
Merasa diperhatikan, Raya pun tolehkan kepalanya. Ia balas tatapan Riland sama dinginnya.
Baik Riland maupun Raya sama-sama tak ingin kalah. Keduanya Saling tak alihkan pandangan satu sama lain hingga Raya tersenyum menyeringai pada Riland.
Raya mempunyai sebuah ide dalam kepalanya. Ia ingin melihat bagaimana reaksi bos dari kekasihnya itu, saat raya mengatakan hal ini. "Sayang ?" Hanya satu kata yang keluar dari mulut Raya tapi mampu membuat Riland menggebrak meja.
Posisi Melisa sangat kebingungan. Baru saja ia tolehkan kepalanya pada Raya yang memanggilnya dengan sebutan' sayang', namun sedetik kemudian Melisa melihat ke arah seberang mejanya di mana Riland menggebrak meja dengan keras. Hingga membuat sup ayam yang ada di dalam cup menumpahkan airnya.
"F*ck !" Maki Riland pelan sembari berdiri dan berjalan mencari tisu atau kain apapun yang bisa digunakan untuk membersihkan meja kerjanya.
Raya tersenyum miring saat tebakan yang ada dalam kepalanya ternyata benar. Ia yakin jika lelaki itu menaruh hati pada kekasihnya.
Ada hal yang lebih menyakitkan bagi Raya karena tanpa ia sangka, Melisa dengan spontan langsung berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju bos-nya itu. "Biar saya bantu," ucap Melisa membuat Raya terdiam terpaku di tempat duduknya.
Melisa menarik beberapa lembar tisu yang akan digunakannya untuk membersihkan meja Riland yang basah. Tapi, ia tak dapat melakukannya karena Riland merebutnya paksa. "Saya bisa melakukannya sendiri !" ucap Riland terdengar formal dan dingin. "Kamu bisa kembali ke mejamu ! Kasihan kan pacar kamu !" Lanjut Riland terdengar ketus sembari membersihkan mejanya dengan penuh emosi.
Melisa tak langsung pergi menuruti perkataan bosnya itu. Ia tetap berdiri tak jauh dari Riland yang sedang membersihkan meja. Menelan ludahnya dengan susah payah, karena sikap dingin Riland yang kian menyiksa.
"Ngapain kamu berdiri di situ ? Saya gak gaji kamu untuk hanya berdiam diri saja ! Apa kamu lupa tujuan kamu lembur malam ini ?" Hardik Riland membuat Melisa sedikit melonjakkan tubuhnya karena terkejut.
"I-iya Pak," sahut Melisa terbata-bata. Matanya mulai terasa panas dan juga buram karena air bening yang sudah menggenang. Entah kenapa kata-kata Riland yang membentaknya, membuat gadis itu merasa sangat kecewa.
Tapi cepat-cepat Melisa mengusapnya, hingga tak ada seorangpun yang boleh melihatnya. Baik itu Riland maupun Raya.
"Kenapa sih dia harus datang sekarang?" Tanya Melisa dalam hatinya. Ia melihat kesal pada Raya.
Hari ini terasa begitu kacau baginya. Kedatangan Mona, (terpaksa) jadian dengan Raya dan yang paling menyiksa dari itu semuanya adalah sikap dingin Riland yang datang dengan tiba-tiba.
Baru saja Melisa dudukan tubuhnya di atas kursi, kini ia disuguhi dengan pemandangan Riland yang membuang seluruh makan malamnya bersama beberapa lembar tisu yang basah tadi.
Padahal Melisa tahu jika makanan yang lainnya masih dalam keadaan aman tanpa terkena air tumpahan sup itu.
"Kamu ngelamunin apa sih, Yang?" Makan dulu yuk ? Nanti keburu dingin," Tanya Raya terdengar mesra.
Melisa tak langsung menjawab. Ia tatap lelaki yang duduk di sebelahnya itu dengan dalam.
"Maaf... tapi aku rasa kamu datang di waktu yang nggak tepat, aku benar-benar sedang banyak kerjaan," ucap Melisa.
Melisa tahu jika Raya dan teman-temannya memiliki standar tinggi tentang pekerjaan mereka hingga tanpa Raya sadari, Melisa merasa lelaki itu merendahkan pekerjaannya.
Belum juga Melisa menjawab pertanyaan Raya. Lelaki itu harus menerima panggilan telepon di ponselnya. "Maaf, aku harus terima ini," izin Raya sembari menekan tombol hijau pada layarnya.
"Ya halo," ucap Raya. Dan Melisa masih memperhatikan lelaki yang sudah menjadi pacarnya itu.
"Gue ? Mhhh gue lagi makan sama Melisa di XY," ucap Raya bohong pada lawan bicaranya dan itu membuat Melisa semakin merasa tak nyaman berada di dekat lelaki itu. Ia memberikan tatapan mata sinis pada Raya.
Raya pun sadar, ia segera menutup panggilan itu. "Dari Calya," jelas Raya menyebutkan salah satu teman SMA-nya dulu.
"Kenapa harus bohong ? Kenapa gak bilang nemenin aku kerja di toko ?" Tanya Melisa penuh tuntutan. Ia berdesis pelan saat mengatakannya. Melisa tak mau jika Riland melihatnya sedang berselisih paham dengan Raya.
"Gak tau, spontan aja," jawab Raya beralasan.
Melisa menggelengkan kepalanya pelan. Ia menatap nanar pada lelaki itu. "Mungkin kalian berpikir jika pekerjaanku ini tak bergengsi tapi percayalah aku mendapatkan banyak uang dari pekerjaanku yang halal ini," ucap Melisa terdengar emosi.
"Kamu ngomong apa sih, Mel ? Aku gak bermaksud untuk menyembunyikan pekerjaan kamu," sanggah Raya.
"Lalu tadi apa ?" Tanya Melisa dengan suara sedikit meninggi membuat Riland melihat ke arahnya.
"A-aku..,"
Belum juga Raya menyelesaikan kalimatnya, Riland sudah berdiri di hadapan keduanya.
"Raya ? Bisa tolong jangan ganggu Melisa kerja ? Kalau anda tak keberatan, sebaiknya pergi dulu baru jemput Melisa lagi nanti. Di sini sayalah bosnya dan Melisa adalah milik saya," ucap Riland terdengar ambigu membuat Melisa membulatkan matanya.
"A-apa ?" Tanya Melisa sambil menelan ludah.
Riland pun terkejut dengan apa yang baru saja diucapkannya. "Maksud saya, di sini saya yang lebih berhak untuk mmebrimmu perintah karena kamu adalah pegawai saya," jelas Riland.
"Kita sama-sama berada di dunia kerja, tentunya anda mengerti bukan ? Beri waktu satu atau dua jam untuk Melisa kerja lembur baru anda bisa menjemputnya. Mungkin menurut anda ini hanya sebuah toko pakaian biasa. Tapi kami bekerja secara profesional di sini. Jadi saya harap, anda mau mengerti," lanjut Riland. Ia mengatakannya dengan serius dan dingin membuat Raya tak berkutik.
Kekecewaan Melisa terhadapnya dan pengusiran halus Riland membuat Raya berdiri dan meninggalkan meja Melisa dengan terpaksa. Ia pergi begitu saja tanpa berkata-kata.
to be continued