The Hot Boss

The Hot Boss
Meeting



Riland tundukkan kepalanya, sedangkan Melisa tengah menengadah hingga tatapan mata mereka bertemu dan terkunci. "Kamu menginginkan yang ini ?" Tanya Riland sembari memperlihatkan sebuah sweater hitam yang terbungkus dalam plastik bening.


Melisa hanya bisa mengangguk saja. Debaran jantungnya yang menggila membuatnya tak bisa berkata-kata. Ia mengambil apa yang Riland berikan dengan tangan gemetar.


"Terimakasih," ucap Melisa pelan dan sebisa mungkin untuk terlihat baik-baik saja.


Riland melengkungkan senyum, memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapih. "Sama-sama," balasnya pada Melisa.


Melisa bergerak canggung, menjauhi Riland. Berjalan menuju sebuah meja dan membuka plastik bening itu untuk melihat isinya. Ia menelisik sweater hoodie hitam pesanan Agni si teman sekamar.


Dari kejauhan Melisa terlihat sedang memperhatikan apa yang sedang dipegangnya dengan sangat serius. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah ia tak berkonsentrasi sama sekali. Bahkan ia tak paham dengan apa yang sedang dilakukannya saat ini. Debaran jantungnya masih saja kencang, pikirannya melayang pada Riland bukan pada sweater itu.


Melisa tolehkan kepalanya, ternyata Riland sudah tak ada di belakangnya. Suara bariton lelaki itu terdengar dari arah depan. Rupanya ia tengah berbicara dengan Leah.


Segera saja Melisa berjalan menuju tangga yang akan membawa ke lantai dua. Ia ingin lebih cepat sampai di meja kerjanya sebelum Riland datang. Agar tak usah beradu mata dan bertingkah canggung lagi seperti tadi.


"Hah.. hah.. hah..," Melisa mengatur nafas, menetralkan debaran jantungnya yang masih saja kencang. "Kamu bisa hadapi ini, Mel. Kamu bisa ! Jangan terbawa perasaan pada Riland yang tak jelas !" Ucapnya dalam hati.


Semenjak pernyataan cinta Riland beberapa hari lalu, lelaki itu tak pernah membahasnya lagi. Dan Melisa mengambil keputusan jika Riland hanya bermain-main saja dengan perasaannya.


"Mel, nanti siang kita meeting sama perwakilan toko lain di coffee shop XY," ucap Riland yang tiba-tiba saja sudah berdiri di hadapannya. Terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri membuat Melisa tak sadar akan kehadiran bosnya itu.


Melisa melihat ke arah suara, kepalanya menengadah karena Riland yang berdiri semakin terlihat tinggi saja. Lalu ia mengangguk pelan menyetujui.


"Kita meeting buat bahas bikin projek iklan yang baru. Saya ingin iklan ini dibuat dengan sempurna," lanjut Riland dan lagi-lagi Melisa hanya mengangguk saja. "Oke," jawab Melisa menyetujui.


Lalu Melisa berpura-pura kembali pada pekerjaannya. Bertatapan dengan Riland dalam waktu lama, tak baik untuk kewarasannya.


"Kopi buat kamu, biar semangat kerjanya. Saya mau keluar dulu," ucap Riland seraya meletakkan satu cup kopi hangat dari cafe depan toko. Lelaki itu tersenyum dan pergi begitu saja setelah meletakkannya.


"Nafas, Mel. Nafas...," Tiba-tiba tubuh Melisa terasa lemas dan hampir saja meluruh jatuh dari tempat duduknya. Riland terlalu banyak memberikan 'gula-gula' manis pagi ini.


Bagaikan sebuah mantra, apa yang Riland lakukan tadi pagi membuat Melisa sangat bersemangat bekerja. Seluruh tugasnya telah selesai sebelum waktu meeting tiba. "Cemen banget sih Mel !! Udah dibilangin jangan baper !!" Ucapnya dalam hati. Tapi apa daya, pikiran dan hatinya tak sejalan. Kepalanya mengatakan untuk tetap 'stay cool' (bersikap tenang dan jangan baper) tapi hatinya terus meleleh karena sikap manis Riland.


Pukul sebelas siang Melisa sudah turun ne lantai bawah karena pekerjaan yang bertumpuk-tumpuk itu sudah selesai ia kerjakan. "Kamu udah siap Mel ? Acaranya kan pas makan siang," kata Leah saat melihat Melisa sudah rapi dan siap untuk pergi.


