The Hot Boss

The Hot Boss
Klaim Kepemilikan



"Sah ?"


"sah !!!" Jawab para saksi dengan kompak. Alunan doa pun terdengar syahdu dan diaminkan oleh semua yang hadir di acara pernikahan itu.


Suasananya begitu sakral dan juga meriah secara bersamaan. Riland menggenggam tangan Melisa dengan erat saat kata 'sah' itu diucapkan. Berharap dalam hatinya jika kata itu ditujukan untuknya juga Melisa.


Tapi sayangnya kata itu ditujukan untuk sang adik yang kini sudah sah menjadi istri seseorang. Air mata haru bahagia menghiasi prosesi itu. Begitu juga Riland yang sedikit basah di ujung matanya. Namun sebisa mungkin ia tahan agar tak meluruh jatuh. Riland gunakan jempolnya untuk menghapus titik- titik basah itu si matanya.


Sedangkan Melisa, ia tak sekuat Riland. Gadis itu melap matanya yang sudah terlanjur basah dengan dua lembar tisu. Hubungannya dengan calon adik ipar memang sangat dekat padahal keduanya belum lama saling mengenal satu sama lain. Keluarga Riland yang menerimanya dengan sangat terbuka membuatnya seperti itu.


"Aku berjanji, secepatnya kita yang akan duduk di sana," bisik Riland sembari mengeratkan genggaman tangannya. Dan ia bersungguh-sungguh dengan apa yang dikatakannya.


Melisa balas genggaman tangan Riland sama eratnya, menandakan jika ia pun menginginkan hal yang sama dengan lelaki itu. Melisa ingin segera menjadi miliknya.


"Aku sayang banget sama kamu, Mel. Beneran," bisik Riland lagi seraya mengangkat tangan Melisa dan menciumnya mesra.


Melisa yang tadinya menangis, kini melengkungkan senyuman. "aku lebih sayang lagi sama kamu," balas Melisa sambil berbisik. Membuat Riland mengul*m senyumnya malu-malu. Siapa sangka jika si bos yang sangat hot itu akan bersikap menggemaskan jika sedang bersama wanitanya.


Tanpa mereka sadari, seseorang memperhatikannya dari kejauhan. Ia tersenyum masam melihat kemesraan Melisa dan Riland. Gadis itu memutar bola matanya malas saat Riland mencium punggung tangan Melisa dengan mesra, sontak membuat ia berdiri dengan spontan agar dirinya tak bisa melihat lagi kemesraan itu.


***


Melisa bergabung bersama para sepupu Riland yang lain, berkumpul sebagai pihak keluarga. Bahkan ibu Riland akan mencarinya jika membutuhkan sesuatu.


Kedekatannya dengan sang calon ibu mertua membuat Riland pernah mengeluh padanya. "Sebenarnya yang anak Mami itu aku atau kamu sih ? Kok bisa-bisanya Mami malah lebih sering hubungin kamu daripada aku," ucapnya beberapa waktu lalu.


Melisa yang mendengar itu hanya tertawa saja. Ini kali pertama Melisa dekat dengan seorang pria dan ia merasa sangat beruntung karena mendapatkan seseorang yang baik hati dan keluarganya pun menerimanya dengan terbuka.


Tuhan memang mempunyai rencana yang lebih indah daripada yang kita bayangkan. Tuhan memberikan di waktu yang tepat.


Melisa tengah sibuk menerima tamu dan juga lainnya membuatnya harus berpisah dari Riland. Lelaki itu pun tak sendirian, ia bersama sepupunya yang lain. Tapi lihatlah sesibuk apapun Riland, ia selalu sempatkan diri untuk mencari keberadaan kekasihnya.


Riland akan tersenyum saat ia mendapati Melisa dalam jangkauan matanya. Di mata Riland, Melisa begitu mempesona. Dia adalah segalanya. Dadanya berdebar kencang hanya karena melihatnya dari kejauhan.


Hanya Melisa yang Riland inginkan. Ia mencintai gadis itu dengan seluruh jiwa dan raganya. "Yaa Tuhan..," gumam Riland yang sudah tak bisa menahan diri. Ia ingin segera berlari pada kekasihnya itu dan memberikannya ciuman bertubi-tubi. Riland juga ingin memeluknya erat hingga melebur lah rasa cinta keduanya.


Merasa diperhatikan Melisa pun tolehkan kepalanya. Ia pun tersenyum manis pada Riland yang sedang memikirkannya. Melisa lakukan itu berulang kali, walaupun ia tengah sibuk bersama yang lain. Tapi ia sempatkan diri untuk melihat pada Riland.


