
"Aku juga gak kuat lama-lama dekat kamu," kata-kata Riland masih terngiang di telinga Melisa padahal orang yang mengatakan itu sudah menghilang ditelan tangga. Lelaki itu sudah sampai di lanta satu.
"Mel, jadi pulang gak nih ? Apa mau nerusin lemburnya dan tidur di kantor bareng saya ?" Teriak Riland dari arah bawah. Membuat Melisa segera kembali ke alam sadarnya.
"Ja- jadi, Pak ! Tunggu !" Sahut Melisa.
Cepat-cepat Melisa membereskan meja kerjanya dan membawa pulang apa saja saja yang diperlukannya untuk meneruskan pekerjaannya di kostan.
"Gila apa tidur bareng di kantor ? Aku bukannya takut diapa-apain kamu... Malah sebaliknya, aku takut khilaf tiba-tiba saja merenggut keperjakaanmu," Melisa terkekeh geli saat membayangkannya.
"Ja- jangan Mel.. jangan lakukan itu... Aku tak mau... A- aku belum menikah... Jangan sakiti aku," Melisa membayangkan tubuh Riland yang beringsut ke pojok ranjang dan melindungi dadanya agar Melisa tak bisa melucuti pakaiannya. Sedangkan dirinya terus mendekati dengan bibir yang sudah dimanyun-manyun kan untuk mencium bibir bos-nya yang hot itu.
"Hahahaha," tawa Melisa pecah saat membayangkan wajah Riland yang ketakutan.
Mendengar Melisa tertawa membuat Riland menanggil nama gadis itu lagi untuk ke dua kalinya. "Mel ?" Tanya Riland.
"Mmhhh tunggu, Pak. Ini saya lagi beresin meja dulu," sahut Melisa sembari menyambar tasnya dan satu kantung kertas berisikan banyak berkas. Lalu dengan tergesa-gesa ia berjalan menuruni tangga.
Melisa masih senyum-senyum sendiri saat ia tiba di lantai 1. Membayangkan Riland yang ketakutan saat ia akan menidurinya secara paksa.
"Kenapa kamu ketawa sendirian ?" Tanya Riland terheran.
Melisa melengkungkan senyumnya, "gak kenapa-kenapa kok, Pak," jawab Melisa bohong. Tak mungkin kan mengatakan yang sebenarnya pada bosnya itu.
"Ya udah ayo !" Ajak Riland sembari berjalan keluar menuju mobilnya yang terparkir. Riland membukakan pintu mobil untuk Melisa masuki dan gadis itu menurutinya. Melisa duduk manis di bangku penumpang, sedangan Riland mulai menyalakan mesin mobilnya.
Jalanan terlihat basah karena langit baru saja berhenti menurunkan airnya. Walaupun tak deras tapi tetap saja membuat suasana menjadi lebih syahdu karenanya.
Riland mengendalikan kemudinya dengan satu tangan. Ia terlihat begitu santai, tak se tegang dan tak se menyeramkan tadi. Membuat Melisa bisa bernafas dengan lega.
Melisa yang sangat menyukai Riland tentu saja menyukai kebersamaan mereka saat ini. Walaupun hari ini dihiasi banyak drama. Dimulai dari datangnya Mona hingga membuat Melisa menerima pernyataan cinta Raya dengan terpaksa dan juga datangnya Raya yang membuat Riland marah-marah tak jelas.
"Ah Raya," desah Melisa dalam hati. Ia berjanji untuk memberinya kabar tentang kepulangan nya tapi saat ini Melisa tengah menikmati waktunya bersama Riland.
Melisa tahu dan sadar jika apa yang ia lakukan saat ini salah. Merasa bahagia bersama lelaki yang bukanlah kekasihnya. Tapi, hati tak bisa dibohongi.
Hanya dengan bersama Riland lah, Melisa merasakan senang. Jantungnya berdebar kencang tak karuan. Bahkan kedua tangannya basah akan keringat. Riland selalu bisa membuatnya masuk dalam euforia rasa jatuh cinta.
"Makan dulu yuk ?" Ajak Riland.
"Hah ?" Melisa bergumam pelan sambil tolehkan kepalanya.
"Saya lapar, tadi tiba-tiba saja gak nafsu makan. Tapi sekarang malah lapar," lanjut Riland sembari melihat pada jam tangannya.
Melisa ingat. Tadi saat Raya datang, Riland malah membuang makan malamnya. Tentu saja lelaki itu pasti lapar. Banyaknya drama yang terjadi di hari ini membuat Riland tak makan dengan benar.
