
Mata Riland melihat dengan terheran saat ia dapati Raya hanya seorang diri keluar dari cafe itu. Ia pun berjalan mendekati lelaki yang baru saja menyebrangi jalan. " Melisa mana ?" Tanya Riland.
Bukannya menjawab pertanyaan Riland, Raya malah menatap tak suka padanya. Bahkan ia melayangkan senyuman muak dan merendahkan pada Riland.
"Gue tanya, mana Melisa ?" Tanya Riland lagi.
"Lo bisa cari dia di dalam, manusia kaya kalian berdua emang cocok bersama," jawab Raya sembari membuang ludah dengan kasar. Tanda tak suka pada Riland dan juga Melisa.
Riland tak menanggapinya, yang ia lakukan adalah berlari kecil menyebrang jalan untuk mendatangi Melisa yang katanya masih berada di dalam cafe itu. memastikan gadis itu baik-baik saja.
Sedangkan Raya, ia segera bergegas menuju ke mobilnya. Sudah tak sabaran untuk meninggalkan tempat itu. Raya akan pergi bersama teman-temannya untuk melupakan Melisa yang tak ingin kembali padanya.
"Hai bos," sapa salah satu pelayan saat ia melihat Riland masuk ke dalam cafe.
"Mau di sini apa take away ?" Tanya pelayan itu lagi.
"Melisa ! Aku lagi nyari Melisa !" Sahut Riland sembari edarkan pandangannya ke berbagai sudut ruangan.
"Melisa duduk di belakang, dekat taman,"
Belum juga pelayan itu menyelesaikan kalimatnya, Riland sudah lebih dulu melangkahkan kakinya ke dalam cafe. Menuju Melisa berada saat ini.
Riland semakin cepat langkahkan kakinya, ketika ia melihat Melisa tengah duduk membelakangi di salah satu kursi. "Kamu gak apa-apa ?" Tanya Riland sembari dudukan tubuhnya tepat di hadapan gadis itu.
Melisa terperanjat untuk sesaat karena kehadiran Riland di sana yang tiba-tiba. "Saya baik-baik saja," jawab Melisa seraya meletakkan gelas kopinya di atas meja.
"Syukurlah...," Desah lega lolos dari bibir Riland dan itu membuat Melisa merasakan hangat dalam dadanya. Ia senang Riland perduli padanya.
"Kalau begitu, ayo pulang ! Saya yang anterin !" Ajak Riland dan perkataannya tak terbantahkan.
Melisa yang masih diliputi rasa takut setelah bertemu Raya, mengiyakan ajakan bosnya itu. Ia pun sadar jika dirinya tak akan sanggup untuk pulang sendirian. Ia pasti akan merasa was-was dan tak aman. Melisa takut Raya kembali muncul di hadapannya.
Keduanya berjalan berdampingan menuju pintu keluar. Tak ada jemari yang saling bertautan seperti malam sebelumnya. Keduanya bersikap layaknya seorang bos dan bawahannya. Bahkan Melisa berjalan di belakang Riland. Ia tak berani mendahului bosnya itu.
Sesampainya di depan toko, mereka mendapati Leah sudah berdiri menunggu kedatangan Riland dan juga Melisa. Wajah gadis itu terlihat menegang karena cemas.
"Mel, kamu gak pa-pa ?" Tanya Leah sembari berjalan mendekati.
"Aku baik-baik saja, kamu jangan khawatir," jawab Melisa sembari tersenyum.
"Leah, saya anterin Melisa pulang dulu ya !" Riland langsung membuka kunci otomatis mobilnya. "Kalau ada apa-apa telepon saja. Saya gak akan lama kok," lanjut Riland sembari membukakan pintu mobilnya untuk Melisa.
"Oke bos, Jangan khawatir ! Sebentar lagi juga cowokku mau datang buat nemenin," sahut Leah.
"Aku pulang ya," ucap Melisa, sesaat sebelum memasuki mobil bosnya itu. Ia pun melambaikan tangannya pada Leah sebagai tanda perpisahan.
Sedangkan Riland segera berlari ke pintunya sendiri, lalu memasukkan tubuhnya ke dalam mobil. Tak lama, keduanya pun pergi meninggalkan toko distro pakaian itu.
Di perjalanan, Melisa tak banyak bicara. Ia hanya diam memperhatikan jalan. Apa yang Melisa lakukan tak luput dari perhatian Riland.
"Sorry...," Ucap Riland, membuat Melisa melihat kepadanya.
"Sorry.. untuk apa ?" Tanya Melisa dengan kedua alisnya yang berkerut tak paham.
"Sorry karena aku, kalian jadi seperti ini," sahut Riland seraya membalas tatapan mata Melisa. Ada rasa sesal tersirat dalam tatapannya.
"Yang terjadi sama kalian, pasti gara-gara foto kita kan ? Dan semua itu gara-gara saya yang menggandeng tanganmu. Sorry...," sesal Riland.
Melisa tak menampik tapi juga tak membenarkan, ia hanya terdiam dan kembali fokus pada jalanan.
"Mel ?" Tanya Riland karena Melisa tak jua memberikan jawaban.
"Hu'um ? Ini bukan kesalahan Bapak saja. saya juga salah kok," jawab Melisa. Bagaimana mungkin dirinya bisa menyalahkan Riland saja, padahal ia pun ikut bersalah di dalamnya dengan tak menolak genggaman tangan bosnya itu.
"Jadi gimana dengan hubungan kamu sama dia?" Tanya Riland.
"Kami...," Melisa menjeda ucapannya karena sedikit merasa ragu.
Riland tolehkan kepala, menunggu jawaban darinya.
"Kami.. sudah tak ada hubungan apa-apa lagi," jawab Melisa sambil tersenyum canggung.
