The Hot Boss

The Hot Boss
Kenyataannya



"Huuufffttt.... Ayo, Mel !! Kamu pasti bisa !!" Melisa menyemangati dirinya sendiri sebelum ia mendorong pintu kaca yang masih bertuliskan kata 'closed' itu. Sudah berlalu 3 bulan sejak ia membuat konten iklan dengan Riland dan hasilnya sangat luar biasa. Dalam waktu singkat toko pakaian Riland lebih ramai dari sebelumnya dan tagar The Hot Boss pun semakin banyak di gunakan oleh para pelanggan yang mengunggah barang belanjaan mereka ke sosial media.


Pengikut Riland pun semakin banyak, di Instagram saja sudah mencapai seratus ribu lebih akun yang mengikutinya dan kebanyakan dari mereka adalah kaum hawa. Image The Hot Boss begitu kental menempel pada diri Riland hingga tak heran jika banyak para gadis yang menggandrunginya.


Begitu juga Melisa sang pencetus ide, pengikutnya kian bertambah walaupun tak sebanyak Riland. Dari sekian banyak akun yang mengikutinya, sebagain besar berharap jika Riland dan Melisa bersatu sebagai kekasih di dunia nyata. "Bukannya tak ingin.... Tapi Riland tak ada hati padaku," itulah kata-kata yang sering melintas dalam pikiran Melisa saat ia membaca komentar-komentar yang memintanya untuk menjadi sepasang kekasih yang nyata dengan bossnya itu.


Setiap pagi saja ia harus menyemangati dirinya sendiri sebelum mulai bekerja karena rasa cintanya yang tak kunjung padam, dan Riland tak kunjung peka. Entah tak peka, atau memang ia tak tertarik padanya.


"Pagi, Leah Sayang...," Sapa Melisa pada teman kerjanya itu yang sudah berdiri di belakang mesin kasir bersiap-siap untuk memulai hari.


"Pagi bestie," balas Leah seraya tersenyum menyambut kedatangan Melisa.


"Boss udah datang ?" Tanya Melisa. Tadi ia melihat mobil Riland sudah terparkir sempurna di depan toko padahal hari masih pagi. Bossnya itu biasanya datang lebih siang dari Melisa dan juga Leah.


"Hu'um, udah. Atau mungkin....," Leah menjeda ucapannya.


"Mungkin apa ?" Tanya Melisa ingin tahu.


"Mungkin dia gak pulang dan tidur di toko, soalnya pas aku datang mobilnya udah ada dan Riland sendiri yang membukakan pintu toko dari dalam dengan wajah bantalnya," jawab Leah.


Melisa hanya mengangguk-angguk kepalanya pelan dan ber-oh ria saja. Berbulan-bulan kerja di toko milik Riland, baru kali ini mendapati sang boss tidur di toko.


"Apa Riland ada di atas ?"


"Iya ada, tapi aku gak tau apa dia nerusin tidurnya atau udah mulai kerja," jawab Leah sedikit ragu.


Melisa melihat ke arah pintu yang terbuka lebar, di balik pintu itu terdapat tempat penyimpanan stok barang dan sebuah tangga menuju lantai 2 di mana meja kerjanya berada dan saling berhadapan dengan milik Riland.


"Mmm.... aku naik dulu deh. Kalau ternyata Riland tidur di sofa, aku turun lagi dan ikut kerja di sini ya ?" Putus Melisa. Tak mungkin ia bekerja sementara sang bossnya yang hot tidur di sofa. Bisa Melisa jamin jika konsentrasi bekerjanya akan langsung buyar karena ia akan asik menatapi sang boss tidur atau berakhir merebahkan diri di sebelahnya. "Hiihhhh, ini otak !!" Keluh Melisa sembari menjambak kesal rambutnya sendiri karena kepalanya selalu berpikir yang tidak-tidak saja tentang bosnya itu.


"Tapi kan bisa saja terjadi jika ada setan lewat dan menggoda iman," gumam Melisa. Ia masih berbicara pada dirinya sendiri hingga membuat Leah terheran melihatnya.


" Kenapa, Mel ?" Tanya Leah dan Melisa hanya tersenyum canggung menanggapinya.


"Aku naik dulu ya," pamit Melisa, kali ini ia benar-benar melangkahkan kakinya untuk pergi ke lantai 2 di mana laptopnya untuk bekerja ada di atas mejanya.


