
"Are you oke ?" Tanya Raya dari balik kemudinya. Saat ini ia dan Melisa tengah berkendara membelah jalanan menuju tempat makan siang yang sudah Raya pesan sebelumnya. Tak hanya itu, Raya juga mengatakan ada sebuah kejutan untuk Melisa.
Dibandingkan dengan kejutan yang telah Raya sebutkan, Melisa lebih memikirkan tentang Riland dan tunangannya.
Melisa tak menyangka rasa sukanya kini berubah cinta karena ia rasakan patah hati dengan hebatnya saat ini. Ingin Melisa menangis dan meminta penjelasan pada Riland tapi ia tak punya hak apapun untuk melakukan itu.
"Mel, kamu gak pa-pa ?" Raya mengulang kembali pertanyaannya.
"Eh, oh ?" Melisa terkejut karena tiba-tiba Raya menggenggam jemarinya.
"A-aku baik-baik saja," jawab Melisa bohong seraya menarik jemarinya pelan dari genggaman tangan Raya.
"Terus kenapa melamun m ?"
"Mmmmhh... Biasalah banyak kerjaan," jawab Melisa beralasan.
Raya mengangguk-anggukkan kepalanya seolah paham. "Kamu betah kerja di sana ? Kenapa gak cari tempat yang lebih bergengsi sih ? Aku kan tahu kalau kamu orangnya pinter banget," lanjut Raya sembari melihat ke arah Melisa beberapa saat sebelum ia kembali fokus pada jalanan.
"Hah ?" Melisa berkerut alis tak paham.
" Iya kamu... Apa gak nyari kerjaan yang lain ? Apa puas hanya jaga toko aja sambil ngonten ?" Tanya Raya lagi dan Melisa sungguh merasa tak suka. Melisa merasa Raya merendahkan profesinya. Mungkin Raya mengira jika Melisa bekerja sebagai penjaga toko karena ia sering berada di balik meja etalase bersama Leah.
"Pertama... Aku suka dengan pekerjaanku. Selama itu halal, aku rasa tak masalah bekerja sebagai apapun," jawab Melisa.
"So- sorry, aku gak bermaksud begitu," timpal Raya yang kini merasa tak enak hati.
"Yang kedua, aku bekerja sebagai pengelola toko. Dan membuat konten itu salah satu strategi pemasaran kami, bukan hanya iseng-iseng gak ada kerjaan. Hasilnya juga diluar dugaan kita" lanjut Melisa kemudian.
"Yang ketiga, gaji yang aku dapatkan juga lumayan besar. Apalagi sekarang ini ditambah dengan bonus-bonus penjualan yang melesat tajam. Jadi aku sangat mencintai pekerjaanku ini," ucap Melisa mengakhiri penjelasannya.
Mendengar Melisa berbicara dengan nada dingin membuat Raya tahu jika gadis yang duduk di sebelahnya itu tersinggung dengan ucapannya . "Sorry, aku gak bermaksud bikin kamu marah," sesal Raya.
"Am i too much ? Apa aku berlebihan?" Batin Melisa dalam hati. Persoalan dengan Riland membuat perasaannya begitu sensitif saat ini.
"Aku yang seharusnya minta maaf," sahut Melisa.
Hening kemudian, tak ada lagi pembicaraan diantara mereka hingga keduanya sampai di tempat tujuan untuk makan siang.
"Ayo, mereka sudah menunggu kita," ucap Raya.
"Mereka?" Melisa berkerut alis tak paham. Sebenarnya siapakah yang sudah menunggu kedatangannya.
Tanpa banyak bicara Melisa mengikuti langkah Raya. Semenjak perselisihan kecil di mobil Raya tadi membuat keduanya tak lagi banyak bicara.
Entahlah, tapi Melisa merasa tak suka dengan sikap Raya yang memandang rendah pekerjaannya.
"Hai, sorry bikin kalian nunggu. Jalanan macet," ucap Raya pada sekelompok orang yang duduk melingkar.
4 orang perempuan dan 3 laki-laki. Dilihat dari penampilannya, hampir semua teman Raya adalah pengusaha atau juga pekerja kantoran seperti Raya.
" Ini Melisa yang pernah gue ceritain beberapa waktu lalu," jelas Raya pada teman-temannya itu.
"Beberapa waktu lalu ?" Batin Melisa dalam hati. Padahal ia dan Raya baru bertemu beberapa kali saja dan itu belum lama.
"Mel, masih ingat kan sama mereka ? Bangkit, Enzi, Arsha, Qila, Zia, Naura dan Rara," Raya mengabsen nama teman-temannya itu.
"Ya ampun...," Melisa menutup mulutnya dengan kedua tangan saat sadar mereka adalah teman SMA-nya.
Bukan teman sih sebenarnya, tapi Melisa ingat karena mereka adalah selebritis sekolah di masa lalu.
"Melisa ya? Beberapa kali Raya jelasin tentang kamu tapi aku gak ingat juga. Sekarang sih ada bayangan lah soal kamu walaupun sedikit," ucap Zia.
Melisa hanya tersenyum kaku mendengarnya. Ingin ia protes karena merasa tersinggung tapi untuk apa ? Yang diucapkan Zia apa adanya. Ia adalah siswa biasa. Tidak seperti mereka.
"Duduk Mel," Raya memundurkan kursi untuk Melisa duduki.
Walaupun Melisa merasa tak nyaman tapi tak mungkin baginya untuk melarikan diri. Melisa merasa asing saat ini.
