The Hot Boss

The Hot Boss
Tak Karuan



Tatapan mata Riland meredup penuh damba, ia melangkah mendekati Melisa dan meraih juga menggenggam kedua tangan gadis itu dengan lembut hingga jari jemari mereka saling bertuan.


Melisa membalas tatapan itu sama sendunya, bibirnya sedikit terbuka dan bulu matanya yang lentik bergerak ketika ia mengedipkan mata karena pandangan Riland yang begitu lekat padanya membuat Melisa tak bisa melihatnya lama-lama.


Riland tundukkan kepala mendekati Melisa yang kini sudah terlihat merona. Kening keduanya bersentuhan pelan. Hembusan nafas Riland yang beraroma mint terasa hangat menerpa bibir Melisa hingga membuat debaran jantung gadis itu berpacu cepat dan menggila. Darahnya berdesir seiring, bulu-bulu romanya yang meremang.


"Mel,"bisik Riland lirih. Ia rasakan gelenyar aneh dari setiap sentuhan yang dirasakannya. Bibirnya hampir bersentuhan saat mengatakan itu dan nafasnya pun memburu.


"Cuuuutttttt !!!!" Teriak Leah dengan lantang hingga kedua orang yang hampir berciuman itu menolehkan kepala


"Gila, gila, gila !!! Parah banget !!! Keren pokonya, kalian kaya jatuh cinta beneran. Aku hampir saja ikutan baper. Gak nyangka ternyata kalian sangat berbakat," ucap Leah sembari memutar ulang video yang baru saja direkamnya.


Melisa dan Riland pun melepaskan tautan jemari mereka dan berjalan mendekati Leah untuk sama-sama melihat hasil rekaman video yang akan digunakan untuk iklan produk pakaian mereka yang terbaru.


"Nih lihat !! Keren kan ? kalian benar-benar menghayati peran," puji Leah.


Leah tak sadar jika ada seorang teman yang debaran jantungnya benar-benar menggila dan ada seorang boss yang merasakan gelenyar aneh saat ia menggenggam jemari bawahannya dengan erat.


Melisa terus memfokuskan diri pada hasil rekaman sedangkan Riland mengatur nafasnya yang masih memburu. Seandainya Leah tak berteriak, Riland yakin saat ini dirinya tengah mencecap, mengulum dan ******* bibir Melisa. Ia tak akan peduli jika Melisa akan merasa terkejut ataupun menolaknya. Riland akan tetap menikmati bibir yang terlihat begitu nikmat untuk dilumat itu.


Sibuk dengan pikirannya sendiri membuat Riland terus menatapi Melisa tanpa jeda. "Damn," maki Riland pelan karena ia tak bisa mengalihkan pandangannya dari bibir gadis itu.


"Ok its a wrap !! Pengambilan gambar udah selesai tinggal edit sedikit dan besok pun bisa langsung diupload," ucap Leah antusias.


"Kalau begitu udah bisa pulang dong ?" Tanya Melisa. Ia ingin segera menghilang dari tempat itu. Bisikan Riland  yang memanggil namanya membuat debaran jantung Melisa masih berpacu.


"Ya bolehlah, aku juga mau ngedit video ini dirumah aja soalnya ayang aku udah jemput," jawab Leah dengan wajah sumringah karena kekasih hatinya sudah menunggu di pelataran parkir.


"Kunci biar aku yang pegang," ucap Riland pada Leah.


"Hah ? Kamu mau tidur di kantor lagi?" Tanya Leah dengan mengerutkan keningnya.


"Hu'um," jawab Riland sembari menganggukkan kepalanya pelan.


"Aku ganti baju dulu sebentar, Leah tunggu aku dong," Melisa meminta temannya itu untuk menunggunya agar ia tak berduaan saja dengan Riland.


"Oke, aku bilang ayang aku dulu," sahut Leah terdengar centil bahagia membuat jiwa jomblo Melisa meronta-ronta.


Tepat saat Melisa hendak pergi ke toilet untuk berganti baju, ponselnya yang berada di atas meja berdering dan menampakkan nama Raya di layarnya.


"Mel, telepon dari ayang Raya," goda Leah yang kini sedang melihat layar ponsel milik Melisa.


Riland dan Melisa sama-sama melihat ke arah telepon yang tergeletak di atas meja. "Aku yang anterin kamu pulang, Melisa," ucap Riland sebelum Melisa menjawab panggilan itu.


"Hah ?" Tanya Melisa tak paham.


"Kalau teman kamu itu menelpon untuk menjemputmu, katakan padanya bahwa aku yang akan mengantarmu pulang," jawab Riland tak terbantahkan. Ia pun pergi lebih dulu untuk berganti baju tanpa memberikan Melisa kesempatan untuk menolak ataupun menyetujui.