"Hu'um lebih baik datang awal dari pada kesiangan bukan ?" Tanya Melisa.


"Bukannya kerjaan kamu banyak banget ?"


"Udah beres !" Jawab Melisa dengan bangganya.


Leah terhenyak, "apa ?" Tanya gadis itu tak percaya.


"Kok bisa ?"


" Bisa lah ! Karena aku terkena 'sugar rush' !" Jawab Melisa.


(Sugar rush dikenal sebagai kondisi di mana seseorang akan menjadi lebih aktif atau hiperaktif setelah mengonsumsi makanan atau minuman manis. Sumber: google )


"Tapi ini bukan tentang makanan atau minuman," lanjut Melisa lagi. Membuat Leah semakin bingung saja.


Seandainya saja Leah tahu jika yang membuat Melisa menjadi sangat bersemangat adalah sikap manis Riland yang manisnya melebihi gula-gula. Tentunya gadis itu tak akan kebingungan.


"Ya udah tunggu dulu, Riland nyuruh aku tutup jam setengah dua belas. Kita pergi setelahnya,"


"Oh kamu ikut juga ?" Tanya Melisa.


"Hu'um.. yang dari toko lain juga datang. Riland bikin meeting gede-gedean kayanya," jawab Leah membenarkan. "Katanya sih projek iklan ini ada 'goal' yang ingin Riland capai," lanjut Leah lagi. Dan Melisa hanya mengangguk-angguk pelan saja.


***


"Ayo, Mel !" Ajak Leah saat mereka baru saja tiba di coffee shop yang Riland sebutkan sebelumnya.


Sepertinya tempat itu memang sudah dibooking oleh Riland, karena keduanya langsung di arahkan untuk menuju ke lantai dua, di mana meeting itu diadakan.


Melisa melihat kursi besar di ujung meja. Ia yakin jika kursi itu ditujukan untuk Riland. Demi kesehatan jiwa dan raganya, maka Melisa memilih kursi yang letaknya paling jauh dari bosnya itu. Leah pun setuju, ia duduk tepat di sebelah Melisa.


Satu persatu peserta meeting pun datang dan menempati kursi yang disediakan. Begitu juga Riland yang juga hadir di sana dan duduk d li kursi yang berjauhan dengan Melisa.


Riland pun membuka acara itu. Di sebelahnya ada beberapa orang yang ia kenalkan sebagai orang-orang yang profesional dalam bidang iklan. Benar yang dikatakan Leah, kali ini Riland menanganinya dengan serius.


Diskusi pun di mulai, setiap orang mengemukakan pendapatnya masing-masing. Dan setiap perwakilan toko memberikan masukan mereka dan ternyata 'isu' tentang hal-hal yang berbau couple masih menjadi yang utama dalam penjualan. Dan itu semua meroket karena konten 'The Hot Boss' yang dulu Melisa usung. Karena keberhasilan itu pula, akhirnya Riland bisa membuka kembali cabang-cabang tokonya yang sempat tutup karena pandemi.


Semua nampak sibuk berbicara, hanya Melisa saja yang nampak sibuk sendiri dengan catatannya. Dan ia tak tahu jika sedari tadi seseorang terus memperhatikan apa yang dilakukannya.


'Ting' sebuah notifikasi pesan singkat terdengar dari ponsel Melisa. Ia pun memeriksanya dan matanya membulat saat melihat nama Riland tertera di sana.


"Apakah akan harus duduk di sebelahmu, agar semua perhatianmu hanya tertuju padaku ?" Baca Melisa pelan. Takut-takut ia tolehkan kepalanya pada Riland. Lelaki itu menyandarkan tubuhnya di kursi dengan pandangan mata yang lurus pada Melisa. Ia menatap gadis itu lekat-lekat sembari tersenyum miring penuh goda. Padahal orang di sebelahnya tengah berbicara, tapi Riland tak memperdulikannya.


Melisa mengigit bibir bawahnya karena rasa gugup tiba-tiba datang menyerang. Belum juga ia membalas pesan Riland, tapi lelaki itu sudah kembali mengirimkan pesan.


"Berhenti menggigit bibirmu seperti itu, atau aku yang akan melakukannya !"


To be continued ♥️