The Hot Boss

The Hot Boss
Cinta Mati



Akhirnya hari pernikahan adik Riland pun tiba. Melisa didandani layaknya anggota keluarga. Gadis itu terlihat cantik di dalam balutan kebaya berwarna lavender yang lembut, dan riasan wajah natural menyempurnakan penampilannya.


"Cantik banget Kak Mel," puji salah satu sepupu Riland yang sama-sama tengah bersiap seperti dirinya.


"Kamu juga," balas Melisa pada gadis yang jauh lebih muda darinya itu.


Melisa merasa sangat bahagia karena keluarga Riland menerimanya dengan baik. Bahkan kedua orangtua lelaki itu memperlakukannya seperti anak mereka sendiri. Melisa sering kali diajak untuk pergi bersama. Bahkan terkadang ia pergi tanpa ada Riland yang menemani. Tapi Melisa tak merasa canggung lagi, karena keluarga Riland memang sebaik itu pada dirinya.


Riland yang telah selesai bersiap segera mencari keberadaan sang kekasih yang saat ini sedang didandani oleh seorang make up artist kenamaan.


"Melisa di mana ya ?" Tanya Riland pada salah satu tantenya yang bertemu di lorong hotel.


"Kayanya di kamar atas deh, A," jawabnya. Sebagai orang Sunda Riland memang sering dipanggil dengan sebutan "Aa" walaupun wajahnya terlihat kebarat-baratan. Maklum di darahnya mengalir gen benua Eropa yang diwariskan melalui sang kakek.


"Oh ok, makasih ya," sahut Riland seraya menaiki lift untuk menuju kamar yang disebutkan tantenya tadi. Saat ini ia berada di sebuah hotel yang akan dijadikan tempat resepsi pernikahan sang adik.


Setelah beberapa saat menempuh perjalanan, akhirnya Riland sampai. Ia pun mengetuk pintu berwarna coklat itu dan tak lama seorang lelaki kemayu membukakan pintu untuknya.


"Ganteng banget Aa Riland," ucapnya genit sembari membasahi bibirnya yang tebal dengan lidah. Ia melihat penuh maksud pada Riland dan itu membuat bulu kuduk Riland meremang.


"Makasih, tapi aku lagi nyari Melisa. Calon istri aku ada di sini gak ?" Tanya Riland. Ia menekankan kata calon istri pada lelaki itu.


Lelaki kemayu yang tadinya genit itu berubah judes saat Riland bertanya tentang keberadaan Melisa sang kekasih. "Ada, lagi dipakein lipstik dulu," jawabnya ketus.


"Kak Mel, di sini," ucap salah satu sepupu Riland yang sedang menunggu giliran untuk dirias.


Riland pun melangkah masuk dan melihat Melisa yang tengah duduk si hadapan sebuah cermin besar. Gadis itu terlihat sangat cantik di matanya, hingga Riland menahan nafas saat melihatnya.


Ia sandarkan tubuhnya di dinding, menatap Melisa penuh puja.


Merasa diperhatikan, Melisa pun melihat ke arah Riland lewat pantulan kaca. Gadis itu tertawa kecil saat ia melihat bibir Riland yang bergumam. "I love you," kata Riland pelan tapi Melisa bisa membaca gerak bibir lelaki itu dengan jelas.


Kedua pipi Melisa terasa panas karena kata-kata cinta yang Riland ucapkan. Lelaki itu masih saja bisa membuat debaran jantungnya menggila.


Sedangkan Riland, ia tak bisa alihkan pandangannya dari gadis yang sangat dicintainya itu. Tak hanya cinta saja, tapi Melisa juga keberuntungan baginya. Setelah publik tahu tentang hubungan asmara mereka, usaha Riland kian naik dengan pesat. Bahkan lelaki itu sudah membuka cabang lagi di beberapa tempat. Itu semua karena projek 'The Hot Boss' yang diusung oleh Melisa.


"Sudah selesai," ucap seorang lelaki yang telah selesai merapikan riasan di wajah Melisa.


"Makasih ya," sahut Melisa sambil berdiri.


Riland pun tegakkan tubuhnya dan berdehem untuk menetralkan suaranya yang tercekat di tenggorokan. Ia masih saja merasa terpesona dengan kecantikan sang kekasih.


Melisa berjalan menuju Riland dengan malu-malu. Pandangan penuh puja yang Riland layangkan membuanya deg-degan. Melisa pun mengul*m senyumnya salah tingkah.


"Cantik banget sih pacar aku," kata Riland sembari meraih tangan Melisa pada genggamannya.


"Ih kamu berlebihan deh," sangkal Melisa, berusaha meredam perasaan nya sendiri.


"Serius Yank," ucap Riland lagi dengan suaranya yang sudah terdengar serak.


