
Riland berjalan mondar-mandir di depan tokonya sendiri. Sesekali, matanya menatap lurus pada sebuah cafe yang ada di seberang jalan. Wajahnya yang menegang dengan bibirnya yang terkatup rapat, tak bisa menyembunyikan rasa cemas yang sedang dirasakannya.
Ia merasa khawatir pada seorang gadis yang saat ini sedang duduk berdua dengan kekasihnya. Rasa cemas Riland semakin menjadi-jadi karena ia tak bisa melihat gadis itu melalui kaca jendela cafe. "Ah siaaall !!" Umpat Riland.
Ia yakin jika Melisa dan kekasihnya sengaja memilih tempat duduk yang berada di sudut ruangan agar tak keliatan. Riland pun menendang kesal kerikil-kerikil kecil yang ada di bawah kakinya. Hingga terlihat debu yang beterbangan dari kejauhan.
Leah lah yang melihat itu semua. Ia memperhatikan Riland sang boss yang sedari tadi bergerak gelisah tak karuan. Dari gesture tubuh dan mimik wajah yang Riland perlihatkan dengan begitu jelas, Leah cukup paham jika lelaki itu menaruh hati pada rekan kerjanya, Melisa.
Tak mungkin Riland bersikap seperti itu jika ia tak ada hati. Rasa khawatirnya terlalu jelas kentara dan berlebihan. Tak seperti sikap seorang bos pada bawahan seperti pada umumnya.
"Leah, apa Melisa sudah menghubungi kamu ?" Tanya Riland sembari menyembulkan kepalanya dari balik pintu.
" Belum, kayanya mereka belum ngapa-ngapain deh, Pak. Baru juga 10 menit mereka masuk ke dalam cafe itu," jawab Leah yang berdiri di balik meja kasir. Menyahuti sang bos yang berada di luar tokonya guna memata-matai Melisa yang sedang pergi bersama Raya.
Tiba- tiba wajah Riland berubah semakin menyeramkan, "emang mereka mau ngapain di dalam sana ?" Tanya Riland dengan wajahnya yang terlihat kesal.
"Bi- bicara ? Bukannya mereka sengaja pergi berdua untuk saling berbicara ?" Leah balik bertanya karena ia pun tak tahu apa yang akan Melisa lakukan di cafe itu bersama Raya.
" ah f*ck !!" umpat Riland sembari menutup kembali pintu tokonya itu dengan keras, hingga menimbulkan bunyi dentuman yang cukup nyaring. Sampai-sampai Leah pun melonjakkan tubuhnya karena terkejut.
***
Raya tak bisa berkata-kata. Ia terdiam membeku di tempat duduknya, saat mendengar apa yang baru saja Melisa utarakan padanya.
"Raya, Maaf... Aku tak bisa meneruskan hubungan ini,"
Melisa mengucapkannya dengan perlahan namun pasti, hingga Raya bisa mendengarnya dengan jelas. Lelaki itu tak bisa mengelak dari perkataan Melisa.
" Baru juga jadian, masa mau minta udahan lagi ?" Tanya Raya sembari sandarkan tubuhnya di kursi. Ia tersenyum muak saat mengatakannya.
"Aku tahu, aku salah karena berkata-kata kasar padamu. Itu semua karena aku merasa cemburu padamu," lanjut Raya beralasan.
Melisa tak bergeming, ia tak merubah keputusannya sama sekali. "oleh karena itu, sebaiknya kita sudahi semua. Sebelum perasaan yang kita rasakan semakin dalam," sahut Melisa.
"Sudah aku katakan, aku berkata seperti itu karena cemburu,"
"Cemburu bukanlah sebuah alasan untuk membenarkan apa yang kamu lakukan padaku. Dengan cemburu bukan berarti kamu bisa memaki-maki aku di depan banyak orang tanpa bertanya lebih dulu," potong Melisa cepat
"Aku sudah memaafkan mu, kamu tak usah khawatir. Hanya saja...," Melisa menjeda ucapannya karena Raya terlihat tak ingin mendengar perkataannya. Lelaki itu menatap ke sembarang arah padahal Melisa tengah mengajaknya berbicara. Raya terus-terusan menghindari tatapan mata Melisa.
"Raya..," ucap Melisa agar lelaki itu melihat ke arahnya.
Mau tak mau, Raya pun melihat padanya dengan terpaksa.
"Raya... Aku tak bisa meneruskan hubungan ini denganmu. Aku tak ingin kita saling menyakiti lebih jauh lagi. Aku tak mau terus-terusan membuatmu cemburu karena pekerjaanku,"
"Kamu bisa keluar,"
"Aku suka dengan pekerjaanku !" Potong Melisa cepat. "Walaupun aku tahu jika pekerjaanku ini tak bernilai tinggi di matamu," lanjutnya lagi. Dan Raya pun bungkam saat mendengarnya. Memang benar apa yang Melisa katakan padanya. Beberapa kali Raya merendahkan pekerjaan Melisa dengan terbuka.
"Tak mungkin bagiku untuk meneruskan hubungan jika kamu tak percaya padaku,"
"Aku akan belajar buat percaya sama kamu," kukuh Raya yang tak ingin berpisah.
Melihat Raya yang bersikap seperti itu membuat Melisa menarik nafasnya dalam. "Dan alasan yang paling utama yaitu.. aku tak bisa bertahan dengan lelaki yang kasar. Baik itu dalam kata-kata maupun tindakan. Maaf... Aku benar-benar tak bisa denganmu.. kumohon mengertilah..,"
Mata Raya menyorot tajam dan dingin pada Melisa. Ia pun mendengus kesal, lalu tersenyum muak saat mendengarnya. Ia tak bisa membujuk Melisa untuk memberinya kesempatan dan bertahan dalam hubungan yang sangat singkat itu. Padahal Raya sudah menyukai gadis itu sejak lama.
"Apakah kesalahanku se fatal itu ?" Tanya Raya yang masih berusaha mencoba untuk mempertahankan hubungan asmaranya.
"Kalau boleh jujur.. Saat melihatmu datang saja membuatku takut. Dan untuk duduk berdua denganmu di sini, aku memerlukan keberanian yang luar biasa. Apa itu tak cukup ?"
Raya menarik nafasnya dalam, ia sadar apa yang dilakukannya pada Melisa memanglah sangat keterlaluan. Tapi itu adalah salah satu kekurangannya. Raya sering tak bisa mengontrol emosi dan juga mulutnya saat ia sedang dalam keadaan marah.
"Baiklah, aku rasa percuma saja untuk bicara sama kamu. aku kira kamu adalah gadis yang bisa diajak bicara tapi ternyata tidak," ucap Raya. Sebuah senyuman miring penuh ejekan tersungging di bibirnya.
" Jika memang itu maumu, ya sudah kita pisah saja," sahut Raya sembari berdiri dan berlalu pergi. Meninggalkan Melisa begitu saja di tempat duduknya. Lelaki itu berjalan keluar tanpa menolehkan kepalanya lagi.
Raya masih marah dan belum bisa menerima kenyataan jika Melisa tak ingin lagi dengannya. Membuat lelaki itu pergi begitu saja tanpa meyelesaikan pembicaraan mereka dengan baik-baik.
"Huufft... Nyeremin banget sih," gumam Melisa pelan. Tangannya yang gemetar meraih gelas kopinya. Lalu ia pun menyesap isinya untuk menenangkan diri.
To be continued ♥️