The Hot Boss

The Hot Boss
Ingin Bertemu



"Cepat pulang ke rumah, Riland ! Sampai kapan kamu mau menghindari perjodohan ini ? Mona sudah siap untuk bertunangan denganmu,"


"Aarrrggggghhhh f*ck !!!" Maki Riland seraya memukuli setir mobilna. Ia sungguh-sungguh merasa kesal. Hanya karena adiknya akan menikah kenapa dirinya pun jadi sasaran?


Orang tua Riland masih berpikiran kolot, mereka tak mau sang adik melangkahi kakaknya hingga Riland yang masih sendiri dijodohkan paksa dengan anak kenalan mereka dan sialnya perempuan bernama Mona itu langsung setuju ketika hendak dijodohkan dengan Riland padahal mereka baru sekali saja bertemu.


Itulah alasan Riland tinggal di tokonya, ia tak mau diganggu oleh siapapun. Setiap malam sang adik atau ibunya akan datang ke apartemen hanya untuk membujuknya agar menerima perjodohan. Mereka tak akan menyangka jika Riland tidur di tokonya karena di sana tak ada ranjang untuk ditiduri. Selama ini Riland merelakan tubuhnya menjadi pegal-pegal karena tidur di atas sofa kecil yang ada di lantai 2.


Kecuali Stefan, yang langsung datang ke tokonya. Sepupunya itu pun datang ke  Bandung karena ada pertemuan keluarga tentang pernikahan adik Riland dan juga pertunangan dirinya.


Sebenarnya Mona juga tak seburuk itu, dia manis dan baik hati. Hanya saja ia tak merasakan getaran saat bertemu perempuan yang usianya sama dengan dirinya.


Riland memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku tanpa lebih dulu membalas pesan dari ibunya. Padahal dirinya telah berulangkali mengatakan pada seluruh keluarganya jika ia tak masalah bila sang adik yang bernama Rendi akan menikah lebih dulu darinya, malahan ia ikut senang dengan pernikahan adik nya itu.


Tapi ibunya tetap tak mau, ia menginginkan Riland untuk menikah secepatnya. Mengetahui jika sang anak masih sendiri, ibunya itu berinisiatif mencarikan jodoh bagi Riland tanpa membicarakannya terlebih dahulu.


Riland tak menggubris isi pesan itu,  ia memacukan mobilnya dengan cepat untuk kembali ke tokonya.


Sementara itu di dalam kamar kostnya, Melisa menjatuhkan diri ke atas ranjang tanpa berganti baju terlebih dahulu. Tak hanya tubuhnya yang terasa lelah, tapi juga hatinya.


"Jadi bikin iklannya ?" Tanya Agni. Ia duduk di ranjangnya.


Melisa menganggukkan kepalanya pelan sebagai bentuk jawaban. Bibirnya sedikit mengerucut dan tatapan matanya yang sendu cukup melukiskan rasa resah hatinya yang luar biasa.


Agni menatap prihatin pada sahabatnya itu. Ini adalah kali pertama Melisa benar-benar jatuh cinta pada seorang pria.


Dan yang dirasakan Melisa adalah jatuh cinta layaknya seorang wanita dewasa bukan lagi cinta monyet seperti saat mereka remaja.


Agni juga tahu semua semua kisah cinta Melisa dan Riland. Ia juga tahu jika Melisa yang patah hati harus berjuang keras untuk berpura-pura baik dan melakukan pengambilan gambar dengan seseorang yang telah mematahkan hatinya itu.


"Usaha kamu udah berhasil dengan baik, toko Riland juga sudah ramai lagi seperti dulu jadi sebaiknya gak usah bikin konten tentang 'the hot boss' lagi biar kamu gak makin sakit hati," ucap Agni sambil berpindah tempat duduk ke ranjang yang Melisa tempati dan memberikan usapan halus di puncak kepala sahabatnya itu.


"Tapi gimana caranya aku bilang sama mereka ?" Tanya Melisa seraya menghela nafasnya. Saat ini dirinya terlihat begitu frustasi.


"Katakan saja bahwa RH store sudah meraih sukses jadi tak perlu membuat konten lagi," sahut Agni dan Melisa hanya terdiam.


"Tadi jadi makan siang sama Raya ?" Tanya Agni lagi.


"Hu'um jadi... Dia juga ngajak aku ketemuan lagi, tapi kenapa ya rasanya nggak sreg di hati," jawab Melisa.


"Itu karena kamu udah bucin sama si Riland," jawab Agni sambil tertawa.


"Iya bener, aku ini orangnya setia pada gebetan yang gak cinta sama aku," sahut Melisa sambil mentertawakan dirinya sendiri.


"Im so pathetic," (aku sangat menyedihkan )  desah Melisa sembari memejamkan mata. "Mulai besok aku akan berusaha untuk tak menaruh hati lagi pada Riland," ucap Melisa lirih.


***


Keesokkan harinya..


Melisa tetap datang ke tempat kerjanya walaupun Agni telah melarang dan meminta sahabatnya itu agar izin tak masuk kerja satu hari saja hanya untuk mengistirahatkan tubuh juga hatinya tapi Melisa ingat bahwa hari ini ia akan sibuk sekali karena akan banyak koleksi baru yang datang ke toko.


