
Melisa menarik nafas dalam dan pejamkan matanya, menikmati sentuhan bibir Riland pada bibirnya. Tapi... Baru juga satu detik bibir itu bertemu, terdengar suara teriakan seseorang. "Cut !! Cut !! Hei ingat kalian sedang live !"
Mendengar hal itu, Melisa pun tersadar. Ia membuka matanya dan menjauhkan diri dari Riland. Itu bukan teriakan sang sutradara, tapi Leah lah yang berteriak untuk mengingatkan.
Riland pun tersentak, ia tegakkan tubuhnya dan membelai lembut pipi Melisa dengan jemarinya. "Maafkan aku yang terbawa suasana," ucap Riland pelan. Kedua sudut bibirnya tertarik dan tercipta lah sebuah senyuman manis di wajahnya. Riland terlihat bahagia saat ini.
"Oke enough for today. Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung kami," ucap Riland pada kamera.
"Jadi sudah clear yaa.. aku lah yang jatuh cinta pada Melisa. Dan tak hanya itu, im madly in love with her ! ( Aku benar-benar jatuh cinta padanya !" lanjut Riland tanpa rasa malu mengakui perasaannya pada semua orang.
Acara yang sedang berlangsung itu dibanjiri komentar. Banyak dari mereka mengucapkan kata-kata selamat pada Melisa juga Riland. Tapi tak sedikit juga yang merasakan patah hati karena kini 'the hot boss' sudah sah menjadi milik Melisa.
Setelah siaran langsung itu berakhir, Riland juga Melisa mendapatkan kata-kata selamat dari para kru. Bahkan Leah berlari dan berhambur pada Melisa. "Selamat ya Mel !! Apa aku bilang ? Riland suka kamu !!" ucap Leah sembari memeluk erat tubuh Melisa.
"Leah, udah dong ! Gantian ! aku juga mau !" protes Riland, dan ia mendapatkan sebuah cubitan gemas di pinggangnya.
"Ough ! Sakit, Yank,"
"Yank ? Apa ini nyata ?" Pikir Melisa sembari melihat pada jemarinya. Pinggang Riland terasa liat di jari Melisa. Gadis itu menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. Dulu, ia hanya menikmati keindahan itu dari kejauhan dan angan-angan. Tapi sekarang, Melisa bisa merasakan dengan jemarinya sendiri.
"OMG Sayang ! Sayang ! Calon bucin nih," ucap Leah sambil geleng-geleng kepala, melihat tak percaya pada bosnya itu.
Bukannya merasa malu atau bagaimana, Riland malah merangkul pundak Melisa agar lebih dekat dengannya. "Lah kan emang bener, dia sayangnya aku," ucap Riland sembari mengeratkan rangkulannya. Lalu ia tundukkan kepala dan berbisik pada gadis yang dicintainya itu. "Kita terusin yang tadi yu?"
Melisa tolehkan kepala, melihat pada Riland penuh dengan tanda tanya. "Yang tadi ?" Gadis itu berkerut alis tak paham.
Riland berdecak kesal, "ckk ! Yang tadi sebelum si Leah teriak 'cut !' padahal baru juga nempel dikit," bisik Riland lagi.
Blush ! Pipi Melisa langsung terasa panas saat ia ingat bagaimana bibir Riland bersentuhan dengan miliknya. "Ya ampun, mesoom !!" Lagi-lagi Melisa mencubit pinggang kekasih itu.
"Ough !!" Riland kembali mengaduh. "Usapin Yank, bukannya dicubit," bisiknya lagi. Membuat wajah Melisa makin merah padam dibuatnya.
***
Siang itu Riland mengadakan acara makan siang bersama sebagai ucapan terimakasih pada banyak orang yang mau mendukungnya. Kali ini lelaki jangkung itu terlihat tak segan-segan lagi berdekatan dengan Melisa. Bahkan ia terus saja mengekorinya.
Seperti sekarang ini, Riland ikut membantu Melisa menyiapkan meja di lantai dua. Ruang yang biasanya digunakan untuk bekerja, kini di sulap menjadi tempat makan bersama.
