The Hot Boss

The Hot Boss
Pikiran Masing-masing



"Aku gak jadi nanya, karena aku udah tahu jawabannya," ucap Melisa dengan senyumannya yang hambar.


Riland yang tengah fokus pada jalanan pun tolehkan kepalanya, melihat pada Melisa yang duduk tepat di sebelahnya. Lelaki itu berkerut alis tak paham saat mendapati Melisa dengan wajah sendunya.


"Sebaiknya kamu tanyakan apa yang ada dalam kepalamu itu. Aku akan menjawabnya apapun itu pertanyaannya. Belum tentu jawabanmu itu sama denganku," kata Riland yang tak ingin Melisa berasumsi sendiri. Ia pun alihkan kembali pandangannya pada jalanan, karena Melisa tak mengatakan apa-apa lagi. Bibir gadis itu terkatup rapat, sama sekali tak bersuara. Dari wajahnya yang sendu, Riland tahu jika Melisa memiliki beban pikiran tentangnya.


Melisa bukannya tak ingin bertanya. Tapi ia takut jika apa yang ada dalam pikirannya itu benar adanya. Melisa takut jika Riland hanya memanfaatkan dirinya saja untuk menghindar dari perjodohan dengan Mona.


Hingga tiba di toko milik Riland pun, Melisa masih saja bungkam. Tak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulutnya. Di sepanjang perjalanan hanya sunyi dan sepi dan yang menemani keduanya.


***


Riland amati Melisa yang sibuk di mejanya. Sepertinya gadis itu sengaja menghindarinya. Beberapa kali Riland mengajak Melisa bicara, tapi gadis itu berpura-pura tak mendengarnya.


Setelah acara makan siang tadi, keduanya belum lagi berbicara tentang pernyataan cinta Riland. Dengan begitu Melisa semakin yakin bahwa pemikirannya tentang Riland adalah benar. Lelaki itu hanya menjadikannya sebagai alat kebohongan.


Melisa duduk gelisah di atas kursinya. Sedari tadi, mata Riland menatapnya tajam. Bagai pemangsa pada buruannya. "Seharusnya aku yang marah karena telah dimanfaatkan, tapi kok malah dia yang sepertinya kesal," batin Melisa dalam hatinya.


"Kenapa sih muka kamu gak jelek aja ? Jadi aku kan bisa maksimal sebelnya," kesal Melisa dengan bergumam pelan.


Melisa ingin marah dan juga berteriak pada Riland. Sungguh ia tak terima dengan apa yang lelaki itu lakukan padanya. Tapi nyatanya ia tak bisa lakukan itu, karena Riland adalah bosnya. Dan wajahnya yang tampan dan hot itu membuat Melisa tak tega untuk melakukannya.


"Bener kata orang, cinta bikin kita b*go," masih Melisa bergumam sendirian. Ia merasa kesal, kecewa, dan marah tapi tak bisa melampiaskannya. Melisa benar-benar merasa kacau saat ini.


Riland bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju meja di depannya. Tempat di mana Melisa berada. Riland berdiri menjulang di hadapan Melisa hingga gadis itu harus mendongakkan kepala untuk melihatnya.


"Sudah jam 5 sore, ayo aku antar pulang," ajak Riland.


"Ta-tapi aku belum selesai mengerjakan bagian ini," jawab Melisa sembari memperlihatkan layar laptopnya.


Riland memicingkan mata, memperhatikan apa yang ada di layar laptop milik Melisa. "Kamu bisa lanjutkan itu besok," sahut Riland. Apa yang sedang Melisa kerjakan tak begitu penting untuk sekarang ini.


"Tapi-"


"Sekarang," potong Riland pelan namun tegas.


Matanya menatap tajam dan rahangnya menegas pertanda ia tak main-main dengan perkataannya. Riland begitu dominan, hingga Melisa tak punya kuasa untuk membantahnya.


"Ba- baiklah, Pak," sahut Melisa dengan sebuah senyuman yang dipaksakan.


"Good," ucap Riland, masih dengan raut wajahnya yang tegas, dingin, dan dominan. Membuat tubuh Melisa meremang. Suaranya yang berat, khas laki-laki dewasa, menambah aura lelaki itu semakin menonjol.


"Tunggu apa lagi ?"


Mendengar itu Melisa segera menutup semua aplikasi yang masih terbuka di laptopnya. Ia membereskan mejanya dengan secepat kilat karena Riland tetap berdiri di sana, menunggunya.


Setelah Melisa selesai, Riland berjalan kembali ke mejanya. Ia membawa kunci mobil yang tergeletak di atas meja dan mengenakan kembali blazernya. Sedangkan Melisa menunggunya dengan cemas dan dada berdebar cemas di kursinya.


Tanpa bicara lagi, Riland berjalan menuju tangga dan Melisa pun segera berdiri mengikutinya. Bagai anak ayam yang mengekori induknya.


"Leah, saya anterin Melisa pulang dulu,"ucap Riland sembari berlalu pergi. Ia tak menunggu dulu sahutan dari bawahannya itu.


Leah menggerak-gerakan matanya pada Melisa. Seolah-olah bertanya 'apa yang sebenarnya terjadi dengan kalian ?'. Melisa hanya mengerdikkan bahunya sebagai jawaban jika dirinya pun tidak tahu.


"Kamu berhutang cerita padaku besok," ucap Leah dengan sangat perlahan hingga Melisa bisa membaca bibir gadis itu.


