
"Mel, aku percaya sama kamu. Aku yakin kamu bisa menjaga diri dan juga hati hanya untuk aku. Jadi... Jangan kecewakan aku ya..,' ucap Raya dengan matanya yang menatap penuh mohon.
Melisa terdiam saat mendengarnya, apa yang Raya minta terasa berat untuknya. Padahal, sebagai seorang pasangan itu adalah hal yang sewajarnya.
"Mel ?" Tanya Raya lagi karena Melisa tak jua menjawab. Gadis itu terdiam membeku di tempatnya berdiri.
"Ah maaf... Ten- tentu..," jawab Melisa dengan suara kecilnya yang terdengar aneh. Karena tiba-tiba saja ia merasa sulit untuk mengeluarkan kata-kata dari mulutnya.
Raya tersenyum mendengarnya. "Good girl," ucap Raya sembari mengacau puncak kepala Melisa dengan telapak tangannya.
Melisa tersenyum canggung. Padahal Raya adalah kekasihnya tapi apa yang lelaki itu lakukan tak sampai ke dalam hatinya. Malah Melisa merasa tak nyaman dibuatnya.
Raya tundukkan kepala dan mendekatkan wajahnya. Berusaha untuk memberikan kecupan pada Melisa. Tapi, secara spontan gadis itu memundurkan kepalanya. Menghindari kecupan yang hendak Raya berikan. "Ma- maaf," ucap Melisa gelagapan. Merasa tak enak hati karena menolaknya tapi ia juga tak kuasa untuk menerima kecupan itu.
Raya pun tersenyum masam karena penolakan Melisa yang terang-terangan itu. "Nggak apa-apa.. aku ngerti kok.. pasti terlalu cepat kan ?" Ucap Raya sembari memaksakan senyumnya, berusaha menghilangkan rasa kecewanya pada Melisa.
"Ah ya... Maaf... A- aku belum terbiasa. Malah a- aku belum pernah melakukan itu," sahut Melisa sejujurnya.
Mendengar penjelasan Melisa membuat Raya tersenyum penuh arti. Ia merasa senang dan tepat memilih Melisa sebagai kekasih. "Aku yang akan menjadi ciuman pertama kamu, dan aku akan bersabar menunggunya," ucap Raya.
"Hah ?" Gumam Melisa dengan matanya yang sedikit membulat. Ia tak bisa membayangkan berciuman dengan Raya karena bukan lelaki itulah yang dirinya inginkan.
"Jangan dipikirkan. Kita akan jalani hubungan ini pelan-pelan. Tapi... Ku harap perasaan kamu sama besarnya dengan aku,"
"A- aku-"
"Sssstt.. jangan bicara apa-apa lagi," ucap Raya. Ia tak mau Melisa cepat sadar dan segera mengakui perasaan yang sebenarnya. Raya tak akan lakukan itu semua.
"Aku pulang ya... Kabari aku jika ingin dijemput,"
"Ba- baiklah...," Sahut Melisa menyetujui. Ia selalu terbata-bata saat bicara dengan Raya. Bukan karena dadanya berdebar kencang karena perasaan cinta yang membuncah.
Tapi karena Melisa takut jika menerima cinta Raya adalah suatu kesalahan. Ia takut tak bisa menyukai Raya seperti lelaki itu menyukai dirinya.
Raya pergi pun pergi meninggalkan Melisa yang berdiri seorang diri.
Melisa melihat ke lantai dua di mana lampunya terlihat terang benderang karena Riland si bosnya yang hot sedang menunggunya di sana untuk melanjutkan pekerjaan.
Langkahnya pun terasa sama beratnya. Bukan karena pekerjaan yang membebaninya tapi karena berduaan dengan Riland yang membuat Melisa sangat tersiksa.
"Huuftttt," Melisa menghela nafasnya dan ia pun langkahkan kakinya memasuki tempat kerjanya. Berjalan dengan gontai dan dada berdebar kencang tak karuan. Sangat berbeda jika dirinya bersama Raya. Padahal lekaki itulah kekasihnya.
Melisa pun tiba di akhir titian tangga. Hal pertama yang ia lihat adalah bosnya itu. Wajah Riland masih terlihat dingin dengan rahang mengeras dan bibir terkatup rapat. Matanya fokus pada layar monitor laptopnya. Tak sekalipun ia melihat ataupun berbicara pada Melisa. Riland terlihat sangat fokus dengan apa yang sedang dikerjakannya saat ini.
Apa yang Riland lakukan, membuat Melisa melangkahkan kakinya dengan mengendap-endap karena tak ingin menganggu konsentrasi bosnya itu.
"Udah puas kangen-kangenan nya ?" Tanya Riland tepat saat Melisa mendaratkan bokongnya di kursi. Membuat gadis itu melihat tak percaya pada Riland. Ia tak menyangka jika bosnya itu ternyata sadar dengan kehadirannya di sana.
"What ?" Gumam Melisa pelan.
Mata Riland langsung menatapnya dalam setelah menanyakan itu pada Melisa. Tatapannya lurus dan tajam, masih dengan rahang yang terlihat tegas seolah marah dan memang itulah yang ia rasakan. Riland tengah merasa cemburu.
"Ayo pulang, biar aku anterin," ucap Riland sembari berdiri dan menyambar kunci mobilnya yang tersimpan di atas mejanya.
"Pulang ? Ta- tapi pekerjaan saya belum selesai," ucap Melisa. Kali ini ia tergagap karena tiba-tiba saja dadanya berdebar lebih kencang hanya karena pandangan mata Riland yang tak teralihkan darinya.
"Lanjutin besok aja," sahut Riland sembari mengenakan jaketnya. Bersiap-siap untuk mengantarkan Melisa pulang.
"Ta-tapi bukanya, Ka- eh... Bapak memerlukan laporannya besok pagi ?" Tanya Melisa masih dengan rasa gugupnya yang tak juga hilang.
" Saya gak bisa bekerja dengan kamu seperti ini," sahut Riland.
"Kenapa ?" Melisa bergumam pelan tapi Riland masih bisa mendengarnya dengan jelas.
"Bekerja berduaan denganmu seperti ini, menganggu konsentrasi saya," jawab Riland seraya berjalan mendekat pada Melisa yang terlihat terkejut mendengarnya.
"What ?" Lagi-lagi Melisa bergumam pelan.
"Berduaan dengan kamu membuat pikiran saya kacau tak karuan. Dan datangnya kekasih mu membuatnya lebih kacau lagi. Saya tak suka," jawab Riland.
"Lebih kacau ?" Tanya Melisa berkerut alis tak paham.
"Bukan hanya pikiran saja tapi perasaan saya pun ikut tak suka saat pacarmu datang," jawab Riland tanpa bisa menyembunyikan lagi rasa cemburunya..