
"A- apa ada masalah sampai-sampai kamu disuruh pulang ?" Tanya Melisa dengan nada cemas. Ia takut fotonya yang sudah tersebar menjadi penyebab disuruh pulangnya Riland.
Riland menatap Melisa dengan tatapan matanya yang sulit untuk diartikan, membuat gadis itu menjadi gugup. "Mak- maksud saya, apa Bapak mendapatkan masalah hingga dipanggil untuk pulang. A- apa karena fo- foto kita semalam ?" Tanya Melisa terbata-bata. Sungguh ia tengah diliputi rasa cemas saat ini.
Melisa takut jika foto dirinya dengan Riland yang bergandengan tangan akan menyebabkan suatu masalah bagi pertunangan bosnya itu.
Riland tak langsung menjawabnya, sedangkan Leah memasang telinganya agar dapat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi antara Riland dan Melisa.
"Mmhhh... Termasuk itu," jawab Riland dengan entengnya.
"Termasuk foto kita ? Apa tunangan Bapak marah ?" Tanya Melisa takut-takut.
"Gak tahu, dan saya gak mau tahu," jawab Riland mengenai Mona sang tunangan. "Ayo kita ke atas, saya ingin memeriksa laporan yang telah kamu buat," lanjut Riland yang sepertinya tidak ada beban sama sekali.
Sedangkan Melisa, ia merasa cemas luar biasa. Tiba-tiba saja dirinya merasa menjadi seorang perempuan tak baik karena bergandengan tangan dengan seorang laki-laki yang sudah bertunangan. Walaupun dirinya sangat menyukai bosnya itu, rasanya tak pantas Melisa melakukannya.
Tapi sialnya Melisa tak hanya suka saja, tapi ia sudah jatuh cinta padanya. Di mata Melisa Riland begitu pintar dan bijaksana sebagai seorang pemimpin. Lelaki itu tak pelit dan juga mau bekerja keras bersama tak hanya memerintah saja. Parasnya yang tampan dan tubuhnya yang tinggi tegap bagaikan pahatan patung dewa Yunani membuat Riland terlihat sempurna bagi Melisa.
Bahkan saat ini Melisa lebih mengkhawatirkan tentang Riland daripada dirinya sendiri. Ia sudah pasrah dengan apa yang Raya pikirkan tentangnya terkait foto mesranya dengan Riland.
"Jahatkah aku yang merasakan bahagia karena bisa menggenggam tangan lelaki yang aku cinta walaupun dia sudah bertunangan," tanya Melisa dalam hatinya. Rasa cemas tak mau pergi dari hati dan pikirannya.
"Ngelamunin apa sih ?" Tanya Riland karena Melisa tak menuruti perintahnya untuk pergi ke lantai dua dan memeriksa laporan bersama. Yang gadis itu lakukan adalah menatap kosong ke sembarang arah.
Mendengar Riland bertanya seperti itu membuat Melisa mengangkat wajahnya dan menatap bosnya itu takut-takut. "Sa- saya harus bagaimana jika...,"
"tentang foto itu, jangan terlalu difikirkan," potong Riland cepat. "Ayo, saya ingin segera memeriksa laporan yang kamu buat," lanjutnya tak ingin di bantah.
"Baiklah," sahut Melisa menyetujui. Ia terpaksa lakukan itu karena sang bos sangat serius dengan perintahnya. Padahal Melisa merasa ada suatu ganjalan dalam hatinya karena apa yang jadi pertanyaannya belum Riland jawab.
"Leah, aku ke atas ya," ucap Melisa berpamitan. Leah yang sedari tadi fokus mendengarkan menjadi sedikit kecewa karena ia tak cukup mendapatkan informasi tentang apa yang terjadi sebentar antara Riland dan Melisa.
"Oh ok, moga kerjaannya lancar," ucap Leah dengan rasa kecewa yang bisa ia sembunyikan. Hingga Melisa dan Riland tak bisa menebak apa yang ada dalam pikiran gadis itu.
Riland berjalan lebih dulu dan Melisa membuntutinya. Dari arah belakang, Melisa bisa melihat sampai puas pemandangan indah yangl ada di hadapannya saat ini. Yaitu tubuh tinggi tegap Riland dengan pundaknya yang kokoh.
Kemeja hitam yang Riland gulung kainnya sampai lengan, memperlihatkan guratan-guratan urat tak berlebihan di lengannya. Membuat lelaki itu terlihat semakin hot saja.
