
"Saya bukan mau belanja, saya datang untuk bertemu Riland. Katakan pada Riland, tunangannya ingin bertemu sekarang juga," ucapnya pelan dan anggun, membuat Melisa tertegun.
Melisa berdiri dengan tatapan mata tak percaya. Bibirnya sedikit terbuka tapi tak ada satu kata pun yang terucap dari mulutnya karena ia terlalu terkejut untuk berbicara.
"Kamu Melisa, right ?" Tanya Mona pada Melisa yang berdiri mematung.
Mendengar pertanyaan dari perempuan itu membuat Melisa menggelengkan kepalanya pelan, meraih kembali kesadarannya.
"I-iya, saya Melisa,"
"Katakan pada 'The hot boss' kalau Mona- tunangannya, ingin bertemu," Mona mengulang permintaannya. Ia tersenyum penuh percaya diri ketika mengatakan itu seolah merendahkan lawan bicaranya.
"Ah, sure !" Sahut Melisa dengan terpaksa menarik kedua sudut bibirnya untuk melengkungkan senyum yang tak diinginkannya.
"Tunggu, akan saya panggilkan," lanjut Melisa. Ia pun meminta perempuan bernama Mona itu untuk duduk di kursi tunggu yang sebenarnya diperuntukkan bagi pengunjung yang merasa lelah atau hanya mengantar berbelanja saja.
Mona duduk di tempat yang Melisa tunjuk dengan bertumpang kaki sehingga roknya terangkat dan memperlihatkan kaki jenjangnya yang mulus seputih susu tanpa noda sedikitpun. Ia begitu percaya diri, dan melayangkan tatapan penuh intimidasi pada Melisa sehingga gadis itu merasa tak enak hati. Perasaannya sangat kacau.
Melisa berjalan menaiki tangga dengan perasaan langkah gontai. Pikirannya melayang pada perempuan bernama Mona. Pantas saja Riland tak pernah menganggapnya ada karena ternyata dia telah memiliki seorang tunangan yang begitu cantik jelita.
"Tunangan loh, Mel ! Tunangan, bukan pacar," Melisa mengolok-olok dirinya sendiri dalam hati. Sungguh ia merasa bodoh karena percaya jika seorang laki-laki yang begitu menarik seperti Riland masih sendiri dan lebih bodohnya lagi ia menaruh hati padanya.
"Im so stup*d," maki Melisa kesal. Merutuki dirinya sendiri.
Dan seharusnya yang menyampaikan berita pada Riland tentang kedatangan tunangannya adalah Leah agar Melisa tak tersiksa seperti ini. Tapi sayangnya Leah sedang berada di dalam toilet dan perempuan bernama Mona itu sepertinya tak sabaran untuk bertemu dengan Riland.
"Hai, kamu udah siap ?" Tanya Riland saat ia melihat Melisa di ujung tangga. Ia kira gadis itu datang untuk mengajaknya segera pergi.
Ingin rasanya Melisa berlari pada Riland lalu memberikan lelaki itu beberapa pukulan dan meminta penjelasan tentang perempuan bernama Mona. Tapi sayangnya ia tak bisa melakukan itu semua karena ia tak berhak.
Yang bisa ia lakukan adalah berjalan mendekat pada Riland seolah semua baik-baik saja, padahal hatinya hancur entah untuk yang ke berapa kalinya.
"Ri, ada seseorang yang ingin ketemu kamu. Namanya Mona," ucap Melisa yang dengan sekuat tenaga berusaha memperlihatkan dirinya baik-baik saja.
"Mona ?" Tanya Riland sembari berkerut alis.
"Hu'um katanya sih tunangan kamu," jawab Melisa dengan suara yang dibuat setenang mungkin. Padahal ia meraung-raung di dalamnya.
Riland tercengang mendengar apa yang Melisa ucapkan. "Mona ? Ngapain dia datang kesini ? Mengaku tunangan ?" Banyak pertanyaan yang berputar dalam benak Riland saat ini.
"F*ck !! Ngapain dia ke sini ?" Riland balik bertanya. Lelaki itu tak menyangkalnya, tapi lebih terlihat kesal karena sang kekasih mengganggunya bekerja. Itulah yang ada dalam pikiran Melisa.
"Gak tau, kangen kali sama tunangannya," jawab Melisa terdengar ketus.
Lalu Melisa tundukkan kepalanya merasa menyesal telah berkata tak sopan pada Riland. Meskipun lelaki itu tak menerapkan hubungan boss dan pegawai dengan formal tapi tetap saja Riland adalah atasannya. Terlalu merasa cemburu menbuat Melisa tak bisa berpikir jernih.
Riland tak menjawab, ia melihat bagaimana reaksi Melisa ketika mengatakan itu dan cukup kecewa saat Melisa terlihat biasa saja bahkan gadis itu tundukkan kepala seolah tak ingin melihatnya.
"Apaan sih ? Cepet turun ke bawah ! Dia nungguin kamu," Melisa menjadi salah tingkah saat Riland hanya menatap saja tanpa berkata-kata. Rahang lelaki itu mengetat, bibirnya terkatup rapat dan matanya menyorot tajam. Tak seperti Riland yang ramah seperti biasanya.
Tak banyak bicara lagi, Riland pun berjalan melewati Melisa begitu saja.
"Iisshh," Melisa berdecak kesal tak mengerti kenapa Riland bersikap seperti itu. Tiba-tiba atmosfer diantara keduanya menjadi dingin dan canggung.
Melisa berdiri di depan mejanya dengan kedua tangannya yang ditapakkan di atas meja agar dapat menahan bobot tubuhnya. Melisa merasa sangat kacau saat ini.