"Mau gak ?" Tanya Riland lagi karena Melisa tak kunjung menjawabnya.
"Mmh baiklah," jawab Melisa. Padahal dalam hatinya ia merasa ragu.
Melisa merasa ragu bukan karena ia tak enak hati pada Raya. Malah sebaliknya, ia takut berada di tempat umum dengan Riland yang sudah bertunangan. Melisa takut bertemu dengan Mona lagi.
Ingin berubah pikiran tapi Melisa terlambat karena Riland telah membelokkan mobilnya ke sebuah tempat makan yang sedang hits di kalangan anak muda Bandung.
"Makan di sini gak apa-apa ya ?" Tanya Riland.
"Apa gak terlalu rame, Pak ?" Tanya Melisa takut-takut.
"Bu- bukan begitu, malah saya takut ketemu tunangan Bapak," jawab Melisa.
"Kita kaya pasangan selingkuh aja sih," ucap Riland sembari membuka sabuk pengamannya.
"Mau ketemu Mona kek, atau pacar kamu kek. Saya tak peduli," sahut Riland seraya membuka kunci mobilnya.
Ia bergerak keluar dari mobil dan mau tak mau Melisa pun menurutinya. Ia berjalan mengikuti Riland di belakangnya bagai anak ayam yang membuntuti induknya.
Banyak pasang mata kaum hawa yang menatap Riland penuh puja dan Melisa tak bisa menyalahkan mereka. Karena Melisa pun akan melakukan hal yang sama. Riland terlalu indah untuk dilewatkan mata. Tubuhnya yang tinggi tegap dan parasnya yang tampan, mampu menghipnotis setiap gadis yang melihatnya.
Melisa tundukkan kepalanya, untuk meminimalisir rasa panas dalam dadanya. Ia merasakan cemburu hanya karena Riland diperhatikan oleh banyak mata kaum hawa.
Riland hentikan langkahnya untuk menunggu Melisa. "Kamu kenapa berjalan di belakang ?" Tanya Riland.
"Gak apa-apa, Pak," sahut Melisa.
"Sini," Riland menarik lengan Melisa agar gadis itu berjalan di sampingnya.
Secepat kilat Riland menyentuh lengan Melisa tapi gadis itu merasakan getarannya sampai di hati.
"Jalannya jangan jauh-jauh dari saya," titah Riland terdengar formal. Tapi meskipun begitu mampu membuat perasaan Melisa semakin tak karuan.
Kini keduanya berjalan berdampingan. Ini kali pertama Melisa berada di luar kantor hanya berduaan dengan Riland. "Kencan tak langsung," gumam Melisa pelan. Ia tundukkan kepala untuk menyembunyikan senyumnya yang malu-malu.
"The hot boss ya?" Tanya seorang gadis, menghentikan langkah keduanya.
"Mmmhh,"
" Iya," jawab Riland memotong perkataan Melisa yang terlihat ragu.
Gadis yang bertanya tadi menutup mulutnya tak percaya. " Kalian cocok banget deh... Ini kencan atau apa ?" Tanya nya lagi.
Riland melihat pada Melisa untuk sesaat sebelum ia menjawab. "Bu-,"
"Semacam itulah," lagi-lagi Riland memotong ucapan Melisa.
Gadis yang bertanya tadi berteriak histeris karena senang. Ia pun meminta Riland dan Melisa untuk berfoto bersama.
Riland tersenyum pada kamera, sedangkan Melisa tak bisa alihkan pandangannya dari Riland dengan hati bertanya-tanya tentang jawaban Riland tadi.
"Semacam itulah ?" Tanya Melisa dalam hati.
"Apakah ini beneran sebuah kencan? Tapi bagaimana dengan tunangannya nanti ?" Masih Melisa bertanya-tanya dalam hati.
"Oke makasih, nanti aku tag kalian ya," ucap gadis itu dengan senangnya.
"Semoga beneran jadian ya... Aku suka banget sama kalian," ucapnya lagi. Lalu ia pun pergi meninggalkan Melisa dan Riland.
"Pak gimana kalau gadis tadi nulis caption yang nggak-nggak ? Saya gak mau tunangan Bapak marah lagi,"
"Udah saya bilang, saya gak peduli. Udah jangan dipikirin," jawab Riland.
"Ayo !" Kali ini Riland menarik tangan Melisa dalam genggamannya dan tak melepaskan tautannya.