The Hot Boss

The Hot Boss
Berbeda



Bukannya merasa senang, Melisa malah merasakan resah hati yang luar biasa. Mendengar Raya memanggilnya dengan sebutan sayang membuat Melisa gemetar.


Gemetar bukan dalam artian yang baik, tapi sebaliknya.


Bagaimana Melisa akan merasa senang jika lelaki yang menjadi pasangannya saat ini bukanlah laki-laki yang ia cintai.


Hanya demi menyelamatkan muka, Melisa melakukan itu. Mengorbankan perasaannya sendiri agar tunangan sang boss tak menaruh rasa curiga padanya.


"Begini amat yaa nasib... Baru pertama kali jatuh cinta tapi langsung merasakan patah hati," keluh Melisa dalam hati.


Saat ini ia sedang melihat laman sosial medianya di mana dirinya dan Riland sang boss menjadi bintang iklan untuk mempromosikan pakaian yang mereka jual.


Hanya dalam konten iklan itulah Melisa dapat berperan sebagai kekasih Riland dan banyak yang memujinya karena berakting natural.


Tentu saja ia berakting natural karena Melisa sangat menghayatinya dan apa yang ia lakukan memang berasal dari hati.


"Kerjaannya udah selesai, Mel ?" Tanya Leah membuyarkan lamunan Melisa.


"Dikit lagi. Aku lagi mikir-mikir nih..," jawab Melisa.


Leah yang sedari tadi berdiri di meja kasyi, kini beralih menjadi duduk tepat di sebelah Melisa dan mengintip apa yang sedang dilakukan gadis itu. "Mikirin apaan ?" Tanya Leah.


"Mmm... Biar gak bikin masalah makin kebar, gimana kalau kita udahan aja bikin konten iklannya. Lagian kan target penjualan juga sudah tercapai,"


Leah tak langsung menjawab, yang ia lakukan adalah menyandarkan kepalanya di bahu Melisa. "Kalau boleh jujur..," ucapnya terjeda. Terdengar rasa ragu dari Leah untuk mengungkapkannya.


"Kalau boleh jujur.. aku gak suka sama tunangannya Riland. Songong banget sumpah ! Dan dia bikin kerja keras kita jadi kaya begini," lanjut Leah sambil menarik nafasnya dalam.


"Kamu gak suka ? Apalagi aku...," Sahut Melisa yang sama-sama menghela nafasnya dan keduanya pun tertawa bersama-sama, menyadari rasa tak suka yang sama pada Mona


"Aku gak habis pikir Riland mau sama cewek model begituan," ucap Leah yang masih merasa kesal.


"Entahlah cinta buta kali," sahut Melisa asal. Padahal hatinya remuk redam saat mengatakan itu.


Leah tegakkan tubuhnya dan melihat pada temannya itu. "kamu tahu, Mel ? Aku kira Riland suka kamu. Soalnya kelihatan aja gitu,"


Melisa tertawa hambar saat mendengarnya, tapi hatinya dengan lancang berdebar kencang karena ucapan temannya itu. "Halah ngaco aja," sahutnya berusaha untuk terlihat baik-baik saja.


"Tapi aku gak nyangka kamu sama Raya udah jadian. Traktir ya ?" Goda Leah.


Bukannya merasa senang tapi Melisa malah merasa tak nyaman tentang perihal jadiannya bersama Raya. Tapi, sebisa mungkin ia menutupi perasaannya itu dengan tersenyum penuh kepalsuan. "Oghey, nanti ya," sahutnya sambil tersenyum.


Saat keduanya tengah asik mengobrol, datanglah Riland yang baru saja turun dari ruangannya. Keduanya langsung terdiam dan menatap pada Riland yang berdiri di ambang pintu.


Wajah lelaki itu tak seperti biasanya. Bibirnya terkatup rapat dengan rahang mengetat. Membuat Melisa tak berani melihat ke arah matanya. Gadis itu tundukkan kepalanya menatap layar ponselnya yang juga menampilkan wajah Riland di sana. Namun bedanya, di layar ponselnya itu sang boss tengah melengkungkan senyumnya.


"Kamu butuh sesuatu ?" Tanya Leah memecahkan keheningan dan ketegangan yang terjadi diantara mereka.


Biasanya Riland akan bersikap santai walaupun ia adalah seorang atasan. Lelaki itu tak suka sikap formal yang menurutnya sangatlah kaku. Tapi, walaupun demikian Leah dan Melisa tak pernah keluar dari batasannya.


"Ka-kamu lagi bercanda ?" Tanya Leah takut-takut.


"Apa saya terlihat sedang bercanda ?" Riland balik bertanya dengan nada serius. Kini ia tak lagi menggunakan kata aku-kamu.


"Ah so-sorry... Ta-tadi kita lagi bahas tentang iklan. iya kan, Mel ?" Leah menyikut pinggang temannya itu agar Melisa tak hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya saja.


"Ah i-iya," jawab Melisa gugup sambil mengangkat wajahnya hingga pandangan matanya bertemu dengan tatapan dingin mata Riland yang saat ini tertuju padanya.


"Sekarang bukan waktunya bahas iklan. Kamu juga bukannya harus mengerjakan laporan bulanan ?" Tanya Riland pada Melisa.


"Hu'um i-iya. Sedang aku kerjakan, Ri... Eh Pak," jawab Melisa.


"Bagus ! Saya ingin laporan itu ada di meja saya paling lambat pukul 7 pagi besok," sahut Riland.


Melisa tercengang, jika Riland ingin laporan itu berada di mejanya besok pagi berarti ia harus kerja lembur malam ini. Padahal sebelumnya Riland meminta laporan itu untuk Minggu depan.


"Kamu dengerin omongan saya, kan ?" Tanya Riland karena Melisa hanya terdiam terpaku tanpa menjawab pertanyaan bos nya itu.


"Ya, saya mendengarnya. Maaf, akan saya kerjakan malam ini juga," sahut Melisa.


"Bagus ! Kerjakan di kantor saja, jadi bisa saya kontrol setiap kemajuannya,"


Melisa dan Leah langsung tolehkan kepalanya saling melihat satu sama lain. " Jadi Melisa harus ngerjain di kantor ? Bisa sampai pagi itu," tanya Leah. Bukan tanpa alasan ia bertanya seperti itu.


Ini adalah kali pertama Melisa mendapatkan tugas yang harus diselesaikan dalam waktu semalam. sepertinya Riland memang sengaja melakukan itu padanya.


"Resiko pekerjaan dan ini hanya terjadi di waktu-waktu tertentu saja. Saya harap kamu bisa melakukannya dengan profesional," jawab Riland.


"Baiklah, akan saya kerjakan," sahut Melisa terdengar formal.


"Mau aku temenin ?" Tanya Leah.


"Memangnya kamu tak mampu kerja sendirian ?" Tanya Riland pada Melisa membuat Leah menatap lelaki itu tak percaya. Riland sangat berbeda dari sebelumnya.


"Saya bisa melakukannya sendirian dan memang seperti itu biasanya. Leah hanya menawarkan diri untuk menemani bukan untuk membantu mengerjakannya," jawab Melisa.


"Tak usah dengan Leah. Saya akan berada di sini semalaman," kata Riland.


"Berdua saja sama Melisa ?" Tanya Leah lagi. ada nada khawatir dalam ucapannya.


"Ya, dan jangan khawatir karena saya tak akan macam-macam sama Melisa. Saya tak mungkin menganggu pacar orang kan ?"


Bersambung...