***
Di lantai bawah, Riland berjalan mendekati Mona yang kini sedang asik mengelilingi toko pakaian milik Riland sambil melihat-lihat pakaian yang dipajangkan.
"Mona," sapa Riland.
"Hai.....,"
"Ngapain kesini ?" Potong Riland langsung pada intinya.
"Melihat keadaan calon suami. Apa itu salah ?" Jawab Mona lembut sembari berjalan mendekati Riland dan menyentuh kerah kemeja lelaki itu seolah ada sesuatu yang salah di sana.
"Jangan bercanda ! Kita tak ada hubungan apapun," sahut Riland lirih. Bagaimanapun dirinya bukan laki-laki brengsek yang suka mempermalukan perempuan.
"Ketidakhadiranmu di acara pertemuan kita... dianggap sebagai tanda setuju," ucap Mona dengan perlahan hingga Riland bisa mencerna perkataannya dengan jelas.
"Bagaimana mungkin bisa begitu ? Oh come on, kita sama sekali tidak saling mengenal tentang diri kita masing-masing. Dan kini harus bertunangan ? Yang benar saja !!" Riland terlihat kesal sedangkan si perempuan mengulas senyum manis saat mendengarnya.
"Im fine with that," sahut Mona sambil tersenyum nakal.
"The hot boss like you... Is my type," lanjutnya lagi sembari memajukan wajahnya daan berbisik lirih penuh seduktif di telinga Riland. Bahkan ia mengigit bibir bawahnya saat mengatakan itu. Menunjukkan pada Riland jika ia menginginkan lelaki itu.
Riland mengernyitkan dahi, sedikit terkejut dengan apa yang Mona lakukan padanya.
"So... Selama apapun kamu bersembunyi itu tak masalah karena kita akan tetap bertunangan dan menikah,"
"Mona, jangan begini. Aku tak bisa denganmu karena....," tolak Riland. Hampir saja ia mengatakan bahwa hatinya sudah tertambat pada perempuan lain.
Melisa...
Entah kenapa nama gadis itu yang melintas dalam pikiran Riland, bahkan wajahnya terbayangkan dengan sangat jelas.
Riland pun menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha menepis dan menyangkal apa yang ada dalam kepalanya saat ini.
Mona tahu Riland sedang memikirkan sesuatu tapi ia tak mau menebak-nebak. Cukup baginya mengatakan pada Riland bahwa mereka akan terikat menjadi satu apapun yang terjadi.
"Aku tak bisa lama-lama, my fiance. Setelah ini masih ada beberapa pemotretan yang harus aku lakukan. Jangan terlalu dekat dengan Melisa, aku cemburu," ucap Mona dengan jelas seraya mengecup pipi Riland dengan mesra hingga menimbulkan bunyi decapan yang nyata.
Lalu Mona berjalan meninggalkan Riland yang terdiam mematung di tempatnya berdiri. Mona tersenyum dengan anggun tapi juga menyebalkan pada Melisa dan Leah yang ternyata sudah berada di belakang meja etalase. Keduanya melihat juga mendengar apa yang Mona dan Riland bicarakan.
Leah cukup terkejut melihatnya, sedangkan Melisa berusaha untuk terlihat biasa saja apalagi namanya sempat disebutkan oleh Mona tadi. "Jangan terlalu dekat dengan Melisa, aku cemburu,"
Dalam hatinya yang paling dalam lagi-lagi Melisa begitu merasa kacau. Seharusnya ia tak pernah mengusulkan ide konten 'The Hot Boss' sialan itu karena kini dirinya sendiri yang terjebak dalam perasaan cinta yang tak seharusnya.
"Ayo, kita berangkat," ajak Riland. Saat ini dirinya sudah berdiri di hadapan kedua pegawainya yang masih menatapi kepergian wanita bernama Mona.
"Ri, kamu kok gak bilang sih udah punya tunangan ?" Alih-alih menyambut ajakan Riland, Leah malah bertanya tentang status Riland.
"Iya, kalau tahu kan aku gak mungkin bikin konten "The Hot Boss". Aku jadi gak enak hati ini," sahut Melisa menimpali.
"Dia bukan tunangan aku, ceritanya panjang," jelas Riland.
"Ayo kita pergi," ajak Riland lagi seraya mengeluarkan kunci mobil dari sakunya berbarengan dengan seorang laki-laki yang memasuki toko itu.
"Sudah siap?" Tanya Raya sambil menghampiri Melisa.
Riland pun melihat pada Raya dan Melisa secara bergantian dengan penuh tanda tanya ? Bukankah Melisa sudah berjanji untuk makan siang dengannya juga Leah ?
"Aku kira kamu akan pergi makan siang dengan tunanganmu hingga aku mengiyakan ajakan Raya," jelas Melisa seolah-olah tahu apa yang ada dalam pikiran Riland.
Riland tersenyum muak melihatnya, "terserahlah !" Ucapnya terdengar ketus seraya masuk kembali ke bagian dalam toko untuk menuju mejanya. Perasaannya menjadi kacau melihat laki-laki itu datang lagi untuk mengajak Melisa pergi. "Iam f*cked up !" Batin Riland dalam hati. Ia pun mengepalkan tangannya dan menjadikan dinding sebagai pelampiasan amarahnya.
"Iam f*cked up," (aku begitu kacau) batin Melisa dalam hatinya. Walaupun kini dirinya bersama Raya untuk pergi makan siang tapi pikirannya selalu tertuju pada bossnya yang hot yaitu Riland.
To be continued