The Hot Boss

The Hot Boss
Tak Baik-baik Saja



" Mama di mana,Bi ?" Tanya Riland sembari menggandeng tangan Melisa dengan tiba-tiba agar gadis itu tak melarikan diri.


Melisa melihat heran pada genggaman tangan Riland. "Ma- Mama ?" Tanya Melisa dengan dahi berkerut karena tak paham. "A- apa maksudnya ini, Pak ? Tanya nya lagi, karena saat ini Riland menautkan jemarinya dengan erat dan membawa Melisa masuk ke dalam rumah itu dengan sedikit paksaan. Susah payah Melisa menyamakan langkahnya.


Riland tak menjawabnya, yang ia lakukan adalah membawa Melisa melintasi ruangan demi ruangan rumah mewah itu. Hingga akhirnya mereka tiba di halaman belakang yang sudah di sulap menjadi tempat makan yang begitu nyaman.


Sudah banyak orang di sana, dan benar kata Riland. Sebagian besar dari mereka adalah orang tua. "Nah itu mereka datang !" Ucap seorang wanita yang masih terlihat cantik walaupun usianya tak lagi muda. Ia menyambut kedatangan Melisa dan Riland dengan begitu antusias.


Wanita itu berjalan mendekati pada Riland dan Melisa yang masih berdiri di bingkai pintu. "Mama," sahut Riland sembari tersenyum. Sedangkan di bawah sana Riland semakin eratkan tautan jemarinya karena Melisa mulai berontak untuk memisahkan diri.


" Untuk hari ini jangan panggil aku dengan sebutan Bapak atau Bos. Panggil aku Riland aja," bisik Riland sambil tersenyum, sesaat sebelum wanita paruh baya itu tiba di hadapan keduanya.


"A- apa ? Gi- gimana maksudnya ?" Tanya Melisa cemas.


Belum juga Riland menjawab pertanyaan itu, wanita paruh baya tadi sudah lebih dulu dan berbicara "Jadi ini yang namanya Melisa ? Riland banyak cerita tentang kamu, pantas saja atuh da sangat geulis (cantik) begini," ucapnya dengan logat bahasa Sunda yang begitu kental.


"Iya Ma, ini Melisa," sahut Riland. Ia mencium pipi wanita itu tanpa melepaskan genggaman tangannya pada Melisa.


"Saya Mamanya Riland. Senang akhirnya bisa ketemu juga sama kamu," wanita itu pun memberikan sapa lewat ciuman di pipi. Sama seperti yang ia lakukan pada anaknya tadi.


Melisa membalas sapaan itu dengan canggung. Sungguh ia tak mengerti dengan apa yang tengah terjadi. Ia melihat pada Riland yang sedang tersenyum. Lelaki itu terlihat bahagia karena sang mama bisa menerima kehadiran Melisa dengan baik.


"Ayok sini, Mama kenalin sama yang lain," ajak mama Riland pada Melisa. Tapi, gadis itu sulit untuk bergerak karena tangan Riland masih menggenggamnya erat.


Mama Riland pun melihat pada genggaman erat tangan anaknya itu pada Melisa. "Riland, kenapa disandera gini Melisa nya ? Lepasin dulu ! Mama mau ngenalin dia sama yang lain,"


"Melisa sama aku aja, Ma. Dia orangnya pemalu," tolak Riland.


"Gak usah malu-malu... Ayo kenalan dulu ! Nanti juga mereka akan jadi keluarga kamu,"


"Eh ?" Mata Melisa membola. Sungguh ia tak mengerti dengan apa yang terjadi.


Seorang laki-laki yang juga tak lagi muda, datang menghampiri. Wajahnya masih terlihat tampan walau telah dihiasi beberapa kerutan. Tubuhnya tinggi tegap seperti Riland.


"Eh ari Papa dari mana saja ? Ini calon mantu kita udah datang," ucap mama Riland pada lelaki yang Melisa yakini sebagai ayah bosnya itu.


"Me- menantu ? Se- sepertinya ibu salah. Sa- saya bukan-" Mendadak tenggorokan Melisa terasa kering dan ia sulit untuk bernafas hingga ia tergagap saat berbicara.


"Ini Melisa, Pa," potong Riland cepat. Ia tak membiarkan Melisa untuk menyelesaikan kalimatnya.


Melisa memandang Riland dengan mata melotot diserta bibir yang bergerak- gerak dan sedikit manyun. Berusaha untuk mengucapkan sesuatu dari mulutnya.


Tubuh Melisa gemetar, debaran jantungnya menggila dan tangannya yang bergandengan dengan Riland sudah basah karena keringat.