"Mungkin dia gak mau kamu kenapa-kenapa. Raya kan orang yang baru kita kenal dan tadi siang Riland bilang selama kamu kerja maka akan jadi tanggung jawab dia," ucap Leah yang berusaha menjawab kebingungan Melisa atas sikap Riland saat ini.


Melisa tak menjawab pernyataan Leah, ia hanya mengangguk pelan sebagai jawaban bahwa dirinya cukup paham mengapa Riland bersikap seperti itu walaupun Melisa rasa sedikit berlebihan.


"Halo, Raya," ucap Melisa menjawab panggilan dari lelaki itu.


"Aku masih di toko," lanjut Melisa dan Leah cukup tahu jika Raya menanyakan keberadaan temannya itu.


"Aku yakin, tadi Riland udah bilang mau anterin aku pulang. Udah dulu ya, bye !" Melisa memutuskan panggilan itu lebih dulu.


"Ya udah gih cepetan ganti baju," titah Leah dan Melisa pun menurutinya.


***


"Udah siap ?" Tanya Riland yang kini sudah berada di balik kemudinya.


Melisa yang ditanya hanya mengangguk pelan, ia sebenarnya malas untuk berdekatan dengan bossnya itu. Riland telah membuatnya patah hati dengan jelasnya, dan apa yang dikatakan Stefan sepupu Riland bahwa Melisa bukanlah tipe serta level Riland membuat diri Melisa terasa rendah di hadapan lelaki itu.


Riland menjalankan mobilnya dengan santai, tak ada kesan tergesa padahal waktu sudah menunjukkan pukul setengah 9 malam, cukup larut untuk Melisa yang memang jarang keluar malam


"Kamu lapar gak ?  Mau makan dulu ?" Tanya Riland memecahkan keheningan diantara keduanya.


"Mmm gak usah, langsung pulang aja. Aku cape dan pengen cepet-cepet tidur," jawab Melisa bohong. Yang sebenarnya terjadi adalah ia ingin segera menjauh dari Riland. Suasana hatinya menjadi tak baik bila berdekatan dengannya.


Dan tadi, pengambilan gambar untuk iklan mengharuskan dirinya beradegan mesra dengan Riland cukup berpengaruh besar terhadap perasaan Melisa.


Apa yang Riland lakukan padanya membuat perasaan Melisa tak karuan padahal dirinya tahu itu hanya untuk sebuah iklan dan jelas-jelas Riland tak memiliki perasaan apapun padanya tapi tetap saja itu membuat hati Melisa terasa ngilu.


Cara Riland menautkan jemarinya, cara Riland menatap matanya, dan saat Riland menyebutkan namanya dengan lirih membuat jantung Melisa berpacu cepat dan ia benar-benar kesulitan mengontrol dirinya.


Melisa membuang pandangannya ke arah luar jendela berusaha menghindari Riland. Yang Melisa inginkan saat ini segera tiba di kamar kosnya dan melupakan yang terjadi di hari ini.


"Mel," sahut Riland pelan.


"Ya ?" Timpal Melisa tanpa melihat pada lelaki itu.


Hening untuk beberapa saat karena keduanya tak lagi berbicara.


"nggak jadi...," Lanjut Riland. Dan Melisa hanya diam saja hingga keduanya tiba di tempat kos Melisa.


"Thanks ya, maaf jadi repotin kamu," ucap Melisa saat ia hendak turun dari mobil bossnya itu.


"Its ok, emang aku kok yang pengen anterin kamu pulang,"


"Kamu boss yang hebat, Riland. Tak hanya hot tapi juga sangat bertanggung jawab pada bawahannya," ucap Melisa tapi entah kenapa Riland merasa tak nyaman dengan apa yang Melisa katakan.


"Bukan itu maksudku nganterin kamu pulang, bukan karena aku boss yang penuh tanggung jawab. Bukan itu," pikiran Riland berkecamuk saat ini.


"Sampai ketemu besok, bye !" Melisa pun keluar dari mobil Riland.


"See you," sahut Riland.


Riland amati gadis yang berjalan gontai menuju tempat kosnya hingga ia benar-benar masuk baru Riland menyalakan mobilnya.


Saat Riland hendak pergi, ponsel dalam saku kemejanya berdering juga bergetar. Malas-malas ia merogohnya dan tahu jika itu adalah pesan yang dikirimkan ibunya.


"Cepat pulang ke rumah, Riland ! Sampai kapan kamu mau menghindari perjodohan ini ? Mona sudah siap untuk bertunangan denganmu,"


"Aarrrggggghhhh f*ck !!!" Maki Riland seraya memukuli setir mobilnya.


To be continued