Melisa membuang arah pandangannya, berusaha tak melihat pada bos-nya itu. Mati-matian Melisa memikirkan hal lain agar kepalanya tak berisikan Riland saja. Setelah kejadian tadi malam perasaan Melisa semakin menjadi-jadi, sedangkan Riland terlihat biasa saja.
Sesampainya di lantai dua, Riland berjalan menuju meja kerjanya yang terletak lebih jauh dari tangga hingga Melisa lah yang lebih dulu sampai ke mejanya. Gadis itu dudukan tubuhnya dengan mata yang terus memperhatikan pergerakan bos nya itu.
Padahal Melisa telah berusaha untuk memikirkan hal lain tapi matanya tetap saja melihat pada Riland. Seperti saat ini, Rilang memicingkan mata karena terkena sinar mentari pagi yang menimpa wajahnya dan membuatnya silau. Ia melengkungkan bibirnya karena kepanasan. Tapi Melisa malah melihatnya dengan penuh puja. Riland nampak keemasan di bawah terpaan sinar mentari pagi itu.
"Ya Tuhan....," Gumam Melisa sembari tundukkan kepalanya agar Riland tak melihatnya sedang memperhatikan lelaki itu dengan penuh damba.
Melisa menengadahkan kepalanya melihat pada Riland, masih dengan tatapan penuh puja yang sedari tadi ia layangkan.
"Kamu kenapa ?" Tanya Riland sembari tertawa, menbuat Melisa kembali ke alam sadarnya.
"Ah.. maaf, Pak," sahut Melisa malu-malu.
"Mana laporannya ?" Tanya Riland.
Melisa menyalakan kembali layar laptopnya dan tanpa ia sangka, Riland berjalan mendekati, menuju kursi yang Melisa duduki. Lelaki itu bungkukkan tubuhnya hingga kepalanya kini hanya berjarak beberapa sentimeter saja dari kepala Melisa.
Matanya menatap layar, dan salah satu telapak tangan kekarnya Riland tapak kan ke atas meja. Jaraknya yang terlalu dekat membuat debaran jantung Melisa bertalu-talu.
Dan wangi tubuhnya yang beraroma kayu-kayuan bercampur musk menguar, memanjakan indra penciuman Melisa hingga membuat darahnya berdesir hangat dan bulu-bulu halusnya pun meremang karenanya.
Cukup lama Riland lakukan itu, membaca laporan yang Melisa buat dengan jarak yang sangat dekat.
"Saya suka kamu," ucap Riland dengan suaranya yang berat membuat tubuh Melisa tersentak saat mendengarnya.
"A- apa, Pak ?" Tanya nya tak percaya. Sejak tadi pagi Riland selalu membuatnya bicara dengan tergagap.
"Hu'um ?" Gumam Riland dengan menautkan kedua alisnya. tak paham dengan pertanyaan yang Melisa layangkan.
sedetik kemudian ia pun sadar dengan apa yang dikatakannya tadi. "Ah sorry.. maksudnya, aku suka laporan yang kamu buat. Sangat mudah untuk dibaca, runtut, dan jelas di setiap poinnya. Good job, Mel," sahut Riland seraya berdiri dan meremas gemas kedua pundak Melisa dengan telapak tangannya. Melisa menarik nafas dalam dengan debaran jantung yang kian menggila.
Untuk sesaat Melisa merasa terbang tinggi di awan, tapi jawaban Riland kemudian membuatnya tersenyum masam.
"Terimakasih, syukurlah jika Bapak suka," sahut Melisa dengan sebuah senyuman yang ia paksakan.
Sedangkan Riland tersenyum lebar, entah karena ia betul-betul suka pada laporan yang Melisa buat atau suasana hatinya yang sedang baik. Gestur tubuh lelaki itu dan juga mimik wajahnya menunjukkan jika Riland sedang merasa senang.
Melisa tundukkan kepala saat Riland kembali ke mejanya.
"Kita makan siang bareng, kaya tadi malam," ucap Riland yang kini sudah duduk di atas kursinya yang berseberangan dengan Melisa.
" A- apa Bapak gak takut nanti gosip diantara kita semakin bergulir seperti bola liar ?" Lagi-lagi tatapan mata Riland membuat Melisa tergagap dalam berbicara.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu membuat Riland sandarkan tubuhnya di kursi dan matanya menatap kian tajam pada Melisa. "apa kamu takut pacar kamu marah ?" Tanya Riland. Wajahnya tak lagi sumringah seperti tadi.
"Bu-bukan begitu... Saya takut jika tunangan anda marah,"
"Sudah saya bilang, saya tak peduli dan kami sudah tak lagi bertunangan," potong Riland.
to be continued