The Hot Boss

The Hot Boss
Memanfaatkan Kesempatan



Sunyi senyap...


Itulah yang terjadi setelah kepergian Raya. Melisa pun berada di jalan persimpangan. Antara menuruti perintah bosnya atau menyusul Raya sang kekasih. Dadanya berdegup kencang dengan keringat dingin di telapak tangannya. Bingung bagaimana harus mengambil sikap.


Di depan sana, wajah Riland masih terlihat tak bersahabat. Matanya menatap layar laptopnya dengan tajam. Bibirnya terkatup rapat.


Melisa menarik nafas dalam, ia berdiri untuk menyusul Raya. Walaupun dirinya belum menyukai lelaki itu tapi ia merasa bersalah karena kurang menghargai apa yang telah Raya lakukan padanya.


Melisa berdiri dari tempat duduknya dan tanpa berpamitan ia berjalan tergesa menuju tangga. Berharap agar Raya belum pergi agar ia bisa mengucapkan kata-kata terimakasih atas apa yang lelaki itu lakukan padanya.


Riland melihatnya dalam diam. Sorot matanya yang terlihat dingin, berbanding terbalik dengan dadanya yang terasa panas dan siap untuk meledak. Ingin rasanya ia mencekal tangan Melisa untuk tak pergi menemui kekasihnya. Riland merasa tak rela. "Gue cemburu, f*ck !" Makinya kesal saat ia sadar dengan perasaannya sendiri.


Riland menutup layar laptopnya kasar. Lalu menundukkan kepala di antara dua tangan yang menopangnya. Ia benar-benar merasa kacau saat ini. Menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan. Berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.


Sedangkan di bawah sana, Melisa berlari menuju mobil Raya yang tengah bersiap-siap untuk pergi. "Raya tunggu !!" Melisa berlari dan mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil lelaki itu agar tak pergi dulu.


Sebenarnya Raya tengah merasakan kecewa, sedih, dan patah hati secara bersamaan. Dirinya sadar jika Melisa dan bosnya sama-sama merasakan percikan api asmara tapi keduanya belum menyadarinya. Raya tersenyum miring, mentertawakan kebodohan Melisa dan bosnya itu.


"You are so stup*d !!" Maki Raya sambil tersenyum miring penuh ledekan.


Raya ingin sekali pergi tapi Melisa mengetuk kaca jendelanya lagi. Mau tak mau, pada akhirnya Raya menunda kepergiannya dan menurunkan kaca jendela mobilnya itu.


"Maaf," ucap Melisa saat kaca jendela itu dibuka dan menampilkan wajah Raya yang terlihat kesal.


"Dan terimakasih untuk semuanya," lanjut Melisa lagi. Terdengar ambigu di telinga Raya.


"Aa dan terimakasih ? Apa maksudnya ?" Tanya Raya dalam hati. Apa ini berarti hubungannya dengan Melisa berakhir sudah ?


Raya terserang panik. Ia hendak bertanya apa maksud perkataan gadis itu. Tapi ternyata Melisa sudah pergi menuju tokonya kembali.


Cepat-cepat Raya membuka pintu mobilnya dan bergerak keluar. "Mel, tunggu ! Apa maksud semua perkataanmu ?" Tanya Raya sembari menahan lengan Melisa.


"Maaf dan terima kasih ? Apa maksudnya ?" Tanya Raya dengan wajahnya yang terlihat cemas.


"Oohh... Maaf atas semua yang terjadi di atas tadi, hingga membuatmu harus pergi. Dan te-terima kasih atas perhatian yang kamu berikan," jawab Melisa.


Mendengar itu , Raya pun tersenyum lega. Ia kira Melisa memutuskan untuk menyudahi hubungan mereka yang baru berjalan beberapa jam saja itu.


"Tapi kita baik-baik aja kan ? Kita masih pacaran kan ?" Tanya Raya memastikan. Dalam nada bicaranya terdengar rasa cemas yang tak bisa disembunyikan.


Melisa menatap Raya untuk beberapa saat. Lalu ia pun menganggukkan kepala sebagai bentuk jawaban. Walaupun sebenarnya Melisa merasakan ragu dalam hatinya.


Ketika tadi dihadapkan pada dua lelaki yang hadir dalam hidupnya secara bersamaan. Dengan jelasnya hati Melisa lebih memilih Riland.


Begitulah cinta, kadang di luar logika.


Seandainya saja Melisa mempunyai rasa yang sama dengan Raya, tentunya ia tak akan menderita seperti ini. Jatuh cinta pada sang bos yang sudah mempunyai seorang tunangan.


Raya tersenyum penuh arti saat melihat Melisa anggukan kepala. Ia akan menggunakan kesempatan ini untuk lebih berusaha merebut Melisa dari Riland.


Raya tak akan peduli jika Melisa dan Riland akan merasakan penderitaan karena cinta mereka yang tak bisa bersama karena dirinya.


Raya akan terus berusaha membuat Melisa jatuh cinta padanya dan berpaling dari Riland. Ia tersenyum miring saat memikirkan itu semua.


"Baiklah... Aku pulang ya... Kita bertemu lagi besok," pamit Raya dengan suaranya yang lembut dan terdengar mesra Melisa pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya lagi. Mengizinkan lelaki itu untuk pergi.


Baru saja Raya berjalan satu langkah, tapi lekaki itu segera memutar tubuhnya kembali dan menatap Melisa dalam. "Mel, aku percaya sama kamu. Aku yakin kamu bisa menjaga diri dan juga hati hanya untuk aku. Jadi... Jangan kecewakan aku ya..,' ucap Raya dengan matanya yang menatap penuh mohon. Padahal dalam hatinya ia sunggingkan senyum seringai pada kekasihnya itu.


to be continued