"Jangan capek-capek," ucap Riland yang berdiri tegak di belakang Melisa. lelaki itu meletakkan kedua telapak tangannya di masing-masing bahu Melisa. Tinggi Melisa yang hanya sebatas dada, membuat gadis itu harus mendongakkan kepalanya untuk melihat sang kekasih.
"Really ? Jangan capek-capek? Terus yang ngasih tugas bertumpuk-tumpuk itu siapa ?" Tanya Melisa sambil memicingkan matanya.
Riland tertawa lalu sedikit bungkuk kan tubuhnya agar bisa berbicara dengan lebih dekat pada Melisa. "Aku lakuin itu biar bisa lama-lama lihat kamu. Dan percayalah... Aku sangat suka saat kamu ada dalam jangkauan mataku," bisik Riland dengan nada penuh rasa posesif.
Tubuh Melisa menegang karena kedekatan yang tercipta. Membuatnya harus menelan ludahnya yang terasa kelat.
"Dan satu lagi... Aku ini laki-laki pencemburu. Jadi jangan coba-coba dekat dengan lelaki lain, karena aku bisa gila karenanya,"
Melisa terkekeh geli saat mendengarnya.
"Aku serius!" ucap Riland lagi seraya memutar tubuh Melisa agar menghadapnya. Mata mereka pun bertemu dan menatap satu sama lain.
"Aku orangnya susah buat jatuh cinta. Tapi sekalinya jatuh, maka aku akan jatuh dengan dalam. Seperti yang aku rasain sekarang ini sama kamu, Mel." Riland mengatakan hal itu seraya menatap mata Melisa dalam-dalam.
"Benarkah ?" Melisa bertanya seraya mencari jawabannya di mata Riland.
"Hu'um... Benar... Saat kamu bersama lelaki lain di waktu yang lalu... Tanpa kamu tahu, hatiku terasa panas dan ingin meledak karena rasa cemburu yang begitu menggebu," jelas Riland.
"Oh ya ?"
"Ya ! Dan kini aku tak akan lagi membuat perasaanmu menjadi ragu," jawab Riland.
"What ?" Melisa bergumam pelan dan pandangannya tak teralihkan dari mata Riland.
"Mulai sekarang aku akan tunjukkan bahwa aku benar-benar mencintaimu. Aku juga akan katakan padamu banyak kata-kata cinta, agar kamu tahu bahwa aku ada dan mencintaimu. Tak kan lagi ku buat hatimu meragu padaku,"
Mata Melisa terasa panas dan juga buram di saat yang bersamaan karena air bening yang tiba-tiba menggenang di pelupuk matanya. Ucapan Riland membuat dirinya merasa haru. Ia pun anggukan kepalanya menyetujui.
"Dan ku harap kamu pun melakukan hal yang sama. Aku pun ingin mendengar kata-kata cinta darimu," ucap Riland seraya membelai lembut pipi Melisa dengan jemarinya. Matanya meredup sayu penuh tuntutan.
Melisa menggerakkan kepalanya, menikmati belaian lembut jemari Riland di pipinya. "Aku pun sangat mencintaimu, dari dulu..," ucap Melisa malu-malu.
"Hah apa ? Dari dulu ?" Riland berkerut alis tak paham.
"Ssttt yang lalu biarlah berlalu... Aku gak mau cerita karena akan sangat memalukan. Tapi percayalah bahwa aku hanya mencintaimu seorang dan selalu seperti itu. Jadi jangan lah merasa ragu padaku," jawab Melisa.
Riland pun tersenyum. Ucapan Melisa membuat hatinya merasa lega luar biasa. "Baiklah aku tak akan menanyakan yang telah lalu. Dan aku tak kan merasa ragu dengan perasaan kamu," sahut Riland.
"Ya Tuhan....," Riland mendesah pelan.
"Kenapa ?" Melisa berkerut alis penuh tanda tanya.
Riland kembali tundukkan kepalanya dan berbisik pelan pada Melisa. "kamu gemesin banget, sumpah ! Aku pengen lanjutin yang tadi tapi sayangnya di sini banyak orang,"
Melisa memutar bola matanya malas. "Iiih cuma itu aja yang kamu pikirin !" ucap Melisa dengan wajahnya yang merah. Tanpa Riland tahu, sebenarnya Melisa pun memikirkan hal yang sama.
To be continued ♥️
jangan lupa like dan komen ya