Tak hanya orangtuanya Riland saja yang menyambut kedatangan mereka. Tapi juga sang adik yang sebentar lagi akan menikah pun datang mendekati mereka. "Tuh kaaan... Aku udah yakin kalau kalian tuh pasti ada apa-apanya. Soalnya iklan kalian tuh bikin baper. Aku Indira, adiknya Riland. Senang banget akhirnya bisa ketemu Kak Melisa secara langsung," ucap sang adik tak kalah hangatnya.


Melisa hanya tersenyum canggung menanggapinya. Semuanya terjadi begitu tiba-tiba dan tanpa disangka-sangka. Saat ini Melisa masih bisa berdiri di atas kedua kakinya dalam keadaan waras pun merupakan sesuatu yang luar biasa.


"Yuk Dira, ajak Melisa untuk ketemu yang lainnya," ajak Mama Riland dan kali ini baik Melisa maupun Riland tak bisa menolaknya karena Mama Riland dan adiknya sedikit memaksa.


"Ingat jangan panggil aku dengan kata Bapak atau Bos," bisik Riland mengingatkan sebelum Melisa pergi dari sisinya. Meninggalkan Riland dan ayahnya.


Beberapa kali Melisa tolehkan kepalanya pada Riland seolah-olah meminta pertolongan. Rasa bingung, cemas, dan takut bercampur aduk dalam hatinya saat ini.


Ia tak percaya jika Riland membawanya untuk bertemu keluarga besar lelaki itu tanpa memberi tahunya lebih dulu. Dan yang lebih gila lagi, semua orang mengira jika dirinya adalah kekasih Riland. Jika saja Melisa tahu, tentu ia akan menolaknya.


Mau tak mau Melisa menjawab "iya" jika seseorang bertanya tentang hubungannya dengan Riland. Ia tak mau membuat drama dengan mengatakan hal yang sebenarnya. Melisa yakin Riland pasti mempunyai alasan khusus kenapa ia melakukan itu. Dan Melisa akan bertanya tentang hal ini nanti. Setelah acara makan siang ini usai.


Lama-lama Melisa mulai terbiasa melakukan drama itu. Drama jika dirinya adalah kekasih Riland. Ia pun tak menyangka jika keluarga Riland menyambutnya dengan hangat. Padahal Melisa bercerita tentang keluarganya yang sederhana tapi tak ada seorangpun yang menatapnya rendah.


Bahkan mama Riland dan juga salah satu tantenya mengajak Melisa untuk pergi ke mall bersama di hari Minggu yang akan datang. Melisa menjawab harus bertanya dulu pada Riland.


"Duh... Ini mah calon mantu idaman pisan (banget). Apa-apa izin sama suami," ucap Tante Riland dengan suara nyaring hingga Riland pun melihat ke arah Melisa.


Deg !


Jantung Melisa hampir saja loncat dari tempatnya saat ia melihat Riland tersenyum hangat padanya. Cepat-cepat Melisa alihkan pandangannya karena tatapan mata Riland yang teduh, tak aman bagi kesehatan jantungnya.


"Emang kalian mau ajak Melisa ke mana ?" Tanya Riland yang kini duduk di atas sandaran tangan kursi Melisa. Suaranya begitu hangat tak ketus seperti saat lelaki itu berada di tempat kerjanya.


"Aku ini orangnya posesif banget lho. Gak suka Melisa pergi sama siapa-siapa. Iya kan, Sayang?" lanjut Riland sembari tersenyum lembut pada Melisa yang saat ini melihatnya tak percaya. Matanya membulat sempurna dengan bibir yang sedikit terbuka.


"Ini kan sama Mama, bukan siapa-siapa," protes sang Mama tak terima.


"Minta duit yang banyak sama Riland, terus kita belanja. Kalau Riland pelit tinggalin aja, Mel ! Cari yang lain !" Sahut sang Tante memanas-manasi.


Bukannya marah, tawa Riland malah pecah karenanya. "Janganlah ! Kalau Melisa cari yang lain, terus aku sama siapa ? aku maunya sama Melisa seorang. udah sayang banget sama dia," Sahut Riland.


Lalu Mama Riland dan tantenya saling berbicara lagi. Tapi tak satupun dari ucapan mereka masuk ke dalam kepala Melisa. Dunia Melisa berhenti berputar saat Riland mengatakan "aku maunya sama Melisa seorang. udah sayang banget sama dia,"


Melisa sadar ini hanya sebuah sandiwara, tapi apa yang tadi Riland katakan membuat hatinya menjadi tak baik-baik saja.


bersambung...