Melisa melangkahkan kakinya pelan-pelan, ia tak mau derap langkahnya menganggu Riland jika lelaki itu benar-benar sedang tidur.


Tepat seperti dugaannya, Riland tengah membaringkan tubuhnya di atas sofa dengan salah satu lengan menutupi wajah tampannya.


Kaos hitamnya tersingkap hingga otot perutnya yang terlihat liat terpampang dengan nyata dan itu membuat Melisa menelan ludahnya paksa.


Melisa adalah wanita dewasa yang normal, tentu saja apa yang dilihatnya saat ini membuat tubuhnya berdesir.


Melisa mempercepat langkah menuju meja kerjanya, ia mengambil laptop dan berkas dengan tergesa agar bisa kembali ke lantai bawah bersama Leah. Dugaannya ternyata benar, bekerja dengan Riland yang sedang tidur tidak baik bagi kinerja otak juga hatinya. Jangan lupa, hasrat primitifnya yang mulai tersulut. Paket lengkap antara perasaan cinta dan jiwa mesum akan langsung menyelimuti dirinya saat bersama Riland yang tertidur seperti itu.


"Hush... Hushh," Melisa mengusir pikiran kotornya dengan mengipas-ngipas tangannya di atas kepala.


***


"Selamat datang," ucap Leah ketika pintu toko terbuka dan masuklah seorang laki-laki dengan setelan jasnya. Tampilannya terlalu formal untuk seseorang yang akan berbelanja di toko Riland.


"Lihat deh Mel ! Kayanya dia salah masuk toko," Leah menundukkan kepalanya dan berbisik pada Melisa yang duduk dengan laptop di pangkuannya.


Melisa mengangkat wajahnya dan melihat ke arah lelaki itu lalu tersenyum geli. Namun sedetik kemudian ia kembali fokus pada pekerjaannya.


Setelah beberapa menit berkeliling toko, lelaki berjas itu menghampiri meja kasir dengan beberapa potong pakaian yang dipilihnya. Leah melepaskan pengaman dari baju-baju itu lalu meng-scan barcode itu dan melipatnya sebelum memasukkannya ke dalam paper bag dengan ukuran yang cukup besar. Tak menyangka jika lelaki itu membeli cukup banyak baju.


Tanpa Melisa dan Leah sadari ternyata lelaki berjas hitam itu terus memperhatikan Melisa yang tengah asik bekerja. "Melisa kan ?" Tanya nya dan Melisa pun mengangkat wajahnya menatap lelaki yang baru saja menyebutkan namanya.


"Iya, saya Melisa," jawabnya sembari tersenyum manis. Setelah konten The Hot Boss booming, banyak orang yang mulai mengenalinya dan Melisa rasa lelaki itu adalah salah satunya. Setelah tersenyum pada lelaki itu, Melisa pun kembali sibuk dengan pekerjaannya.


"Mel, ini aku Raya," ucapnya lagi dan Melisa pun kembali melihat ke arah suara.


"Raya ?" Melisa berkerut alis seolah berusaha mengingat sesuatu.


"Raya Ravelio, Kelas Ipa 3. Dulu kelas kita bersebelahan pas SMA,"


"Oooh  iya !" Ucap Melisa seraya menyimpan laptopnya di meja, lalu ia pun berdiri untuk menghampiri. Tentu saja Melisa ingat dengan lelaki itu, karena ia adalah salah satu anak populer di sekolahnya dulu.


"Hai Raya, aku gak nyangka loh kamu masih inget aku," ucap Melisa sedikit terheran. Ia dan Raya bukan teman baik bahkan dulu ketika sekolah di tempat yang sama keduanya hampir tak pernah bertegur sapa karena Raya adalah salah satu selebritis sekolah, sedangkan Melisa hanya pelajar biasa.


"Kok ada di sini ?" Tanya Melisa dan Leah memperhatikan keduanya sembari menyelesaikan pekerjaannya.


"Iya, sebenarnya aku kerja di gedung yang letaknya tak jauh dari toko ini. Sejak beberapa bulan lalu aku udah lihat kamu melalui iklan, tapi aku masih ragu apa benar kamu Melisa teman aku yang dulu ? dan baru bisa datang hari ini hanya untuk memastikan jika itu beneran kamu." Jawab Raya.


"Hah ?" Melisa mendengarnya tak percaya. Seorang Raya datang hanya untuk memastikan dirinya.


