
Melisa letakkan piring buah yang ia pegang. Tiba-tiba saja ia lebih membutuhkan segelas air putih untuk membuatnya tenang. Belum lama, hatinya merasa senang dengan kata-kata manis yang Riland ucapkan padanya. Tapi kini Mona merusak segalanya. Bukannya Melisa tak percaya pada Riland, hanya saja semua terjadi begitu tiba-tiba. Membuat Melisa merasa tak yakin.
Riland menatap Melisa dari kejauhan, memperhatikan pergerakan gadis itu. Ia tahu jika Mona baru saja menghampiri gadis itu dan berbicara tentang sesuatu. Setelah itu Riland melihat Melisa sedang minum seorang diri dengan pandangan kosong ke sembarang arah. Riland mendesah berat, ia yakin Mona telah mengatakan sesuatu yang buruk pada gadis yang disukainya itu.
"Bentar ya, Om," ucap Riland. Ia berpamitan pada kerabatnya itu agar bisa mendatangi Melisa yang terlihat tak baik-baik saja.
"Ok, nanti kita sambung lagi. Om senang dengan cara berpikir mu yang dinamis,"
Riland tersenyum pada kerabatnya itu "oke,Om," lalu ia pun pergi meninggalkannya.
"Hai," sapa Riland sembari menepuk pelan pundak Melisa hingga gadis itu terperanjat karena terkejut dengan kedatangan Riland.
"Are you ok ?" Tanya Riland sembari tundukkan kepalanya agar bisa lebih dekat melihat pada Melisa.
Gadis itu pun menjadi salah tingkah karena jarak Riland yang terlalu dekat dengannya. "A-aku gak apa-apa," sahut Melisa sembari meletakkan gelas kosong yang di pegang nya.
"Dia ngomong apa sama kamu ?" Tanya Riland tanpa basa- basi.
"Siapa ?" Melisa balik bertanya seolah tak paham.
"Mona," sahut Riland lagi. Rahangnya mengeras saat mengatakan hal itu. Rasa tak sukanya terlihat begitu kentara.
Mendapat pertanyaan seperti itu membuat perasaan Melisa kacau tak karuan"Ga- gak ngomong apa-apa," Jawabnya terbata- bata.
Riland tersenyum penuh arti, "kamu bohong... Gak mungkin Mona gak ngomong apa-apa sama kamu. Aku tahu banget gimana dia," sahut Riland.
Dibandingkan dengan membicarakan tentang apa yang Mona ucapkan tadi, Melisa lebih ingin menanyakan tentang perasaan Riland yang sebenarnya. Apakah bosnya itu serius dalam pernyataan cintanya tadi ? Atau semua hanya lah sebuah sandiwara.
"Bolehkah aku bertanya tentang sesuatu?" Tanya Melisa seraya menatap mata Riland dalam-dalam.
"Sure, kamu bisa bertanya apa saja padaku,"
Melisa menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. Rasa bimbang tiba-tiba saja menghampirinya. Ia berpikir, apakah sekarang waktu yang tepat baginya untuk berbicara tentang perasaan pada Riland. Ataukah harus menunggu waktu yang tepat ? Waktu dimana mereka hanya berduaan saja, hingga keduanya bisa saling berbicara dengan serius.
"Kamu mau nanya apa sama aku ?" Tanya Riland sembari menautkan kedua alisnya karena Melisa hanya terdiam terpaku di tempatnya berdiri.
"A-aku mau nanya...,"
"Hei kalian ! Heran deh mojok melulu ! Kamu harus bisa tahan diri, Riland,"
"Kalian ditunggu di taman bawah, ayo cepat !" Ucapnya lagi sembari menarik lengan Melisa untuk mengikutinya.
"Tan, aku lagi ngomong dulu sama Melisa," tahan Riland. Ia tak mau pergi sebelum Melisa menyelesaikan pertanyaannya dan juga menjelaskan tentang apa yang Mona katakan tadi. Walaupun Melisa terlihat baik-baik saja, tapi Riland tahu jika sebenarnya gadis itu tengah dalam kondisi hati yang kacau tak karuan.
Namun bagi Melisa, kedatangan sang Tante adalah pertanda untuk dirinya agar menunda pembicaraan dengan Riland. "Sebaiknya kita ke taman dulu. Gak enak kan, nanti di sangka mojok terus berdua," ucap Melisa beralasan.
"Tapi kita belum selesai ngomong, Mel," sahut Riland yang tak ingin pergi.
"Kalian bisa ngomong setelah acara selesai !" Ujar sang Tante menengahi keduanya. Dan Riland pun tak bisa menolaknya karena tantenya itu sudah menyeret Melisa dari hadapannya.Pada akhirnya, Riland mengikuti keduanya walaupun sebenarnya dia enggan.
Seperti yang tantenya katakan tadi, semuanya telah berkumpul di taman. Di hadapan mereka berdiri adik perempuan Riland dan seorang lelaki yang sejak tadi menemaninya. Tak hanya mereka berdua saja, orang tua Riland pun berdiri tak jauh dari keduanya.
"Terimakasih untuk kedatangan para saudara semuanya," ucap ayah Riland membuka pembicaraan.
"Seperti yang kita ketahui, Raisa, adiknya Riland akan menikah dengan Aldi dalam waktu yang tak lama lagi. Dan walaupun Raisa akan melangkahi sang kakak, tapi Riland pun akan menyusul kemudian. Karena hari ini, Riland sudah membawa calon istrinya untuk bertemu kita semua," lanjut ayah Riland membuat Melisa tercengang saat mendengarnya.
"Tenang Mel, semua akan baik-baik saja. Kamu hanya cukup berkata iya saja. Selanjutnya saya yang atur," bisik Riland. Dan Melisa hanya mengulum senyumnya saja. Ia pun tak mungkin menyangkalnya dan membuat Riland malu. Melisa masih punya hati untuk tak melakukan itu semua.
"Sebenarnya kita ingin Riland menikah lebih dulu, tapi katanya ia dan Melisa masih mempunyai beberapa hal yang harus di selesaikan sebelum keduanya melangkah ke jenjang pernikahan,"
"Tapi kini kami merasa tenang karena Riland ternyata sudah punya calon istri," potong mama Riland sambil tersenyum lebar.
Melisa terdiam, ia merasa ngilu dalam hatinya. Melisa berpikir jika apa yang dikatakan Mona benar adanya. Riland hanya memanfaatkannya saja agar tak didesak menikah oleh keluarganya.
Wajah Melisa menjadi pucat, sedangkan di seberang sana Mona tersenyum sinis melihatnya.
Sepanjang acara itu berlangsung, Melisa tak lagi bersemangat. Debaran jantungnya yang menggila karena kata-kata manis Riland pun sirna. Ia merasa hampa dan tertipu.
***
"Mel, kamu tadi mau tanya apa ?" Tanya Riland saat acara itu telah selesai dilaksanakan. Kini keduanya sudah berada di dalam mobil untuk kembali pulang ke pakaian milik Riland.
"Aku gak jadi nanya, karena aku udah tahu jawabannya," ucap Melisa dengan senyumannya yang hambar.
bersambung