
'Bruk !' Riland sandarkan tubuhnya di kursi. Lalu condongkan kepalanya pada Melisa. Belum apa-apa, Riland sudah menyiksa Melisa dengan sikapnya.
Melisa duduk bersandar dengan dada berdebar kencang. Wangi tubuh Riland yang maskulin, khasnya pria dewasa memanjakan indra penciumannya. Guratan urat yang menghiasi tangan kekar Riland terlihat samar di antara cahaya temaram. Sungguh lelaki itu terlihat begitu menggoda.
Ya...
Bukannya melihat pada layar, tapi Melisa malah memperhatikan Riland yang duduk di sebelahnya. Bahkan gadis itu harus menelan ludahnya dengan susah payah karena terpesona oleh keindahan yang Tuhan ciptakan dihadapannya.
Merasa diperhatikan, Riland pun tolehkan kepala. Ia tersenyum saat mendapati wajah terkejut Melisa yang tengah memperhatikannya. "A-ada lebah tadi," ucap Melisa asal. Memberikan alasan kenapa ia melihat pada Riland padahal lelaki itu tak meminta penjelasannya.
Riland berkerut alis saat mendengar ucapan Melisa. "Lebah ?" tanya Riland dengan nada suara tak percaya. Seekor lebah di dalam gedung bioskop ? Rasanya tak mungkin bukan ?
Melisa semakin gelagapan. Matanya membola dan mulutnya terbuka dengan membentuk hurup 'O'. "Ta-tadi memang ada !" belanya lagi, padahal Melisa sadar jika Riland tahu dirinya telah berbohong.
"Nya- nyamuk !"
"Sssttttt !!" Dari arah belakang, seorang gadis muda mengisyaratkan Melisa untuk tak membuat keributan karena Melisa berbicara dengan cukup keras hingga menganggu sekitarnya.
"Ma- maaf," ucap Melisa sungkan. Ia sedikit anggukan kepalanya pada gadis yang tadi menyuruhnya diam.
"Tadi beneran ada nyamuk," ucap Melisa setengah berbisik pada Riland. Ia masih mencari alasan kenapa tadi dirinya memperhatikan lelaki yang merupakan bosnya itu. Lalu Melisa menarik diri, menjauh dari Riland dan duduk bersandar di kursinya.
Riland mengul*m senyum, menahan geli dalam hati. Tentu saja ia tahu Melisa tengah berbohong padanya. "Iya, aku percaya," kata Riland.
Film pun berjalan, sudah hampir tiga puluh menit lamanya. Tapi selama itu, Melisa tak mengerti alur cerita yang disajikan di layar.
Melisa tak mengerti bukan karena ia bodoh, tapi karena konsentrasinya terpecah pada Riland yang kini menyandarkan kepala ke sandaran kursi yang Melisa duduki hingga jarak merasa kian dekat saja.
"Mau minum ?" tanya Riland, dan Melisa pun mengangguk. Lalu lelaki itu mengambilkannya untuk Melisa, padahal pun Melisa bisa melakukannya sendiri.
"Ini ! kamu kelihatannya tegang, Mel. Padahal ini film action comedy loh," bisik Riland.
"Adegan actionnya bikin deg-degan," sahut Melisa dengan sama berbisik. Ia lakukan itu sembari menyesap minumannya cepat. Berharap dengan itu, rasa gugupnya bisa sedikit hilang.
Menit demi menit pun berlalu, akhirnya film pun berakhir dengan Melisa yang masih tak mengerti jalan ceritanya. Yang ia lakukan selama berada di dalam stadio yaitu hanya berdoa dalam hati agar film itu cepat selesai. Berdekatan dengan Riland tak baik untuk kewarasannya.
Pesona Riland terlalu membuatnya mabuk kepayang. Dan sialnya lelaki itu terus saja mendekatinya, membuat Melisa semakin tersiksa dengan perasaannya.
"Aku mau pulang," kata Melisa saat mereka sudah keluar dari gedung studio film. Mendengar hal itu, Riland pun melirik jam tangannya yang kini menunjukkan pukul setengah tujuh malam.
"Gak mau makan dulu?"
Melisa menggelengkan kepalanya dengan tegas sebagai jawaban. Ia ingin segera pergi, memisahkan diri dari Riland agar dirinya tak semakin terbawa perasaan.
"Yakin ?" tanya Riland lagi.
"Ya !" Jawab Melisa mantap.
Bisa Riland lihat dengan jelas di wajah Melisa. Gadis itu terlihat jengah dan juga gelisah seperti menahan sesuatu.