"Jangan hanya memastikan, ajak kencan juga ! Melisa single loh," ucap Leah menyahuti dan ia mendapatkan delikan mata dari Melisa.


"Oh ya ? Bagaimana dengan The Hot Boss ? Apa kalian mempunyai hubungan khusus  ?" tanya Raya dengan mimik wajah serius.


"Eh ?" Melisa cukup terkejut dengan apa yang Raya tanyakan.


"Itu hanya settingan aja, Melisa 100 persen available," Leah yang menjawab pertanyaan lelaki bernama Raya itu.


Merasa malu, Melisa tak ingin Raya mengira dirinya gak laku "Im not single, im just dating my self," sahut Melisa menirukan sebuah lagu yang tengah viral. Raya pun tertawa mendengarnya.


"Seriusan, aku gak minat dalam suatu hubungan," lanjut Melisa. "Dengan lelaki lain, maunya dengan Riland," ia meneruskan ucapannya dalam hati.


"Kamu belum tahu aja gimana rasanya," ucap Raya  terdengar tak terima jika Melisa tidak berminat dalam satu hubungan cinta.


"Semua jadi satu juta, tujuh puluh ribu," Leah memotong pembicaraan mereka karena ia telah menyelesaikan perhitungan dan juga selesai mengemas semua belanjaan raya dalam sebuah paper bag ukuran besar.


"Ini," Raya menyerahkan sebuah kartu debit dan segera membayarnya. Tak heran Raya berbelanja sebanyak itu karena Melisa tahu jika Raya memang berasal dari keluarga berada.


Raya menekan 6 nomor pin acak diatas sebuah mesin pembayaran dan ia pun meraih kartu serta paper bag besar yang Leah berikan.


"Kamu istirahat jam berapa Mel ?" Tanya Raya.


"Mmm... Gak tentu, aku dan Leah giliran untuk makan siang dan istirahat,"


"Semoga besok istirahatnya jam 12 tepat ya. Aku pengen ngajak kamu makan," lanjut Raya dan lagi-lagi membuat Melisa tercengang.


"Anggaplah reuni sekolah," Raya tersenyum ramah kemudian berpamitan.


Leah menahan senyumnya saat Melisa tolehkan kepala. "Apa ?" Tanya Melisa pada temannya itu.


"Kayanya Melisa ada yang naksir!!" Jawab Leah penuh semangat. Sedangkan Melisa hanya mencebikkan bibirnya saja. "Kalau Raya memang menyukainya ? Kenapa gak dari zaman sekolah lelaki itu mendekatinya ?" Pertanyaan itu muncul dalam benak Melisa.


***


Pukul 3 sore Melisa memasuki toko tempatnya bekerja, baru saja ia pergi ke luar membeli makanan untuknya juga Leah. Tepat di sebelah mobil Riland terparkir mobil lainnya yang cukup mewah. Melisa kira sedang ada pembeli yang mengunjungi tokonya.


Tapi suasana cukup sepi, ada beberapa pengunjung yang sedang melihat-lihat. Ia pun segera menghampiri Leah dan memberikan pesanan gadis itu.


"Aku beli kopi juga buat Riland, tar kita jajan dia gak dibellin suka ambekan," ucap Melisa beralasan dengan logat Sunda nya yang kental.


"Ya udah kasih aja, dia di atas," sahut Leah.


Melisa membawa satu cup es kopi dengan rasa kesukaan bossnya itu. Ia pun menaiki tangga dengan perlahan karena sayup-sayup terdengar dua orang yang sedang saling berbicara.


"Gue gak nyangka lo jadi selebgram sekarang," ucap salah satunya yang Melisa yakini adalah seorang laki-laki.


"Lo beneran jadian ma tuh cewek ?"


"Siapa ?" Kali ini suara Riland yang terdengar.


"Melisa, pegawai lo ?"


"Nggak lah, gila apa ?" Jawab Riland sembari tertawa ringan.


"Hu'um gue yakin juga begitu, cewek kaya dia bukan tipe dan levelan elu,"


Melisa menghentikan langkahnya, hatinya terasa perih seketika. Ia pun menghapus air bening yang membasahi pipinya tanpa di sadari. Kenyataan yang ia dengar cukup membuatnya patah hati.


Dengan langkah gontai, Melisa kembali menuruni tangga dan membuang es kopi yang dibelinya untuk Riland ke tempat sampah.


To be continue