
"A-aku berpacaran dengan Raya," ucap Melisa terbata-bata. Ia tak ingin Mona lebih histeris lagi dan tak ingin Mona semakin mencurigainya.
"Sejak kapan kamu pacaran sama dia, Mel ?" Tanya Riland penuh tekanan. Tiba-tiba saja ia rasakan sesak di dadanya. Bahkan Riland tak peduli dengan pandangan mata Leah yang menatapnya heran juga curiga.
Melisa tak menjawab, ia pun bingung harus menjawab apa karena sebenarnya ia belum menerima pernyataan cinta Raya dan Melisa juga tidak tahu apakah Raya masih menginginkannya sebagai kekasih atau tidak.
" Mel, aku nanya sama kamu !! Sejak kapan kamu punya pacar ?" Riland mengulangi pertanyaannya dengan penuh tuntutan.
Menuntut Melisa agar segera menjawab pertanyaannya.
"Mell ??" Tanya Riland dengan suara menggelegar. Seolah-olah pria itu marah di mata Melisa.
" Itu bukan urusan Anda !!" Jawab Melisa terdengar formal. Ia membalas tatapan mata Riland yang tengah melihatnya dengan tajam.
Sedangkan Mona tersenyum miring karena merasa telah menang. Si gadis saingannya, Melisa sudah mendeklarasikan diri mempunyai seorang kekasih hingga Riland pun tak bisa bermain-main lagi dengan gadis itu. Pikir Mona.
" Benar apa yang dikatakan Melisa. Itu bukan urusan kamu, Riland," ucap Mona seraya menggelayut manja di lengan Riland.
" Mungkin kita bisa pergi untuk kencan bersama," ucap Mona. "Kita bisa pergi berempat. The hot boss denganku, dan si pelayan dengan kekasihnya," lanjutnya lagi seraya tersenyum menang.
Membayangkan hal itu membuat Riland menjadi mual. Sudah dipastikan ia akan sangat marah melihat Melisa bersama kekasihnya.
" Pergi !!" Desis Riland.
Melisa dan Mona pun sama-sama melihat ke arah Riland dengan penuh tanda tanya. Menerka-nerka siapa yang dimaksudkan Riland untuk pergi.
Mona tersenyum menyeringai, " Pasti Riland ngusir lo pergi karena dia pengen berduaan sama gue," ucap Mona penuh percaya diri.
"Atau maksudnya sama kamu, walaupun kamu tunangannya tapi sekarang sudah waktunya untuk kembali bekerja," sahut Melisa tak ingin kalah. Sedangkan Leah yang sedari tadi menonton drama itu terus menyemangati Melisa karena ternyata Leah pun tak menyukai Mona.
Mendengar Melisa berani menjawab pernyataannya membuat Mona semakin meradang " Halaaahh cuma kerja di toko model begini aja sok belagu, lo ! Sok sibuk !! " Timpal Mona dengan kalimat ejekan yang sangat merendahkan.
Sontak saja membuat Riland, Melisa dan Leah merasa tersinggung dengan perkataan itu.
" Dan toko ini adalah milik tunanganmu, lupa ?" Tanya Melisa.
Mona langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan saat sadar dengan ucapannya. Takut-takut ia tolehkan kepalanya pada Riland yang ternyata sudah menatapnya sinis.
" Sebaiknya lo pergi !" Desis Riland.
" So-sorry, aku gak bermaksud berkata seperti itu, a-aku...."
Tapi sepertinya Riland sudah tak ingin mendengarkannya lagi. Ia tak peduli dengan alasan yang akan Mona ucapkan. " Gue bilang pergi, ya pergi !!" Potong Riland dengan suara meninggi.
Mona tahu jika Riland benar-benar marah padanya. Tak hanya itu, Mona juga tahu jika Riland merasa kecewa dengan kenyataan bahwa Melisa mempunyai kekasih karena terlihat jelas dari raut wajahnya.
Laki-laki itu tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya saat Melisa mengatakan jika ia telah mempunyai kekasih. Hanya saja Riland belum sepenuhnya sadar dengan perasaannya sendiri.
Oleh karena itu Mona akan terus mendekatinya sampai Riland lupa dengan perasaannya dan bisa menerimanya sebagai tunangan.
" Baik, aku pergi.... Tapi aku akan kembali dan menjelaskan jika aku tak bermaksud seperti itu," ucap Mona lembut.
" Kalian juga kembali lah bekerja," ucap Riland pada Melisa dan Leah tanpa menanggapi apa yang Mona ucapkan.