"Yuk cepat turun, akad nikahnya akan segera dimulai." Melisa pun mengajak Riland dari kamar itu.


"Kak Mel duluan ya." Melisa tolehkan kepalanya pada para sepupu Riland yang masih belum selesai bersiap. Ia berpamitan untuk pergi lebih dulu.


"Boleh cium kamu gak sih ? Aku gak tahan," ucap Riland dan itu membuat Melisa membolakan matanya.


"Ya ampun.. kirain apa. Nggak lah ! Aku udah susah-susah dandan ini," tolak Melisa. Bukannya ia tak ingin, hanya saja waktu yang tersisa begitu sedikit. Ia ingin menyaksikan akad nikah Adik Riland yang sangat dirinya sayang.


Riland mencebikkan bibirnya kesal karena penolakan Melisa. "Aku kira kamu boss yang cool gitu, tahunya ambeukan juga (cepat marah seperti anak kecil) ," ucap Melisa sambil terkekeh geli karena melihat apa yang Riland lakukan.


"Kalau gak mau aku cium, gimana kalau langsung ngamar aja ? Banyak kamar kosong di hotel ini," tanya Riland sambil menaik turunkan alisnya, menggoda sang kekasih.


"Awww sakit Yank." Riland mengaduh kesakitan karena Melisa langsung mencubit perut lelaki itu.


Tak lama, lift yang mereka tunggu pun tiba. Keduanya melangkah masuk ke dalam benda itu yang ternyata kosong.


Tanpa banyak berkata lagi, Riland menarik tubuh Melisa agar mendekat padanya. Kedua tangan kekar Riland melingkar di tubuh kekasihnya itu. Ia tundukkan kepala, mengikis jarak di antara mereka.


"Marry me.. please..," lirih Riland tepat di wajah Melisa. Membuat debaran jantung gadis itu berdetak dengan kencang.


"Kita sudah melewati banyak hal bersama, memang tak mudah. Tapi denganmu, aku yakin bisa lalui semua. Hanya kamu yang aku cinta, hanya kamu yang bisa bikin aku bahagia. Dan izinkan aku pun lakukan hal yang sama. Biarkan aku membahagiakanmu," ucap Riland dengan jelasnya, membuat mata Melisa berkaca-kaca karena rasa haru bahagia.


"Nama kamu sudah tertulis di hati, dan aku ingin namamu tertulis di buku nikah juga," lanjut Riland dan kali ini Melisa tertawa mendengarnya.


"Jadi... Maukah menikah denganku?" Tanya Riland lagi. Kedua matanya menetap Melisa dalam dan penuh mohon.


Melisa tersenyum dan anggukan kepalanya dengan mantap. "Aku mau," jawabnya tanpa ragu.


Mata Riland berbinar bahagia dan ia pun tersenyum lebar. Riland menarik tubuh Melisa dan memeluknya erat. "Love you, Mel. And i always will. Terimakasih ya Sayang," bisiknya dengan bibir bergetar. Menahan tangis bahagianya.


Melisa balas pelukan itu sama eratnya. Seperti Riland, Melisa juga merasa bahagia dengan hebatnya.


Lalu Riland uraikan pelukannya. "Maafin aku yang melamar di dalam lift dan gak pakai cincin pula. Habisnya aku tuh udah gak bisa nahan perasaan aku lagi," jelas Riland panjang lebar.


"Gak apa-apa, aku malah senang karena kamu begitu jujur tentang perasaanmu," sahut Melisa.


Tak lama, pintu lift pun terbuka dan keduanya keluar dengan jemari yang saling bertautan. Perasaan Melisa dan Riland begitu berbunga-bunga. Senyuman tak surut dari bibir mereka.


Baik Riland maupun Melisa saling melayangkan tatapan mata penuh puja.


Masih dengan tangan yang saling menggenggam satu sama lain. keduanya berjalan memasuki ballroom hotel yang akan digunakan sebagai tempat acara. kedatangan Melisa dan Riland mencuri perhatian beberapa orang yang berada di sana.


"Riland.. giliran kamu ka-"


"Ini calon istri aku, Tante," potong Riland cepat.


"cantik banget kan ? kita mau nikah tahun depan. jadi Tante nabung dari sekarang untuk hadiah pernikahan kami," lanjut Riland pada sang Tante yang selalu bertanya 'kapan nikah' padanya. Ya, tak semua keluarga Riland baik. segelintir dari mereka ada saja yang sering membuat Riland kesal.


Tap kini Riland bisa menjawab pertanyaan para tantenya yang julid itu sebelum mereka bertanya dengan pertanyaan legend yang selalu dilontarkan padanya.


"See ? Kamu tuh penyelamat aku, Mel. Gimana aku gak cinta mati sama kamu ?" bisik Riland pada kekasihnya itu.


bersambung ♥️