The Hot Boss

The Hot Boss
Otw Makan Siang



"Sudah saya bilang, saya tak peduli dan kami sudah tak lagi bertunangan," potong Riland.


"A- apa ?" Melisa bergumam pelan tapi Riland masih bisa membaca pergerakan bibirnya dari tempat ia duduk. Hingga lelaki itu bisa tahu apa yang Melisa ucapkan.


Masih dengan tatapan mata yang tertuju oada Melisa Riland berucap. " Bahkan saya tak pernah bertunangan dengannya."


Melisa membulatkan mulutnya tak percaya. Kedua mata Melisa bergerak mengikuti pergerakan tubuh Riland yang kini mendekat padanya. Melisa menelan ludah saat Riland berdiri tegak di hadapannya. Ia mendongakkan kepalanya agar bisa melihat wajah bos-nya yang hot itu.


Mata Riland menyorot tajam pada gadis yang kini melihatnya tanpa berkedip. Riland sunggingkan senyuman menggoda di bibirnya, membuat kedua lutut Melisa menjadi lemas dibuatnya.


"Jadi.... Mau kan makan siang denganku ?"


Bagai terhipnotis, Melisa langsung anggukan kepalanya tanpa bersuara. "Good," gumam Riland. Matanya yang menyorot tajam kini meredup sayu.


Setelah mendapatkan jawaban dari Melisa, ia pun kembali ke tempat duduknya. Dan apa yang Riland lakukan tak lepas dari tatapan mata Melisa.


Ketika Riland dudukkan kembali tubuhnya di kursi, mata mereka saling bertemu lagi. Melisa pun segera tundukkan kepala. Menghindari pandangan Riland yang melihatnya dengan tatapan mata yang sulit Melisa artikan. Dan sialnya lagi, sinar matahari pagi yang menimpa wajahnya membuat lelaki itu terlihat lebih menarik lagi di mata Melisa.


"Kuat, Mel... Kuat...," Ucap Melisa dalam hatinya. Melisa melafalkan kata-kata mantra agar dirinya bisa kuat dalam mengahadapi bosnya yang super panas itu.


Susah payah Melisa berkonsentrasi pada pekerjaannya. Sedangkan di depan sana Riland terus memperhatikannya.


***


Waktu istirahat siang pun tiba. Seperti yang Riland janjikan tadi pagi, ia pun datang ke meja Melisa untuk mengajaknya makan siang.


Karena Riland sangat bersikukuh, Melisa pun tak dapat menolaknya. Ia berjalan mengikuti Riland, menuruni tangga.


Leah senyum-senyum sendiri saat melihat kedatangan bos dan juga temannya itu. " Ayo makan di luar," ajak Riland pada Leah.


"Nggak ah, nanti ganggu," sahut Leah. Terdengar nada sindiran di dalam kata-katanya.


Kedua pipi Melisa terasa panas. Ia yakin jika warnanya pasti sudah berubah merah. Segala sesuatu yang berkait dengan Riland, membuat Melisa dengan mudah terbawa perasaan. "Gang- ganggu apanya sih ? Cuma makan doang," ucap Melisa terbata-bata.


Sedangkan Riland masih bisa mengendalikan dirinya. Lelaki itu terlihat biasa saja walaupun Leah menggodanya. Riland malah lebih suka untuk melihat wajah malu-malu Melisa. Terlihat begitu menggemaskan di mata Riland.


" Sebenarnya pengen ikut sih, tapi... Pacar aku mau datang ke sini untuk mencari kado buat adiknya yang ulang tahun," tolak Leah beralasan.


"Oke, next kita makan bertiga ya," ajak Riland dan Leah pun menyetujuinya.


"Eh, konsep untuk iklan berikutnya udah jadi kan ?" Tanya Riland pada Leah. Sepertinya lelaki itu memberikan perintah untuk membuat iklan yang baru.


"Udah selesai, tinggal ngumpulin bahan dan pengambilan gambar video. Terus jadi deh !" sahut Leah


Melisa hanya melihat keduanya sacara bergantian


Ia tak mengerti apa yang sedang Leah dan Riland bicarakan. Setahunya Melisa, tak ada rencana untuk membuat iklan lagi setelah Mona sang tunangan Riland muncul di antara mereka dan membuat kericuhan.


"Yuk, Mel !" Ajakan Riland membawa melisansadar dari lamunannya.


"Mmmh oke," sahut Melisa menyetujui. Padahal saat ini dirinya masih bertanya-tanya tentang rencana yang sedang disusun oleh Leah dan bosnya itu.


"Ya udah... Kita pergi dulu ya," ucap Melisa pada sahabatnya itu.


Leah pun anggukan kepalanya. " Have fun go mad ya," sahutnya memberikan semangat sembari mengacungkan kedua jempolnya.


Riland berjalan lebih dulu dan Melisa mengekori di belakangnya. Baru saja Riland akan membuka pintu toko nya itu untuk pergi. Tapi seseorang lebih dulu membukanya dan muncul lah seorang laki-laki dari balik pintu itu.


Lelaki itu menatap nyalang pada Melisa juga Riland. Ia adalah Raya, lelaki yang belum lama ini menjadi kekasih Melisa.


Raya sunggingkan senyum miring penuh ledekan di wajahnya. "gue kira, lo cewek baik-baik. Tapi ternyata.....,"


Bersambung...