leah dan juga kekasihnya.


Susah payah Melisa memasang wajah ceria seolah semua baik-baik saja. Padahal yang terjadi adalah sebaliknya. Ia masih merasakan syok yang luar biasa.


Dan tentang Raya, Melisa sudah tak ingin berhubungan lagi dengannya. Kata-kata yang Raya lontarkan padanya membuat Melisa sakit hati. Walaupun dirinya memang bersalah, tapi rasanya tak adil jika Raya menghakiminya seperti itu.


Raya berulangkali mengirimkan pesan yang berisikan kata-kata permintaan maaf. Tapi tak satupun yang Melisa balas. Bahkan beberapa pesan tak dibacanya. Ia hanya meliriknya sekilas saja dan meletakkan ponselnya di atas meja.


Apa yang Melisa lakukan tentu saja tak luput dari perhatian Riland. Lelaki itu selalu mencuri pandang pada Melisa dan ia merasa tak suka saat Melisa terus melihat pada ponselnya.


"Makan, Mel ! Balas pesannya nanti saja," titah Riland. Ada rasa cemburu yang menyelinap ke dalam hatinya saat ia melihat Melisa yang masih saja memperhatikan ponselnya.


"Jangan sampai saya sita hp kamu," ancam Riland.


Melisa pun menuruti perintah bosnya itu. Ia letakkan ponselnya tanpa melihatnya lagi, lalu ia melanjutkan makan siangnya.


Dan di sinilah ia sekarang kembali bekerja di kursi yang letaknya berseberangan dengan Riland. Dan anehnya setelah kejadian tadi, tak sekalipun Riland pergi dari tempatnya. Ia akan selalu berada di dekat Melisa.


Jika Melisa pergi ke lantai bawah untuk menemui Leah, maka Riland pun akan membuntutinya. Dan jika Melisa kembali ke lantai dua, Riland pun melakukan hal yang sama.


Kesibukan membuat Melisa melupakan masalahnya untuk sejenak. Walaupun ia tahu jika urusannya dengan Raya belumlah selesai.


Waktu menunjukkan pukul lima sore dan sudah saatnya untuk Melisa pulang. Melisa pun merapikan meja kerjanya, sedangkan di sebrang sana Riland pun bersiap dengan mengenakan jaketnya.


Melisa menelan ludahnya paksa, saat godaan yang Riland berikan kian besar saja. Bosnya itu kenakan jaket kulit hitam di atas kemeja putihnya. Membuat penampilannya semakin hot saja.


"Ya Tuhan.. dia sadar gak sih kalau dia itu ganteng banget," batin Melisa dalam hati. walaupun hatinya tengah dalam keadaan kalut, tapi pesona Riland selalu bisa menghipnotisnya.


"Udah siap ?" Tanya Riland dari seberang sana.


"Hah ? Siap bagaimana, Pak ?" Tanya Melisa tak paham.


"Kamu udah siap belum ? Ayo, biar saya antar pulang !" Dibandingkan dengan sebuah ajakan, yang baru saja Riland katakan lebih mirip sebuah perintah karena lelaki itu langsung berdiri dengan sebuah kunci mobil di tangannya.


Baru saja Melisa akan mengatakan kata penolakan tapi Riland sudah berjalan menuruni tangga lebih dulu. Sehingga mau tak mau Melisa pun mengikutinya.


Sesampainya di lantai satu keduanya dikejutkan dengan kehadiran Raya yang berdiri di bingkai pintu toko. Lelaki itu tak mempunyai keberanian untuk melangkahkan kakinya masuk ke dalam, tapi ia juga tak bisa melangkah mundur untuk pergi. Raya harus menemui Melisa dan berbicara dengannya.


"Ngapain Lo di sini ?" Hardik Riland tak suka. Ia berjalan ke arah pintu, mendekati Raya yang tak mau bergeming di tempatnya berdiri.


"Gue cuma mau ngomong sama cewek gue," jawab Raya tanpa mau melihat ke arah Riland. Kedua matanya hanya tertuju pada Melisa yang berdiri jauh darinya.


"Setelah apa yang Lo omongin sama dia tadi, Lo pikir dia masih mau jadi cewek Lo ? Tanya Riland lagi, tapi sepertinya Raya tak peduli. Ia tak menghiraukan ucapan Riland sama sekali.


"Aku mohon, Mel. Ayo kita bicara," pinta Raya. Matanya yang menatap sayu pun ikut memohon pada gadis yang melihatnya dengan takut-takut itu.


Melisa menarik nafas dalam, walaupun ia masih merasa takut karena sikap Raya tadi siang. Tapi, persoalan di antara keduanya memang harus segera di selesaikan. Melisa tak bisa lari dari masalahnya, ia harus menghadapinya.