"Lagian... Ada baiknya juga seperti ini. Lebih baik pisah di awal daripada setelah berhubungan lama ternyata dia kasar. Saya masih waras Pak, masih ingin selamat," lanjut Melisa sambil tertawa. Dan apa yang ia ucapkan memang benar adanya. Melisa tak mau dengan lelaki kasar yang mengintimidasi. Ia juga tak mau tersiksa dalam hubungan yang pasti akan menjadi toxic itu.
Riland manggut-manggut paham mendengarnya. Ia pun lajukan mobilnya tanpa bertanya lagi. Hingga beberapa menit kemudian, mereka tiba di tempat kost yang Melisa tinggali.
"Oh.. Oke," Melisa mengangguk paham. Ia berpikir jika besok pasti ada suatu acara formal yang berkaitan dengan pekerjaan. Karena sebelumnya pun ia pernah menemani Riland ke acara perkumpulan pengusaha muda. Waktu itu ia bertugas menjadi asisten Riland.
****
Esok harinya semua berjalan lancar seperti biasanya. Suasana begitu tenang, tak ada lagi gangguan dari Raya atau Mona. Semuanya bekerja dengan penuh semangat.
"Mel... Stok baju couple baru udah datang ! Lucu-lucu banget tau gak sih ?? Aku pengen banget hoodie yang matching kaya gini," Leah menunjukkan sepasang hoodie berwarna hitam yang gambarnya saling relevan. Biasanya digunakan oleh mereka yang berpasangan.
"Eh iya lucu banget !!" Sahut Melisa tak kalah antusiasnya.
"Eh si bos kan minta dibikinin iklan untuk baju-baju couple ini. Kita mulai bikin rancangan iklannya yuk?" Ajak Leah penuh semangat.
Tapi yang diajak malah menggelengkan kepalanya pelan. "Gak tau deh... Eh tapi gimana kalau bintang iklannya jangan aku sama Riland lagi. Aku males tunangannya drama," jawab Melisa.
"Tapi kalian feel nya udah dapat banget, masa sih di ganti?" Protes Leah.
"Aku males banyak drama, beneran... " sahut Melisa sembari mencebikkan bibirnya.
Drama dengan Raya pun sudah cukup menguras tenaganya, apalagi jika ditambah dengan Mona. "Haahhhh, bisa-bisa cepet tua aku," desah Melisa nelangsa.
"Ya udah, tar kita coba tanya si bos gimana baiknya," ucap Leah, berusaha menenangkan temannya yang terlihat gelisah itu.
***
"Pergi sekarang yuk ?" Ajak Riland. Tiba-tiba saja lelaki itu muncul dari arah dalam. Riland terlihat sangat tampan dengan blazer berwarna navy dan celana jeans senada. Penampilannya lebih rapih dari biasanya.
"Kalian mau pergi sekarang ?" Tanya Leah.
"Hu'um takut telat," jawab Riland sembari melihat jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang.
Melisa pun berdiri dan merapikan bajunya. Hari ini ia mengenakan celana kulot berwarna khaki dan kemeja putih lengan panjang, sesuai yang Riland perintahkan.
"Acara formal ya ?" Tanya Leah.
"Iya, yang datang banyaknya orang tua," sahut Riland membenarkan.
"Hah ? Memang acaranya apa, Pak ?" Kali ini Melisa yang bertanya dengan wajah cemas.
"Makan siang biasa. Udah, gak usah takut. Yuk pergi," ajak Riland dan Melisa pun menurutinya.
***
Cukup lama mereka berkendara karena jalanan kota Bandung cukup ramai di jam-jam menuju makan siang. Banyak restoran dan hotel yang mereka lalui tapi Riland tak juga menepikan mobilnya.
"Acaranya di mana, Pak ?" Tanya Melisa.
Riland tolehkan kepalanya dan tersenyum. "Bentar lagi sampai kok,"
Melisa makin terheran saat Riland membelokkan mobilnya ke sebuah kawasan perumahan elit dan terkenal di kota itu. "Selamat siang, Pak Riland," ucap seorang petugas keamanan yang menjaga gerbang masuk perumahan itu. Dan ia pun segera mempersilahkan Riland untuk melanjutkan perjalanannya. Melihat itu, Melisa yakin jika Riland sering datang kesini atu mungkin dia tinggal disini ?
"Ki- kita mau kemana Pak ?" Tanya Melisa cemas.
"Acara makan siangnya di adakan di rumah, katanya sih biar lebih terasa kekeluargaannya," jawab Riland dengan santainya.
Setelah melalui beberapa blok, akhirnya mereka tiba di sebuah rumah bercat putih yang terlihat begitu asri dengan banyaknya tanaman dan pepohonan hijau di halamannya.
Di sana juga sudah terdapat beberapa mobil mewah yang terparkir dan sepertinya mereka bertamu pada rumah yang sama yang akan Riland dan Melisa datangi.
"Ayo !" Riland membuka kunci otomatis pintu mobilnya dan mengajak Melisa untuk keluar.
"Bapak yakin tempatnya di sini ?"
"Yakin lah, ayo turun !" Ajak Riland lagi.
Walaupun ragu akhirnya Melisa menuruti perintah bosnya itu. Ia turun dari mobil dan berjalan berdampingan dengan Riland menuju rumah bercat putih itu.
Baru saja Melisa dan Riland tiba di pintu, seorang wanita paruh baya mendatangi keduanya dengan terpogoh-pogoh. "Den Riland baru datang ? Bapak dan ibu sudah nunggu dari tadi, Den. Ayo cepat masuk,"
"Mama di mana,Bi ?" Tanya Riland sembari menggandeng tangan Melisa dengan tiba-tiba agar gadis itu tak melarikan diri.
to be continued ♥️
maafkan daku jarang update yaaaa