The Hot Boss

The Hot Boss
Terbawa Perasaan



Suasana begitu ramai. Canda tawa saling bersahutan. Tapi tidak bagi Melisa. Gadis itu masih dalam dunianya sendiri. Ucapan Riland tadi masih saja terngiang-ngiang dalam kepalanya. Getarannya sampai ke hati dan tak mau pergi.


Meskipun topik pembicaraan telah berganti-ganti tapi tidak bagi Melisa. Ia masih terjebak dengan kata-kata manis Riland yang hanya sebuah sandiwara itu.


Sesekali Melisa mencuri pandang pada Riland. Dalam hatinya yang paling dalam, ia ingin bertanya apa maksud perkataan Riland tadi.


Tapi, tentunya ia tak mempunyai keberanian untuk melakukannya. Melisa tak siap dengan jawaban Riland yang pastinya akan membuat hatinya patah.


"Mel, mau makan sekarang ? Aku ambilin ya?" Tiba-tiba Riland bertanya pada Melisa yang tengah sibuk dengan pikirannya sendiri.


Melisa tak menjawab pertanyaan bosnya itu. Matanya menatap kosong ke sembarang arah. "Mel ?" Tanya Riland lagi. Bahkan lelaki itu sejajarkan tubuhnya agar dapat menatap Melisa dari dekat. "Mel, kamu ngelamunin apa sih ?" Tanya Riland dengan wajahnya yang begitu dekat.


Melisa terkesiap, ia sungguh terkejut dengan apa yang sedang Riland lakukan padanya saat ini. Air dalam gelas yang dipegangnya pun sampai tumpah. Membasahi celananya, hingga menimbulkan warna basah. "Ya Tuhan..," pekik Melisa terkejut.


Riland yang melihat itu pun menjadi panik. "Kamu gak apa-apa ?" Tanya nya sembari ikut membersihkan sisa-sisa air di celana Melisa dengan beberapa lembar tisu.


"Bi- biar sama aku saja," Melisa mengambil alih tissue itu dari tangan Riland.


Cukup kata-kata manisnya saja yang membuat hati Melisa menjadi kacau tak karuan. Jangan ditambah dengan sentuhan-sentuhannya karena itu akan membuat Melisa menjadi tambah gila.


"Kenapa bisa tumpah ?"


"Yaa celananya basah... Mau ganti punya aku gak?"


"Dikagetin Riland ya ?"


"Lagian si Riland main nyosor aja, jadi Melisanya kaget,"


Terdengar beberapa orang yang berbicara saling bersahutan. Mengomentari apa yang terjadi pada Melisa. Sedangkan gadis itu sibuk melap tumpahan air di celananya dengan kepala tertunduk. Hingga ia tak tahu siapa saja yang berbicara.


Bukan karena itu saja alasan Melisa tundukkan kepala. Ia lakukan itu untuk menyembunyikan pipinya yang terasa panas dan merona merah. Dan seandainya Melisa mengangkat wajahnya, Riland pasti bisa melihat jika dirinya tengah gugup dengan hebatnya.


"Iya cepat ambilkan ! Kalian Melisa," timpal Riland.


Melisa yang tak enak karena takut merepotkan, menolak tawaran itu. "Gak usah, gak apa-apa kok," ucapnya sungkan.


"Gak apa-apa kok, tunggu sebentar," adik Riland begitu bersikukuh. Membuat Melisa tak bisa menolaknya.


"Aku harus ke toilet dulu deh," ucap Melisa sambil berdiri.


"Ya udah ayok ! Aku temenin," seperti halnya Melisa. Riland pun berdiri untuk menemani gadis itu ke kamar mandi.


"Ngh... Nggak usah, Pak !" Ucap Melisa tanpa sadar hingga Riland pun memelototkan matanya pada gadis itu. Mengingatkan Melisa untuk menjaga ucapannya.


"Nggak u- usah Riland, aku bisa sendiri,"ralat Melisa cepat.


"Emang kamu tahu di mana tempatnya ?" Tanya Riland sambil tertawa geli.


"Ka- kamu kan bisa menunjukkan arahnya tanpa ikut pergi debganku ke sana," timpal Melisa.


Riland terdiam sambil mencebikkan bibirnya tak suka. Tak ada lagi alasan untuknya agar bisa menemani Melisa. Dengan berat hati Riland pun menjelaskan letak toilet itu pada Melisa.


Sedangkan Melisa, sedang ingin sendirian untuk bisa menghirup udara segar. Sungguh berada di sana, berdekatan dengan Riland dan juga kata-kata manisnya membuat Melisa merasakan sesak di dadanya.


"Kenapa sih dia harus bersandiwara tentang ini semua ? Kamu tuh bikin bikin aku terbawa perasaan," gerutu Melisa pelan. Ia kesal dengan Riland yang telah bermain- main dengan perasaannya.


Langkah Melisa terhenti saat ia merasa dirinya tengah diperhatikan. Melisa angkat wajahnya dan entah mengapa ia ingin sekali melihat ke salah satu sudut ruangan. Matanya membelalak saat ia melihat Mona tengah menatapnya tajam.


bersambung.