"Aku juga tahu jika kamu menginginkan aku," gumam Riland dengan pandangan mata mereka yang masih bertemu. Terlihat dari energi yang terpancar dari Melisa saat menatapnya.


Matanya yang berbinar membuat bintang seolah tak bersinar. Senyumnya yang cantik, membuat dunia Riland seperti berhenti berputar untuk beberapa saat. Semua tentang Melisa membuat Riland tergila-gila.


Riland sudah tak sabar untuk menghabiskan seluruh hidupnya bersama gadis itu. Sudah terbayangkan dalam kepalanya bagaimana mereka terbangun di pagi hari dengan saling berpelukan mesra. Lalu membuat kopi bersama sambil membicarakan apa yang akan dilakukan di akhir pekan.


Tak tahan lagi, Riland pun berjalan mendekati gadisnya itu. "Hai gorgeous," ucapnya membuat Melisa tertawa.


"You must be missing me," ( kamu pasti merindukan aku) ucap Riland lagi penuh goda. Matanya meredup sayu dan ia berbicara dengan setengah berbisik. Riland tak ingin para sepupunya itu mendengarkan perkataannya.


"Ya Tuhan... Jangan goda aku," mohon Riland. Suaranya kini berubah berat.


"Ini perasaan yang nikah adiknya tapi kenapa yang mesra banget kakaknya ?" Tanya salah satu Tante Riland yang berada di sana. Ternyata sedari tadi ia terus memperhatikan Melisa dan Riland.


Terlalu larut dalam atmosfer saling goda membuat Melisa dan Riland tak sadar jika banyak mata memperhatikan keduanya.


"Lagian dari tadi flirting melulu, apa kalian lupa kalau sekarang tuh banyak orang yang sudah kenal kalian ?"


Riland dan Melisa pun edarkan pandangannya dan apa yang dikatakan Tante Riland itu memang benar adanya. Beberapa tamu melihat pada mereka dan kemudian saling berbisik.


"Mereka pasti berpikir jika si bos selain hot tapi juga mesoom karena nempel terus sama bawahan nya," ucap sang Tante itu sembari berlalu pergi. Ia tertawa puas saat mengatakannya.


"Tuh kan.... Ayo pergi sana !" Usir Melisa yang merasa malu.


Dengan berat hati, Riland pun meninggalkan gadisnya itu. Ia memilih untuk mencari secangkir kopi agar kepalanya tetap waras.


"Terimakasih," kata Riland ketika seorang pelayan catering memberinya secangkir kopi yang ia inginkan. Baru saja Riland akan menyesapnya tapi suara seorang gadis membuatnya berhenti melakukannya.


"Begini cara kamu manas-manasin aku ?" Tanya Mona yang sedari tadi memperhatikannya. Gadis itu berbicara dengan ketus dan wajahnya ditekuk marah.


Riland yang mendengar itu berkerut alis tak paham. "Apa ?" tanya Riland.


"Jangan pura-pura gak ngerti ! Apa yang kamu lakukan norak banget ! Memperlihatkan kemesraan dengan bawahan mu itu hanya agar aku merasa gerah. Iya kan ?" Tanya Mona lagi.


"Apa sih ? Aku-"


"Ku rasa wajar jika aku dan Riland terlihat mesra karena kami memang sepasang kekasih," potong Melisa yang tiba-tiba hadir diantara mereka.


"Dan asal kamu tahu.. aku bukan bawahannya tapi aku ini calon istrinya," lanjut Melisa dengan begitu jelasnya.


"What ?" gumam Mona tak suka.


"Hu'um... Seperti yang kamu dengar sendiri. Kami sudah memutuskan untuk menikah. Dan ini bukan karena perjodohan, tapi Riland sendiri yang memintanya," jawab Melisa seraya melingkarkan tangannya di pinggang Dengan jelas Melisa mengklaim yang jadi miliknya.


Riland letakkan cangkir kopinya di atas meja, dan ia membalas Melisa dengan merangkul pundaknya erat. "Apa yang dikatakan calon istriku benar adanya," sahut Riland menimpali.


"Jadi... Jangan dekati Riland lagi. Dia adalah milikku !! dan selamanya akan seperti itu," ancam Melisa. Bahkan ia memicingkan mata, dan menatap Mona dengan tak suka.


Mona mendengus kasar, dan berlalu pergi dengan rasa malu yang tak tertahankan. Jika dulu ia bisa merendahkan Melisa karena merasa dirinya adalah tunangan Riland. Tapi yang terjadi kini adalah sebaliknya.


Dan Melisa...


Ia tak akan membiarkan siapapun untuk merendahkannya lagi. Melisa akan mempertahankan apa yang menjadi miliknya.