The Hot Boss

The Hot Boss
Tak Semuanya Bohong.



Mona berdiri anggun dengan segelas minuman di tangannya. Ia tak sendirian, ada beberapa orang lain di sana yang sedang mengajaknya berbicara. Matanya terus tertuju pada Melisa walaupun ia sedang berbicara dengan temannya.


Melisa alihkan pandangannya, ia berpikir untuk beberapa saat. Bertanya-tanya dalam hatinya untuk apa ia berada di tempat itu. Melihat kehadiran Mona membuat konsentrasinya hilang.


"Toilet ! Aku mau ke toilet !!" Desah Melisa sembari kembali melangkahkan kakinya menuju toilet yang letaknya tadi dijelaskan oleh Riland. Mata Mona terus mengikuti langkah Melisa pergi. ia tersenyum muak pada Melisa.


Beruntung bagi Melisa karena ia segera menemukan tempat yang dicarinya itu. Setelah mengetuk pintu untuk memastikan tak ada siapapun di dalamnya, Melisa pun membuka pintu toilet itu dan masuk kedalamnya.


"Kenapa sih bisa tumpah segala ?" Kesal Melisa pada dirinya sendiri. Ia pun membersihkan celana nya dengan air dari wastafel.


"Sebenarnya apa yang kamu lakukan ?" Melisa masih bicara sendirian. Ia semakin kesal karena basah di celananya semakin melebar dan terlihat Jelas.


Apa yang terjadi tadi, benar-benar membuatnya hampir gila. Hati Melisa tak dapat menghandle kata-kata manis yang Riland ucapkan. "Aku lebih baik kena marah atau omelan daripada begini," desah Melisa terdengar begitu nelangsa.


Ya, Melisa lebih memilih dimarahi atau didiamkan Riland daripada diberi kata-kata manis penuh rayu seperti tadi, karena hatinya langsung terbawa perasaan. Melisa menjadi galau tak karuan.


Ia tatapi bayangannya sendiri di dalam cermin, terlihat begitu menyedihkan. "Please lah bercandanya gak usah pakai hati," ucapnya pelan.


"Mana ada si nenek sihir," keluh Melisa lagi. Ia yakin setelah ini Mona akan membuat onar di depan banyak orang.


"Ya Tuhan... Tolonglah aku..," desah Melisa lagi sembari pejamkan matanya. Sudah terbayangkan jika dirinya harus berhadapan dengan Mona padahal hatinya sedang tak baik-baik saja.


"Aaarrrggh," geram Melisa sembari mengepalkan kedua tangannya.


'tok tok,'


"Mel, kamu gak apa-apa ?" Tiba-tiba pintu toilet itu diketuk dari arah luar dan Melisa mendengar seseorang memanggil namanya. Melisa hapal benar siapa pemilik suara bariton itu.


Itu adalah suara lelaki yang tadi mengumbar kata-kata manis padanya. "Ah siaallll," ucap Melisa dalam hatinya. Saat ini ia tak ingin berduaan saja dengan Riland.


"Mel... Aku tahu kamu yang berada di dalam," ucap Riland lagi dari luar dan ia pun mengetuk pintu itu untuk yang kedua kalinya.


"Hmm ya, tunggu !" Sahut Melisa pada akhirnya. Ia tak mau Riland terus memanggil-manggil namanya karena Itu akan memancing keributan. Mona yang tadi berada tak jauh darinya bisa mendengarkan itu semua.


"Mel, aku bawain celananya buat ganti. Mau ganti di sini atau di kamarku ?" Tanya Riland tanpa dosa.


"Huk uhuk uhuk," Melisa tersedak ludahnya sendiri karena mendengar apa yang baru saja Riland katakan.


"Mel, kamu baik-baik saja ? Ayo buka pintunya, jangan bikin aku khawatir," ucap Riland sembari mengetuk pintu lagi entah untuk yang beberapa kalinya.


"Ya Tuhan... Bisa gak sih dia gak bikin aku jantungan ?" Keluh Melisa.


Tadi Riland menawarkan Melisa untuk berganti baju di kamarnya, membuat gadis ity berpikir yang iya-iya. Dan sekarang lelaki itu mengatakan jika ia mengkhawatirkan Melisa, membuat gadis itu semakin terbawa perasaan.