"Baiklah jika itu mau kamu," sahut Riland menyetujui.
***
Keesokan harinya, Melisa datang ke toko dengan dikejutkan banyaknya orang di sana. Mereka bukan pembeli, karena datangnya begitu pagi.
Orang-orang itu adalah para profesional di bidang periklanan.
Melisa mengangguk paham dan dadanya kembali berdebar kencang saat matanya beradu pandang dengan Riland. Lelaki jangkung itu sudah terlihat tampan dengan balutan kemeja flanel kotak-kotak berwana biru tua dan putih. Riland menggulung kain kemejanya hingga lengan, membuat guratan urat terlihat menghiasi lengannya yang kekar. Celana jeans berbentuk slim fit dengan warna biru senada, memperlihatkan kakinya yang panjang.
"Ayo, Mbak Melisa juga segera bersiap!" ucap salah satu kru mengingatkan.
"Apakah kemarin saja gak cukup ya, Tuhan ?" batin Melisa dalam hatinya.
Godaan saat rapat dan juga sikap manis Riland saat menonton film, sudah membuat Melisa belingsatan. Mati-matian Melisa berusaha untuk tetap terlihat tenang. Padahal dalam hatinya, Melisa sibuk untuk menenangkan diri.
Semalam, setelah Melisa menceritakan semuanya pada Agni si teman sekamar, ia sangat kesulitan untuk tidur. Perasannya pada Riland semakin kuat.
Dan pagi ini... Melisa harus langsung melakukan pengambilan gambar iklan yang di dalamnya syarat akan adegan yang melibatkan Riland.
"Mel, cepet ganti baju !" bisik Leah mengingatkan, karena Melisa hanya terdiam terpaku si tempatnya berdiri dengan tatapan mata kosong.
"Ah ya !" sahut Melisa dengan sedikit terkejut. Ia pun segera mengambil satu stel baju yang akan dikenakannya. Setelah itu, Melisa mendapatkan sentuhan make up dari seseorang yang Riland datangkan secara khusus untuk pembuatan iklan tersebut.
Setelah lebih dari satu jam berlalu, Riland pun datang menghampiri. "Mel, kamu udah siap ?" tanya Riland dari balik pintu.
"Sudah !" Melisa menjawab, bersamaan dengan keluarnya ia dari ruang gudang penyimpanan yang kini di sulap sebagai studio mini tempat pembuatan iklan.
Riland tercengang saat melihat penampilan Melisa yang begitu berbeda. Gadis polos itu terlihat sangat cantik di dalam polesan make up natural. Butuh waktu beberapa detik untuk Riland kembali ke alam sadarnya.
"A-apa aku terlihat aneh ?" tanya Melisa sambil tersenyum canggung. Ia tak pernah melihat Riland tercengang saat memandangnya.
Riland pun menggelengkan kepalanya cepat, "enggak aneh, kamu malah terlihat sangat cantik," jawab Riland sejujurnya. Membuat semburat merah menghiasi kedua pipi Melisa saat ini.
"Ini !" Riland memberikan beberapa lembar kertas pada Melisa. "Materi iklan hari ini," jelas Riland, dan Melisa pun manggut-manggut paham.
Melisa membacanya sekilas. Semuanya tak sulit, sangat sederhana. Yang perlu ia lakukan hanya berjalan berdampingan dengan Riland sambil berpura mengobrol. Kemudian di akhir cerita ia hanya perlu berdiri berhadapan dengan Riland dan saling pandang.
"Syukurlah ternyata tak begitu sulit," Melisa tersenyum lebar setelah membacanya.
"Lakukan se relax mungkin ya ! Karena kita akan menayangkanya secara live," ucap sang sutradara mengingatkan.
"A-apa ?" Melisa ingin protes tapi belum juga Melisa berbicara panjang lebar, dirinya sudah ditarik untuk segera melakukan adegan.
"Semuanya akan baik-baik saja. Aku yakin kamu bisa melakukannya," bisik Riland menenangkan.
"Yaa action !" teriak sang sutradara.
"Tinggal jalaaan, berhenti dan saling pandang !" batin Melisa dalam hati secara berulang-ulang.
Tapi...
Tiba-tiba tubuh Melisa menegang karena kini Riland menarik jemari Melisa dalam genggamannya. Padahal hal itu tak ada di dalam naskah yang Melisa baca.
Melisa melihat ke arah sutradara, tapi lelaki itu pun terlihat tak protes dengan apa yang Riland lakukan saat ini.
To be continued
Maaf baru update lagi
Minal aidzin yaa semuanya
Maafkan aku lahir batin