" Kamu, bekerjalah dengan Leah di bawah. Aku ingin sendirian di sini," lanjutnya lagi. Ia mengusir Melisa dengan nada suara yang dingin.
Mendengar Riland mengusirnya membuat hati Melisa mencelos " Oke boss," sahut Melisa sambil tersenyum seolah semua baik-baik saja padahal dirinya sangat sedih saat Riland memintanya untuk pergi.
Mona yang melihat itu tersenyum miring karena merasa sangat puas.
Riland duduk di kursinya dan segera membuka MacBook miliknya. Ia mulai kembali bekerja tanpa mempedulikan siapapun yang berada di sana.
Melisa membereskan mejanya dengan tangan gemetar. Mati-matian ia menahan tangis sembari memilih apa saja yang akan dibawanya untuk bekerja di lantai bawah bersama Leah.
Mona pergi begitu saja setelah membuat keributan dan meninggalkan Riland juga Melisa dalam kondisi hati yang sangat berantakan.
Melisa pun berpikir apakah ia benar-benar harus menerima pernyataan cinta Raya ? Karena sepertinya tak mungkin jika hanya berpura-pura saja.
Ia tak mau membuat hubungan Riland dan tunangannya menjadi buruk walaupun dirinya pun harus menanggung rasa sakit yang luar biasa yaitu menerima pernyataan cinta dari lelaki yang tak dicintainya dan melihat lelaki yang sebenarnya Melisa cintai berbaikan dengan wanita yang mengaku tunangannya.
"Udah Mel ?" Tanya Leah yang ternyata masih menunggunya. Ucapan gadis itu menyadarkan Melisa dari lamunannya.
" U-udah, ayo kita turun," jawab Melisa.
Ia pun pergi bersama Leah menuju lantai bawah dengan laptop dan beberapa berkas di tangannya. Sebelum pergi, Melisa sempatkan diri untuk memandang ke arah Riland yang tak melihat ke arahnya sama sekali. Laki-laki itu fokus pada layar MacBook nya seolah-olah tak peduli pada sekelilingnya. Melisa pun mendesah pasrah.
Tanpa Melisa ketahui, Riland menatap punggungnya yang pergi menjauh hingga dirinya menghilang seperti di telan tangga.
***
Raya kembali menghubunginya, laki-laki itu sudah tak sabaran untuk mendapatkan jawaban dari pernyataan cintanya.
Melisa sungguh tak tahu harus berbuat apa. Ia tak punya perasaan apapun pada laki-laki itu tapi ia pun sudah terjebak dengan permainannya sendiri yang mengatakan pada Riland jika dirinya sudah resmi berpacaran dengan Raya.
Dengan tangan gemetar dan perasaan kacau tak karuan Melisa pun menuliskan pesan singkat yang berisikan menerima pernyataan cinta Raya.
Melisa membaca pesan itu berulang-ulang sebelum mengirimnya pada yang bersangkutan. Sialnya lagi, wajah Riland selalu terbayang saat ia hendak mengirimkan pesan singkat itu.
"Ini yang terbaik untuk semuanya," ucap Melisa lirih dan ia pun segera mengirimkan pesan itu.
Hanya dalam hitungan detik pesan itu sampai pada si penerima yaitu Raya. Laki-laki itu langsung membacanya dan segera melakukan panggilan pada Melisa.
Melisa menelan ludahnya paksa saat nama Raya muncul di layar ponselnya. Laki-laki yang baru saja secara resmi menjadi kekasihnya tapi kenapa Melisa malah enggan berbicara dengannya ?
Bukankah Melisa seharusnya merasa bahagia karena dirinya baru saja "jadian" dan ini adalah yang pertama kali dalam hidupnya.
Bukannya menerima panggilan itu, Melisa hanya menatap layar ponselnya dengan perasaan kacau tak karuan hingga nama Raya tak lagi muncul di layarnya karena Melisa tak kunjung menjawab panggilannya.
Tak lama, nama Raya kembali muncul di layar ponselnya. Laki-laki itu melakukan panggilan lagi entah untuk yang ke berapa kalinya.
Malas-malas Melisa pun menerima panggilan itu walaupun sebenarnya ia enggan. "Ha-halo," ucapnya terbata-bata.
"Halo sayang... Terimakasih banyak sudah mau menerima perasaan cinta aku. Aku benar-benar sayang kamu, Mel," ucap Raya di ujung telepon.
Bukannya merasa senang, Melisa malah merasakan resah hati yang luar biasa. Mendengar Raya memanggilnya dengan sebutan sayang membuat Melisa gemetar.
Gemetar bukan dalam artian yang baik, tapi sebaliknya.
To be continued