"Baiklah," jawab Melisa. Membuat Riland yang berdiri di tengah-tengah mereka tolehkan kepalanya pada Melisa. Ia melihat tak percaya pada gadis itu. Tiba-tiba saja perasaannya menjadi campur aduk.


"Mel ?" Tanya Riland takut-takut. Ia pun melangkahkan kakinya kembali mendekati gadis itu. "Kamu yakin mau ngomong sama dia ?" Tanya Riland.


Melisa anggukan kepalanya sebagai jawaban.


"Tapi dia...,"


"Aku mau ngomong sama dia di tempat terbuka. Bapak tak usah khawatir dia akan melukai saya," jawab Melisa yang mengira kecemasan Riland karena lelaki itu takut Raya menyakitinya seperti tadi.


Riland sangat ingin melarangnya tapi ia tak mempunyai hak untuk melakukan itu. Dengan hati yang diliputi oleh rasa cemburu, Riland pun mengizinkannya. " Oke, tapi kalian bicaranya di cafe depan toko. Biar kamu aman, karena aku akan awasin kamu dari sini," sahut Riland tak terbantahkan. Matanya yang menyorot tajam mengisyaratkan itu semua.


"Ba-baiklah...," Sahut Melisa menyetujui.


"Bener apa yang Riland bilang, kita akan awasin kamu dari sini. Atau mungkin aku akan ke cafe itu juga untuk memastikan kamu baik-baik saja," bisik Leah.


Melisa tolehkan kepalanya pada Leah dan ia pun mengangguk menyetujui. "Kalau gitu,aku pergi dulu," ucap Melisa, berpamitan pada bos dan juga teman kerjanya itu. Melisa pun berjalan menuju Raya yang masih berdiri di bingkai pintu.


"Ayo kita bicara tapi di cafe depan aja," Melisa pun menunjukkan tempat yang dimaksud dengan telunjuknya. Tempat itu tak jauh, masih dalam jangkauan mata. Yang perlu mereka lakukan hanya menyebrang jalan saja untuk sampai di sana.


Raya ikuti arah telunjuk Melisa. Ia pun melihat cafe sederhana itu. Memang bukanlah sebuah cafe yang fancy tapi cukup nyaman untuk dikunjungi. "Baiklah," ucap Raya.


"Mau ke mana ?" Tanya Melisa saat ia melihat Raya berjalan ke arah yang lain.


"Kita pakai mobil," jawab Raya.


"Gak usah ! Kita jalan kaki aja. Tinggal nyebrang doang," tolak Melisa. Ada rasa khawatir dalam dirinya. Ia takut Raya membawanya ke tempat yang lain.


Merasa dirinya lah yang membutuhkan Melisa, Raya pun menyetujuinya. Mereka berjalan beriringan, menyebrang jalan untuk sampai di cafe itu.


"Hai Mel," ucap seorang pelayan saat Melisa melangkahkan kakinya masuk. Tentu saja ia mengenali Melisa karena gadis itu sering datang ke cafe. Pun sebaliknya, pelayan itu sesekali datang ke tempat Melisa bekerja untuk berbelanja.


"Oh hai," sahut Melisa.


"Meja untuk dua orang ?" Tanya nya lagi, dan Melisa anggukan kepala membenarkan.


" Ok, wait ya," sahutnya sembari pergi untuk mencarikan meja. Keadaan cafe cukup ramai karena banyak sekali anak-anak remaja yang sedang menghabiskan waktu mereka di sana.


Setelah menunggu beberapa saat, pelayan itu pun kembali dan memberikan sebuah nomor meja yang letaknya berada di sudut ruangan. Sangat cocok untuk Raya dan Melisa yang akan saling berbicara tentang hubungan mereka.


Kini keduanya telah duduk dengan saling berhadapan. Menunggu pesanan kopi yang belum juga datang. Raya terlihat gelisah, tubuhnya tak bisa berhenti melakukan gerakan-gerakan kecil. Sedangkan Melisa hanya duduk terdiam di kursinya.


"Terimakasih," ucap Melisa saat pesanannya datang yaitu segelas es kopi alpukat yang menjadi best seller di cafe itu. Sedangkan Raya memesan kopi hitam pekat dengan sedikit gula. Sepertinya lelaki itu memang sedang membutuhkannya.


Keduanya menyesap kopi mereka secara bersamaan. Raya pun menarik nafas dalam sebelum ia mulai berbicara. "Mel,"


"Raya, Maaf... Aku tak bisa meneruskan hubungan ini," ucap Melisa mendahului perkataan lelaki itu.


To be continued