The Hot Boss

The Hot Boss
Nyatanya Tak Suka



"4 x 5 berapa ? Ya Tuhan... 4 x 5," keluhnya kesal. Untuk perkalian yang sangat mudah pun Melisa tak bisa menemukan jawabannya. Apa yang Riland lakukan membuat pikirannya traveling kemana-mana.


Mata Melisa tak bisa terus melihat ke layar laptopnya. Dengan lancangnya mata itu melihat lagi pada Riland yang kini sudah polos di bagian atas tubuhnya. Lelaki itu masih berdiri membelakanginya. Seolah memamerkan guratan otot punggungnya yang terlihat liat.


Melisa menelan ludahnya sendiri berulang kali. Akan sangat menyenangkan jika jemarinya berjalan-jalan menelusuri guratan otot itu. "Ya Tuhan...," Gumam Melisa pelan. Ia pun tundukkan kepalanya lagi. Berusaha menenangkan dirinya sendiri yang sudah merasakan panas di sekujur tubuhnya. Darahnya berdesir hangat karena ulah bosnya itu.


"4 x 5..." Gumam Melisa masih mencari jawaban dari laporan yang sedang ditulisnya.


Dengan tangan gemetar ia menggulir layar ponselnya dan mencari aplikasi hitung. Setelah mendapatkannya, Melisa mengetiknya dengan perlahan " empat kali.... Lima...," Gumamnya pelan.


"20 !!! Ya Tuhan 20 !!" Melisa menjambak rambutnya sendiri. Merutuki kebodohannya yang datang secara tiba-tiba.


Dengan Indek Prestasi Komulatif ( IPK ) 3.74 yang dimilikinya, sungguh terlalu jika perkalian sederhana itu tak bisa Melisa jawab.


Melisa menulis hasil perkalian itu di atas kertas dengan penuh tenaga. Ia merasa kesal pada dirinya sendiri. "Hiiihhh," keluhnya sembari mencoret-coret kertas yang tak berdosa itu sebagai pelampiasan dirinya yang tengah frustasi.


Mendengar kegaduhan di belakangnya, Riland pun tolehkan kepala. Melihat pada Melisa yang tertunduk dengan pinsil di tangannya.


Riland simpan cup es kopi miliknya di atas meja. Lalu ia berjalan masih dengan bertelanjang dada menuju Melisa yang terlihat kesal di mejanya.


"Kamu kenapa ? Gak suka lembur ?" Tanya Riland yang kini berdiri tegak di hadapannya.


Melisa mengangkat wajahnya dengan perlahan. Mata polosnya disuguhi pemandangan pus*r Riland yang dihiasi bulu-bulu halus dan membentuk jalan setapak yang lurus menuju pusat inti tubuhnya.


Jejak bulu-bulu halus itu menghilang di balik celana Riland yang terpasang di bawah pinggang hingga guratan otot-otot liat lelaki itu tercetak jelas di sana. Lagi-lagi Melisa harus menelan ludahnya dengan susah payah.


" Hei, aku bertanya padamu !" Kata Riland hingga Melisa menengadahkan kepalanya. "Hah ?" Gumam Melisa dengan bibirnya yang sedikit terbuka. Sungguh ia merasa linglung.p


" Kamu gak suka, karena saya menyuruhmu lembur ? Dan lihat saya ketika kita bicara ! " Riland mengulang kembali pertanyaannya karena Melisa tak kunjung menjawabnya. Bahkan gadis itu tak lagi melihat ke arahnya membuat Riland kesal.


"Maaf... Sa- saya hanya berusaha untuk berkonsentrasi dalam mengerjakan laporan ini agar cepat selesai," jawab Melisa dengan sedikit gugup. Dadanya berdebar lebih kencang saat ia mengatakan itu dan cepat-cepat Melisa tundukkan lagi kepalanya. Menjaaga mata sucinya agar tak semakin ternoda.


" Biar cepat selesai, terus bisa pulang dengan pacar kamu. Begitu, kan. ?" tanya Riland dengan nada dingin dan pelan.


"Hah ?" Lagi-lagi Melisa mendongak, melihat pada bossnya itu. "Apa ?" Melisa balik bertanya karena pertanyaan yang Riland lontarkan tak begitu jelas terdengar di telinganya. Sampai saat ini Melisa masih kesulitan untuk berkonsentrasi.


Mata Riland menatap tajam, tak satupun senyuman yang melengkung di bibirnya. Lelaki yang biasanya ramah itu, kini telah berubah dengan signifikan.


"Nothing, gak ada apa-apa. Lupakan saja !" Ucapnya seraya berjalan kembali ke meja kerjanya.


Melisa diam-diam memperhatikannya dengan ujung mata. Melihat arah gerak bosnya itu yang ternyata mengambil selembar kaos polos dari sebuah koper yang terletak di ujung ruangan. Semenjak beberapa waktu lalu, bosnya itu lebih sering tinggal di tokonya tak lagi di apartemennya.


Melisa kembali tundukkan kepala. Mati-matian berusaha untuk tetap waras dan fokus pada pekerjaannya karena di depan sana Riland duduk di kursinya sembari menyadarkan tubuhnya dengan kaki yang diangkat menyilang di atas meja. Pandangan mata lelaki itu menatap lurus pada Melisa seperti predator pada buruannya.


Lagu-lagu yang mendayu sendu terus mengalun dari aplikasi pemutar musik, menemani dua orang manusia yang duduk dalam sunyi. keadaan seperti itu berlangsung cukup lama hingga benda pipih milik Riland yang berada di atas meja berbunyi juga bergetar di waktu yang bersamaan.


Barulah Riland alihkan pandangan matanya saat ponselnya itu berbunyi. Membuat Melisa bisa bernafas lega untuk sesaat karena kini bosnya yang hot itu tengah membaca sebuah pesan yang dikirimkan seseorang padanya.


"Mel, ambilin pesanan makanan online di bawah. Kurirnya udah di depan pintu !" Titah Riland.


Melisa langsung berdiri, ia sangat senang karena dengan begitu dirinya bisa berpisah dari Riland walaupun hanya sebentar saja. "Ok !" Ucap Melisa sembari pergi menuju lantai satu.


Riland amati gadis yang berjalan penuh semangat meninggalkannya. "Segitu gak maunya kamu dekat-dekat aku, huh ?" Gumam Riland sembari terus menatap kepergian Melisa hingga tak lagi ada dalam jangkauan matanya.


Entah apa yang Riland rasakan saat ini pada Melisa. Tapi kenyataan bahwa Melisa mempunyai kekasih sangat menganggu pikirannya.


to be continued