Semenjak konten 'the hot boss' yang dibuat Melisa meledak dan menjadi viral kini perputaran barang di toko Riland berjalan dengan cepat karena banyaknya pelanggan yang berdatangan.


"Gila gila gila !!! Pecah bangeeeeetttt," pekik Leah terdengar puas saat video terakhir yang ia unggah mendapatkan respon yang luar biasa.


Tagar 'the hot boss' semakin terkenal dan banyak digunakan. Pengikut Riland pun makin bertambah begitu juga Melisa.


"Lagian kalian kan masih pada jomblo, kenapa gak coba aja ?" Lanjut Leah tanpa dosa. Padahal saat ini jantung Melisa terasa jatuh terjun bebas saking terkejutnya, sedangkan Riland terlihat menelan ludahnya paksa karena jakunnya yang bergerak naik turun.


"Kamu ada-ada aja !" Ucap Melisa sembari memukul halus pundak temannya itu.


"Lah benar kan ? Kalian masih pada single, kenapa gak di coba aja ?" Sahut Melisa yang masih fokus pada layar laptopnya melihat hasil spektakuler dari unggahan video terakhirnya.


"Eh tapi Melisa almost unavailable, sebentar lagi akan menjadi milik babang Raya," lanjut Leah sambil tertawa.


"Dih... Apaan sih ? Aku ma Raya itu cuma temenan aja," sahut Melisa.


Dan...  ya pertemuan dengan Raya tak berarti apa-apa bagi Melisa. Hanya dua teman yang tidak bertemu sejak lama.


Sebutan teman juga sepertinya kurang cocok karena semasa sekolah dulu ia dan Raya tidak akrab sama sekali. Melisa juga heran bagaimana  Raya bisa mengingat dirinya ? Rasanya tak mungkin Raya si selebriti sekolah mengenalnya yang merupakan murid biasa saja.


Riland yang mendengarkan itu merasa sesuatu yang aneh pada dirinya. Ia tak suka saat nama Raya disebutkan dan yang semakin membuatnya terheran lagi adalah jawaban Melisa bahwa Raya hanya teman saja membuat hatinya lega.


"Jangan bilang lo baper gara-gara konten yang lo buat sendiri !" Batin Riland seraya meraup wajahnya dengan frustasi.


"Kamu baik-baik aja, Ri ?" Tanya Leah pada bossnya itu.


"Hah ?" Riland berkerut alis tak paham.


"Are you ok ? Kayanya lagi banyak beban pikiran," tanya Leah kemudian


"Baik, aku gak apa-apa kok. Takjub aja sama hasil kerja keras kalian. Thanks yaa," jawab Riland bohong. Saat ini ia terbebani masalah perjodohan dan juga Melisa yang mulai mempengaruhi hati dan pikirannya.


"Sebagai tanda terima kasih, bagaimana kalau siang ini kita makan siang bersama ?" Tanya Riland.


"Ditraktir ?" Tanya Leah penuh semangat sampai-sampai ia tolehkan kepalanya pada Riland untuk memastikan.


"Iya, aku traktir. Tinggal sebut aja kalian pengen makan dimana," jawab Riland.


"Mau pesan lewat online ?" Kali ini Melisa yang bertanya dengan wajah berbinar bahagia. Akhirnya ia ada alasan untuk menolak ajakan makan siang dari Raya.


Riland tak langsung menjawab, ia menatap wajah Melisa untuk beberapa saat. "Kita makan diluar aja yuk ?" Tanya nya dengan meredupkan pandangannya dan tersenyum manis pada gadis itu hingga membuat tubuh Melisa berdesir seketika.


"To-tokoknya tu-tup dong ?" Tanya Melisa terbata-bata. Ia tak sanggup mendapatkan tatapan mata dari Riland yang seperti itu. Di dalam sana hatinya telah meleleh seperti lilin yang terkena panasnya api.


"Hu'um tutup aja, kita makan di luar. Kamu siap-siap ya," ucap Riland pada Melisa seolah tak ada Leah disana.


"O-oke," sahut Melisa. Padahal semalam ia sudah bertekad untuk tak mau menaruh hati lagi pada bossnya itu tapi baru juga Riland menatapnya seperti itu, bunga-bunga cinta di hatinya kembali bermekaran dengan subur.


***


"Maaf kami mau tutup," ucap Melisa pada seorang perempuan yang baru saja memasuki tokonya.


Perempuan itu masih saja melangkahkan kakinya dengan anggun walaupun Melisa telah memberikan peringatan. Rambutnya yang panjang dan bergelombang ikut bergoyang-goyang saat ia berjalan. Tubuhnya yang ramping dibalut dress warna hitam yang panjangnya hanya setengah paha dan Stiletto warna mocca menyempurnakan penampilannya saat ini. Wajahnya berpoles make up natural dengan bentuk alis sempurna layaknya hasil riasan MUA.


Penampilannya terlalu wah untuk memasuki toko pakaian yang Riland punya.


"Mbak, maaf kami akan tutup dan buka kembali nanti sore," Melisa kembali mengulang ucapannya dengan tersenyum ramah agar perempuan dihadapannya tidak merasa tersinggung.


"Saya bukan mau belanja, saya datang untuk bertemu Riland. Katakan pada Riland, tunangannya ingin bertemu sekarang juga,"


To be continued