
Hai aku kembali dengan membawa sejuta kerinduan 😚
masih ada yang nungguin gak ya ?
Setelah meeting itu selesai dilaksanakan, semua anggotanya mulai undur diri untuk kembali ke tempat kerja mereka masing-masing. "Kalian tunggu, ya. Kita pulang sama-sama," ucap Riland pada Melisa dan Leah.
Melisa merasakan gejolak dalam perutnya, ia pun meringis karenanya. Godaan yang Riland berikan terlalu mempengaruhi dirinya. "Mel, aku yakin banget Riland ada hati sama kamu," dan ucapan Leah memperburuk semuanya. Apa yang temannya itu katakan membuat perasaan Melisa semakin kacau tak karuan.
"Aku kenal Riland udah sejak lama, dan dia itu bukan tipe cowok ganjen petakilan yang suka flirting (menggoda) sama cewek. Baru kali ini aku lihat Riland begitu. Tak pernah sekalipun dia deketi pegawainya yang lain seperti dia deketin kamu," bisik Leah pelan. Ia tak mau ketahuan membicarakan Riland lagi. Walaupun Riland seorang boss yang baik, tapi tetap saja tak etis jika membicarakan atasannya itu di belakang.
"Mungkin karena aku dan Riland berperan layaknya dua manusia yang saling tertarik, makanya membuat kamu berpikiran seperti itu," balas Melisa dengan sama-sama berbisik. Ia masih saja menyangkal segala sinyal yang Riland berikan.
"Ck !" Leah berdecak kesal.
"Jangan langsung lihat ya, pura-pura aja. Saat ini Riland lagi merhatiin kamu. Padahal dia lagi ngobrol sama orang lain," bisik Leah lagi. Lalu ia tertawa seolah-olah sedang menceritakan sesuatu yang lucu dengan Melisa agar Riland tak merasa curiga. Bahkan Leah memukul pundak Melisa agar terlihat lebih meyakinkan lagi.
Melisa pun ikut tertawa, padahal ia tak mengerti. Melisa berkerut alis saat Leah mengisyaratkan dengan matanya agar ia melihat pada Riland.
Takut-takut Melisa tolehkan kepalanya pada Riland sang boss, dan benar saja apa yang Leah katakan. Riland tengah melihat ke arahnya, padahal lelaki itu sedang terlibat dalam suatu pembicara dengan orang yang akan membantu mereka untuk membuat iklan.
Riland menatap Melisa untuk sesaat, namun kemudian palingkan wajahnya, kembali pada lawan bicaranya. meninggalkan Melisa dengan debaran jantungnya yang semakin menggila.
"Kaaaaan.. apa aku bilang?" Leah berbisik pelan dan ia bisa melihat bagaimana wajah Melisa yang bersemu merah karenanya.
"Sorry bikin kalian nunggu," kata Riland yang tiba-tiba sudah berada di antara Melisa juga Leah.
"Gak pa-pa kok. Pulang sekarang ?" Tanya Leah.
"Iya, ayok !" Jawab Riland menyetujui.
Ketiganya berjalan beriringan, dengan Riland yang berjalan lebih dulu dari Melisa juga Leah. Tubuh Riland yang tinggi tegap, pundaknya yang kokoh dan lebar menjadi pemandangan yang memanjakan mata Melisa saat ini.
"Tentu menyenangkan jika bisa bersandar di pundak kokoh itu," batin Melisa dalam hati. Pikirannya sudah traveling ke mana-mana. berdekatan dengan Riland membuat fantasi Melisa bekerja dengan cepat.
"Terimakasih, Pak Riland," ucap manager cafe saat Riland tiba di lantai bawah. Bahkan lelaki itu sedikit membungkukkan tubuhnya untuk memberikan penghormatan pada Riland.
Riland mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dan sang manager menyambutnya dengan senang. "Sama-sama. Dan terimakasih juga karena excellent service yang kalian berikan," sahut Riland. Lalu ia pun berpamitan.
Cepat-cepat Leah membuka pintu belakang mobil Riland dan mendudukkan tubuhnya di dalam. Meninggalkan Melisa yang melihatnya dengan tak percaya. Mata gadis itu membulat, wajahnya berekspresi tak terima pada Leah.
"Apa aku bilang !" Bisik Leah pada Melisa dari bangku belakang. Leah merasa apa yang diucapkannya adalah benar. Riland memberikan perhatian pada Melisa dengan sangat jelasnya dan tak malu-malu.
Melisa duduk dengan gelisah. Seandainya Leah tahu tentang pesan yang Riland kirimkan padanya tadi, pasti gadis itu akan menjadi lebih heboh lagi.
Bukannya Melisa tak sadar dengan apa yang Riland lakukan padanya. Memberikannya perhatian-perhatian manis yang bisa membuat Melisa terkena diabetes secara mendadak. Tapi di sini hanya Melisa yang tahu jika Riland sedang menghindari perjodohannya.
"Apa ada sesuatu yang tertinggal ?" Tanya Riland pada Melisa yang melamun. Terlalu larut dalam pikirannya, membuat Melisa tak sadar jika Riland sudah duduk di sebelahnya.
"Ngh.. nggak ada, Pak," jawab Melisa tergagap.
"Oh ok, kita pulang sekarang," kata Riland seraya menyalakan mesin mobilnya.
***
Hari telah menjelang sore, jalanan pun mulai dipadati oleh penggunanya. Membuat perjalan itu berlangsung lebih lama dari biasanya. Tak ada pembicaraan di dalam mobil itu. Yang terdengar hanya lagu yang non stop di putar dari alatnya. Leah sibuk dengan ponselnya di bangku belakang. Sedangkan Melisa dan Riland sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Kita pulang ke toko lagi ?" Tanya Leah tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
Riland melihat pada jam tangannya sebelum ia menjawab. Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore "Udah sore, mau pulang juga gak apa-apa," jawab Riland.
"Saya boleh langsung pulang ya, Bos ?" Tanya Leah penuh harap.
Riland anggukkan kepala, mengizinkan. "Ya boleh. Mau dianterin ke mana?" Tanya Riland.
Wajah Leah berubah sumringah, ia simpan ponselnya dia atas paha. "Ke jalan XYZ aja," jawab Leah penuh semangat. Ia mempunyai janji temu dengan kekasihnya di sana.
"Ok," jawab Riland singkat.
"Saya-"
"Kamu ikut aku dulu," potong Riland pada Melisa.
Detik itu juga Melisa mendapatkan tendangan kecil di kursinya yang dilakukan oleh Leah. Melisa sedikit tolehkan kepala, memelototkan matanya pada gadis yang tengah tertawa kecil padanya. Melisa yakin pikiran Leah sudah mengira jika ia dan Riland akan berkencan.
bersambung....