"Selamat, Mel. Aku lihat nama kamu makin dikenal sekarang ini. Gak nyangka jadi selebgram," ucap lelaki bernama Enzi. Ia juga salah satu teman satu angkatan Melisa dan merupakan teman dekat Raya. Dari dulu mereka berada dalam circle pertemanan yang sama.
"Itu hanya target marketing, aku bukan selebgram," bantah Melisa berusaha untuk tetap rendah hati.
"Hebat sih kalau kata aku, the hot boss menjadi trending tagar beberapa kali dan aku gak percaya saat Raya bilang kalau Melisa itu satu sekolah sama kita" sahut yang lainnya dan Melisa hanya memaksakan senyum untuk menanggapinya. Apa ia begitu tak terlihat di masa sekolahnya dulu.
"Gue dapat ini lah..., Gue dapat itu lah," mereka saling bersahutan seolah tak ingin kalah.
Entah bagaimana Raya bisa bertahan di pertemanan seperti ini dan apa maksudnya mengajak Melisa bertemu mereka. Makan siang kali ini terasa seperti siksaan bagi Melisa.
"Sabar, sebentar lagi selesai kok dan kita bisa pergi," bisik Raya. Ia sadar jika Melisa tak merasa nyaman berada di sana.
Melisa tersenyum hambar dan berusaha untuk lebih bersabar lagi sesuai yang Raya sarankan padanya.
Benar saja, tak lama setelah itu makan siang pun berakhir. Semuanya kompak meninggalkan restoran itu bersama-sama dan menuju parkiran di mana mobil-mobil mereka terparkir dengan rapi dan dalam satu barisan yang sama seolah bersaing.
"Omg... Yang gini juga saingan ?" Melisa tak bisa menahan mulutnya untuk tidak berkomentar dan itu cukup membuat Raya tersenyum penuh arti.
"See you, ketemu lagi nanti ya,"
"Oke, kabarin aja di mana dan kapan,"
Mereka saling bersahutan berpamitan. Hanya Melisa yang tak menanggapi karena ia memang tak ingin bertemu lagi dengan semuanya.
Raya membukakan pintu mobilnya untuk Melisa masuki dan gadis itu bernafas lega saat bisa tak lagi melihat teman-teman Raya.
Raya berlari kecil menuju pintu bagiannya sendiri dan segera mendudukkan bokongnya di atas kursi kemudi.
Melisa duduk dengan gelisah, bisa Raya tebak jika gadis itu sudah tak sabaran untuk meninggalkan tempat ini dan berpisah dengan teman-teman Raya.
Raya menyalakan mesin dan segera memacu mobilnya saat ia keluar dari kawasan restoran itu untuk kembali mengantarkan Melisa.
Hening selama perjalanan, tak ada kata-kata yang keluar dari mulut mereka hingga akhirnya mobil Raya harus berhenti di lampu merah.
"Sorry... Kamu pasti gak nyaman banget sama mereka," ucap Raya memecahkan keheningan.
"Aku gak habis pikir, kamu kok bisa sih temenan lama sama mereka ? Kok bisa betah ?" Melisa benar-benar tak bisa mengontrol dirinya untuk berkata seperti itu.
Raya tersenyum samar dan segera memacukan kembali mobilnya saat lampu lalu lintas berubah hijau.
"Eh.. Sorry... Aku gak bermaksud menyinggung kamu," sesal Melisa.
Raya terdiam, sambil fokus pada jalanan ia tak langsung menanggapi apa yang Melisa utarakan.
"Sebenarnya mereka baik," sahut Raya.
"Really ? Apa kamu memang suka seperti itu ?" Tanya Melisa terheran.
"Hu'um mereka baik," jawab Raya.
"Awalnya kami melakukan itu untuk memberikan semangat satu sama lain, tadinya kami berharap setiap pencapaian yang diraih seseorang dari kami bisa menjadi pendorong bagi yang lainnya untuk maju. Tapi lama-lama kami semakin terhanyut dan malah saling menyombongkan diri," jelas Raya kemudian.
"Akhirnya jadi habit (kebiasaan) ya ?" Tanya Melisa dan Raya menganggukkan kepala membenarkan.
"Lalu ngapain ngenalin aku sama mereka ? to be honest (sejujurnya n), aku gak suka orang-orang yang seperti itu. Orang yang menyukai orang lain karena ada apanya bukan apa adanya," ucap Melisa.
Raya tolehkan kepala dan melihat pada Melisa yang duduk disebelahnya. Ia ingin mengatakan sesuatu tapi nampaknya pria itu ragu.
"Raya, kenapa kamu ketemuin aku sama mereka ? Dari jaman sekolah juga, aku gak akrab sama kamu dan teman-temanmu itu dan mungkin selanjutnya gak ingin ketemu mereka lagi," ucap Melisa jujur.
Lagi-lagi Raya tak langsung menjawab, yang ia lakukan adalah menepikan mobilnya di jalanan yang sepi agar tidak menggangu pengguna jalan yang lainnya.
"Karena aku dari dulu suka kamu, Mel. Sejak kita masih sekolah di SMA yang sama," jawab Raya.
"Hah ?" Melisa menutup mulutnya dengan kedua tangan karena tak percaya.
"Aku selalu suka kamu,"
"Tapi kamu gak pernah berani ngungkapin karena aku terlalu biasa untuk teman-temanmu ?" Potong Melisa dan Raya hanya terdiam terpaku.
"Dan sekarang kamu berani membawa aku pada mereka karena kini aku sudah menjadi seseorang yang cukup dikenal banyak orang hingga ada sesuatu dari aku yang bisa kamu banggakan?" Tanya Melisa tak percaya.
"Aku cinta kamu, Mel. Kalau kamu mau, aku bisa ninggalin mereka demi kamu,"
To be continued