The Hot Boss

The Hot Boss
Bingung



" Bukan hanya pikiran saja tapi perasaan saya pun ikut tak suka saat pacarmu datang," jawab Riland tanpa bisa menyembunyikan lagi rasa cemburunya.


"What ?" Gumam Melisa pelan. Ia menatap Riland tak percaya, bibirnya sedikit terbuka karena terlalu terkejut dengan apa yang baru saja di dengarnya. Bola matanya bergerak searah dengan pergerakan Riland yang berjalan mendekat padanya.


Riland berdiri tegak tepat di hadapan Melisa, tanpa ada penghalang apapun di antara mereka. Tingginya tubuh Riland membuat Melisa harus menengadahkan kepalanya agar dapat melihat wajah Riland.


Melihat reaksi Melisa membuat Riland tersenyum samar. "Apa harus aku ulang semua perkataan ku ?" Tanya Riland membuat debaran jantung Melisa menggila tak karuan.


"A-aku eh saya kurang mengerti," Melisa menelan ludahnya sendiri dengan susah payah.


"Saya tak suka pacar kamu datang. Perasaan saya yang gak suka. Jadi... Dia gak boleh datang lagi kesini. Kamu ngerti ?" Ucap Riland dengan menekan kan di setiap kata-katanya hingga Melisa bisa mendengarnya dengan jelas. Dan itu membuat perasaan Melisa semakin kacau saja.


Melisa tak langsung menjawab, ia balas tatapan mata Riland dengan susah payah. "Ya Tuhan kenapa dia melihatku seperti itu ?" Batin Melisa dalam hatinya. Darahnya berdesir hangat karena tatapan mata Riland yang amat dalam.


Melisa menelan ludahnya paksa sebelum ia berbicara. "Ba-baik, akan saya katakan padanya untuk tidak datang dan mengganggu pekerjaan lagi," sahut Melisa yang masih belum paham maksud perkataan Riland.


Tapi yang sebenarnya terjadi adalah Melisa berusaha untuk tetap berpijak di atas tanah karena ia tak mau terbawa perasaan oleh Kata-kata Riland yang terdengar cemburu dan tatapan matanya yang bisa melelehkan hati Melisa di dalam sana.


Mati-matian Melisa berusaha untuk tidak 'gede rasa' dengan apa yang Riland lakukan padanya saat ini. Ia tak mau semakin terjebak dalam perasaan cinta sendiri pada bossnya yang hot itu


Riland masih saja menatap mata Melisa dalam-dalam, membuat Melisa makin deg-degan dibuatnya. "Ya Tuhan... Siksaan apa ini ?" Tanya Melisa dalam hati


Urat-urat tangan Riland yang kekar terlihat liat, pasti akan sangat menyenangkan jika berada dalam dekapan tangan itu. Pikiran Melisa sudah traveling kemana-mana.


Tak hanya itu, jika Melisa tundukkan sedikit kepalanya dan meluruskan pandangannya maka mata itu akan bertemu pinggang dan bagian inti tubuh bawah Riland.


"Siaall," maki Melisa dalam hati. Karena ia tak lagi mendongakkan kepala. Hingga mata itu langsung tertuju pada pinggang Riland dan tentu saja aset pribadinya yang sejajar dengan kepala Melisa. Hingga ia bisa melihat tonjolan di pangkal paha lekaki itu.


"Hei otak, mari kita bekerjasama ! Jangan memikirkan yang iya-iya ! Eh tidak-tidak !" Ucap Melisa dalam hati seraya tundukkan kepalanya. Menjaga pandangannya dari sesuatu yang sangat ingin dilihatnya.


"Just cool, don't panic ! Ok cool, don't be panic. Emang besar tapi tenang... Astaga... Apa yang kamu pikirkan," keluh Melisa sembari menggeleng-gelengkan kepalanya yang tertunduk dan melihat ujung kakinya sendiri. Melisa lakukan itu agar ia tak melihat pada Riland yang begitu mempesona. Sebagai gadis yang sudah menginjak usia dewasa tentu saja Melisa tergoda melihat bosnya itu.


Tapi Melisa berpikir panjang, ia tak mau membuat kedua orangtuanya kecewa. Ia juga tak mau merusak masa depannya karena belum tentu Riland mau bertanggungjawab setelah dirinya menyerahkan kehormatannya. "Ya Tuhan, aku mikirin apa sih ?" Gumam Melisa yang kini menggerakkan kedua kakinya liar dengan menghentakkan nya ke atas lantai. Kehadiran Riland yang terlalu dekat dengannya membuat Melisa semakin frustasi saja.


"Mel, kamu kenapa ?" Tanya Riland tanpa dosa. Tapi, Melisa tetap tundukkan kepalanya sambil bergumam tak jelas.


Melihat itu Riland pun bungkukkan tubuhnya agar dapat melihat Melisa lebih jelas lagi. "Hei, kamu kenapa ?" Tanya Riland dengan jarak yang sangat dekat hingga aroma kopi yang keluar dari mulutnya bisa tercium jelas oleh Melisa.


Deg !! hampir saja jantung Melisa loncat dari tempatnya. Ia terlalu terkejut dengan Riland yang semakin dekat jaraknya.


"Jangaaaannn... Saya gak kuat lagi," jawab Melisa sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Tangannya tanpa sadar mencekal kerah Riland hingga laki-laki itu kini berjongkok karena tangan Melisa menariknya kuat.


"Pokoknya saya gak kuat, pengen pulang !!!" Rengek Melisa yang masih dalam pikiran 21 plusnya sedangkan Riland berpikir jika Melisa sudah tak bisa meneruskan pekerjaannya karena lelah.


"Ya.. ya udah kalo gak kuat, ayo !!" Jawab Riland terdengar ambigu.


"Hah ? Apa ?" Tanya Melisa sembari melepaskan cekalan tangannya di kerah Riland. matanya menatap lurus pada lelaki itu.


"Iya ayo ! Kamu udah gak kuat kan ?" Tanya Riland.


"A-ayo gimana maksudnya?" Tanya Melisa masih dalam pikirannya yang traveling kemana-mana.


"Ayo.. pulang, kan ?" Tanya Riland sedikit ragu. Ia merasa pembicaraannya dengan Melisa tak nyambung.


"Kamu gak kuat lembur kan ?" Tanya nya lagi memastikan.


Melisa nyengir kuda, ia merasa canggung karenanya. Tak mungkin kan ia mengatakan yang sejujurnya pada bosnya itu bahwa dirinya sedang memikirkan yang iya-iya.


" I- iya... Saya sudah gak kuat lembur," jawab Melisa dengan senyuman yang ia paksakan.


"Iya, ayo aku antar pulang ! Aku juga gak kuat lama-lama dekat kamu," sahut Riland sambil berdiri dan berjalan menuju tangga. Meninggalkan Melisa yang masih merasa kebingungan dengan maksud perkataan Riland baru saja.