The Hot Boss

The Hot Boss
Meeting (2)



"Berhenti menggigit bibirmu seperti itu, atau aku yang akan melakukannya !"


"A- apa?" Melisa bergumam pelan sembari membolakan matanya. Saking terkejutnya gadis itu, sampai-sampai ia menjatuhkan ponselnya ke atas meja. Bunyinya yang cukup nyaring membuat dirinya menjadi pusat perhatian. Termasuk sang bos yang kini sedang menatapnya dengan sebuah senyuman yang tak bisa Melisa artikan maksudnya.


"Maaf," ucap Melisa pelan dan malu-malu. Ia merasa tak enak hati karena telah mengganggu orang yang tengah melakukan presentasinya.


"Bisa saya lanjutkan?"


"Tentu saja," jawab Melisa canggung. Sedangkan di ujung meja, Riland masih saja menatapnya dengan pandangan mata yang sayu penuh puja.


Membuat Melisa duduk gelisah di atas kursinya.


Notifikasi ponsel Melisa berbunyi lagi dan nama Riland tertera di layarnya. Melisa mencoba mengabaikannya dengan fokus pada orang yang sedang berbicara.


Merasa diperhatikan, Melisa melihat pada Riland. Dan benar saja lelaki itu tengah menatapnya tanpa jeda. Pandangan mata mereka kembali beradu, kemudian Riland hendak berdiri dan Melisa segera memeriksa ponselnya agar bosnya itu tak datang padanya.


Ada beberapa pesan yang Riland kirimkan dan belum Melisa baca.


Riland : "apa aku harus cemburu karena kamu lebih fokus pada catatanmu ?"


Riland : "sebenarnya apa yang kamu catat hingga kamu harus mengigit bibirmu seperti itu ?"


Riland : "sudah ku katakan fokus padaku ! Bukan pada orang lain ! Atau aku harus duduk di sebelahmu ?"


Mata melisa membola, "apa Riland sedang merayuku ?" Tanya nya dalam hati.


Melisa edarkan pandangannya, menelisik satu persatu wajah orang-orang yang mengikuti meeting tersebut. Sepengetahuan Melisa tak ada seorangpun yang merupakan anggota keluarga Riland. Jadi lelaki itu seharusnya tak usah melakukan pencitraan atau berpura-pura menyukainya seperti waktu lalu.


Benda pipih yang ada dalam genggaman tangan Melisa kembali berbunyi dan ya ! Lagi-lagi Riland yang mengirimnya pesan.


"Sudah ku katakan fokus padaku !" Tulisannya di sana.


Melisa pun mengangkat wajahnya dan melihat pada Riland yang ternyata sudah tak ada di kursinya.


"Jadi gimana ? Kamu setuju Mel ? Katanya konsep 'The Hot Boss' masih banyak diminati," ucap Riland yang ternyata sudah berdiri di belakangnya. Kedua tangannya yang kekar menapak pada sandaran kursi Melisa. Membuat gadis itu menengadahkan kepalanya agar dapat melihat Riland.


"Mm... Mm.. apa tak sebaiknya di- dilakukan oleh anak-anak remaja saja ? De- dengan begitu kita bisa menarik perhatian orang-orang yang lebih muda," Tanya Melisa terbata-bata. Seperti ini saja sudah membuatnya gemetaran apalagi jika nanti dirinya dan Riland harus membuat konten bersama.


"Dengan kalian sebagai bintang iklannya tak membuat kita kehilangan minat dari para remaja. Malah cakupannya lebih luas lagi. Dari remaja hingga dewasa,"


"Bagaimana Mel ?" Tanya Riland yang kini membungkukkan tubuhnya agar ia bisa lebih dekat dengan Melisa saat berbicara.


"Mmm sa- saya ikut suara terbanyak saja," jawab Melisa sembari tersenyum canggung karena kini jantungnya tengah berpacu dengan kencangnya.


Lelaki itu tak langsung menegakkan tubuhnya, ia berbisik pelan sebelum bangkit dan pergi meninggalkan kursi Melisa. "Fokuslah padaku, atau aku akan benar-benar duduk di sebelahmu," ancam Riland membuat tubuh Melisa meremang.


Setelah itu Melisa tak berani melihat pada yang lain. Ia hanya fokus pada catatan dan bos-nya saja.


"Ya Tuhan... Ini Riland minta dikarungin bukan sih ?" Tanya Melisa dalam hatinya. Karena Riland pun masih mencuri pandang padanya. Lelaki itu tak peduli walaupun banyak mata yang memperhatikannya.


"Kayanya bakal tambah so sweet kalau ada adegan kissing nya deh," celetuk seseorang yang duduknya berjauhan dengan Melisa. Apa yang ia ucapkan membuat Melisa hampir terjatuh dari tempat duduknya.


Bukan tanpa alasan ia berkata seperti itu, karena sedari tadi ia pun merasakan gelembung-gelembung cinta dari keduanya.


"Ciuman itu harus sama orang yang kita cinta," sahut Riland santai. Sepertinya lelaki itu tak ada beban sama sekali, berbeda dengan Melisa yang sedari tadi merasakan jantungnya terus berpacu karena sikap Riland yang manisnya bikin over dosis.


"Nanti kita adakan Giveaway, dengan siaran langsung ya. Kayanya seru juga tuh !"


"Ide bagus !" Sahut Riland menyetujui.


Meeting yang berlangsung cukup lama itu menghasilkan beberapa poin keputusan. Melisa mencatat semua dalam buku agendanya. Tapi sebanyak apapun hasil coretan Melisa di sana, tak satupun yang menempel di kepalanya.


"Mel, aku rasa Riland emang punya feeling deh sama kamu," bisik Leah.


Melisa tak menjawabnya, ia pun berharap demikian tapi takut jika yang Riland lakukan hanya sebatas pelariannya dari perjodohan itu.


"Jadi kapan di mulai pembuatan iklannya ?"


"Kalau bisa secepatnya," jawab Riland.


"Mati aku....," Gumam Melisa pelan. Jika dulu dirinya lah yang selalu menggoda bos-nya yang hot itu. Mengusulkan membuat konten dengan Riland agar bisa mengagumi lelaki itu dari dekat.


Tapi kini keadaan menjadi terbalik, Riland lah yang banyak menggodanya dan sialnya Melisa semakin tersesat dalam perasaan cintanya sendiri.


Melisa merasa melayang di awan karena semua perilaku manis Riland dan berharap jika lelaki itu benar-benar menyukainya. Tapi Melisa pun masih merasa takut jika yang Riland hanya memanfaatkannya saja agar lelaki itu tak segera di desak menikah.


Riland perhatikan Melisa dari jauh, ia tahu jika gadisnya itu tengah meragu. Lelaki itu tersenyum dan berharap apa yang direncanakannya berhasil.


To be continued ♥️


Pasti deh nungguinnya berabad-abad tapi bacanya secepat kilat.


Wkkwkwkwkw maapkan aku yaa 🙏