Merasa tak ditanggapi, Riland pun kembali mengajak Melisa berbicara. "Kamu lagi ngapain sih ? Lama banget. Aku dobrak pintunya nih, Mel," ancam Riland.


Riland berdiri sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding. Di tangannya, ia membawa celana panjang sang adik sebagai baju ganti untuk Melisa. Lelaki itu tersenyum saat melihatnya, membuat hati gadis itu semakin tak baik-baik saja.


"Jadi mau ganti di sini, apa di kamar aku ? Kamar aku lebih luas, jadi kamu bisa lebih nyaman gantinya," tawar Riland lagi dan ia sangat serius saat mengatakannya.


"Aku ganti di sini saja," Melisa segera menyambar celana itu dari tangan Riland. Tak mungkin ia berganti pakaian di kamar Riland. Melisa takut terjadi sesuatu yang sangat diinginkannya. "Woi lah ini kepala kenapa sih," gumamnya kesal. Sudah terbayangkan dalam kepalanya ia akan berduaan saja dengan Riland.


"Kepala kamu kenapa? Sakit ?" Tanya Riland sembari tundukkan kepalanya dan menatap dalam mata Melisa. Jaraknya sangat dekat, Hingga Melisa bisa merasakan hembusan nafas Riland yang hangat di wajahnya.


Melisa tercengang, "a- aku ganti dulu," ucapnya seraya masuk kembali ke dalam toilet. Dan Riland dengan setia menunggunya di luar.


"Itu orang kenapa sih..," kesal Melisa sembari berganti baju. Cepat-cepat, ia lakukan itu karena ia tahu Riland masih menunggunya dan ia tak mau Riland memanggil-manggil namanya seperti tadi.


"Sudah ?" Tanya Riland sembari menyerahkan sebuah paper bag untuk memasukkan celana Melisa yang kotor. "celananya cukup ?" Tanya Riland lagi.


"Hu'um cukup...," Jawab Melisa sambil tersenyum.


"Syukurlah kalau begitu. Ayo cepat, makan siang mau segera di mulai," ajak Riland.


Melisa menarik nafas dalam, ia sangat enggan untuk meneruskan sandiwara itu. Karena walaupun itu semua hanya bohong belaka, tapi nyatanya hati Melisa sangat terpengaruh olehnya.


Selain itu juga ada Mona disana, Melisa tak ingin dicap sebagai seorang perusak hubungan orang, karena ia tak merasa seperti itu. walaupun ia jatuh cinta pada Riland, tapi ia tak pernah menunjukkannya.


Melisa mengikuti langkah Riland dengan gejolak batin yang tak karuan. Rumah itu terasa sepi karena kini semuanya berada di halaman belakang untuk menikmati makan siang bersama.


Merasa tak ada seorangpun yang dapat mendengarkannya, Melisa pun hentikan langkahnya untuk bertanya sesuatu pada Riland.


"Pak," ucap Melisa, memanggil Riland yang berjalan di depannya.


Riland yang mendengar itu, hentikan langkahnya dan menoleh pada Melisa yang berdiri membeku di tempatnya. "Kenapa ? Udah aku bilang jangan panggil Bapak," ucap Riland mengingatkan.


"Apa tujuan Bapak melakukan ini semua ? Untuk apa membawa saya kemari dan melakukan semua sandiwara ini tanpa memberi tahukan saya lebih dulu ? Kenap kita harus melakukan kebohongan ini ?" Tanya Melisa beruntun. Ia sudah tak sanggup dengan apa yang Riland lakukan padanya.


Mendapatkan pertanyaan seperti itu membuat Riland mengulum senyumnya. Ia pun melangkahkan kakinya agar bisa lebih dekat dengan Melisa. "Gak semuanya bohong kok," kata Riland.


"Hah ?" Melisa berkerut alis tak paham.


"Mungkin ya, kita berbohong sebagai pasangan. Tapi.. perasaan sayang aku sama kamu itu benar adanya," jawab Riland seraya menatap mata Melisa dalam-dalam.


to be continued ♥️


jangan lupa tinggalkan jejak