Melisa mengangkat kedua ibu jarinya sebagai tanda setuju, lalu ia pun pergi menyusul langkah Riland yang sudah jauh meninggalkannya.


***


Di dalam mobil, suasana kembali canggung. Setelah pernyataan cinta lelaki itu, kini hubungan keduanya menjadi abu-abu.


"Kenapa gak kaya orang-orang ? Suka, disukai balik, jadian. Tanpa embel-embel dijadikan tameng dan sebagainya. Pure karena cinta yang saling berbalas," pikir Melisa dalam kepalanya.


Melisa menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya pelan. Ia masih terjebak dalam pikirannya tentang perasaan cinta pada Riland.


Riland adalah definisi dari kisah cinta yang manis juga pahit di dalam waktu yang bersamaan. Membuat Melisa merasa cinta dan juga benci pada lelaki itu di saat yang sama..


Sedangkan Riland, ia fokus pada jalanan sembari berpikir keras tentang apa yang sedang Melisa rasakan saat ini.


Memang salahnya yang tiba-tiba mengajak gadis itu untuk bertemu kedua orangtuanya. Memang salahnya juga yang membawa gadis itu sebagai senjata untuk menolak perjodohannya.


Tapi, ada alasan lain kenapa Riland membawa Melisa. Ia memang menyukai gadis itu, Riland jatuh cinta padanya.


Memang ia tak jatuh cinta sejak pandangan pertama pada Melisa. Tapi karena konten 'The Hot Boss' itu membuat Riland menjadi terbawa perasaan.


Ia merasa tak rela saat Melisa menjadi dekat dengan lelaki lain. Apalagi saat gadis itu 'jadian' dengan Raya, perasaan Riland semakin jelas padanya, ia jatuh cinta pada Melisa.


Riland tak rela jika gadis itu menyukai lelaki lain, selain dirinya. Dadanya terasa panas dan siap meledak marah saat Melisa mengatakan jika ia berpacaran dengan Raya. Oleh karena itulah Riland menahan Melisa hingga larut malam di kantor dengan dalih menginginkan sebuah laporan. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah dirinya tak mau Melisa menjadi milik lelaki lain.


Riland sibuk dengan pikirannya sendiri, begitu juga Melisa. Hingga tak terasa mobil Riland sudah sampai di tempat kost gadis itu.


"Ahhh, f*ck !!" Maki Riland pelan. Sungguh ia merasa sangat kesal. Terlalu sibuk dengan isi kepalanya sendiri, membuatnya lupa untuk mengajak Melisa makan malam terlebih dahulu.


Ia pun menyalakan mesin mobilnya kembali, dan hendak beranjak pergi tapi Melisa menahannya. "Mau kemana ? Aku udah sampai," ucap Melisa.


Riland pun tolehkan kepalanya. "Kita makan dulu," ajak Riland.


"Gak usah ! Dari tadi siang aku udah makan banyak. Jadi sekarang belum lapar," tolak Melisa beralasan.


Melihat mood Melisa yang masih saja tak bersahabat, membuat Riland tak bisa memaksakan gadis itu untuk makan bersamanya. "Baiklah... Masuk dan beristirahatlah !" Ucap Riland.


"Terimakasih," sahut Melisa sembari tersenyum dan turun dari mobil itu.


***


Keesokan harinya, Melisa masih menghindari Riland. Setelah ia bicara panjang lebar dengan Agni, teman sekamarnya yang sangat minim pengalaman cinta itu. Keduanya memutuskan jika Riland tak benar-benar menyukainya.


Oleh karena itulah, hari ini Melisa lebih banyak menghabiskan waktunya di lantai bawah dengan Leah. Ia pun menceritakan apa yang terjadi pada dirinya dan Riland pada rekan kerjanya itu.


"Hah ? Beneran Mel ?" Tanya Leah sembari membolakan matanya tak percaya.


"Iya, tapi itu cuma alasan dia aja. Dia gak beneran suka aku," jawab Melisa dengan sedikit berbisik. Desah kecewa terdengar jelas dari nada suaranya.


"Aku udah lama kerja sama Riland. Sebelum pandemi, ada juga seorang gais lainnya yang bekerja. Tapi selama itu, Riland gak pernah baperin kita. Dia bukan tipe cowok yang pecicilan," jelas Leah.


"Oh ya ?" Melisa berkerut alis tak percaya.


Leah anggukkan kepala membenarkan, "hu'um.. beneran... Dia juga gak pernah godain cewek-cewek gitu,"


"Tapi.... Dia normal kan ?" Tanya Melisa takut-takut. Rasanya sangat tak masuk di akal jika lelaki se- menarik Riland tak berhubungan dengan gadis manapun.


"Normal lah ! Dia pernah punya cewek kok," jawab Leah. "Kayanya sama kamu itu dia beneran suka deh,Mel,"


Belum juga Melisa menanggapi pernyataan Leah, seseorang sudah lebih dulu bicara.


"Leah, saya minta konsep iklan terbaru. Kita ambil gambar secepatnya," ucap Riland yang tiba-tiba berdiri di belakang Melisa dan juga Leah.


Kedua gadis itu langsung berhenti berbicara dan saling bertukar pandang dengan dada berdebar cemas. Mereka takut Riland mendengarkan apa yang baru saja keduanya bicarakan.


to be continued ♥️